You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Bertahanlah Untuk Aku


__ADS_3

Hasna selesai mengantar suaminya untuk berangkat ke kantor. Sekarang, dia hanya berbaring di atas sofa bed yang berada di dalam kamarnya. Akhir-akhir ini tubuhnya terasa lemah dan gampang sekali lelah. Entah kenapa, Hasn juga tidak tahu.


"Mungkin kecapean kali ya, tapi perasaan aku cuma duduk diam aja di rumah. Capek ngapain coba"


Hasna sedang memikirkan kondisi tubuhnya. Semuanya terasa baik-baik saja, hanya terasa lemas dan terlalu gampang lelah saja.


Capek memikirkan keadaan tubuhnya, Hasna sampai terlelap di atas sofa bed. Padahal sedari pagi dia tidak melakukan kegiatan apapun, selain menyiapkan pakaian untuk suaminya. Hasna juga heran, kenapa tubuhnya lemah sekali. Padahal dulu saja, dia bisa mengerjakan banyak hal dalam setiap harinya.


Cukup lama Hasna terlelap, sampai dia merasa ada sesuatu yang ingin di keluarkan dari perutnya dengan segera. Hasna terbangun dan segera berlari ke kamar mandi.


Menunduk di depan wastafell dan memuntahkan semua makanan yang telah dia makan tadi pagi. Semuanya benar-benar keluar dari perut Hasna, bahkan lidahnya pun sampai terasa begitu pahit.


Hasna membasuh muka setelah rasa muanya sedikit hilang, dia mendongak dan menatap wajahnya di cermin wastafell. Wajahnya memang benar-benar pucat seperti apa yang dikatakan oleh suaminya tadi pagi.


"Aku kenapa ya? Apa masuk angin?"


Hasna masih memikirkan keadaan tubuhnya sekarang. Dia merasa jika keadaannya baik-baik saja, hanya tubuhnya saja yang sering lemas sekarang.


Hasna keluar dari kamar mandi, namun baru beberapa langkah dia berjalan dari pintu kamar mandi. Rasa mual itu semakin terasa, dia kembali berlari ke kamar mandi dan memuntahkan lagi semua isi perutnya sampai benar-benar tinggal hanya cairan bening saja yang keluar dari mulutnya.


"Aduh.. aku ini kenapa si"


Hasna menatap wajahnya di pantulan cermin. Tetesan air masih terlihat di wajahnya itu, karena Hasna habis membasuhnya.


Dia berbalik dan melangkah menuju pintu kamar mandi. Tapi, penglihatan nya mulai berkunang-kunang. Dia merasa dunianya berputar seketika sampai Hasna tidak sadar menginjak lap keset sampai kakinya terpeleset dan terjatuh di dekat pintu kamar mandi.


"Aww... perutku.."


Hasna meringis dengan memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Lalu dia menatap kakinya yang terasa ada sesuatu yang mengalir disana. Cairan merah segar mengalir dari balik rok yang dia kenakan.


"Tolong... Arghhh.. Perutku sakit sekali"


Keberuntungan masih berpihak pada Hasna. Seorang pelayan masuk ke dalam kamarnya karena sudah beberapa kali mengetuk pintu kamar tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar. Membuat pelayan itu sedikit cemas dengan keadaan Nona Mudanya ini.


Dia di suruh untuk mengantarkan makan siang pada Hasna oleh kepala pelayan di rumah ini. Karena itu adalah perintah Bima tadi pagi, sebelum dia pergi ke kantor.

__ADS_1


Pelayan itu menyimpan nampan yang berisi makan siang untuk Nona Mudanya di atas meja depan sofa. Lalu dia segera berlari ke kamar mandi saat mendengar teriakan lirih dari Hasna.


"Ya ampun, Nona kenapa bisa begini"


"To-tolong"


Hasna mengangkat tangannya untuk meminta bantuan pada si pelayan. Namun, kesadarannya tiba-tiba hilang begitu saja.


"Nona.. Nona... Bangun"


Pelayan itu langsung berlari ke luar kamar dengan berteriak meminta pertolongan. Akhirnya dengan di bantu kepala pelayan dan beberapa orang, Hasna bisa di bawa ke rumah sakit.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


"Dimana istriku!" tanya Bima dengan penuh emosi pada supir rumahnya yang berada di luar rumah sakit. Tepat di depan mobil yang tadi di pakainya untuk mengantar Hasna ke rumah sakit ini.


"Non-Nona ada di dalam Tuan"


Tanpa menghiraukan lagi, Bima langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit. Menuju tempat unit gawat darurat di rumah sakit ini. Benar saja, di depan salah satu ruangan unit gawat darurat pelayan rumahnya sedang duduk di kursi tunggu.


"Tuan, Nona masih di periksa di dalam"


Bima mengusap kasar rambutnya, dia berjalan ke arah kursi tunggu. Menjatuhkan tubuhnya di kursi tunggu dengan perasaan yang semakin kacau. Rambutnya acak-acakan. Bima benar-benar mencemaskan Hasna sekarang. Keadaan istrinya masih belum dia ketahui bagaimana sekarang.


Bima menutup wajah dengan kedua tangannya, dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan istrinya sekarang.


Tuhan, tolong selamatkan istriku. Aku tidak akan siap jika harus kehilangannya.


Bima benar-benar tidak bisa berfikiran jernih sekarang. Dia hanya takut jika Hasnanya akan pergi meninggalkannya. Bima tidak akan siap jika hal itu terjadi.


Ceklek


Suara pintu ruangan yang terbuka membuat Bima langsung berdiri dan menghampiri dokter yang keluar dari ruangan.


"Tuan Satria, Nona Hasna mengalami pendarahan akibat benturan yang terjadi di perutnya. Saya sudah memberikan suntikan penguat untuk kandungnya, kita akan lihat sampai besok..."

__ADS_1


"Tunggu! Kandungannya? Maksudnya Asanaku hamil?" tanya Bima, kata kandungan yang di ucapkan oleh dokter membuat dia langsung memotong ucapan dokter itu.


"Apa kalian tidak menyadari kehamilan itu?" tanya Dokter


Bima mengangguk "Istriku tidak mengatakan jika dia sedang hamil"


Dokter mengangguk pelan, sepertinya dia mulai memahami keadaan ini. Karena jika sang Ibu tahu jika dirinya sedang hamil. Tidak mungkin akan seceroboh ini sampai bisa terjatuh dan akan membahayakan nyawanya dan bayinya.


"Sepertinya, Nona Hasna juga tidak menyadari jika dirinya sedang mengandung"


"Jadi, istriku benar-benar sedang hamil? Lalu, bagaimana keadaan bayinya?" tanya Bima, memastikan jika keadaan anak dan Istrinya baik-baik saja.


"Iya, Nona Hasna sedang hamil. Kandungannya cukup lemah sekarang karena benturan di perutnya itu, tapi kami telah menyuntikan penguat kandungan. Kita tunggu saja sampai besok pagi, semoga bayinya kuat dan masih bisa di selamatkan" jelas Dokter tentang keadaan Hasna sekarang.


"Selamatkan anak dan Istriku! Aku tidak mau dengar apapun alasannya. Kau harus bisa menyelamatkan mereka" kata Bima dengan nada bicara yang sudah sangat putus asa.


"Ba-baik Tuan, saya akan usahakan yang terbaik untuk Nona Hasna dan bayinya"


Setelah dokter berlalu, Bima kembali terduduk lemas di atas kursi tunggu. Hasnanya hamil? Dan dia tidak menyadarinya selama ini.


Tuhan, selamatkan anak dan Istriku. Ku mohon.


Akhrinya Hasna di pindahkan ke ruang rawat VVIP. Bima terus menemani di samping istrinya itu. Menggenggam tangan istrinya dengan sesekali mengecupnya.


Hasna masih dalam pengaruh obat, dia masih belum sadarkan diri. Bima hanya bisa menunggu Hasna terbangun. Tangannya beralih mengelus perut rata Hasna, membayangkan ada sosok kecil yang tumbuh di dalam perut istrinya itu. Dan itu adalah darah dagingnya. Hasil kerja kerasnya setiap malam bersama sang istri.


"Asna bangun yuk, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua" Bima mengecup perut istrinya "Bertahanlah di perut Ibumu"


Bima sampai meneteskan air mata saat dia berbicara dengan calon bayinya yang masih berada di dalam perut istrinya.


"Kalian pasti kuat, bertahanlah untuk aku"


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter. kasih hadiahnya dan votenya juga...

__ADS_1


Menuju end ya..


__ADS_2