
Kasih tahu kalau ada typo 😎😎😎
Senyum merekah tersungging di bibir ketika Ara menyingkap gorden kamar yang ia tempati bersama keluarga kecilnya sejak kemarin malam. Alunan ombak dan pasir putih yang membentang seketika memanjakan mata.
"Babe!"
Suara serak khas orang bangun tidur terdengar memanggil. Ara menoleh. Lambaian tangan Darma menuntun kakinya untuk mendekat.
"Suka nggak?" tanya pria yang baru saja menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang.
"Suka," jawab Ara diiringi senyuman.
Darma merentangkan tangan, meminta istrinya datang ke pelukannya.
"Manja."
"Biarin. Emang cuma Shila doang yang bisa manja?"
Tatapan Ara jatuh pada putrinya yang masih terlelap. Meski rencana awalnya bulan madu jilid dua, nyatanya Darma lebih menjadikan liburan singkat itu sebagai quality time with his little family. Bahkan, pria itu juga yang memutuskan supaya mereka tidak membawa pengasuh.
"Ma—" Pekikan kencang dari mulut Ara hampir saja memenuhi kamar kalau saja Darma tidak membungkam bibirnya dengan bibir pria itu.
"Jangan berisik nanti Shila bangun."
"Bangun, ya, udah. Kan emang udah siang juga. Semalem juga tidurnya lebih awal," sahut Ara tanpa beban.
Raut wajah Darma mendadak lesu. "Ini baru jam enam. Ra ...." Ia memegang tangan istrinya.
"Hm?" Kedua alis Ara terangkat.
"I want. Ya? In the bathroom."
Menyisir rambutnya ke belakang dengan jari, Ara terlihat menimang permintaan suaminya. "Gimana, ya?"
"Kelamaan!" Tanpa ba-bi-bu lagi, Darma langsung bangkit berdiri dengan Ara yang sudah berada dalam gendongannya.
Lagi-lagi Ara yang hendak memekik kencang harus gagal lantaran Darma yang kembali menyambar bibirnya.
"Fck! Ara, kamu enak banget!" Napas Darma menderu di perpotongan leher istrinya di penghujung kegiatan bercinta mereka.
__ADS_1
Ara hanya mengerjap-ngerjapkan mata. Lelah sekaligus mengantuk setelah pelepasannya beberapa saat yang lalu. Ingin kembali tidur, tapi ingat kalau anaknya mungkin sebentar lagi akan bangun.
"Kamu istirahat dulu. Aku mandi sekarang terus nanti mandiin kamu," kata Darma, lalu menyingkir dari tubuh istrinya.
"Shilaaa ...."
Bibir Darma mengulas senyum. Memang, ya, mau bagaimanapun keadaannya seorang wanita yang sudah memiliki anak pasti akan memikirkan anaknya terlebih dahulu.
"Aku cek dulu, " kata Darma.
Pria itu mengacungkan jempol sebagai tanda bahwa Ashila aman terkendali alias masih tidur pulas. Darma lantas menghidupkan shower guna membersihkan tubuhnya, lalu bergantian membersihkan tubuh istrinya. Tidak! Mereka tidak mandi di bathtub karena takut akan mengulur waktu lebih lama lagi.
Tidak lama setelah orang tuanya selesai mandi, Ashila pun bangun. Sungguh anak yang sangat pengertian.
"Pantai," kata gadis kecil itu sambil mengucek mata.
"Iya, kita ke pantai. Tapi, mandi dulu, ya?" Darma menggendong anaknya menuju kamar mandi. Hanya menggendong, tapi tidak memandikan. Tentu saja alasannya mau sebats karena tadi belum sempat.
Selesai dengan urusan mendandani anak dan memakai sunblock tanpa ada yang terlewat, keluarga kecil itu pun menuju pantai yang letaknya di depan resort setelah tadi menunaikan sarapan.
Ara yang memakai celana jeans yang hanya menutupi bokong dipadu dengan tanktop dan outer floral transparan membuat Darma sedikit menyesal tidak membawa babysitter kemari. Wanita itu sibuk bermain pasir dengan putrinya, sedangkan Darma sendiri berperan sebagai juru kamera.
"Panas. Udahan, yuk?" Ara bangkit berdiri di tengah sengatan matahari yang makin terik. Ashila masih kekeuh membangun kastil yang sejak tadi roboh entah karena terkena air atau tersenggol kaki dan tangan.
Bak seorang selebgram, Ara langsung berpose dengan berbagai macam ekspresi. Ia tersenyum puas melihat hasil jepretan suaminya yang tak kalah dengan fotografer profesional. Yeah, bukannya zaman sekarang suami memang harus serba bisa demi feeds Instagram istrinya supaya terlihat estetik?
Pukul sebelas siang lewat sekian menit akhirnya Ashila mau enyah dari pantai. Itu saja gara-gara kulitnya merah-merah karena terlalu lama terkena paparan sinar matahari. Jangan tanya bagaimana ibu dari bocah itu, sudah mengomel dengan raut khawatir yang begitu kentara. Ya, kalau sudah begini Ara merasa tidak becus menjadi seorang ibu.
"Tenang, Babe. Kamu nggak usah khawatir gitu. Shila-nya aja udah enjoy, kok," kata Darma menunjuk putrinya yang sedang asyik memakan es krim.
Tadi Ashila memang sempat menangis karena katanya perih dan gatal, tapi berkat pegawai resort mereka bisa mendapatkan obat yang dibutuhkan dengan cepat.
"Iya, tapi 'kan aku takut. Besok nggak usah ke pantai lagi!"
"Katanya mau lihat sunrise?"
Ara mendengkus kasar. "Lihat sunset aja."
"Sama aja. Kan lihatnya dari situ juga." Darma menunjuk balkon kamar dengan dagunya, kemudian terkekeh.
__ADS_1
Ara merengut kesal. Entah kenapa suasana hatinya mendadak buruk. Dan Darma tahu betul bagaimana mengatasinya. Laki-laki itu langsung memeluk istrinya. Sangat erat hingga tubuh keduanya jatuh ke ranjang. Darma menciumi wajah Ara tanpa ada yang terlewat, lalu menggelitiki leher Ara dengan rambutnya. Beruntungnya tadi Darma memesan banyak makanan. Jadilah, Ashila tak acuh dengan kemesraan orang tuanya.
Ratusan kilometer dari tempat keluarga kecil itu berada, Elang pulang dengan wajah babak belur. Ajeng yang menyambutnya kaget bukan main.
"Mas, kenapa bisa begini?" tanya wanita hampir menangis.
Elang menatap sendu. "Nggak apa-apa. Aku bersih-bersih badan dulu."
"Nggak apa-apa gimana? Kamu pulang bonyok begini. MAS!" Ajeng menyentak saat suaminya seakan tak mempedulikannya.
"Maaf ...." Elang tertunduk lemas.
"Cerita," ucap Ajeng tegas.
Mereka lantas duduk di kursi ruang tamu. Sungguh Elang tidak ingin istrinya banyak pikiran, tapi dia bisa apa? Ini semua salahnya.
"Jadi, sebelum aku mencoba pinjam uang ke Ara, aku udah pinjem ke rentenir."
Mulut Ajeng kontan menganga mendengarnya. "Ke-kenapa?"
"Waktu itu nggak ada pilihan. Aku pikir kalau Ara pinjemin aku uang, aku bakal lunasin hutang ke rentenir itu biar bunganya nggak tambah besar. Tapi, seperti yang kamu lihat sekarang. Aku minta maaf ...."
"Kamu nggak salah." Ajeng meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat. "Aku tahu kamu lakuin itu buat aku buat keluarga kita. Sekarang apa yang bisa aku lakuin buat bantu kamu?"
Elang menyunggingkan senyum paksa. Ia sendiri juga bingung. Mau pinjam juga rasa-rasanya orang lain sudah muak kepadanya. "Pinjem uang, tapi nggak tahu ke siapa. Dan kalau emang nggak ada tunggu sampai bulan depan, sampai depositoku cair. Baru kita bayar hutangnya."
"Itu kelamaan. Gimana kalau mereka hajar kamu lagi. Aku bakal cari pinjaman."
"Ke siapa?" Elang tersenyum kecut. Raut wajah Ajeng menunjukkan keputusasaan. Teman-teman perempuan itu saja entah pada ke mana sejak dirinya tertimpa banyak musibah.
"Aku pinjam ke orang tuaku," cetus Ajeng.
"Nggak usah. Biar nanti aku temuin boss mereka. Oh, iya, tadi Ayahmu —"
"Ayah kita! Cukup panggil ayah nggak usah pake embel-embel ayahku, ayahmu. Aku nggak suka!"
"Iya, iya." Di tengah rasa sakit yang mendera, Elang sedikit bisa tertawa. "Ayah bilang kalau ada temannya yang pernah lihat Reno. Sekarang lagi diselidiki. Semoga dia bisa segera ditangkap dan uang kita kembali."
"Semoga, ya. Dia udah jahat banget, Mas," ucap Ajeng penuh harap.
__ADS_1
Elang menjawabnya dengan usapan di kepala. "Makasih udah mau bertahan."
Ajeng menutupi matanya yang siap meluncurkan air mata. Yang mana segera diturunkan oleh Elang, kemudian ditariknya Ajeng ke dalam dekapan lelaki itu.