
"Mas, udah! Minggir sana!" Ara menendang, menyikut, melakukan apa saja supaya suaminya jauh-jauh darinya. Sudah cukup seharian ini ia berada di kamar. Sekarang waktunya menghirup udara luar.
"Baru jam tiga. Satu kali lagi bisalah!" Tidak kapok, Darma lagi-lagi mendekat.
"Enggak! Udah tiga kali. Orang makan aja sehari tiga kali udah cukup." Kali ini Ara tidak "menganiaya" Darma, tetapi mengalah agar dirinya saja yang menyingkir dari ranjang.
"Soalnya ini makanannya enak banget. Jadi, mau nambah lagi. Terus, ya, Ra," Darma membuntuti Ara yang sedang mencari di mana ponselnya, "kalau mau anak cowok katanya bikinnya harus genap nggak boleh ganjil."
"Plat mobil kali ganjil genap!" Ara menatap sinis suaminya.
Darma terbahak-bahak. Laki-laki itu menyerah ditandai dengan ia yang memungut celana pendeknya. Sementara tubuh bagian atasnya dibiarkan telanjang begitu saja.
"Hapeku mana, sih?" Wajah Ara merengut kesal.
"Haha hi hitu," jawab Darma sibuk mengunyah kue sus yang pagi menjelang siang tadi ia angkut dari dapur.
Tidak hanya kue, laki-laki itu juga membawa sarapan, buah, keripik kentang, air mineral, susu UHT milik anaknya, dan bakmie goreng kesukaan Ara yang dipesan lewat aplikasi online. Sengaja banyak demi efisiensi waktu.
"Di situ di mana? Nggak ada, kok!" Ara tambah menggerutu. "Mas! Bantu cari, dong! Takutnya Shila nyariin."
"Iya, iya." Usai menghabiskan susu UHT berukuran sedang rasa stroberi, Darma bangkit dari duduknya. Seingatnya ia menaruh ponsel istrinya di lantai sisi ranjang, seharusnya benda pipih itu ada di sana.
Darma menggaruk-garuk kepalanya sembari meringis kala tak menemukan benda dengan logo apel digigit milik istrinya. "Kok nggak ada, yah? Apa tadi ketendang pas aku giniin kamu?" Ia mereka ulang salah satu adegan bercintanya beberapa jam yang lalu sambil terkekeh-kekeh.
Demi kewarasannya, Ara memalingkan wajah. "Kalau gitu coba lihat di kolong," katanya sebelum memasukkan sebutir anggur hijau ke mulut.
"Siap, Yang Mulia Ratu."
Ara hampir tersedak mendengarnya. Posisi Darma yang sedang membungkuk dan mengarahkan senter ponselnya ke kolong ranjang membuat wanita itu menendang bokong sang suami.
Dugh!
__ADS_1
"Adaww! Sakit!" Darma memiringkan kepala, menatap istrinya dengan bibir mengerucut.
"Ada nggak?" tanya Ara tak acuh. Tendangannya tidak seberapa. Jadi, suaminya pasti hanya berpura-pura.
Pria itu mengembuskan napas panjang. Bangkit berdiri, Darma serahkan ponsel di tangan kanannya kepada si pemilik.
Cepat Ara menyalakan ponsel yang tadi sengaja dimatikan Darma dan segera melihat notifikasi. "Tuh, 'kan! Mama sama Silvia video call berkali-kali. Aku v-call balik, deh," katanya menunjukkan riwayat panggilan video tidak terjawab yang tertera di layar.
Namun, belum sempat panggilan itu terhubung, Darma segera mematikannya. Ara melotot, sedangkan si pelaku membuang napas kasar.
"Yakin mau video call sambil pamer kissmark sebadan-badan?"
Ara menatap tubuhnya yang hanya berbalut tanktop. Ada banyak tanda merah di bahu serta dada dan mungkin di tempat-tempat lain yang belum ia lihat. "Masss ...." Wajahnya seketika nelangsa.
"Ya, Sayang?" Enteng Darma menjawab sambil tersenyum tanpa beban.
Dengkusan pelan terdengar. Ara melempar ponselnya ke ranjang, lalu berjalan ke kamar mandi. "Aku mau mandi terus siap-siap jemput Shila. Kalau mau ikut cepet mandi di kamar sebelah, kalau nggak mau, ya, sudah. Bye!"
Sudah tidak perlu dijelaskan bukan pikiran seperti apa yang tercetus di kepala ibu mertuanya mengetahui ia dan suaminya seharian berada di kamar? Yang jelas, saat ini yang harus Ara persiapkan adalah mental kalau nanti diceng-cengin.
Tiba di rumah Mama Selly, ada Silvia yang sedang berdiri di depan pintu. Sepertinya perempuan itu baru saja mengantar seseorang melihat tadi ada mobil yang berpapasan dengan mobil Darma di gerbang.
"Radhit?" tebak Darma begitu menjejakkan kaki di teras rumah.
Adiknya mengangguk, lalu mendahului masuk rumah dan berteriak, "Maaaaa ... pengantin barunya udah dateng, nih!"
Benar 'kan dugaan Ara. Perempuan itu melirik suaminya yang hanya mengedikkan bahu tak acuh.
Selly datang dari ruang tengah dengan wajah sumringah. "Shila lagi makan pizza," katanya sebelum Ara bertanya.
"Kok pizza, sih?" ujar Darma tak suka.
__ADS_1
"Siapa suruh ditelepon nggak diangkat." Silvia mencibir. "Tadi Shila mau nangis, lhoh, gara-gara nggak dijawab-jawab. Untungnya Radhit dateng terus aku ajak jalan-jalan, deh. Daripada aku anterin pulang nanti malah kalian kentang. Mending dibeliin pizza, 'kan?" imbuhnya tanpa tedeng aling-aling.
Jangan tanya bagaimana wajah Ara sekarang. Sudah merah mirip tomat yang berjajar rapi di supermarket. Sementara Darma justru melayangkan tatapan menyelidik.
"Pinter banget kamu jawabnya. Udah kayak orang pengalaman aja."
Silvia berdecak. "Mas Darma ngapain lihatin aku kayak gitu? Gini-gini aku masih ada di jalan yang lurus, ya!"
"Jangan berani macem-macem sebelum nikah. Awas aja kalau sampai kejadian." Sifat posesif seorang kakak muncul dari diri Darma.
"Iya, iya. By the way, kenapa Mas Darma sama Mbak Ara nggak bulan madu lagi aja, sih? Minggu depan 'kan long weekend. Bisa, tuh," saran Silvia sebelum berpamitan ke kamar untuk berganti pakaian.
Darma menoleh ke arah istrinya. "Idenya boleh juga. Mau nggak, Babe? Ke Bali?"
"Eh?" Ara terlihat bingung. Secepat itu suaminya memutuskan.
"Iya aja, Ra. Jarang-jarang bisa liburan. Mumpung baru baikan juga 'kan? Biasanya auranya beda." Selly tersenyum menggoda.
Mata Ara kontan melebar.
Dan sebelum sebuah kata keluar dari mulut menantunya, Selly kembali berkata, "Mau bagaimana seorang anak menyembunyikan masalahnya, seorang ibu pasti tahu. Bedanya, jika anaknya sudah dewasa apalagi berkeluarga, tidak selalu orang tua angkat bicara."
Ara terenyuh ketika ibu mertuanya menyentuh bahunya.
"Beda pendapat itu biasa. Mama juga sering berantem sama Papa, tapi semuanya kembali lagi ke hati. Ingat kalau kalian saling mencintai. Tidak mudah untuk kalian bisa bersama sampai sekarang ada Shila di tengah-tengah kalian."
Senyum tipis terukir di bibir kedua wanita berbeda generasi itu.
"Iya, makasih, Ma."
Mendengar derap langkah kaki mendekat, mereka lantas menoleh ke arah pintu. Ashila muncul dengan mulut belepotan saus.
__ADS_1
"Mamiiiiiiii ...."