Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Ngidam 2


__ADS_3

Setelah drama gudeg ceker selesai, seminggu berikutnya Darma sedikit merasa senang karena Ara tidak meminta yang aneh-aneh. Paling hanya sesekali minta dibuatkan susu khusus ibu hamil. Agaknya istrinya juga sudah mulai paham apa saja yang bisa diterima dan tidak diterima oleh perutnya. Jika lapar, perempuan itu akan membuat jus alpukat karena kandungan asam folatnya yang tinggi atau kalau bosan dia akan memakan buah pir yang sudah dipotong-potong. Mama Selly bilang pir itu bagus untuk mengurangi mual. Jadi, Ara rajin memakannya, meski faktanya ia tak merasa ada perubahan apa pun. Namun, okelah, setidaknya dia memang jadi tidak sering muntah seperti sebelumnya.


Hingga malam Minggu pun tiba, Darma yang sudah tampil rapi, siap untuk kencan dengan agenda menonton film bersama istrinya sepertinya harus tertunda gara-gara Ara yang baru keluar dari walk in closet dengan wajah memelas berkata, "Mas, aku pengen lontong sate."


"Ya, udah nanti beli."


"Aku pengennya sekarang sebelum nonton. Mumpung laper jadi bisa makan banyak."


Darma tampak menimang. Mereka akan menonton film superhero favorit Darma yang sudah dinantikan sejak lama. Darma tidak mau ketinggalan karena Aldo sudah menonton dan jika temannya itu tahu dia gagal menonton, dijamin seratus persen mulut ember Aldo akan spoiler.


"Nggak apa-apa kalau nggak bisa, tapi Mas Darma nonton sendiri dulu. Nanti aku nyusul setelah makan lontong sate," ujar Ara seakan tahu apa yang ada di benak suaminya.


"Bisa, kok, bisa." Alam bawah sadar lelaki itu mengingatkan bahwa istrinya adalah prioritas utama.


"Bener bisa? Besok belum tentu dapet tiket nonton lagi, lhoh." Ara menguji suaminya.


"Film bisa nonton kapan-kapan. Yang paling penting itu kamu."


Ara tersenyum cerah. Ia menggamit lengan suaminya sampai keluar rumah. Sepanjang perjalanan bibirnya masih setia melengkung ke atas.


Darma mengendarai mobilnya dengan santai menelusuri jalanan sambil celingukan mencari tukang sate. Sebab, sesuai permintaan istrinya, Ara ingin makan lontong sate pinggir jalan. Darma tidak masalah yang penting tempatnya bersih.


Begitu menemukan tukang sate yang kelihatannya sesuai kriteria—ramai dan bersih—Ara menyeletuk, "Mas, kalau nanti pesen inget, ya! Aku cuma mau lontong sate aja nggak pakai satenya."


Darma yang baru mematikan mesin mobil kontan menoleh dengan mata melebar, "Kok gitu?"


"Aku nggak mau. Cape ngunyah daging. Kelamaan di mulut nanti malah nggak bisa ketelen."


"Ya, udah, nanti satenya biar aku yang makan."


Raut wajah Ara merengut tak suka. "Kok kamu tega, sih, Mas, makan sate sementara aku cuma makan lontong?"


"Ya, kamu makan satenya juga. Masa iya beli lontong sama bumbunya doang?" Nada bicara Darma sedikit menunjukkan kekesalan. Lagipula, apa susahnya tinggal memakan apa yang diinginkan dan mengabaikan yang tidak ingin dimakan?


"Kan aku bilang aku nggak mau ngunyahnya. Lama! Aku mau makan makanan yang cepet ditelen. Nggak usah pake bentak aku segala. Bilang aja malu beliinnya! Sana kamu pergi nonton. Aku bisa pulang naik taksi." Ara sudah mau membuka pintu mobil dengan wajah banjir air mata, tapi tentu saja Darma tidak akan membiarkannya.


"Duduk sini. Aku beliin." Nada bicaranya sudah kembali normal.


"Nggak usah. Udah di sini, aku beli sendiri aja." Ara tetap bersikukuh.


"Aku aja. Kamu di sini, tenangin diri." Kali ini Darma memaksa.


Ara tambah sesenggukan sesaat setelah suaminya keluar dari mobil. Dia merasa bersalah, tapi jujur ia tidak mengada-ada. Dia hanya ingin memakan lontong sate dengan bumbu kacang tanpa adanya sate di bungkus yang sama.


Sementara Darma rasanya ingin menenggelamkan diri kala menyebutkan pesanan yang sesuai keinginan Ara. Beruntung, tukang sate pun memaklumi setelah Darma berkata jika itu adalah keinginan istrinya yang sedang hamil.


Lelaki itu kembali dengan wajah yang sudah biasa-biasa saja. Dalam hatinya, Darma juga merasa bersalah karena lepas kontrol. Tidak seharusnya dia berbicara keras kepada istrinya. Kepada wanita yang katanya ia cintai dengan segenap hati, jiwa, dan raganya.


"Ini pesenan kamu." Darma menyerahkan kantong plastik putih berisi lontong sate tanpa sate.


Ara menerimanya dengan hati-hati.


Melihat istrinya hanya memegang tanpa ada niatan membuka, Darma menyeletuk, "Nggak dimakan?"


Ara menyalahartikan ucapan suaminya. Dia pikir Darma masih kesal. Jadilah, ia berkata lirih, "D-dimakan, kok."


Pelan Ara membuka plastik di pangkuannya. Namun, sebelum ia berhasil meraih isinya, tangan Darma sudah menyingkirkan makanan itu. Suaminya itu tiba-tiba saja memeluknya.

__ADS_1


"Maaf ... maaf aku nggak sengaja bentak kamu. Aku beneran nggak maksud gitu."


Tangis Ara kembali pecah memenuhi seisi mobil. "Mas Darma nggak salah. Aku aja yang mintanya aneh-aneh. Harusnya nggak usah diturutin." Terbata-bata ia berucap.


"Kan kamu lagi hamil, wajar minta yang aneh-aneh. Udah .. jangan nangis, ya. Mau aku suapin makan lontongnya?" Darma mengurai pelukan mereka.


"Makan sendiri aja," jawab Ara seraya menghapus pipinya yang basah.


Darma mengangguk. "Pulang aja, ya. Besok jalan-jalan mau? Kamu pengen ke mana?"


Kening Ara berkerut dalam memikirkan tempat seperti apa yang ingin didatangi, dan ia langsung mengulas senyum begitu tahu ke mana tujuannya. "Ke taman. Pengen main ayunan."


Main ayunan, doang? Kecil, Men!


Hari Minggu pagi, Darma dan Ara benar-benar pergi ke taman yang menyediakan permainan anak-anak seperti jungkat-jungkit, prosotaan, dan tentu saja ayunan seperti yang diinginkan Ara.


Bibir Darma yang sejak dari rumah menyunggingkan senyum perlahan memudar saat menit demi menit terlewati taman tersebut mulai ramai oleh keluarga kecil yang membawa anak mereka untuk rekreasi dengan biaya murah.


"Ra, udah, ya, naik ayunannya," ujar Darma merasa tak enak hati mendapat lirikan tak sedap dari ibu-ibu di sekitarnya lantaran Ara belum juga mau turun dari ayunan. Padahal banyak anak yang mengantre.


"Kan baru sebentar, Mas. Aku nggak mau," tegas Ara tak terbantahkan.


"Tapi, Ra—"


"Nggak ada tapi-tapian. Lagian kenapa, sih, Mas, nyuruh-nyuruh udahan? Aku 'kan cuma pengen main hari ini aja. Besok-besok juga udah enggak. Mungkin ke sininya lagi kalau udah punya anak." Ara mengembuskan napas kasar. Merasa sebal dengan suaminya.


"Iyaa .... Jangan marah, please. Nanti cantiknya hilang. Hari ini main sepuas kamu, iya? Aku dorong mau?" Darma seperti mengasuh anak umur lima tahun.


Ara mengangguk. "Mauuu ... tapi, pelan-pelan. Takut jatuh."


Darma menipiskan bibir, kemudian menuruti perintah istrinya. Sungguh, dia harus menebalkan muka dan menulikan telinga. Ia merasa seperti dikelilingi oleh musuh yang kapan saja bisa menyerangnya.


......................


[Congrats, doa lo terkabul]


Itu pesan yang dikirimkan Darma kepada Aldo sebelum berangkat ke kantor keesokan paginya. Kekesalan dalam diri lelaki itu belum juga hilang. Kemarin, ia sempat cekcok dengan seorang ibu muda gara-gara Ara tidak mau turun dari ayunan sampai berjam-jam lamanya. Selain itu, Darma terpaksa adu mulut karena wanita itu melontarkan kalimat yang membuat istrinya menjadi sedih, seperti, "Banyak perempuan hamil, tapi nggak nyebelin kayak istri kamu."


Setelahnya, Ara jadi murung seharian sampai pagi ini. Darma tahu istrinya masih sedih, tapi Ara mencoba menyembunyikannya dengan pura-pura bersikap baik-baik saja.


Menjelang jam makan siang, tawa menggelegar memenuhi ruangan Darma. Siapa lagi pelakunya jika bukan Aldo. Laki-laki yang sebentar lagi resmi menjadi seorang ayah itu terbahak-bahak hingga matanya berair. Ia geleng-geleng kepala, tak mampu membayangkan bagaimana wajah temannya dari zaman SMP membeli lontong sate tanpa satenya. "Sumpah! Kayaknya gue harus berterima kasih banyak sama istri lo," katanya dengan sisa tawa yang sangat menyebalkan di mata Darma.


"Ketawa lo! Gue doain—"


"Apa? Mau doain apa lo?" Aldo menantang. "Mau doain nanti pas Imelda lahiran gue dijambak, dicakar, terus dimarah-marahi? Nggak takut lo, gue doain balik."


Darma mingkem. Kedua tangannya kini dilipat di dada dengan salah satu kaki dinaikkan paha satunya. Otaknya tak berhenti memikirkan Ara. Bagaimana jika sekarang istrinya masih sedih? Apa yang bisa dia lakukan agar wanita yang dicintainya bisa kembali tersenyum?


"Sebenarnya, gue juga lagi kepikiran sesuatu, sih, Dar," cetus Aldo yang sejatinya juga turut prihatin mendengar istri temannya dibilang menyebalkan.


Bagaimanapun juga, orang yang mengatai-ngatai Ara adalah seorang perempuan yang sudah pernah hamil. Mestinya dia sadar kalau ucapannya bisa sampai mempengaruhi psikis seseorang, apalagi wanita hamil cenderung lebih sensitif.


"Apa?"


"Bayi gue sama Imelda masih sungsang. Padahal, Imelda ngotot maunya lahiran normal karena takut operasi. Sementara gue nggak bisa apa-apa selain menyerahkan semuanya sama yang punya hidup."


Darma manggut-manggut. "Ya, gue cuma bisa doain yang terbaik buat lo dan Imelda sama anak kalian."

__ADS_1


"Hmm ... thanks."


Suasana menjadi hening. Aldo sibuk dengan pikirannya, sedangkan Darma dengan ponselnya. Dia sedang mengetik pesan untuk Ara. Ingin memastikan bahwa istrinya baik-baik saja.


Darmasena


Babe gimana keadaan kamu?


^^^Arasellia^^^


^^^Aku baik kok mas^^^


^^^Emang aku sakit?^^^


Darmasena


Takut kamu masih kepikiran yang kemarin


Khawatir kamu stress


^^^Arasellia^^^


^^^Aku beneran nggak apa-apa^^^


^^^Aku juga emang salah kan nggak mau gantian sama yang lain^^^


^^^Padahal mereka anak-anak sdgkan aku udah gede^^^


Darmasena


Hmmm ....


Nanti pulangnya mau dibawain apa


^^^Arasellia^^^


^^^Terserah mas aja^^^


Darmasena


Jangan terserah aku


Kamu lagi pengen apa


^^^Arasellia^^^


^^^Hmmm apa yaaaa^^^


Cukup lama Darma menunggu balasan sampai akhirnya pesan suara dari istrinya pun masuk.


"Kalau nggak ngerepotin nanti Mas Darma pulangnya mampir supermarket beli sabun mandi, ya. Sabun apa aja kalau bisa semuanya dibeli satu-satu. Aku lagi suka wangi-wangian, tapi nggak mau nyium wangi kamu. Bosen."


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.

__ADS_1


Gelak tawa Aldo kembali memenuhi seisi ruang. "Gue ikut lo beli sabun, ya, Bro, tapi gue lihatin dari jauh. Sebagai gantinya lo boleh pake credit card gue buat bayar. Hahahahahaha ... gila! Istri lo keren banget ngidamnya," kata laki-laki itu begitu puas menertawakan temannya.


Darma tidak mengatakan apa pun. Yang dia lakukan hanya beranjak dari kursi, membukakan pintu, kemudian mempersilakan temannya untuk segera angkat kaki dari ruangannya dengan raut murka.


__ADS_2