
Wangi kue yang baru diambil dari oven itu semerbak memenuhi ruangan. Ara tersenyum puas menatap dua loyang brownies hasil buatannya. Tinggal satu loyang lagi maka semuanya beres.
"Iris, dong. Pengin nyicipin." Gusti mengulum bibir, tidak tahan melihat brownies yang melambai-lambai minta dimakan.
"Nanti, tunggu satunya hasilnya bagus apa nggak." Ara menampik tangan jahil adiknya yang hendak menoel brownies.
"Pelit!" Remaja itu lantas menyambar gelas untuk diisi air mineral.
Ara tak menggubris. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada mahakaryanya yang rencananya akan diberikan kepada Selly, sang calon ibu mertua. Sementara Pak Narto dan Bu Ata yang juga berada di sana mesam-mesem melihat tingkah putrinya.
Gusti yang menyadari itu kontan menyeletuk, "Mbak Ara kayaknya udah siap nikah, tuh. Bapak sama Ibu siap-siap aja sebentar lagi punya gawe."
"Ngaco!" Ara memprotes. "Anak cewek, tuh, dieman-eman tau!" katanya percaya diri. Lagi pula, Ara merasa masih terlalu muda untuk menyandang status seorang istri. Dan lagi, jika suaminya kelak adalah Darma, Ara ingin meng-upgrade dirinya terlebih dahulu agar lebih layak.
"Lhoh, tapi kalo nanti tau-tau Mas Darma bilang mau ke sini sama orang tuanya. Emang Mbak Ara bisa nyegah, hayo?!"
"Udah, udah. Kok, malah kalian yang ribut. Orang Bapak, Ibu, sama Darma-nya aja masih anteng-anteng aja." Bu Ata menyudahi perdebatan kecil di antara anak-anaknya.
"Tuh, denger!" Ara merasa menang. "Bantuin cuci piring aja cepet kalo mau dibagiin browniesnya." Ia memerintah dengan berlagak sok otoriter.
"Dih, males! Mending juga main game." Gusti meninggalkan dapur.
Terpaksa Ara harus membersihkan semuanya seorang diri usai brownies terakhirnya matang, sedangkan orang tuanya yang akhir-akhir ini hobi berkebun sudah berada di halaman belakang.
Begitu semuanya beres dan dirinya juga telah mandi, Ara menuju ruang tamu sambil membawa laptop serta sepiring brownies yang sudah dipotong-potong, lalu menyodorkannya pada Gusti.
"Lhah, nggak dianter sekalian ke rumah Mas Darma?" tanya Gusti melihat Ara menyalakan laptop.
"Nggak. Aku minta anter ojol aja. Lagian hari ini aku mau daftar ujiannya sama lihat video pembelajaran yang belum sempet aku tonton."
"Ooo ...." Bibir Gusti membulat sambil menyomot brownies.
Ara kembali beranjak untuk mengambil beberapa dokumen yang diperlukan untuk mengisi data pendaftaran. Hanya selang beberapa menit, dia yang tengah memeluk sebuah map melongo melihat laki-laki yang berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Lhoh, kok?" Kening Ara berkerut. Matanya mengedar mencari di mana adiknya berada.
"Disuruh masuk, kek." Bibir Darma mencebik sebal.
"Eh? Iya, sini masuk, Mas. Tapi, Gusti mana?"
"Pergi sama temennya barusan."
"Oohhh ...." Ara bernapas lega. Pandangannya kini jatuh pada paper bag yang ditujukan padanya.
"Oleh-oleh buat kamu."
Ara menerimanya senang. "Makasih. Aku bikinin minum dulu, ya?" Ia sudah berbalik badan, tapi sebelum kakinya sempat melangkah, Darma sudah menarik tangannya dan menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan laki-laki itu.
"Mas ...." Ara tak nyaman karena takut orang tuanya tiba-tiba muncul.
"Ssttt ... diem! Mumpung nggak ada orang tua kamu." Lelaki itu mengeratkan pelukannya hingga Ara merasa sesak dan akhirnya melepaskan diri.
"Bapak sama Ibu ada tau! Huh, kalo ketauan gimana?" kata Ara dengan dada naik turun seperti habis lari maraton.
Darma sudah duduk sambil mengutak-atik laptop Ara sekembalinya gadis itu datang membawa nampan berisi es jeruk dan brownies buatannya.
"Kamu mau daftar sekarang?"
"Iya. Mas, cobain browniesnya enak ga?"
Pandangan Darma sedikit menelisik. "Kamu bikin sendiri?"
"Hehe ... iya. Cobain cepet."
Dengan gaya bak seorang juri MasterChef Indonesia, Darma mengambil sepotong kue di depannya, lalu memakannya secara perlahan. Cukup lama dan berhasil membuat Ara ketar-ketir.
"Gimana? Ditungguin juga komentarnya." Ara tidak sabaran.
__ADS_1
Darma tertawa hingga dirinya tersedak. "Uhuk ... uhukkk!" Ia menyedot minumannya hingga habis setengah. "Enak, Sayang. Enak banget."
"Beneran?" Ara tak mau percaya begitu saja. Apalagi Darma berpendapat sambil cengengesan.
"Iyaaa .... Nih, aku makan lagi." Kembali Darma menyomot brownies dan memakannya sambil manggut-manggut.
"Kalo mamanya Mas Darma aku kasih itu ... mau nggak?" Nada bicara Ara perlahan berubah pelan.
Darma menghentikan aksi mengunyahnya. "Kamu bikin ini buat dikasih ke mama?"
"I-iya ... kira-kira suka nggak, ya? Aku takut." Ara menjadi semakin gelisah.
Darma tersenyum, kemudian menarik gadisnya mendekat. Merangkulnya dan memberi kecupan di puncak kepala Ara. "Maulah. Mama, mah, dikasih apa aja suka. Huh! Tahu kamu mau ke rumah, tadi aku nggak ke sini."
"Siapa juga yang mau ke rumahmu? Aku minta anterin ojol, ya." Ara menengadahkan wajahnya agar bisa melihat Darma, lalu menjulurkan lidahnya. Dan detik itu juga Darma kembali menciumnya.
"Nakal!" ujar Ara sambil mengelap bibirnya yang basah akibat perbuatan pacarnya barusan.
"Kayak sendirinya enggak aja. Tau nggak kamu sekarang sering jadi topik perbincangandi rumah." Darma tertawa. Berbanding terbalik dengan Ara yang tampak cemas.
"Aku diomongin apa, Mas?"
"Diomongin katanya ... Ara kenapa, ya, abis tidur di kamarnya Darma jadi malah tambah diem. Jadi, kalo kamu ke rumah lagi mau diintrogasi. Mereka nggak percaya aku nggak ngapa-ngapain kamu."
"Lhoh, ya, bener keluarga kamu, dong, Mas. Cium aku emangnya nggak ngapa-ngapain, huh?!"
"Tapi, kamu sebenarnya seneng, 'kan? Kamu juga nggak sadar pasti waktu tidur gre*pe-gre*pe badanku. Jadi, skornya 1-1."
"Ngaco! Mana ada aku kayak gitu. Aku, tuh, kalo tidur kalem kayak princess-princess Disney." Ara menyanggah.
"Mau aku kasih tahu tanganmu waktu itu merembet ke mana aja?"
"Nggak!" Ara menolak cepat dan langsung meraih laptopnya. "Udah, ah, aku mau daftar dulu," imbuhnya sudah fokus menatap layar di pangkuannya.
__ADS_1
Sementara Darma langsung bangkit berdiri kala melihat Pak Narto dan Bu Ata muncul dari ruang tengah.