You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Berangkat Ke Kota


__ADS_3

"Kamu baik-baik ya di sini, nurut apa kata Bu Sri" kata Hasna pada adiknya, Hisyam hanya mengangguk saja.


Hasna menatap Bu Sri yang berdiri di teras rumahnya "Bu, Na titip Hisyam ya. Maaf repotin Ibu lagi"


Bu Sri tersenyum ramah "Gak usah sungkan Na, kayak sama siapa aja. Ibu malah seneng kalo Hisyam tinggal di sini"


Hasna tersenyum "Terimakasih Bu"


Hisyam naik ke atas teras Bu Sru dengan tas ransel di punggungnya. Hasna mengikuti Hisyam, gadis itu menyalami Bu Sri.


"Na pamit ya Bu, salam sama Kak Ryan. Syam Ka Na pergi dulu ya, kamu baik-baik di sini"


Hisyam mengangguk "Iya Kak, hati-hati"


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Hasna berjalan menuju rumahnya karena Bima masih menunggunya di sana.


"Tuan" panggil Hasna saat melihat Bima sedang fokus dengan ponselnya.


Bima mendongak dan menatap tajam gadis di depannya "Lama sekali kau, beraninya membuatku menunggu!"


Hasna menunduk takut, pria ini selalu saja menyeramkan di mata Hasna.


"Maaf Tuan, ayo kita berangkat sekarang" lirih Hasna


Bima tidak menjawab, dia langsung mengambil tas Hasna yang sudah berisi beberapa pakaian dan barang lainnya yang sekiranya akan di perlukan gadis itu di Ibu Kota nanti.


Hasna terperanjat saat tiba-tiba tangan kekar itu menggandeng tangannya dan berjalan ke luar dari halaman rumah kontrakan nya.


Hasna hanya bisa mengikuti langkah Bima dengan terseok-seok. Matanya menatap pada tangan yang saling menggenggam itu. Tidak... Tepatnya Bimalah yang menggenggam tangan mungilnya.


Deg..Deg..


Apa ini? Kenapa dengan jantungku?


Tangan kiri Hasna memegang dadanya yang berdebar. Perasaan apa ini? Hasna sama sekali belum merasakan perasaan seperti ini selama hidupnya.


"Selamat malam Tuan"


"Hmm"


Suara itu berhasil membuat Hasna tersadar dari pikirannya. Gadis itu menatap pada pria paru baya yang pernah mengantarkannya ke sini.


"Selamat malam Pak Firman" kata Hasna dengan senyuman ramahnya


Pak Firman hanya mengangguk, pria paru baya yang masih terlihat kekar dan awet muda itu langsung membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Bima dan Hasna.

__ADS_1


Bima menyerahkan tas milik Hasna pada Pak Firman sebelum dia masuk ke dalam mobil.


"Emm. Pak Na duduk di depan saja menemani Bapak ya?" kata Hasna ragu-ragu


Aku takut jika harus duduk berdampingan dengan pria dingin menyeramkan itu.


Bima langsung bereaksi, matanya menatap begitu tajam dan dingin. Hasna gelagapan, rasanya tatapan Bima itu begitu menusuk ke jantungnya.


Kenapa menatapku seperti itu? Apa yang salah? Aku hanya ingin duduk di depan. Apa salahnya?


"Masuk dan duduk di sini!" titah Bima dengan suara dingin menusuk


Hasna gemetar mendengar suara Bima, gadis itu hanya mengangguk dan menuruti apa yang di katakan Bima barusan.


Pak Firman menutup pintu mobil setelah Hasna masuk. Pria paru baya itu berjalan ke belakang mobil fan membuka bagasi mobil untuk menyimpan tas milik Hasna.


Pak Firman masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobil. Memecah keheningan di malam hari.


Bima menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Matanya terpejam, terlihat sekali gurat wajah yang lelah.


Hasna diam-diam menatap dan mengagumi wajah tampan Bima. Jika sedang dalam posisi seperti ini, maka Bima terlihat begitu tenang. Beberda sekali dengan jika dia bangun.


Tidak boleh Hasna... Kamu tidak boleh sampai terlibat perasaan dengan Tuan Bima.


Hasna memalingkan wajahnya ke arah jendela. Tidak mau jika terus menerus menatap wajah Bima. Hal itu tidak baik dengan detak jantungnya.


Selesaikan semuanya dan kau bisa menjalani hidupmu seperti biasa, Hasna. Ingat itu.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Ekhem...


"Tuan, kita sudah sampai"


Suara Pak Firman langsung menyadarkan Hasna dari tidurnya. Gadis itu mengerjep dan membuka kedua matanya dengan perlahan. Hal yang pertama kali dia lihat adalah dagu putih dan leher yang mulus.


Deg


Hasna menyadari apa yang sedang terjadi. Tangannya melingkar di perut pria dingin di sampingnya. Tangan kekar pria itu juga melingkar di bahunya.


Apa ini? Sejak kapan mereka tertidur dengan posisi ini? Mereka berpelukan..


Hasna segera menjauhkan tubuhnya dari pelukan Bima membuat pria itu terbangun dari tidurnya. Sementara Pak Firman merasa kikuk sendiri dengan apa yang di lihatnya. Dalam sejarah dia mengikuti Bima, belum pernah hal seperti ini terjadi.


Bima mengusap ujung matanya, dia menatap ke arah luar jendela mobil lalu beralih menatap gadis di sampingnya yang terlihat salah tingkah.


"Kau kenapa?" Tanya Bima bingung, melihat wajah Hasna yang memerah malu


Hasna menggeleng cepat, wajahnya terlihat kikuk "Ti..tidak papa Tuan"

__ADS_1


Untung saja dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi.


Hasna akhirnya bisa bernafas lega saat Bima sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Mereka berpelukan dengan nyaman.


"Cepat turun, kenapa masih diam" kata Bima


Hasna mengangguk dan segera membuka pintu mobil dan turun. Pak Firman menyerahkan tasnya pada Hasna.


"Terimakasih Pak"


"Hmmm"


Hasna mengikuti langkah Bima yang masuk ke loby apartement. Masuk ke dalam lift, keduanya masih diam. Hasna masih terus memikirkan yang terjadi di dalam mobil tadi.


Selelap itu aku tidur sampai tidak sadar jika aku memeluknya. Tidak.. Kami saling berpelukan.


Ting..


Pintu lift terbuka, Bima keluar di ikuti oleh Hasna. Hasna menatap sekelilingnya, apartement yang meninggalkan banyak kenangan untuknya.


Untuk yang kedua kalinya aku kembali lagi ke tempat ini setelah kejadian menyakitkan itu terjadi.


Bima menempelkan acces card dan pintu langsung terbuka "Masuk!"


Hasna masuk ke dalam apartement yang pernah dia kunjungi beberapa waktu lalu. Suasana di tempat ini masih sama, sepi..


"Kau bisa tinggal di kamar yang waktu itu. Kau masih ingat'kan? Aku tak perlu mengantarmu lagi" kata Bima dingin dan datar


"Bersikaplah sewajarnya, aku akan mengurus beberapa pekerjaan dulu. Kau istirahatlah, jangan mencoba untuk melarikan diri!"


Hah..


Hasna mengehela nafas pelan, pria ini selalu saja mengira jika dirinya akan melarikan diri darinya sebelum semuanya terungkap dengan jelas.


"Iya Tuan, lagian bukannya saya sudah menandatangani surat perjanjian yang Tuan siapkan"


Surat Perjanjian aneh itu.


Bima mengangguk dan bergumam pelan. Setelah itu, Bima langsung berlalu ke kamarnya yang berada di lantai bawah apartement ini.


Dasar pria dingin..


Hasna berlalu naik ke lantai atas menuju kamar yang akan di tempatinya selama berada di sini.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. Kasih hadiah dan vote kalian. Jangan pelit dengan like dan komentarnya.. Kasih masukan juga boleh..


Ditunggu dukungan kalian...

__ADS_1


__ADS_2