Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Taruhan


__ADS_3

Darma pikir permintaan aneh Ara sudah berakhir saat kehamilan istrinya memasuki trimester kedua. Namun, malam ini saat calon bayinya berusia 20 minggu, tiba-tiba saja perempuan yang baru selesai mengecat kukunya, berkata, "Mas, sini aku kutekin kuku kamu juga."


Darma yang sedang menyandarkan tubuh di ranjang sembari bermain game tentu saja menolak. "Nggak mau, Babe."


"Tapi, aku kepengen, Mas." Ara yang tadinya duduk di depan meja rias berjalan menghampiri. "Mau, ya?" lanjutnya dengan puppy eyes-nya.


"Enggak mau! Mending kamu minta aku beliin makanan. Apa aja aku turutin, tapi jangan yang satu ini."


"Nanti kalau udah selesai langsung aku bersihin, kok."


Sial! Ara menunjukkan raut sedih yang membuat hati Darma menjadi tidak tega. "Janji? Besok aku ada rapat penting, lhoh."


"Iya, janji. Aku juga nggak maulah bikin suamiku malu." Wajah Ara mendadak sumringah.


Darma mengusap kepala Ara penuh sayang. Setelahnya, lelaki itu menyodorkan tangannya ke pangkuan istrinya.


Butuh waktu hampir setengah jam bagi Ara untuk menyulap kuku suaminya berubah menjadi warna baby pink. "Iih, lucu banget," katanya saat melihat mahakaryanya. Ia mengangkat tangan Darma tinggi-tinggi agar terlihat lebih jelas.


"Udah, kan? Hapus, Babe," ujar Darma merasa risih.


"Iya, iya." Posisinya yang duduk tepat di tengah ranjang membuat Ara sedikit kesulitan untuk turun lantaran perutnya sudah terlihat buncit.


Perempuan itu kembali dengan cairan pembersih kutek yang dijamin aman penggunaannya. "Eh, bayinya gerak, Mas. Apa jangan-jangan dia nggak setuju, ya, aku hapus kutek kamu?" ucapnya saat berdiri di samping ranjang.


"Nggak usah ngada-ada kamu. Cepetan bersihin."


Ara tergelak sebelum kemudian mendudukkan diri di depan suaminya.


"Papa, Mama, sama Bima taruhan, lhoh, Ra," kata Darma saat satu per satu kukunya kembali bersih.


"Taruhan apa, Mas?"


"Jenis kelamin anak kita."


Minggu lalu group chat keluarga Darma mendadak ramai saat lelaki itu bilang akan pergi menemui dokter kandungan untuk melakukan pemeriksaaan rutin kehamilan Ara. Selly yang pertama kali menebak kalau calon cucunya itu berjenis kelamin perempuan, sedangkan Wira dengan cepat menyanggah dan berkata kalau bayi yang dikandung menantunya berjenis kelamin laki-laki. Sementara Bima yang kurang kerjaan tiba-tiba menyeletuk, "Taruhan aja, yuk. Yang menang boleh minta beliin apa aja. Aku nebaknya kayak Papa, cowok."


Sayangnya, keantusiasan mereka belum mendapat jawaban karena sepulangnya dari dokter Darma menyampaikan bahwa dia belum bisa mengetahui apa jenis kelamin calon anaknya sebab ketika dilakukan USG janin dalam kandungan istrinya justru malu-malu menunjukannya. Mungkin itu adalah aksi protes si jabang bayi yang tidak mau dijadikan taruhan oleh kakek, nenek, dan pamannya.

__ADS_1


"Hmm ... kalau gitu kita biarin mereka tahu pas anak ini lahir aja, Mas. Biar lama," usul Ara begitu cemerlang.


Darma mengangguk setuju. "Iya, nanti aku bilang ke mereka," katanya dengan senyum kepuasan.


Ara telah selesai membersihkan kuku-kuku Darma. Perempuan itu kini sedang berbaring menyamping dengan tangan memeluk pinggang suaminya yang sudah kembali sibuk dengan game-nya. "Mas ...."


"Apa, Sayang?" jawab Darma tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel.


"Pengen pergi."


"Ke mana?"


"Yang jauh."


"Yang jauh?" Kening Darma sedikit berkerut. Kendati demikian, pikirannya masih fokus bermain PUBG.


"Liburan. Kamu sibuk, yah? Nggak apa-apa, sih, kalau nggak bisa. Lagi hamil juga, takut nggak boleh."


Sejak kejadian di ayunan beberapa bulan yang lalu, Ara memang jadi tidak terlalu memaksakan setiap keinginannya. Contohnya tentang sabun mandi kapan hari itu, ia tidak masalah saat Darma melakukan negosiasi dengan membelikannya hanya sepuluh buah.


Darma mematikan ponsel dan menaruhnya di nakas. Tangannya kini balas memeluk pinggang istrinya. "Kamu pengen babymoon?"


"Kok sedih gitu?" Darma meraih dagu Ara, mengangkatnya sedikit supaya pandangan mereka bertemu.


"Nggak ada yang sedih. Udah, ah, aku mau tidur. Mas Darma lanjut main game aja." Ara pura-pura memejamkan matanya.


"Bisa, kok. Mau ke mana?" Sesaat setelah Darma berkata demikian, perutnya yang menempel dengan perut istrinya merasakan gerakan halus bayi mereka.


Ara sontak membuka matanya. "Bayinya gerak lagi. Kamu kerasa?"


"Iya," jawab Darma senang. Tangannya yang tadi memeluk kini beralih mengelus perut Ara, dan gerakan-gerakan halus kembali terasa. "Kayaknya dia juga pengen liburan. Emang kamu pengen ke mana, Babe?"


"London," jawab Ara semangat.


"London?" Darma menaikkan sebelah alisnya.


"Biar aku pernah ke kota di mana kamu dulu kuliah. Ya, mau, ya?"

__ADS_1


"Boleh, tapi mungkin bulan depan berangkatnya. Aku harus atur jadwal sama kamu juga nanti mesti ke dokter dulu. Pastiin semuanya aman."


"Iya, nggak apa-apa. Mas Darma emang terbaik." Ara mengeratkan pelukannya, tapi tidak sampai membuat perutnya terhimpit.


"Kamu pikir aku ngabulin ini cuma-cuma? Enggak, ya."


"Eh?" Ara jadi mendongakkan wajahnya, menatap suaminya yang kini juga balas menatapnya.


"Aku mau imbalan."


"Apa? Mas Darma mau aku bikinin apa?" Kalau sudah begini, biasanya Darma akan minta dibuatkan teh, kopi, susu, atau kadang-kadang Indomie goreng dengan telur ceplok setengah matang di atasnya.


"Mau dibikin enak."


"Hah?"


"Mau dibikin enak sama kamu. Itu imbalannya."


"Mas ...." Wajah Ara tiba-tiba merona malu.


Darma terkekeh. "Nggak usah malu-malu gitu. Bukan kamu banget, Ra. Kamu itu nakal kalau di ranjang."


"Masss!" Ara memukul perut suaminya.


"Ayo, cepet lepasin celanaku. Mau ke London nggak?"


"Jahat!" Lagi Ara memukul. Kali ini paha Darma yang jadi sasaran.


"Biarin, yang penting enak."


Sembari cengar-cengir tidak jelas, Ara menuruti ucapan laki-laki yang baru saja mengedipkan sebelah matanya kepadanya. Ya, kalau suaminya mau, Ara bisa apa? Dia juga tidak akan menolak kalau setelah ini balik Darma yang memberinya sesuatu yang enak.


.


.


🙈🙈🙈. Aku nulis apa, sih,?! Kalian dah cukup umur 'kan, ya?

__ADS_1


Yang kemarin request penampakan emaknya burung mungkin di chapter selanjutnya.


Dukungan jangan lupa!!!!!


__ADS_2