
"Ayah, Ibu tolong jangan tinggalkan Hasna. Na takut sendirian"
Bima dan Hisyam terdiam di ambang pintu kamar Hasna. Mendengar setiap lirihan gadis itu dalam tidurnya. Ini kali kedua Bima mendengar Hasna mengingau dalam tidurnya dan dia selalu menyebutkan hal yang sama. Ayah, Ibu jangan tinggalkan Hasna.
Hah...
Hisyam menghembuskan nafas kasar "Kak Na, memang sering mengingau seperti itu. Dia selalu mimpi buruk, bayangan saat kedua orang tua kita meninggal selalu menjadi mimpi buruk untuk dia"
Bima terdiam mendengar penjelasan Hisyam, betapa sulitnya hidup Hasna selama ini. Dia selalu di hantui bayangan mengerikan itu. Dimana orang tuanya meninggal dengan cara yang tidak sepantasnya.
"Selama ini Kakak tertekan dengan kenyataan. Dia trauma, dia ketakutan. Namun, selalu menutupi semuanya dari siapa pun. Bahkan awalnya aku juga menganggap jika Kakak begitu tegar dan kuat, sampai aku mendengar dan melihat sendiri bagaimana Kakak merintih ketakutan dalam tidurnya dan itu bukan hanya sekali"
Bima mengerti sekarang, kenapa gadis itu selalu menunjukan ketakutan berlebihan terhadap nya. Mungkin juga karena dia memiliki trauma dan hal begitu menyakitkan dan menakutkan di masa lalunya. Atau mungkin memang pada dasarnya Bima itu menakutkan. Entahlah..
Bima melangkah masuk ke dalam kamar, namun tangannya langsung di tahan oleh Hisyam.
"Mau kemana?" Tanya Hisyam
Bima menatap tangan Hisyam yang memegang tanganya "Aku mau membangunkan Kakakmu"
Hisyam menggeleng cepat "Jangan di bangunkan, biarkan saja Kakak tidur"
"Kenapa? Aku tidak tega jika dia terus-terusan terjebak dalam mimpi buruk itu. Lihatlah, dia terus merintih ketakutan bahkan sampai meneteskan air mata seperti itu" kata Bima, menatap heran pada Hisyam yang malah melarangnya untuk membangunkan Hasna dari mimpi buruknya.
"Sudahlah, kau anak kecil diam saja. Lebih baik kau ganti pakaianmu itu, aku bawa makan siang untuk kau dan Kakakmu" kata Bima sambil berlalu masuk ke dalam kamar Hasna dan menutup pintu kamar membuat Hisyam terkejut karena dia masih berada tepat di depan pintu kamar Hasna. Untung saja dia tidak terjedot pintu.
"Ni orang kenapa si? Seenaknya aja deh, lagian Kakak kenapa bisa jatuh cinta sama orang seperti dia si" gerutu Hisyam sambil berlalu ke kamarnya
Di dalam kamar, Bima menatap prihatin pada sang kekasih. Hasna masih terlelap dalam mimpi buruknya. Kelihatan dari wajahnya yang begitu gelisah dan kerutan dahinya yang menunjukan jika dia sedang ketakutan.
Bima duduk di atas tempat tidur Hasna, dia mengelap keringat dingin di kening gadis itu lalu memberinya satu kecupan di sana.
"Hei. Bangun yuk, itu hanya mimpi. Ayo bangun" lirih Bima tepat di telinga Hasna, tangannya terus mengelus kepala gadis itu dengan sayang.
Bima memperlakukan Hasna benar-benar dengan begitu lembut. Dia terus mengelus kepala Hasna sambil membisikan kata agar gadis itu segera terbangun dari mimpinya.
__ADS_1
"Bangun yuk Sayang"
Lagi-lagi Bima mengatakan hal yang bahkan sangat mustahil untuk keluar dari mulutnya jika melihat dari sifat dia selama ini. Bahkan saat bersama Bianca saja, dia tidak pernah memanggilnya dengan sebutan 'Sayang'. Namun, apa yang terjadi sekarang? Bima bahkan memanggil Hasna dengan sebutan itu dengan begitu tenang.
"Ayah, Ibu.. Na.. takut" kembali terdengar lirih suara Hasna yang membuat hati Bima merasa nyeri. Betapa menderita wanitanya ini.
"Bangun yuk, itu cuma mimpi Sayang"
Bima sedikit menggoyangkan tubuh Hasna agar gadis itu cepat terbangun dari mimpi buruknya.
"AYAH, IBU...."
Hasna berteriak dengan membuka kedua matanya. Deg... Jantungnya berdebar kencang saat wajah Bima benar-benar berada di depan wajahnya. Apa dia masih bermimpi? Dan apa tadi, kenapa Hasna seolah mendengar seseorang memanggilnya Sayang.
Apa dia yang memanggilku Sayang? Rasanya tidak mungkin, tapi semuanya benar-benar terasa nyata.
Hasna mencoba bangun dan di bantu oleh Bima. Dia masih terkejut dengan apa yang terjadi barusan. Kenapa juga Bima berada di kamarnya di saat dia tidur.
Bima mengelap keringat di kening Hasna dan sisa air mata di ujung matanya, membuat gadis itu sedikit terkejut dengan tindakan Bima. Cup... Semakin terkejut Hasna saat Bima mengecup keningnya.
"Yuk makan siang" ajak Bima
"Eh. I-iya, kapan Sayang kesini?" Tanya Hasna, yang baru tersadar dari keterkejutannya
"Sudah dari tadi, tapi karena kau tidur jadi tidak ada yang membukakan pintu. Aku menunggu cukup lama di luar" jelas Bima
"Maaf banget ya, aku malah ketiduran soalnya"
Bima mengelus kepala Hasna dengan lembut "Sudahlah, tidak papa. Sekarang ayo makan siang"
Hasna mengangguk "Tapi, aku belum masak untuk makan siang"
"Tidak perlu, aku membawa makanan untuk kita makan siang" kata Bima
"Apa Hisyam sudah pulang?" Tanya Hasna, yang baru ingat jika sudah waktunya Hisyam pulang sekolah.
__ADS_1
Bima mengangguk, dia berdiri dan mengulurkan kedua tangannya pada Hasna untuk membantu gadis itu berdiri.
"Sudah, dia sedang ganti pakaian" kata Bima
Hasna berdiri dengan berpegangan pada kedua tangan Bima. Deg.. Bima menariknya terlalu kuat sampai Hasna terjerambah di dadanya. Keduanya saling menatap untuk beberapa detik sampai Bima segera memutuskan pandangannya itu, dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Hasna.
Sial. Kenapa aku berdebar?
Hasna menatap aneh pada Bima yang memalingkan wajahnya, apalagi saat dia melihat telinganya yang memerah.
Dia kenapa? Kok telinganya sampe merah gitu?
"Telinganya kenapa merah?" Tanya Hasna, menuntaskan rasa penasaran nya.
Bima memalingkan wajahnya, dia tahu jika telinganya pasti memerah saat dia merasa malu atau tersipu. Hah.. Benarkah Bima bisa tersipu malu juga?
Sial...
"Aku tidak papa, ayok keluar. Aku lapar, ingin makan siang" kata Bima yang berlalu keluar kamar begitu saja, meninggalkan Hasna yang masih bingung dengan sikapnya itu.
Tadi baik banget, sekarang kok kembali dingin lagi si. Ihh.. Dia benar-benar memiliki kepribadian ganda kali ya..
Hasna bergidik geli dengan pikirannya sendiri. Dia pun segera menyusul Bima keluar kamar. Di ruang tengah, Hisyam sedang membawa piring dan gelas dari dapur dan meletakan nya di atas meja kayu dekat kursi. Sedangkan Bima sedang memindahkan makanan yang di bawanya ke atas piring.
Hasna tersenyum melihat kekompakan keduanya. Hisyam adalah anak yang sulit untuk bisa dekat dan menerima keberadaan orang baru di sekitarnya. Selain Ryan, rasanya tidak ada lagi teman Hasna yang mampu dekat dengan Hisyam. Bahkan dengan Ryan pun, Hisyam masih terkesan menjaga jarak.
Namun, saat ini Hisyam begitu menerima keberadaan Bima. Bahkan mereka bisa mengobrol singkat, walaupun dengan sikap mereka yang hampir sama. Dingin dan hampir tak tersentuh.
"Ayo makan Kak" ajak Hisyam
Hasna yang masih berdiri di depan pintu kamarnya, mengangguk dan segera menghampiri mereka. Dan makan siang kali ini terasa begitu tenang. Bima merasakan kehangatan keluarga saat dia bersama dua kakak beradik ini. Meski tanpa orang tua.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga...
__ADS_1
Aku udah berusaha bisa up tepat waktu ya.. apalagi sekarang aku menggarap dua novel on going. Gak mudah untuk bisa membagi fikiran antara dua cerita dengan alur dan karakter yang berbeda. Belum lagi kesibukan di dunia nyata. Jadi, tolong pengertian nya.