
Hasna menatap bingung pada Ibu muda di depannya ini. Kenapa dia bisa mengetahui nama suaminya, dan juga kenapa wajahnya terlihat begitu ketakutan.
Namun, secara tiba-tiba ada bayangan di fikirannya saat dimana acara resepsi pernikahan Anista, dulu. Hasna mengingatnya, dia wanita yang bersama Bima waktu itu. Tapi... Hasna menatap Ibu muda itu dari atas sampaj bawah.
Penampilannya sangat berbeda dengan dulu. Sekarang terlihat lebih sederhana.
Wanita yang dulu dia lihat bersama Bima saat di acara resepsi pernikahan Anista benar-benar menggambarkan sosok wanita kaya, cerdas dan begitu gelamor. Sangat berbeda dengan sekarang, wanita itu terlihat lebih sederhana dan keibuannya terlihat sekali. Meski tampilannya lebih sederhana, tetap tidak menghilangkan kecantikannya.
"Ayo pergi" Bima sedikit menarik tangan Hasna yang masih diam memperhatikan wanita di masa lalunya.
Akhirnya mau tidak mau, Hasna harus mengikuti Bima dan meninggalkan Ibu muda tadi yang masih membuat Hasna penasaran.
"Sayang, kenapa harus tarik tangan aku si" kesal Hasna dengan menghempaskan tangannya dari genggaman Bima.
Bima menghentikan langkahnya saat merasakan tangannya di hempaskan oleh istrinya. Dia menoleh dan ternyata Hasna sedang bersidekap dada dengan wajah kesal.
"Asna, kita kesini untuk periksa kandungan kamu. Lalu, apalagi? Ngapain kamu malah ngobrol sama orang itu!"
"Kenapa emangnya? Karena dia mantan pacar kamu ya"
Ada rasa kesal di hati Hasna saat mengatakan itu. Mantannya cantik banget gitu, gimana dia gak susah move on coba.
"Memangnya kenapa kalo dia mantan pacarku? Tidak ada masalah bukan? Dia hanya masa laluku dan sudah tidak berarti apapun dalam hidupku"
Perkataan Bima itu membuat Hasna menatap tidak percaya pada suaminya. Bima ternyata masih tetap Bima yang dingin dan tegas. Bahkan dia bisa mengatakan hal semenyakitkan itu dengan tenang.
Aku gak kebayang kalo mantan pacarnya mendengar. Sudah pasti sakit hati banget si.
"Kamu tega banget deh, sekarang bilang gitu. Kalo dulu sudah pasti sangat mencintainya. Kang Bucin"
Bima melingkarkan tanganya di pinggang Hasna. Menariknya agar semakin dekat dengan tubuhnya. Mencium pipi sang istri tanpa rasa malu karena banyak perawat dan beberapa orang yang lewat di depannya.
"Dia sudah masa laluku, jadi untuk apa aku mengenangnya. Mendingan aku mengenang masa depan kita dengan anak-anak kita nanti"
Hah, sejak kapan dia jadi penggombal receh kayak gini.
"Udah ah, kita malah lama debat disini. Keburu siang untuk jalan-jalan nya. Periksa aja belum"
__ADS_1
Hasna masih saja mengingat tentang jalan-jalan yang di janjikan Bima. "Kan udah janji mau ajak aku jalan-jalan"
"Ck. Yaudah sekarang periksa dulu kandungan kamu"
"Oke"
Hasna langsung merangkul tangan Bima dengan semangat. Karena jika pemeriksaan kandungannya segera di lakukan. Maka dia bisa segera jalan-jalan bersama suaminya.
Sementara itu ada hati yang menyesal setelah mendengar setiap percakapan keduanya. Bianca berdiri menyandar di balik dinding. Dia baru selesai memeriksa anaknya dan sedang menebus obat. Namun, dengan tanpa sengaja dia mendengar percakapan sepasang suami istri itu.
Hatinya benar-benar menyesal karena telah menyia-nyiakan pria sejati seperti Bima. Mendengar ucapan Bima barusan, seolah menjadi senjata tajam yang menusuk tepat di jantung hatinya. Sanga sakit. Bahkan, dirinya sudah tidak lagi berarti apa-apa untuk pria itu.
"Sudahlah Bi, ini memang kesalahanmu"
Bianca berlalu dari tempatnya berdiri sambil menghapus air matanya yang mengalir begitu saja.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Pemeriksaan telah selesai, Bima membantu Hasna untuk menutup kembali pakaiannya yang setengah terbuka setelah pemeriksaan di lakukan. Lalu membantunya turun dari ranjang pemeriksaan. Berjalan menuju meja dokter dan duduk di kursi depan meja dokter.
Dokter mencoba memberikan penjelasan pada Bima yang sedang dilanda kekhawatiran dengan lahiran normal yang akan di jalani oleh istrinya.
"Iya Dok, saya pasti bisa kok. Lagian saya yakin sama diri saya sendiri, kalo saya pasti bisa menjadi seorang Ibu yang sebenarnya"
Dokter tersenyum mendengar ucapan Hasna yang begitu yakin dengan pilihannya ini. "Itu bagus Nona, semuanya akan berjalan lancar dengan besarnya keyakinan dalam diri anda sendiri"
Setelah cukup dokter memberi penjelasan pada sepasang suami istri ini. Sekarang, Bima benar-benar menepati janjinya untuk mengajak Hasna jalan-jalan, tapi dengan beberapa syarat yang dia tentukan.
"Jangan jauh-jauh dariku! Mengerti?"
Hasna hanya mengiyakan saja apa yang di katakan Bima. Yang penting dia bisa pergi jalan-jalan dan sejenak menghilangkan kebosanannya.
Ternyata Bima mengajaknya ke tempat yang sama sekali tidak Hasna duga sebelumnya. Suaminya memang benar-benar di luar nalar.
"Ngapain kesini, Sayang? Aku 'kan mau jalan-jalan, bukan mau olahraga"
Hasna menatap bingung tempat olaharga di depannya ini. Dia ini gimana si? Kok malah ajakin aku yang lagi hamil ini olahraga.
__ADS_1
"Ini tempat senam Ibu hamil, kamu 'kan belum pernah melakukan senam Ibu hamil. Dan ini bagus untuk mempersiapkan kelahiranmu nanti. Aku sudah konsultasi dengan dokter"
Hasna sampai hampir tidak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya ini. Hasna bahkan tidak memikirkan untuk ikut kelas Ibu hamil. Tapi, suaminya benar-benar memikirkan kesehatan dirinya dan juga bayi mereka.
Bolehkah Hasna terharu sekarang? Sikap suaminya ini, benar-benar sangat jarang di lakukan oleh para pria di luaran sana.
Tuhan, aku benar-benar bersyukur mendapatkan suami sepertinya. Meski terkadang, dia suka seenaknya dan membuat aku kesal. Tapi, perhatiannya ini melebihi segalanya.
"Aku akan menemanimu untuk melakukan senam hamil ini seminggu sekali"
Tidak dapat berkata-kata lagi, Hasna mengangguk dan langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya. Perasaan bahagia ini tidak bisa lagi Hasna jelaskan dengan kata-kata.
"Terimakasih Sayang" ucap Hasna dengan isak haru yang terdengar lirih.
Bima mengecup puncak kepala istrinya dengan sayang. " Hanya demi kesehatanmu dan calon bayi kita. Maka aku akan melakukan yang terbaik untuk kalian berdua"
Semua yang Bima lakukan semata-mata hanya untuk kebaikan Hasna dan calon anak mereka. Meski semuanya mungkin terlihat berlebihan. Tapi, Bima tidak peduli. Yang terpenting untuknya adalah kesehatan istrinya dan bayi mereka.
Akhirnya hari ini Hasna habiskan dengan mengikuti kelas Ibu hamil bersama suaminya. Dia juga bisa lebih banyak tahu cerita dari beberapa Ibu hamil yang sudah berpengalaman. Ternyata ada cerita tersendiri dari setiap Ibu hamil dalam setiap mengandung dan melahirkan anak-anak mereka.
"Yang terpenting kamu harus yakin sama diri kamu sendiri, kalau kamu pasti bisa menjadi Ibu yang seutuhnya"
Nasehat seorang Ibu yang sedang mengandung anak ketiganya, benar-benar membuat Hasna semakin yakin jika dirinya pasti bisa menjadi seorang Ibu yang seutuhnya.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.
ada karya temanku lagi nih..
Mengisahkan perjuangan Zaki, putra ayah Yusuf dan bunda Fatima (dalam novel *_Ketulusan Cinta Nabila_*) untuk mendapatkan restu dari orang tua sang pujaan hati, Delia Zahwa, yang merupakan putri kyai pengasuh pondok pesantren (dalam novel *_Menjagamu Dengan Doa_*).
Sanggupkah Zaki menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh orang tua sang gadis yang sudah lama di incar nya itu dengan tepat waktu, sehingga mereka berdua bisa bersama-sama?
Ikuti terus kisah Zaki dalam mengejar cinta, hanya di... *_FINDING LOVE_*
__ADS_1