You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Mengetahui Jadwal Datang Bulan?!


__ADS_3

Beberapa hari berlalu...


Hasna mulai terbiasa menghadapi sikap Bima yang terkadang di luar nalar manusia normal. Overprotektive dan posesif dia padanya, Hasna menganggap itu sebagai tanda cinta Bima padanya. Meski terkadang, Hasna juga merasa kesal dengan sikapnya itu. Namun, dia tahu jika begitulah cara Bima menunjukan perasaannya.


Hari ini, Hasna baru saja pulang bekerja. Bima tidak datang menjemput karena dia juga masih di sibukkan dengan proyek baru perusahaannya itu.


"Syam, beli telur ke warung ya. Kita bikin nasi goreng aja buat makan malam. Kakak gak masak, tadi baru datang bulan" kata Hasna, dia baru saja selesai mandi dan berganti pakaian.


Hisyam yang sedang duduk di kursi ruang tengah itu mengangguk dan menghampiri Kakaknya yang sedang berdiri di depan pintu kamar.


"Mana uangnya Kak" kata Hisyam sambil menengadahkan tangannya di depan Hasna.


Hasna memberikan uang yang sudah dia siapkan sejak tadi dan dia simpan di atas telapak tangan Hisyam "Beli telur ayam satu kilo sama kerupuk aja deh. Udah itu aja"


Hisyam mengangguk dan memasukkan uang dari Hasna ke saku bajunya "Kalo gitu Syam pergi dulu ya Kak, Assalamualaikum"


"Waalaikumsallam"


Hasna berjalan gontai menuju kursi kayu di ruang tengah rumahnya itu. Seperti biasa, setiap kali datang bulan maka Hasna akan tersiksa dengan rasa nyeri di perutnya.


Hasna menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan mata yang terpejam, merasakan rasa sakit di perutnya. Wajahnya cukup pucat jika sedang datang bulan seperti ini, menahan sakit yang lumayan membuatnya lemah.


Ceklek


Suara pintu terbuka sama sekali tidak mengalihkan perhatian Hasna. Dia masih asyik memejamkan matanya, merasakan perutnya yang semakin terasa sakit dan sedikit mulas.


"Sebentar sekali Syam?" tanya Hasna, masih dengan mata terpejam, dia tahu yang datang pastilah Hisyam. Tapi, kenapa anak itu tidak mengucap salam? Aneh sekali.


"Assalamualaikum"


Ucapan salam yang Hasna dengar dari orang yang barusan masuk ke dalam rumah membuat Hasna langsung membuka matanya. Dia tentu sangat mengenali suara itu. Benar saja.. Bima sedang berdiri di samping kursi kayu yang Hasna duduki. Dia lalu berlutut di lantai dengan bertumpu pada kedua lututnya, Bima menatap khawatir pada Hasna.


Eh. Dia kenapa? Kenapa wajahnya seperti itu?


Hasna tentu terkejut dengan ekspresi wajah Bima dan apa yang di lakukan oleh pria itu "Sa-Sayang.. Eh.. Waalaikumsalam"

__ADS_1


Hasna bahkan sampai hampir lupa menjawab salam dari Bima barusan, karena terlalu bingung dengan apa yang terjadi pada Bima hari ini sampai pria itu berwajah cemas dan tiba-tiba berlutut seperti itu.


Bima meraih tangan Hasna yang berada di perutnya, menciumnya dua kali lalu dia menatap wajah pucat Hasna "Maaf Asna, aku baru melihat ponsel dan tahu jika hari ini adalah tanggal datang bulanmu"


Hah? Apa?


Hasna sampai terbelalak mendengar ucapan Bima, bagaimana pria itu sampai tahu jadwal datang bulannya. Perasaan hanya sekali Bima tahu tentang datang bulan Hasna yang terjadi di bulan lalu. Apa dia mengingat tanggalnya dan menjadikan itu sebagai patokan tanggal datang bulan Hasna setiap bulannya.


(Sweet banget si Bima ini. Iri author sama Hasna, kok bisa ya punya pacar seperti Bima. Di dunia nyata ada gak yah? haha)


"Sekarang apa perutnya masih sakit? Kita ke dokter saja ya" kata Bima lembut, tangan satunya mengusap surai rambut Hasna.


Hasna menghela nafas, Bima sepertinya sedang dilanda cemas yang berlebihan. Dia memang sudah biasa seperti ini jika datang bulan, dan sudah konsultasi dengan dokter pun memang normal dan ada yang mengalami seperti Hasna untuk beberapa orang.


"Tidak usah Sayang, aku sudah biasa seperti ini pada hari pertama dan kedua datang bulan. Ini normal kok, aku sudah pernah konsultasi pada dokter dan memang ada yang mengalami sakit seperti ini di setiap datang bulannya" jelas Hasna dia cukup mengerti jika Bima begitu mengkhawatirkan Hasna. Jadi, agar Bima tidak terlalu cemas dan khawatir maka Hasna harus menjelaskan sejelas-jelasnya tentang hal datang bulan yang dia alami ini.


Bima masih menatapnya dengan khawatir "Benar tidak papa? Aku khawatir Asna, dulu saja saat aku melihat kau kesakitan begitu membuat aku panik dan hampir gila melihat keadaanmu"


Memang benar itulah yang Bima rasakan saat Hasna datang bulan dan begitu kesakitan bulan lalu. Hanya saja Bima menutupi semuanya dengan sikap dingin dan wajah datarnya. Namun, sekarang Bima mulai bisa menunjukan apa yang dia rasakan sebenarnya pada Hasna. Tidak perlu lagi menutupi semua perasaan dia.


Hasna sedikit tidak percaya dengan pengakuan Bima itu, karena saat dia datang bulan waktu itu Bima terlihat dingin dan datar. Hanya memerintah Hasna harus menuruti apa yang dia katakan. Seperti tidur dalam dekapannya. Eh..


Hasna merasa malu sendiri dengan hal yang pernah terjadi saat dia datang bulan waktu itu. Untuk pertama kalinya Bima mendekap Hasna dalam tidurnya di saat status hubungan mereka yang belum jelas.


"Sudahlah, kamu tidak perlu cemas. Aku baik-baik saja, sekarang berdiri ayo duduk sini" Hasna sedikit menarik tangan Bima yang menggenggam tangannya agar pria itu berdiri dan duduk di kursi sebelahnya.


Bima menurut, dia duduk di kursi samping Hasna. Tangan Bima yang hangat membuat Hasna membawanya ke atas perutnya yang terasa sakit itu. Menaruh tangan Bima di atas perutnya dengan tangan Hasna yang menggenggam punggung tangan Bima.


"Masih sakit hmm?" tanya Bima begitu lembut


Hasna mengangguk pelan, matanya terpejam dengan kepala yang menyandar di sandaran kursi "Sedikit, nanti juga sembuh sendiri. Kamu diam dulu di sini ya, nanti makan malam bersama saja disini"


"Tidak usah masak, biar aku pesan makanan saja" kata Bima


Hasna hanya mengangguk saja, sepertinya dia tidak akan jadi untuk membuat nasi goreng. Bima tidak akan mengizinkannya memasak di keadaan seperti ini. Hasna tahu itu.

__ADS_1


"Tiduran di kamar saja, Asna. Supaya enak tidurnya" kata Bima


Hasna menggeleng pelan "Nanggung Sayang, sebentar lagi juga magrib"


"Assalamualaikum"


Hisyam datang dari warung, dia masuk ke dalam rumah dan langsung menghampiri Kakak dan calon Kakak Iparnya itu.


"Waalaikumsallam, taruh aja di dapur telurnya Syam" kata Hasna


"Iya, Kakak Ipar kapan datang?" tanya Hisyam sambil menyalami Bima


"Baru saja"


Hisyam mengangkat bahunya acuh saat Bima selalu menjawabnya dengan datar dan dingin. Toh memang itu sifat Bima, tapi Hisyam tahu jika Bima juga peduli padanya. Bukan hanya pada Kakaknya saja.


Hisyam berlalu ke dapur, dia menyimpan telur itu di dalam kulkas kecil yang sudah usang. Warnanya sudah banyak yang mengelupas termakan usia. Namun, masih dapat di gunakan. Dan menyimpan satu kantung kerupuk di dalam rak piring bagian atas yang biasa digunakan untuk menyimpan makanan.


Dia mengambil beberapa bahan dari dalam kulkas setelah menyimpan semua yang dia beli. Menyalakan kompor untuk merebus air, memasukan beberapa potongan jahe dan gula merah. Dia ingin membuatkan minuman jahe hangat yang biasa Hisyam buatkan jika Kakaknya datang bulan atau sedang tidak enak badan.


Setelah gulanya larut dan aroma jahe sudah keluar, Hisyam mematikan kompor dan menuang minuman itu ke dalam cangkir. Lalu, dia membawanya ke dalam rumah.


Hisyam meletakan secangkir minuman jahe yang dia buat di atas meja "Minum dulu Kak"


Bima menatap pada minuman yang Hisyam taruh di atas meja itu. "Apa itu?"


Hisyam memutar bola mata malas saat ada nada khawatir berlebihan dari cara bicara Bima. Pria itu seolah takut jika Hisyam salah memberi minuman pada Hasnanya. Dia terlalu takut terjadi sesuatu pada kekasihnya itu.


"Ini minuman jahe gula merah Sayang, Syam sudah biasa buatkan ini saat aku datang bulan atau tidak enak badan. Ini cukup efektif untuk mengurangi rasa sakit dan menaikan imun tubuh kita. Bagus untuk kesehatan juga" jelas Hasna


Bima menatap Hasna meminum minuman itu dengan tenang "Apa rasa sakitnya bisa langsung sembuh dengan kau meminum itu?"


"Tidak langsung sembuh, tapi bisa lebih baik dan terasa nyaman untuk tubuh" jelas Hasna sambil tersenyum


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter... kasih hadiahnya dan votenya juga ya.. terimakasih


__ADS_2