
"Aku hanya mencoba membuat Nona bahagia saja dengan adanya temannya itu di situasi seperti ini" jawab Bima datar
"Kau masih saja mengelak, apalagi yang kau tunggu? Aku sudah bahagia bersama anak istriku, tinggal kau yang harus menemukan kebahagiaanmu sendiri" kata Yudha
"Kau tahu semuanya Yudh, aku masih menunggunya"
Hasna terdiam di balik pintu rumah Anista. Dia tidak bermaksud untuk menguping pembicaraan kedua pria dingin itu. Hasna hanya di suruh Anista untuk memanggilkan para lelaki untuk segera masuk rumah karena hari yang sudah hampir gelap.
Namun, dengan tidak sengaja Hasna mendengar percakapan itu. Membuat dia sadar jika tidak ada lagi harapan untuk perasaannya. Hasna mulai tahu diri, siapa dirinya dan siapa Bima. Mulai melangkah mundur dan melupakan segala perasaannya pada pria itu.
Hasna keluar dari tempat persembunyiannya. Tepat pada saat itu Bima sudah berada di bale rumah Ansita.
"Tu-Tuan, di suruh masuk sama Anista" kata Hasna
"Apa istriku mencariku?" Tanya Yudha yang sudah muncul di belakang Bima
Hasna mengangguk.
Yudha segera masuk ke dalam rumah Anista. Sementara Bima dan Hasna masih diam di tempat.
"Ahh.. Saya lupa jika sedang merebus air. Saya permisi Tuan" kata Hasna, segera berlalu masuk ke dalam rumah Anista.
Bima menatap kepergian Hasna dengan kerutan di dahinya. Dia kenapa? Seolah sedang menghindar.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Malam hari, dimana para penghuni rumah sudah terlelap. Tinggalah dua orang yang berada di ruang tengah ini. Suasana begitu hening, hanya suara tiupan angin yang menggoyangkan pepohonan di luar sana yang terdengar.
"Besok bersiaplah lebih pagi, kita akan pulang" kata Bima dingin
Hasna mengangguk "Baik Tuan"
Sudahlah tidak perlu lagi berharap lebih, mana mungkin dia menyukaiku. Mungkin kemarin memang dia sengaja berinisiatif untuk memberi tahuku tentang kabar duka ini. Bukan karna merindukanku. Ingat itu Hasna! Dia itu pria buas yang tak seharusnya kau kagumi.
Hah...
Hasna menghela nafas pelan, selama pria itu masih berada di dekatnya maka Hasna akan selalu takut, bahkan untuk bernafas pun harus di lakukan begitu pelan.
Tapi dia begitu tampan, mana mungkin si aku tidak kagum padanya. Hah.. Melelahkan sekali jika harus mengagumi pria buas seperti dia.
Baiklah, sepertinya percakapan Bima dan Yudha yang dia dengar kemarin sore. Masih belum bisa membuat Hasna benar-benar menyerah dengan perasaannya dan kekagumannya pada Bima.
__ADS_1
"Berhenti memikirkanku, karna sampai kapan pun kau tidak akan pernah mempunyai kesempatan untuk memiliki ku"
Deg
Suara dingin dan datar itu terasa begitu menusuk di relung hati Hasna. Ucapan Bima barusan seolah menariknya ke alam sadar untuk tidak lagi mengharapkan pria itu.
Namun, kenapa Hasna merasa begitu sakit hati dengan ucapan Bima barusan. Tidak.. dia tidak boleh sampai jatuh cinta padanya, dia hanya mengagumi pria itu.
Bima berdiri dari duduknya "Lupakan perasaanmu padaku karna kau hanya akan terluka dengan perasaan bodohmu itu"
Bima berlalu pergi ke luar rumah Anista, dia juga tinggal di penginapan jika berada di sini. Karena Bima masih harus bolak balik ke ibu kota untuk mengurus pekerjaan selama Yudha berada disini.
Entah kenapa air mata menetes begitu saja di pipi Hasna. Dia menatap kepergian pria yang dia kagumi itu dengan perasaan sesak.
Kenapa sesakit ini, Ya Allah? Na sadar sekarang jika perasaan ini bukan hanya kagum. Tapi, Na sudah mencintainya entah sejak kapan.
Hiks..hiks..
Lirih isakan itu masih terdengar di tengah malam, bahkan di saat semua penghuni rumah sudah terlelap.
Hasna masih berada di ruang tengah dengan kedua tangan memeluk lututnya. Dia masih menangis, ucapan Bima beberapa jam yang lalu masih terngiang di telinganya dan begitu membuat hatinya sakit.
Baiklah mulai saat ini aku akan melupakanmu dan perasaan ini.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
"Berhenti memikirkanku, karna sampai kapan pun kau tidak akan pernah mempunyai kesempatan untuk memiliki ku"
Kenapa aku harus memikirkannya, apa yang sudah aku katakan memang benar. Sebelum gadis itu semakin menyimpan perasaannya dan akan membuatnya semakin sakit. Aku masih menunggunya dan akan mencoba setia padanya.
Namun, entah kenapa ekpresi wajah Hasna saat mendengar ucapan menyakitkan darinya membuat Bima terus terfikirkan.
Bima hanya menunggu gadis masa lalunya yang pergi entah kemana. Dia hanya ingin setia pada cinta pertamanya. Inilah persamaan Bima dan Yudha, akan sulit melupakan jika sudah sangat mencintai.
Dua orang remaja SMA masih memakai seragam sekolah mereka. Gadis dengan rambut panjang tergerai dengan wajah cantiknya.
"Kalau nanti aku ninggalin kamu gimana?" Tanya si gadis itu
Bima tersenyum tipis "Aku akan menunggumu dan mencoba setia padamu. Kecuali..."
Si gadis menatap Bima dengan tatapan penasaran "Kecuali apa?"
__ADS_1
"Kau yang lebih dulu mengkhianatiku, maka aku akan melupakanmu dan cinta kita berakhir" jawab Bima tegas
Dan sejak saat itulah janji itu terucap hingga setelah kelulusan mereka, si gadis itu hilang bak di telan Bumi. Dan Bima masih memegang teguh janjinya yang dia ucapkan.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
"Na kenapa matamu bengkak?" Tanya Anista
Hasna menggeleng pelan dan mengusap pelan kelopak matanya "Semalem kemasukan sesuatu Nist, jadi di kucek. Jadi bengkak deh"
Anista menatap tidak percaya pada Hasna. Tentu dia tahu apa yang di ucapkan Hasna adalah kebohongan. Namun, saat melihat tatapan Hasna yang memohon padanya agar tidak membahas soal ini membuat Anista mengurungkan niatnya untuk terus bertanya.
"Baiklah. Nanti di kompres saja ya" kata Anista
Hasna menghela nafas lega saat Anista mengerti apa yang di inginkannya "Iya Nist"
"Sudah siap semuanya Sayang?" Yudha muncul dari dalam rumah Anista
"Sudah Mas, ayo kita berangkat sekarang. Anak-anak sudah berada di mobil" kata Anista
Yudha mengangguk dan segera berjalan ke arah istrinya. Anista mengunci pintu rumah dan mereka pun pergi meninggalkan kampung halaman Anista.
Hasna hanya diam sejak dia masuk ke dalam mobil Bima. Pria di sampingnya juga hanya fokus menyetir. Sementara Hisyam hanya duduk tenang di kursi belakang.
Perjalanan terlewati dengan keheningan. Hasna maupun Bima hanya saling membisu. Tidak ada yang memulai percakapan apapun di antara mereka.
Akhirnya mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan gang kecil menuju rumah kontrakan Hasna.
Hasna membuka sabuk pengaman, dan mengangguk hormat pada Bima "Terimakasih Tuan"
"Hmm"
Hasna keluar dari mobil di ikuti Hisyam. Kakak beradik ini berdiri di sisi jalan menunggu mobil Bima melaju. Menganggukan kepala dengan hormat saat mobil Bima mulai melaju meninggalkan mereka.
Hah..
Hasna menghela nafas "Ayo Syam"
Hisyam mengangguk, keduanya berjalan masuk ke dalam gang dengan bergandengan tangan menuju rumah kontrakan mereka.
Bersambung
__ADS_1
Masih sambung menyambung...
Jangan lupa like dan komen nya.. Hadiah sama votenya juga..