
Hasna selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi setelah memakai pakaian lengkap. Rambutnya yang basah masih terlilit handuk.
"Syam" panggil Hasna pelan
Hisyam yang sedang duduk di kursi plastik yang ada di dekat lemari piring itu menoleh "Apa Kak?"
Hasna melirikan matanya ke dalam ruang tengah "Di dalam masih ada mereka?"
Hisyam mengangguk "Iya, masih nunggu Kakak keluar kayaknya"
Hasna menjadi gelisah sendiri "Duh.. Gimana ya, Kakak harus gimana?"
"Ya Kakak jelasin aja semuanya, lagian emang bener kalo Kakak udah pacaran sama Tuan Bima?" Tanya Hisyam, menuntaskan rasa penasaran nya sejak tadi.
Hah..
Hasna menghela nafas kasar "Iya Syam, itu semua karena keterpaksaan. Lagian kamu tahu sendiri gimana sifat Tuan Bima, mana mungkin dia benar-benar mencintai Kakak"
"Jadi maksud Kakak, Tuan Bima hanya mempermainkan perasaan Kakak saja" kesal Hisyam
Dia begitu menyayangi Kakaknya. Mana mungkin Hisyam membiarkan Kakak perempuannya di sakiti oleh seorang pria, meski seorang Tuan Bima sekalipun Hisyam tak akan pernah rela Kakaknya tersakiti.
"Sudahlah, kamu gak akan ngerti situasinya. Jadi sekarang kamu jangan pikirin urusan Kakak sama Tuan Bima. Kamu hanya boleh fokus pada sekolahmu" kata Hasna
Hasna tahu jika adiknya begitu peduli padanya. Namun, dia juga tidak mungkin menceritakan semuanya. Tentang dia yang di jadikan pacar pelunas hutang karena biaya pengobatan Hisyam. Nantinya pasti Hisyam akan semakin kefikiran dan merasa bersalah.
"Kakak mau masuk dulu Syam" kata Hasna yang berlalu pergi menuju ruang tengah dimana dua orang pria sedang duduk berdampingan di kursi kayu dengan wajah datar.
Hening.. Saat Hasna masuk suasana begitu hening dan mencekam. Apalagi dengan tatapan dua pria tampan yang langsung menatap ke arahnya saat dia mendekat ke arah mereka.
Duh tatapan mereka kenapa begitu menakutkan.
Hasna tersenyum masam, dia bingung harus bagaimana menghadapi dua pria ini. Terutama pria dingin yang berstatus sebagai kekasihnya itu.
"Emm. Tu-tuan gak pulang?" Aduh.. Kenapa aku harus bertanya seperti itu. Lihatlah tatapan matanya yang begitu tajam menusuk jantungku.
"Apa kau lupa Sayang?" Tekan Bima dengan tatapan yang begitu tajam.
__ADS_1
Deg..
Apa? Barusan dia memanggilku Sayang? Ehh apa aku salah dengar? Tapi sepertinya tidak deh.
Hasna menatap Bima dengan senyuman masam, pria itu benar-benar mengucapkan kata 'Sayang' namun dengan wajah datar dan dinginnya. Begitu menakutkan bagi Hasna.
Ryan langsung menatap ke arah Hasna dan Bima secara bergantian. Dia jelas mendengar panggilan Bima pada Hasna barusan. Namun, dia masih belum percaya jika Hasna dan Bima benar-benar memiliki hubungan spesial.
"Na bisa jelaskan semuanya?" Tanya Ryan menatap Hasna dengan tatapan nanar, jika benar apa yang di katakan Bima. Maka Ryan akan benar-benar patah hati sekarang.
Hasna menatap ke arah Ryan dengan tatapan tidak enak, lalu dia beralih menatap Bima yang masih menatapnya dengan tajam. Wajahnya benar-benar datar tanpa ekspresi apapun.
Apa dia tidak merasa tegang atau canggung dengan situasi ini?
"Emm.. Kak, se-sebenarnya ak-aku memang berpacaran dengan Tuan Bima" teriak Hasna dengan mata terpejam, dia tahu akan sekecewa apa Ryan dengan kenyataan ini. Namun, cepat atau lambat Ryan juga akan tetap tahu.
Hasna menatap nanar Ryan yang terdiam, pria itu pasti sangat terluka dengan kenyataan ini. Namun, harus bagaimana lagi. Kenyataannya Hasna memang mencintai Bima, meski pria itu tidak menunjukan jika dia juga mencintai Hasna. Tapi, bisa menjadi kekasihnya saja sudah sangat beruntung bagi Hasna. Sejatinya Hasna tidak bisa membohongi hati dan perasaannya.
"Kak, maaf" lirihnya, menatap Ryan yang masih diam
Ryan menatap Hasna dengan tatapan nanar, sepertinya dia benar-benar harus mundur dengan perasaannya ini. Sudah tidak ada lagi kesempatan baginya untuk bisa memiliki hati Hasna.
Hasna menatap Ryan, tatapannya memancarkan keyakinan dengan apa yang akan dia ucapkan "Iya, aku mencintainya"
Di sisi lain, Bima tersenyum tipis mendengar jawaban Hasna yang begitu yakin. Sungguh hatinya sedang bersorak ria saat ini, namun dia tetap memasang wajah datarnya. Masih menjaga image nya dengan baik.
Ryan tersenyum pahit mendengat jawaban Hasna. Betapa dia ingin mendengar kata itu saat waktu dulu dia menyatakan perasaannya pada Hasna. Namun, Ryan mengerti jika semua ini adalah kebenaran nya. Hasna memang tidak mencintainya, dia memiliki pria lain yang di cintainya. Dan pria itu adalah Bima.
"Baiklah, jika kamu memang mencintainya. Aku akan ikhlas menerima kenyataan ini. Tapi.."
Hasna menatap bingung dan penasaran saat Ryan menggantungkan ucapannya "Tapi apa Kak?"
Ryan menoleh ke arah Bima, dia menatap serius pada pria itu "Saya tahu jika saya hanya bawahan anda, Tuan. Tapi, kali ini saya ingatkan pada anda, jika anda berani menyakiti Hasna. Maka saya akan merebutnya dari anda, tidak peduli anda atasan saya atau bukan. Ingat itu!"
Hasna terdiam melihat Ryan yang begitu peduli dengan perasaannya, tapi dia malah menyakiti dan membuat pria itu begitu kecewa. Namun, harus bagaimana lagi? Hasna benar-benar tidak mempunyai perasaan lebih pada Ryan. Selain perasaan sayang pada saudara atau Kakak laki-laki.
Bima berdiri, dia kancingkan jas yang di pakainya. Dia menatap Ryan dengan datar "Aku tidak akan membiarkanmu mengambilnya dariku apapun yang terjadi. Kau faham!"
__ADS_1
Hasna bingung melihat dua pria tampan di depannya malah saling menatap tajam dengan perkataan mereka yang penuh dengan ancaman.
"Sudah sudah..." Hasna melerai keduanya yang semakin berjalan mendekat satu sama lain dengan tatapan tajam yang saling mengancam dengan tatapan mereka.
"Kak Ryan" Hasna menatap ke arah Ryan "Aku yakin jika Kak Ryan juga akan menemukan pendamping yang pas dan cocok dengan Kakak. Kak Ryan adalah pria baik, terbaik malah yang pernah Na temukan. Kak Ryan selalu membantu aku dan Hisyam dalam segala hal. Jadi, aku yakin jika Tuhan menyiapkan jodoh yang terbaik untuk Kakak, dan itu bukan aku"
Ryan menghela nafas, dia mengelus kepala Hasna. Namun segera di tepis oleh tangan kekar orang yang berdiri di sampingnya.
"Jangan menyentuhnya!" Peringatan Bima dengan tatapan tajam, dia tidak suka jika wanitanya di sentuh oleh pria lain dalam hal apapun itu. Meski hanya sebagai Kakak atau teman. Hanya dia yang boleh menyentuhnya.
Hah..
Ryan menghembuskan nafas kasar "Baiklah, sepertinya aku melihat ketulusan dan cinta yang begitu besar di sini. Jadi, aku ikhlaskan kamu bersamanya Na. Tapi, jika dia berani menyakitimu maka berlarilah padaku. Aku akan selalu ada untukmu"
"Cih... Aku tidak akan membiarkan miliku lari dariku"
Hasna menatap gemas sekaligus kesal pada Bima. Kenapa pria ini selalu menyahut saja ucapan Ryan. Seolah tidak mengizinkan Hasna untuk menjawab ucapan pria itu.
Dasar pria dingin, selain menakutkan. Dia juga menyebalkan.
"Sudahlah Kak, tidak perlu mendengarkan dia. Pokoknya Kak Ryan akan selalu menjadi teman dan Kakak terbaik untuk ku" kata Hasna
Bima menggeram tertahan "Kau!" Menunjuk Hasna dengan kesal karena merasa di abaikan.
"Tuan bisa diam sebentar tidak? Aku masih bicara dengan Kak Ryan" kata Hasna, tanpa menatap ke arah Bima. Tentu saja dia tidak akan berani berkata seperti itu jika menatap mata pria itu.
"Beraninya Kau!" Teriak Bima tertahan
Ryan terkekeh kecil melihat tingkah sepasang kekasih ini "Sudahlah, aku mau pulang dulu Na. Kalian baik-baik dengan hubungan kalian"
Hasna tersenyum "Iya Kak, terimakasih sudah menerima semuanya"
"Iya. Aku pulang dulu ya, Assalamualaikum"
"Waalaikumsallam"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga.. terimakasih