
Usia kandungan Hasna yang semakin besar, membuat Bima semakin gelisah berlebihan. Posisinya disini seolah terbalik, bukan si ibu hamil yang gelisah karena akan segera mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan sang anak. Justru malah Bima yang terlihat gelisah dan khawatir.
Hasna sudah mempersiapkan mental dan segala hal untuk kelahiran bayinya itu. Jadi, dia tidak terlalu takut atau cemas menjelang kelahiran bayi pertamanya. Karena Hasna tahu, jika dia semakin cemas dan banyak fikiran maka akan mempengaruhi kandungannya.
"Kamu tenang, semuanya akan baik-baik saja. Lagian aku bisa lahiran normal, kan dokter sudah mengatakan semua itu"
Begitulah Hasna mencoba menenangkan suaminya yang sedang di landa kecemasan dan khawatir berlebihan.
"Justru itu, aku pernah menyaksikan betapa kacaunya Yudha saat melihat Anista melahirkan dengan normal. Katanya, istrinya itu sangat kesakitan. Asna apa kau yakin?"
Mendengar keluh kesah Yudha saat dulu menemani istrinya melahirkan secara normal, membuat Bima ketakutan sendiri. Membayangkan istrinya nanti akan kesakitan saat melahirkan anak mereka, membuat Bima tidak yakin jika Hasnanya akan kuat.
Hasna menggenggam tangan Bima, lalu meletakannya di atas perutnya yang buncit. Anak di dalam kandungannya langsung memberikan respon dengan tendangannya.
"Kamu merasakannya?"
Bima hanya mengangguk dengan rasa tak percaya dan juga bahagia dengan semua ini. Tidak pernah menyangka jika dirinya bisa merasakan saat-saat seperti ini. Dimana dia akan menikah dan merasakan tendangan bayinya dari dalam perut istrinya.
"Tendangan anak kita sangat kuat, itu artinya anak kita itu sehat dan kuat. Dia pasti akan membantu aku sebagai Ibunya untuk berjuang bersama-sama nanti. Kami pasti akan baik-baik saja. Kamu yang tenang ya"
Bima mendongak, menatap wajah Hasnanya dengan lekat. Tidak ada kekhawatiran dari tatapan matanya. Hasna benar-benar sudah yakin untuk menjadi seorang Ibu yang sebenarnya.
Tangan Bima terangkat dan mengelus pipi Hasna yang semakin gembil. Semua itu karena faktor kehamilan ini membuat dia semakin berselera dalam makan.
"Tapi, jika kau berubah fikiran untuk tidak melakukan lahiran normal. Kau langsung bicara padaku"
Hasna tersenyum menenangkan pada Bima, dia raih tangan besar Bima yang berada di pipinya. Meraihnya dan mencium bagian telapak tangannya, lalu menggenggam tangan kekar itu.
"Aku yakin Sayang, sangat yakin. Jadi, kamu tenang ya. Do'akan saja yang terbaik untuk kami. Aku dan dia..." Hasna mengelus perutnya, seolah menunjukan siapa yang dia maksud. "....Akan berjuang bersama"
Bima ikut mengelus perut istrinya, usia kandungan Hasna masih 6 bulan. Masih butuh waktu 3 bulan lagi untuk menunggu kelahiran sang anak. Tapi, Bima sudah benar-benar cemas dari sekarang.
"Oh ya, Sayang aku pengen jalan-jalan dong. Udah lama banget kamu gak ajak aku jalan-jalan sejak aku hamil. Terakhir kali bulan lalu saat ke rumah Anista"
Memang Bima membatasi Hasna untuk keluar rumah. Dia selalu takut jika Hasna akan berada dalam bahaya jika dia keluar rumah. Apalagi tanpa dirinya.
"Yaudah, sekalian kita periksa ke dokter ya"
__ADS_1
Hasna mengangguk dengan antusias, memang ini sudah hampir jadwalnya periksa kandungan. Meski masih tiga hari lagi ke jadwal yang sudah di tentukan oleh dokter. Tapi, tidak apa jika dia pergi ke dokter sekarang. Yang penting bisa jalan-jalan bersama suaminya. Sedikit menghilangkan rasa bosan karena terus berada di dalam rumah.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
"Istri saya akan periksa kandungan sekarang. Kau ada di rumah sakit?"
Hasna hanya diam di pelukan Bima, dia mendengarkan saja percakapan suaminya di telepon yang sudah Hasna ketahui siapa yang sedang di telepon oleh suaminya.
"Hmm"
Bima langsung menutup sambungan teleponnya setelah mendapatkan jawaban memuaskan dari dokter kandungan Hasna.
"Masih dingin ya Mas?" ledek Hasna dengan kekehan kecil, akhir-akhir ini selalu senang meledek sikap dingin suaminya itu.
"Diam Asna! Apa kau mau aku selalu tersenyum pada semua orang. Dan nantinya akan banyak gadis yang jatuh cinta padaku"
"Eh ya jangan gitu juga, udahlah kamu kayak gini aja. Gak perlu ramah-ramah. Apalagi senyam senyum kayak orang gila. Eh"
Bibirnya memang selalu tak bisa di kontrol. Hasna langsung melepaskan tangannya yang melingkar di perut sang suami. Namun, sebelum pelukan itu lepas Bima sudah keburu menahannya. Menarik kembali Hasna dalam pelukannya.
Hasna hanya tersenyum kikuk karena tidak tahu harus mencari alasan apa. Lagian bibirnya ini yang selalu tak bisa di rem, selalu saja asal ceplos.
"Untung aku cinta, kalau tidak. Sudah aku lempar kau keluar mobil"
Bibirnya menahan senyum saat mengatakan kata ancaman menakutkan itu. Bima hanya berniat mengerjai Hasna saja. Lagian, mana mungkin dia melemparkan wanita kesayangannya keluar mobil. Hasnanya terluka sedikit saja sudah membuat Bima ketar-ketir.
Gila! Dia bisa benar melakukan itu padaku. Ihh. Jangan sampe deh.
Hasna hanya bergidik ngeri membayangkan hal yang di ucapkan Bima itu benar-benar terjadi. Tangannya semakin erat memeluk perut suaminya itu. Berjaga-jaga jika benar Bima akan melemparnya keluar, maka Hasna akan tetap memeluk pria itu agar dia juga ijut terlempar keluar.
Duh.. fikirannya ini. Lagian mana mungkin Bima melakukan itu.
Sementara itu ada sang supir yang sedari tadi menahan tawanya mendengar perdebatan receh sepasang suami istri di belakangnya itu.
Tuan Bima adalah suami yang sangat baik. Jarang sekali ada seorang suami yang seperti Tuan Bima.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
__ADS_1
Sampai di rumah sakit, Bima segera membawa istrinya menuju ruangan dokter kandungan yang menangani kehamilan Hasna ini.
Namun di tengah perjalanan, Hasna tidak sengaja bersenggolan dengan seorang Ibu yang sedang menggendong anaknya.
"Aduh maaf sekali Mbak, saya tidak lihat-lihat. Saya sedang buru-buru karena anak saya sedang sakit"
Hasna mengusap-ngusap bahunya yang sedikit nyeri "Tidak papa Mbak, saya juga tidak hati-hati. Oh ya anaknya sakit apa?"
Bima yang sedang mengobrol dengan kepala rumah sakit karena tidak sengaja bertemu, langsung menoleh saat mendengar suara istrinya yang berbicara dengan seseorang yang sepertinya Bima kenal dari suaranya.
"Anak saya demam Mbak, sudah dua hari panasnya gak turun-turun"
Hasna mengelus punggung balita yang mungkin baru berusia dua tahun itu "Kasihan sekali, cepat sembuh ya Dek"
"Sayang, ayo cepat"
Suara berat Bima benar-benar membuat wanita itu mematung. Sama sekali tidak menyangka akan bertemu kembali dengan pria itu setelah sekian lama.
"Bim-Bima..."
Bersambung
Tamatin nih?
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..
Aku bawa karya temanku lagi nih..
Olivia, seorang gadis yang dianugerahi kesempurnaan dalam hidup, memiliki paras cantik, tubuh seksi dan juga gelimangan harta. Bahkan dia pun tak pernah kekurangan kasih sayang dari orang tuanya hingga apa yang dia inginkan selalu bisa didapat.
Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda sederhana yang menjadi obsesinya, hingga Olivia berbuat segala hal untuk mendapatkan pemuda tersebut.
Azam, pemilik kedai kecil yang setiap hari diganggu oleh kehadiran gadis yang baru sekali ditemuinya secara tak sengaja, dan membuat pemuda itu muak. Dia selalu mengacuhkan dan berusaha mengusir gadis tersebut.
Namun, sebuah kejadian mengharuskannya menikah dengan si gadis yang terus mengganggunya. Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan?
__ADS_1