
Semuanya benar-benar di sibukan dengan segala persiapan pernikahan Bima dan Hasna. Di waktu yang terlalu singkat tentu membuat mereka semua sibuk. Mulai dari bawahan Bima, dan juga keluarga Walton.
Bima melajukan mobilnya, siang ini dia kembali ke kota tempat tinggal Hasna. Menjemput gadis itu untuk melakukan fitting gaun pengantin. Baru besok lusa Hasna bisa benar-benar pindah ke Ibu Kota. Karena urusan kepindahannya dan juga sekolah Hisyam telah selesai Bima urus. Jadi, lusa mereka tinggal pindah saja.
Sampai di depan gang kecil menuju rumah kontrakan Hasna itu, Bima menghentikan mobilnya. Hasna sudah menunggunya di pinggir jalan, dan langsung masuk ke dalam mobil Bima.
"Sudah lama menunggu?" tanya Bima sambil memutar arah mobilnya dan kembali melajukannya. Hasna juga heran, kenapa pria itu tidak menggunakan supir saja agar dia tidak capek sendiri menyetir bolak balik ke kota ini.
"Tidak. Oh ya, kenapa kamu gak memakai supir saja? Pasti capek nyetir bolak balik kesini" kata Hasna, mengungkapkan apa yang ada di fikirannya.
"Aku hanya ingin menghilangkan penat saja, beberapa hari mengurus semua persiapan pernikahan membuat aku cukup penat. Jadi bisa menjemputmu ke sini, bisa untuk sekedar menghirup udara segar" jelas Bima
Padahal kenyataannya dia yang sudah sangat merindukan Hasna. Sehingga dia rela menyetir sendiri dengan jarak cukup jauh ini.
Hasna mengangguk "Baiklah, maaf ya kalau aku tidak bisa banyak membantu. Lagian kamu si, pake acara nikahan di gedung segala. Padahal aku hanya mengharapkan pernikahan sederhana saja"
Bima menggeleng pelan, tangan kirinya mengelus kepala Hasna sekilas "Aku hanya ingin pernikahan kita ini bisa menjadi kenangan terindah untuk seumur hidup. Karena pernikahan bagiku adalah hal sakral yang hanya akan terjadi satu kali dalam hidupku"
Hasna tersenyum mendengarnya, ternyata fikiran Bima dan dirinya sama. Hasna juga hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidupnya. Apalagi untuknya Bima juga adalah cinta pertama dan terakhirnya.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Bima tersenyum saat melihat calon istrinya malah terlelap di dalam mobil. Mungkin Hasna kelelahan setelah melewati perjalanan cukup jauh. Bima membuka sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya. Lalu, dia mengusap pelan pipi Hasna untuk membangunkan gadis itu.
Bima terkekeh saat Hasna sama sekali tidak terusik dari tidurnya. Dia benar-benar terlelap. Membuat Bima gemas melihat wajah polos yang terlelap begitu tenang itu.
Aku benar-benar sudah gila karena melihat dia tertidur saja sudah membuat aku gemas dan ingin segera memakannya.
Sepertinya jiwa lelaki Bima semakin bergelora. Melihat Hasnanya membuat gairahnya meninggi. Bima memang sudah seharusnya segera menikahi Hasna, sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi di antara mereka. Keputusan Bima kali ini memang sangat tepat. Menikahi Hasna secepat mungkin agar dia bisa lebih bebas mengekspresikan perasaannya di dalam kamar. Eh.
"Bangun, Asna" Bima masih mencoba membangunkan Hasna, dia sedikit menggoyangkan bahu gadis itu agar segera terbangun.
__ADS_1
"Asnaku bangun"
Hasna mengerjap saat tubuhnya merasa bergoyang, belum lagi panggilan lembut dan indah itu terdengar jelas di telinganya. Hasna mengucek kedua matanya yang terasa perih karena kantuk yang menyerang.
Hasna menoleh ke arah Bima setelah dia benar-benar sadar "Sudah sampai ya. Maaf, aku malah tertidur"
Bima tersenyum sambil mengelus kepala Hasna, mana bisa dia marah atau sekedar kesal pada Hasnanya yang hanya tidak sengaja tertidur di dalam mobil. Wajah Hasna yang terlelap begitu menggemaskan di mata Bima.
"Gak papa, yuk turun. Nanti keburu sore" kata Bima
Hasna mengangguk, dia membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Bima menggandeng tangannya memasuki sebuah butik terkenal. Mereka langsung di sambut sopan oleh si pemilik butik ini.
"Ini beberapa gaun yang sudah saya siapkan sesuai keinginan Anda, Tuan. Boleh silahkan di pilih mana yang paling cocok"
Hasna menatap setiap gaun yang terpajang indah itu. Merabanya dengan perlahan, seolah takut akan merusak gaun pengantin yang indah itu.
Ayah, Ibu aku telah mewujudkan salah satu mimpi ku untuk menjadi seorang putri pernikahanku. Pria yang akan menikahiku melebihi dari seorang pangeran di negeri dongeng. Dia lebih sempurna dari itu.
"Cobalah mana yang kau suka"
Tiba-tiba sebuah tangan merangkul pinggangnya, Bima sudah memperhatikan gadisnya sejak tadi. Hasna terlihat begitu terkesima dengan keindahan beberapa gaun pengantin itu.
"Aku tidak mau mencoba semuanya, aku akan memilih satu saja yang benar-benar aku suka dan mencobanya" kata Hasna, dia tidak ingin mencoba semua gaun itu karena akan terlalu repot untuknya. Mengingat memakai satu gaun saja tidak bisa secepat memakai baju biasa. Terlalu merepotkan.
"Terserah kau saja, yang terpenting pakai yang tidak membuatmu semakin terlihat cantik!" tekan Bima di akhir kalimatnya
Hal macam apa itu? Semua pria yang akan menikahi wanitanya pasti ingin melihat wanita yang di nikahi tampil cantik di acara pernikahan mereka. Tapi dia.. sudahlah Hasna, dia ini Tuan Bima jadi wajar saja jika permintaannya berbeda dari yang beda.
"Kalau begitu aku tidak usah pakai baju peng...."
"Kau mau apa! Tidak memakai baju? Di depan semua tamu undangan, kau mau memamerkan tubuhmu pada siapa Hah?" teriak Bima dengan suara tertahan
__ADS_1
Hasna terkejut mendengar teriakan Bima itu. Bahkan Hasna belum selesai dengan ucapannya yang terpotong oleh Bima.
"Tidak begitu Sayang, maksud aku...."
"Saat kau terpojok baru memanggilku Sayang" kata Bima dengan memalingkan wajahnya, pria itu terlihat kesal sekarang.
Duh. Ada-ada aja deh Tuan dingin ini, selalu overprotektive dan posesif.
Baiklah, Hasna harus mengeluarkan jurus merayunya untuk meredakan kekesalan Bima padanya. Dia bergelayut manja di tangan pria itu. Menyandarkan kepala di bahunya.
"Maaf Sayang, aku salah bicara tadi. Baiklah, aku akan memilih gaun terjelek di antara semua gaun ini" kata Hasna, mulai mengeluarkan jurus rayu-merayunya. Ingat, jurus ini hanya di keluarkan saat bersama Bima saja.
Lagian, aku tidak salah tapi harus meminta maaf. Salah dia sendiri tidak mendengarkan ucapanku sampai selesai.
"Aku tidak ingin kau memaki gaun yang jelek, kau itu akan menjadi istriku! Tidak boleh memakai gaun yang jelek, kau harus memakai gaun yang indah dan yang terbaik"
Hasna rasanya ingin pingsan saja di situasi seperti ini. Tadi, Bima sendiri yang meminta untuk memilih gaun yang membuat Hasna tidak kelihatan cantik di acara pernikahan nanti. Tapi, sekarang saat Hasna bilang akan memilih gaun paling jelek, Bima masih saja marah-marah tidak jelas.
Sebenarnya apasi mau dia ini? Jika aku tidak mencintainya, sudah aku siram kepalanya itu pakai air dingin agar fikirannya jernih. Tapi, aku juga tidak akan seberani itu.
"Kamu ini kenapa si? Mau nya aku pakai gaun seperti apa? Lebih baik kamu yang pilihkan dan aku akan memakainya manapun gaun yang kamu pilih" kesal Hasna, sungguh dia sudah tidak tahan dengan sikap aneh Bima ini.
Bima mendekatkan wajahnya pada Hasna, menyipitkan mata membuat Hasna takut dengan tatapan tajam itu.
"Aku hanya tidak mau kau terlihat cantik di depan orang lain, apalagi pria. Kau hanya perlu terlihat cantik di kamar pengantin kita saja untuk malam pertama"
Apa?!!..
Bersambung
Jangan lupa dukungannya ya.. like komen di setiap chapter... kasih hadiahnya dan votenya juga ... Dukungan kalian benar-benar membantu aku untuk semakin rajin menulisnya..
__ADS_1