You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Perasaan Rindu Yang Hilang


__ADS_3

"Tidak perlu Tuan, saya ada yang menjemput"


Perkataan Hasna waktu itu terus saja terngiang di telinganya. Dan perasaan Bima selalu kesal saat mengingat perkataan Hasna.


Siapa yang menjemputnya? Apa seorang pria? Atau mungkin pria sialan si manager hotel itu. Sial.. Kenapa aku begitu kesal.


Bima terus memutar-mutar pena di tangannya dengan perasaan kesal. Di atas meja sudah banyak berkas yang menunggunya. Namun, Bima tidak menghiraukan sama sekali. Dia masih terus memikirkan perkataan Hasna waktu itu.


Sampai pintu ruangannya yang terbuka berhasil mengalihkan Bima dari lamunannya. Pria itu menoleh ke arah pintu yang terbuka. Bianca muncul dari sana dengan senyum manisnya.


Bianca berjalan menghampiri pujaan hatinya "Hai Bim, aku telah kembali"


Bianca duduk di sofa yang ada di ruangan Bima itu "Aku menyelesaikan pekerjaanku dalam waktu tiga hari loh. Apa kamu tidak merindukan ku?"


Bima menatap Bianca dengan tatapan yang sulit di artikan. Entahlah, aku juga bingung dengan perasaanku ini. Kenapa rasa rindu itu tak ada lagi di hatiku. Padahal sejak 21 tahun lalu, aku selalu merindukan nya. Tapi sekarang semuanya terasa berbeda.


"Tumben kau pulang cepat?" Akhirnya pertanyaan itulah yang keluar dari mulut Bima. Pria itu mencoba untuk mengalihkan pembicaraan yang di bahas oleh Bianca.


Rindu??


Rasa rindunya pada gadis yang selama 21 tahun dia tunggu itu, seolah telah hilang dari hatinya. Bima merasa perasaannya pada Bianca telah berubah. Namun, dia masih belum bisa meyakinkannya.


Bima mengambil satu berkas dari tumpukan berkas yang ada di meja kerjanya. "Aku banyak kerjaan, sebaiknya kamu pulang saja"


Entah apa yang Bima lakukan saat ini. Yang jelas dia seolah ingin menghindari Bianca. Benarkah? Gadis yang dia tunggu selama puluhan tahun dan sekarang malah dia yang ingin menghindar dari gadis itu. Aneh bukan?


"Kamu kenapa Bim?" Tanya Bianca menatap Bima dengan lekat. Sepertinya Bianca sadar dengan sikap Bima yang mulai berubah menurutnya.


"Aku tidak papa, hanya sedang banyak kerjaan saja" jawab Bima datar, tatapannya hanya fokus pada berkas di tangannya. Tanpa menoleh sedikit pun pada Bianca.


Bianca mendengus kesal, dia bukannya tidak sadar dengan perubahan Bima sejak dia kembali. Sebenarnya ada hal lain yang membuat Bianca kembali pada pria yang sudah hampir di lupakannya itu.


Bianca berdiri dengan menghentakkan kakinya, kesal "Baiklah aku akan pulang. Nanti aku akan datang ke apartemen mu"


"Aku rasa tidak perlu, karena aku akan pulang ke rumah Tuan Muda" kata Bima, lagi-lagi dia tidak menatap ke arah Bianca.


Kau benar-benar sudah tak mencintaiku lagi Bim. Tapi, maaf aku tak bisa melepasmu sampai tujuanku kembali padamu terwujud.

__ADS_1


Akhirnya Bianca keluar dari ruangan Bima dengan perasaan tak menentu. Kesal juga sedih, melihat bagaimana penolakan Bima. Bianca tidak bodoh, sejak dia kembali memang Bima sudah terlihat berbeda dari Bima yang dia kenal dulu.


Maaf Bim, aku hanya ingin kau bisa menjaganya dan menyayanginya.


Bianca mempunyai alasan sendiri kenapa dia kembali pada Bima setelah sekian lama dia pergi meninggalkan pria itu tanpa kabar. Bianca hanya membutuhkan keberadaan Bima saat ini.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


"Ayo Syam, kita harus segera ke sana. Takutnya Safira keburu di bawa sama Kakek Neneknya sebelum kita bisa bertemu anak itu" kata Hasna pada adiknya yang sedang memakai sepatu itu


"Iya Kak, memangnya kenapa Safira harus di bawa ke rumah Kakek sama Neneknya?" tanya Hisyam sambil berdiri dan berjalan ke arah Kakaknya.


"Sudahlah nanti saja kita tanyakan langsung pada Teh Anista" kata Hasna


Tepat pada saat mereka baru saja akan berjalan keluar dari halaman rumah kontrakan itu, Ryan muncul di sana.


"Loh mau kemana Na?" tanya Ryan


"Eh Kak"


Hasna masih saja merasa canggung sejak Ryan mengungkapkan perasaan nya waktu itu. Dia merasa bersalah karena belum juga memberikan jawaban pasti untuk perasaan Ryan itu.


"Kalo gitu aku ikut ya, kan waktu itu belum sempat ketemu sama temen kamu itu"


Hasna langsung gelagapan mendengar ucapan Ryan. Menolak juga tidak enak, akhirnya Hasna hanya bisa pasrah saat Ryan memaksanya untuk ikut ke Ibu Kota.


Akhirnya mereka telah sampai di rumah mewah Yudha Abimana Walton. Hasna segera turun dari mobil Ryan dan masuk ke dalam rumah itu setelah seorang kepala pelayan membukakan pintu untuk mereka.


"Ya ampun Na, aku kangen banget sama kamu" Anista langsung memeluk Hasna saat melihat sahabatnya itu datang


"Iya Nist, maaf ya aku baru bisa dateng lagi sekarang. Aku gak bisa lama-lama ninggalin Hisyam dan aku juga gak bisa terlalu lama ambil cuti kerja" jelas Hasna


Anista tersenyum "Tidak papa, ayo duduk dulu. Safiranya sedang ganti baju dulu sama Mami"


Hasna mengangguk lalu mengikuti Anista untuk duduk di sofa. Hisyam dan pria yang ikut bersama mereka juga ikut duduk.


"Oh ya, ini siapa Na?" Tanya Anista dengan tatapan penuh arti pada Hasna

__ADS_1


"Teman aku Nist, kenalin ini Kak Ryan teman aku waktu sekolah dulu. Kakak kelas aku" jelas Hasna


Anista bersalaman dengan Ryan dan saling berkenalan. Mereka mengobrol santai di ruang tamu itu. Sampai seseorang datang dan suasana mendadak hening.


"Oh Tuan Bima, mau ketemu Mas Yudha?" Tanya Anista mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa canggung


"Iya, dimana Tuan Muda?" Tanya Bima dingin dan datar


"Ada di ruang kerjanya"


Bima langsung berlalu pergi tanpa menoleh ke arah gadis yang masih menyimpan rasa yang sama padanya. Tanpa ada yang mengetahui, kedua tangan Bima mengepal kuat sambil terus berjalan menuju ruang kerja Tuannya.


Kenapa aku marah saat melihat dia bersama laki-laki itu lagi.


Hasna menatap punggung pria yang di cintainya menghilang di balik tembok. Hah... Dia menghela nafas saat lagi lagi dia tak bisa menghilangkan perasaannya ini.


Anista menatap Hasna dengan tatapan iba, dia tahu perasaan gadis di depannya ini. Sebenarnya Anista juga melihat bagaimana Bima menatap tidak suka pada Ryan.


Sungguh cinta yang begitu rumit.


"Ndaa"


"Bundaa"


Teriakan dua anak kecil yang berbeda usia itu berhasil mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa canggung. Hervan berlari ke arah Bundanya, sementara Safira berada di gendongan sang Nenek.


"Hallo Nyonya" Hasna menyapa sopan pada Varinda


Varinda tersenyum tipis "Tak perlu sungkan, kau adalah temannya menantuku. Jadi kita adalah keluarga"


Hasna tersenyum dan mengangguk, Hervan langsung mengajak main Hisyam dan Safira. Hisyam terlihat begitu dewasa dengan menjaga Safira dan Evan. Dia yang lebih tua tentu saja harus menjaga kedua bocah ini.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya ya...


Kasih vote sama hadiahnya juga.. Like komen di setiap chapter jangan lupa..

__ADS_1


Dukungan kalian itu bener-bener buat aku semakin semangat..


__ADS_2