You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Untung Aku Cinta


__ADS_3

Sudah tiga hari Bima berada di Ibu Kota, tak terlewat sehari pun dia untuk tidak menelpon Hasna. Meski berat, tapi Bima tetap harus menjalani semua ini. Selagi Hasna belum siap untuk di ajak menikah, Bima tidak akan memaksa. Dia memberi waktu untuk Hasna bisa berfikir tentang masa depan mereka.


Bima mengerjap saat suara dering ponsel mengganggu tidurnya, tangannya merayap ke meja nakas di samping tempat tidurnya, karena seingatnya dia meletakan ponsel di sana. Matanya masih terpejam.


Menekan icon hijau tanpa melihat siapa yang telah menelponnya sepagi ini. Menempelkan ponsel di telinga, masih dengan mata yang terpejam.


"Tuan Bima, Nona Muda akan melahirkan. Tuan Muda menyuruh saya untuk menelpon anda"


Bima langsung terbangun seketika saat mendengar perkataan Pak Danu di sebrang sana. "Baik Pak, saya mengerti"


Bima segera turun dari tempat tidur dan berlari ke ruang ganti untuk mandi dan bersiap. Melakukan segala kegiatan paginya dengan cepat, tidak seperti biasanya.


Bima telah sampai di rumah sakit keluarga Walton. Dia bahkan menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Bima menunggu di depan ruang pemeriksaan dimana Anista berada di dalam bersama sang suami.


Bima menyandar di dinding rumah sakit, dia juga cemas. Tentu saja dia lebih mencemaskan Tuannya, sudah pasti Yudha akan sangat panik melihat istrinya kesakitan karena melahirkan anak kedua mereka. Apalagi mengingat jika anak pertama mereka lahir tanpa Yudha dampingi.


Pintu ruangan terbuka, disusul oleh brankar pasien yang di dorang keluar oleh beberapa perawat dan seorang dokter. Yudha terlihat mengikuti langkah dokter dengan terus menggenggam tangan Anista yang terbaring lemah di atas brankar.


Bima berjalan cepat menghampiri Yudha, menepuk bahunya untuk sekedar memberi kekuatan pada pria itu. Yudha menoleh ke arah Bima dengan tatapan sayu, dia begitu mencemaskan keadaan istri dan anaknya itu.


"Bim" lirih Yudha, seolah sedang mengadu pada sang Kakak jika dia sedang sangat khawatir sekarang.


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Aku percaya jika istrimu itu kuat. Istri dan anakmu akan baik-baik saja. Percayalah" kembali Bima menepuk bahu Yudha sebagai tanda penyemangat darinya.


Yudha mengangguk, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang bersalin dimana istrinya akan berjuang untuk anaknya di dalam sana.


Setelah kepergian Yudha, Bima duduk di kursi tunggu disana. Dia mengambil ponselnya yang berada di dalam saku jas. Menekan nomor orang yang ingin dia hubungi saat ini.


Dering pertama belum dijawab, baru di dering ke tiga telepon itu terjawab "Hallo Sayang?"


Bima tersenyum mendengar suara lembut yang menenangkan di sebrang sana. Saat seperti ini, maka Bima hanya butuh Hasna untuk menenangkannya. Hanya suaranya saja sudah berhasil membuat Bima merasa lebih tenang.


"Kau sedang apa?" tanya Bima, dia menghembuskan nafas kasar. Rasanya kejadian pagi ini terlalu mengejutkan untuknya, sehingga dia sedikit lelah.


"Aku sudah mau bekerja, nanti telepon lagi saja ya"

__ADS_1


Lagian tumben sekali menelpon pagi hari, biasanya juga malam.


Hasna yang sudah berada di dalam angkutan umum itu merasa tidak nyaman saat harus berteleponan dengan Bima di depan cukup banyak orang di dalam angkutan umum yang dia naiki itu.


Bima mendengus kesal dengan jawaban Hasna, dia sedang membutuhkan hiburan dan seseorang untuk menenangkannya di saat seperti ini. Malah Hasna ingin memutuskan sambungan teleponnya. Apa Hasna tidak tahu jika Bima juga sama paniknya dengan Yudha saat mendapat kabar jika Anista akan melahirkan.


"Aku sedang di rumah sakit sekarang" kata Bima, kepalanya menyandar ke dinding rumah sakit dengan mata yang terpejam.


Hasna hampir saja menjatuhkan ponselnya saat mendengar ucapan Bima di sebrang sana. "Rumah sakit? Kamu sakit? Kenapa? Sakit apa? Semalam kamu telepon masih baik-baik saja"


Karena panik dan khawatir dengan keadaan kekasihnya yang jauh di Ibu Kota, Hasna sampai tidak sadar jika suaranya begitu kencang sampai Ibu-ibu dan beberapa orang yang menaiki angkutan umum itu menatap ke arahnya dengan tatapan bingung dan penuh tanya.


Hasna langsung tersenyum malu saat menyadari tatapan orang-orang yang berada di dalam angkutan umum yang sama dengannya itu.


"Maaf, Bu, Mas" kata Hasna dengan senyuman malunya


Sementara pria yang masih menempelkan ponsel di telinganya itu, langsung membuka mata seketika saat mendengar Hasna menyebutkan kata 'Mas' di sebrang sana. Posisinya yang tadi duduk sambil menyandar ke dinding rumah sakit, kini langsung duduk tegak dengan wajah dingin.


"Mas? Siapa disana? Kau sedang bersama siapa Hah? Kau berselingkuh disana ya" teriak Bima, dia bahkan lupa jika dia sedang berada di rumah sakit.


Hasna terbelalak kaget mendengar teriakan Bima itu. Bukannya dia sedang sakit ya, kenapa masih bisa berteriak seperti itu?


Tiba-tiba suasana di sekitar Hasna menjadi mencekam, sungguh suara dingin Bima membuat Hasna takut meski pria itu tidak berada di sini.


Dia kenapa lagi si?


"Aku sedang berada di angkutan umum, Sayang. Nanti aku telepon lagi kalau sudah turun"


Akhirnya Hasna memilih jalan terbaik untuk masalah ini. Dia memutuskan sambungan telepon sepihak, meski dia tahu jika pria di sebrang sana pasti sedang mengamuk sekarang. Tapi biarlah karena Bima juga berada jauh dari Hasna, tidak mungkin dia langsung datang keisini hanya untuk memarahinya.


Cemburu gak lihat tempat deh tuh orang.


Hasna masih merasa heran dengan sikap Bima yang menurutnya terlalu berlebihan itu. Terlalu takut jika Hasna akan mengkhianatinya. Bahkan untuk sekedar memikirkannya saja, Hasna tidak akan pernah. Dia hanya akan setia pada Bima, kekasihnya yang sedikit aneh itu.


"Kiri Bang"

__ADS_1


Hasna segera turun dari angkutan umum setelah membayar ongkosnya. Dia berdiri di pinggir jalan sambil melihat ponselnya, benar saja sudah ada beberapa pesan dari kekasihnya.


Berani sekali kau!


Dimana Kau?


Sedang apa dan dengan siapa? Ingat ya jangan coba-coba untuk berselingkuh di belakang ku, Hasna!


"Duh dia sudah benar-benar marah, bahkan memanggilku saja dengan sebutan Hasna"


Beberapa bulan menjalin hubungan dengan Bima, Hasna mulai bisa memahami pria dingin itu. Termasuk panggilan Bima kepadanya yang selalu berubah jika dia sedang marah dan kesal pada Hasna.


Segera Hasna menghubungi kekasih posesifnya itu. Dering pertama sudah langsung di jawab oleh Bima.


"Sayang, aku tadi sedang berada di angkutan umum. Banyak orang disana, jadi aku meminta maaf karena tidak sengaja berteriak tadi, saat mendengar kamu sedang berada di rumah sakit" jelas Hasna panjang lebar, seolah tidak membiarkan Bima berbicara sebelum dia selesai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Siapa yang kau panggil 'Mas' itu? Sudah pasti pria 'kan? Kau duduk bersebelahan dengan pria lain? Jawab!"


Sepertinya Hasna salah, meski dia sudah menjelaskan panjang lebar seperti itu. Bima tetap mempermasalahkan dia yang menyebutkan kata 'Mas' itu tadi.


Hasna menghela nafas berat, harus ekstra sabar untuk menghadapi Bima yang sedang di landa cemburu itu.


"Memang disana ada penumpang pria, tapi..."


"Kan sudah kuduga, aku akan kesana Hasna. Tidak akan aku membiarkan kau berselingkuh di angkutan umum sialan itu. Akan aku tuntut supir angkutan umum itu sampai membiarkan kau bersama pria lain" Bima langsung berdiri dari duduknya mendengar ucapan Hasna, bahkan dia memotong ucapan Hasna.


Tuhan.. Apa aku harus berjalan kaki ke tempat kerja agar dia tidak segila ini.


"Sayang, dengarkan aku dulu. Aku tidak duduk bersebelahan dengan seorang pria, di samping kanan dan kiriku adalah Ibu-ibu. Sudah ya, jangan marah lagi. Aku tidak mungkin mengkhianatimu Sayang" jelas Hasna, dia hanya mengelus dadanya untuk lebih sabar lagi menghadapi sikap Bima.


Untung aku cinta.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter.. Gak nambah nih hadiah sama vote nya. Ayo dong kasih aku dukungan, ini sudah hampir selesai cerita Hasna dan Bima. Hanya menunggu konflik akhir saja.

__ADS_1


Mampir juga di cerita aku yang baru, masih ongoing. Judulnya. Benteng Penghalang Kita



__ADS_2