Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Kedatangan Mertua


__ADS_3

Pukul setengah tujuh malam Darma baru tiba di rumah. Dengan kedua tangan dipenuhi paper bag laki-laki itu menghampiri putrinya yang sedang asyik mewarnai gambar di ruang tengah. "Ashila, lihat ini! Papi bawain sesuatu buat kamu," katanya bersemangat.


Ara yang duduk di sebelah anaknya menoleh ke sumber suara. Dilihat dari nama brand yang terdapat di paper bag, Darma membelikan donat dan beberapa mainan. Ah, suaminya itu tahu betul bagaimana mengambil hati anaknya.


Kalau biasanya Ara akan protes karena Darma membelikan makanan yang sebagian besar adalah cokelat, maka saat ini yang bisa dilakukan hanyalah diam.


"Mami mau donat yang mana?" tanya Ashila membuyarkan lamunan ibunya.


"Mami masih kenyang. Kan tadi baru aja makan. Buat Ashila aja."


Bocah itu mengangguk.


"Shila, Papi mandi dulu, ya? Habis itu kita pasang puzzle ini sama-sama." Darma menunjukkan puzzle Rapunzel yang baru saja dibelinya.


"Sama Mami juga!" pinta Ashila.


"Iya." Darma mengusap puncak kepala putrinya, kemudian beranjak tanpa sedikit pun menoleh ke arah istrinya.


Beberapa saat berlalu, ingin Ara pergi ke kamar dan membiarkan anak serta suaminya bermain berdua saja. Ara benar-benar tidak tahan dengan Darma yang mendiamkannya seperti ini. Rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dibandingkan Darma yang kemarin berapi-api mengungkapkan kemarahannya. Namun, mengingat Ashila, gadis kecil itu pasti akan kembali menyeretnya untuk bergabung. Di sisi lain, Ara juga tidak ingin anaknya tahu bahwa orang tuanya kini sedang tidak akur.


Bel rumah yang tiba-tiba berbunyi seakan menjadi angin segar bagi Ara. Ya, setidaknya dia bisa melepas topeng cerianya untuk sesaat. Wanita yang tadi mencegah Bi Marni yang hendak membukakan pintu dan menawarkan supaya dia saja yang melakukannya mendadak lemas usai mengetahui siapa yang datang.


"Mama .... Masuk dulu, Ma." Ara dengan senyum palsu mempersilakan ibu mertuanya masuk. Tampaknya setelah ini dia harus memakai topeng yang lebih tebal dan melebarkan senyumannya lebih lagi.


"Shila belum tidur 'kan, Ra?" tanya Selly saat berjalan beriringan dengan menantunya. Kedua tangannya juga diisi oleh beberapa paper bag.


"Belum, Ma. Lagi main sama Mas Darma."


Selly manggut-manggut. Bibir wanita yang usianya lebih dari setengah abad itu menyunggingkan senyum mendapati cucunya dengan antusias menyambutnya. Namun, tidak dengan putranya yang justru menampilkan raut sedikit sebal.


"Mama ngapain ke sini?"

__ADS_1


"Ketemu Ashila, dong, masa ketemu kamu. Ya? Ashila seneng nggak Oma datang?" Selly tidak mengacuhkan anaknya.


"Senang, Oma," jawab bocah yang kini dibombardir ciuman oleh sang nenek.


"Mama mau minum apa?" tanya Ara menghentikan kegiatan nenek dan cucunya yang sedang melepas rindu. Padahal, belum terlalu lama juga keduanya tidak bertemu. Maklum, cucu satu-satunya.


"Ouh, Mama jadi inget, Ra." Selly meraih paper bag yang tadi ditaruh di meja. "Tadi Mama habis ketemu Juli buat ambil gaun. Eh, malah dikasih dimsum. Katanya bikin sendiri. Isiannya udang sama ayam." Ia mengambil makanan yang terdapat di paper bag paling kecil.


"Aku ambil tempat, ya, terus minumnya teh hijau mau, Ma? Biar kolesterol aman." Lagi dan lagi Ara menyunggingkan senyum palsu.


"Mau banget. Pinter, deh, kamu." Selly tertawa.


Sementara Ara menaruh tiga cangkir teh hijau yang baru saja dibuat, Selly kini sibuk mengeluarkan isi paper bag yang lainnya.


"Lusa Papa 'kan ulang tahun. Mama bikinin kamu sama Shila gaun, Ra, terus ini tadi Mama lihat ada sepatu kecil bagus. Kayaknya, sih, pas buat Shila."


"Ukurannya?" Sebelah alis Darma terangkat kala bertanya.


"Juli tahu. Kan masih ada catatan waktu mau bikin gaun buat ulang tahun Mama beberapa bulan yang lalu."


"Nggak dicoba, Ra?" tanya Selly sedikit heran melihat menantunya seperti bengong menatap gaun berwarna broken white pemberiannya.


"Eee ... nanti aja, Ma. Mau nyicipin dimsumnya dulu. Shila mau nggak?" Ara menawari anaknya seraya mengambil makanan asal Tiongkok.


Ashila mengangguk mau. Ara tersenyum melihat mulut putrinya penuh usai menerima suapannya. Setelahnya, perempuan itu mengambil lagi untuk dirinya sendiri.


Ara yang lagi-lagi terlihat melamun sembari mengunyah dimsum membuat Selly sekali lagi menatapnya dengan kening berkerut.


"Ra?" Selly menepuk pelan bahu menantunya. "Kamu lagi nggak sakit, 'kan?" imbuhnya yang berhasil membuat Darma menoleh ke arah Ara.


"Ng-nggak, Ma. Aku baik, kok." Ara mengembuskan napas pelan. Kembali ia menaruh perhatiannya ke Ashila agar ibu mertuanya tidak curiga.

__ADS_1


"Kamu kecapaian, ya?" tanya Selly menggoda. Pandangannya kemudian beralih kepada putranya. "Kira-kira, dong, Dar. Kasihan Ara nanti sakit lagi kayak dulu."


Berbeda dengan sang ibu yang kini tertawa renyah, Darma justru bersungut-sungut. "Apaan, sih, Ma! Nggak usah ngomong aneh-aneh ada Shila."


"Iya, iya. Omong-omong, pacarnya Silvia juga nanti ikut dinner. Mau PDKT-in Papa katanya. Yeah, semoga aja yang ini bener-bener serius, ya, nggak kayak yang dulu cuma omongannya doang yang gede. Nggak tega Mama kalau lihat Silvia nangis-nangis gara-gara cowok nggak jelas," ucap Selly penuh harap.


"Feeling-ku juga dulu udah jelek, tapi Silvia 'kan nggak mau dengerin kalau dikasih tahu," ucap Darma.


"Kayak siapa?" balas Selly.


Darma membuang muka, mengalihkan perhatiannya pada ponsel.


"Suamimu, tuh, Ra." Selly melirik anaknya yang berubah acuh tak acuh. "Darma sama Silvia itu sifatnya mirip. Untung Bima enggak." Entah sudah berapa kali ia mengatakan hal itu. Ara menyunggingkan senyum tipis kala mendengarnya.


"Acaranya nanti di mana, Ma?" tanya Ara mengalihkan topik pembicaraan.


"Belum tahu. Silvia yang siapin sem—" Ucapan Selly dipotong oleh dering ponselnya. "Panjang umur, nih, lagi diomongin malah telepon," katanya menunjukkan layar ponselnya pada Ara, lalu menyingkir sejenak.


Hening menguasai ketika Selly tak ada lagi di tengah keluarga kecil itu. Darma masih tak acuh dan Ara pun hanya bisa mengatupkan mulut rapat-rapat. Ashila sibuk dengan mainan dan makanan yang membuat perutnya kini terlihat buncit.


"Ra, Mama lupa harus jemput Silvia soalnya mobilnya lagi di bengkel dan ini kebetulan searah," kata Selly usai memutuskan sambungan telepon. Kini ia sudah meraih tas jinjingnya, bersiap untuk pergi.


"Iya, Ma. Hati-hati, ya." Ara bercipika-cipiki dengan ibu mertuanya.


"Iya."


"Nggak usah buru-buru," pesan Darma saat ibunya melangkah dengan tergesa-gesa. Begitu terdengar pintu ditutup, tatapan pria itu beralih pada putrinya. "Shila udah ngantuk? Cuci kaki, yuk, terus bobo."


"Sama Mami."


"Papi beliin buku cerita baru, lhoh. Mau nggak dibacain?" Darma mengambil, lalu menunjukkan buku cerita bergambar kelinci yang tadi ia beli.

__ADS_1


"Mauuuu," jawab Ashila yang sudah beberapa kali menguap.


Segera Darma menggendong putrinya menuju kamar yang lagi-lagi tanpa memedulikan Ara yang masih duduk di sofa.


__ADS_2