
Karena semalam tidur terlalu larut, Hasna memilih kembali merebahkan tubuhnya setelah dia menjalankan kewajiban sebagai umat muslim. Saat baru saja akan memejamkan mata, Hasna teringat jika dia belum membangunkan Bima. Mungkin pria itu masih terlelap dan lupa untuk menjalankan kewajibannya.
Akhirnya Hasna kembali bangun dan duduk di pinggir tempat tidur "Dia pasti belum bangun deh"
Hasna memakai sandal rumah dan berjalan keluar dari kamarnya menuju kamar Bima. Melewati ruang tengah dan sampailah Hasna di depan kamar Bima. Dia mengetuk pintu, namun belum ada jawaban apapun dari dalam sana.
Tok..tok..tok..
Hasna kembali mengetuk pintu kamar, namun sepertinya Bima masih terlelap. Tidak ada respon apapun dari dalam sana, Hasna menjadi bingung sendiri. Mau masuk ke dalam kamar Bima juga dia ragu. Jadi Hasna memutuskan untuk terus mengetuk pintu kamar sampai Bima terbangun.
Ish.. Dia ini tidurnya kebo banget si.
Tok..tok..tok..
"Sayang.., bangun ihh subuh dulu" teriak Hasna dari luar kamar
Tok..tok..tok..
"Sayang!"
Sementara di dalam kamar, Bima masih bergelung di bawah selimut. Pria itu mengerjapkan matanya yang masih sangat mengantuk, mendengar teriakan di luar kamar membuat tidurnya terganggu.
"Sayang!"
Akhirnya Bima bangun, meski dia masih begitu mengantuk. Turun dari tempat tidur dan berjalan gontai menuju pintu kamar. Tanganya menutup mulut yang terus menguap.
"Jam berapa emang? Kenapa Asnaku bangun pagi sekali" lirih Bima sambil melirik ke arah jam dinding yang baru menunjukan pukul 5 pagi. Menurutnya Hasna terlalu pagi untuk bangun.
Ceklek
Bima membuka pintu dan mendapati Hasna yang sedang berdiri di depan pintu kamar dengan wajah kesal.
"Tidurnya kebo banget si. Aku udah bangunin kamu dari tadi" kesal Hasna
Bima sedikit mengucek matanya yang terasa perih karena masih sangat mengantuk "Emangnya mau kemana si Asna? Jam segini sudah bangunin aku"
Dia kata mau kemana? Jam segini? Oh ya ampun ternyata dia memang kebo. Jam 5 pagi sudah waktunya beraktifitas.
__ADS_1
"Subuh dulu, aku bangunin kamu buat subuhan dulu. Biar kamu jadi imam yang baik nantinya buat aku" kata Hasna, meski dia sedikit malu mengatakan itu
Bima tersenyum tipis "Wah, sudah mau aku jadi imam kamu? Ayok kita nikah sekarang"
Hasna kesal sendiri dengan sikap Bima, dia memukul kesal lengan pria itu "Jangan aneh-aneh deh, cepetan mandi terus shalat subuh kamu"
Setelah berkata seperti itu, Hasna langsung berlalu ke kamar yang di tempatinya semalam. Dia juga masih mengantuk karena semalam tidur terlalu larut. Akhirnya Hasna memilih untuk merebahkan tubuhnya kembali di tempat tidur.
Tidur lagi sebentar gak papa kali ya, aku masih ngantuk banget.
Akhirnya Hasna terlelap kembali di tempat tidur.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Hasna mengerjap saat merasa sesuatu yang berat di atas pinggangnya. Dia melirik ke arah jendela kamar dan di luar sudah cerah, entah pukul berapa sekarang. Hasna terlelap terlalu lama sepertinya.
Apaan si ini?
Hasna meraba bagian perutnya dan terkesiap saat merasakan ada sebuah tangan yang memeluknya dari belakang. Hasna sedikit menolehkan wajahnya ke samping, dan benar saja jika Bima sedang terlelap sambil memeluknya.
Ish. Sekarang terbukti 'kan siapa yang ingin sekali tidur sekamar. Bukan aku yang mesum, tapi dia!
"Lepasin ihh, sudah siang. Apa kamu gak mau bangun?" lirih Hasna, namun Bima malah semakin mengeratkan pelukannya.
Hah...
Hasna menghembuskan nafas kasar, gadis itu merasa sebelah tangannya kebas karena dia tidur dengan posisi seperti ini sudah cukup lama. Hasna ingin merubah posisi namun ruang gerak dia terbatas karena pria yang memeluknya itu.
Akhirnya Hasna berusaha untuk membalikan tubuhnya menjadi menghadap Bima. Tangan pria itu masih belum terlepas dari pinggangnya. Bahkan Bima malah semakin menarik tubuh Hasna untuk semakin dekat dengannya.
Hasna merasakan kenyamanan dan kehangatan dari pelukan Bima. Dia mendongak dan menatap wajah pria tampan yang terlelap di depannya itu. Hidung yang mancung, dan garis wajah yang nyaris sempurna. Hasna seolah tidak percaya jika pria tampan ini adalah kekasihnya. Bima seolah terlalu sempurna untuk seorang gadis biasa saja seperti Hasna.
Memandang wajah yang sempurna itu, membuat tangan Hasna terangkat ingin menyentuhnya. Dia sentuh wajah Bima mulai dari mata, pipi, hidung dan bibir pria itu. Bibir yang pernah menciumnya. Arghh... Hasna malu sendiri mengingat kejadian itu.
Kok bisa ya Tuan dan Asistennya sama-sama tampan seperti ini.
Hasna mengingat suami Anista, yang menjadi Tuannya Bima. Mereka berdua adalah Tuan dan Asisten yang setara dalam hal apapun. Bahkan untuk ketampanan.
__ADS_1
"Boleh cium kok Asna, ini semua milikmu"
Hasna terperanjat saat mendengar suara serak Bima yang baru bangun tidur. Tangannya masih di bibir pria itu. Hasna segera menjauhkannya, dia benar-benar malu dan terkejut. Tidak menyangka jika Bima sudah terbangun.
"Su-sudah bangun ya"
Hasna segera bangun terduduk di tempat tidur itu. Dia mencoba untuk menghindari tatapan aneh Bima yang membuatnya gugup.
"Kenapa wajahmu? Kok merah?" tanya Bima sambil terkekeh lucu melihat tingkah kekasihnya itu.
Hasna refleks memegang pipinya yang memang terasa panas, pantas jika wajahnya memerah sekarang "Emm. Ka-kamu ngapain disini? Aku gak tahu kalo kamu masuk ke kamar ini"
Bima bangun dan duduk menyandar di tempat tidur, dia menatap lucu pada kekasihnya itu "Karena aku ingin memelukmu"
Bima menjawabnya begitu santai dan tanpa beban. Apa dia tidak tahu jika Hasna terkejut dengan kelakuannya itu. Mana Bima yang dingin? Bima yang menolak Hasna secara terang-terangan? Semuanya seolah lenyap seketika, berubah menjadi Bima yang menjadi budak cintanya Hasna.
Hasna menurunkan kedua kakinya ke atas lantai, mamaki sandal rumah "Sudahlah, aku mau siapin makan"
Hasna segera berlari keluar kamar, dia masih terlalu canggung jika harus berada di dalam kamar yang sama dengan Bima. Meski pria itu tidak melakukan apapun, tetap saja Hasna merasa canggung dengan situasi ini.
Hasna melirik jam dinding di ruang tengah, sudah pukul 10 pagi. Sebaiknya dia segera pulang agar bisa langsung bersiap untuk ke acara pernikahan Ustadz Zaki. Untung saja pernikahannya di gelar di akhir pekan. Dimana Hasna bisa hadir tanpa harus mengambil cuti bekerja.
Akhirnya Hasna kembali ke kamar dan tidak jadi membuat makanan. Dia ingin segera ke acara pernikahan Ustadz Zaki agar dia juga bisa segera kembali lagi ke rumah.
"Aku mau langsung pulang aja ya, mau ke undangan pernikahan Ustadz...." Hasna tidak melanjutkan ucapannya saat Bima sudah menatapnya dengan tajam. Masih saja, Bima tidak suka saat Hasna menyebutkan nama pria lain di depannya.
"Bersiap di sini saja, aku sudah menyiapkan pakaian untuk kita" kata Bima santai, dia turun dari tempat tidur dan menghampiri Hasna yang berdiri di tempatnya.
"Tapi 'kan..."
"Sudahlah, kau mandi dan aku akan menyuruh orang untuk mengantarkan keperluanmu ke sini" kata Bima yang berlalu ke luar kamar
Bima telah memesan segala keperluan Hasna untuk hari ini tadi malam. Selain pakaian yang sudah dia beli dari butik semalam, Bima juga sudah menyiapkan segalanya agar Hasnanya terlihat beda dari yang lain.
Hasna masih diam mematung di tempatnya berdiri, menyiapkan segalanya? Kapan dia menyiapkan nya? Semalam dia sibuk bercerita.
Bersambung
__ADS_1
Aku usahain up cepet nih.. Ayo dong dukungannya.. Hari senin, kasih vote kalian ke novel Hasna Bima ya...
Ditunggu like dan komennya.