You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Mulai Tersentuh


__ADS_3

"Kau mau kemana?" Tanya Bima saat melihat Hisyam keluar dari kamarnya dengan memakai koko dan sarung.


"Syam mau ngaji ke mesjid" jawab anak itu


Hisyam menghampiri Bima dan mengulurkan tangannya. Bima mengerutkan keningnya, menatap bingung pada tangan Hisyam.


Karena melihat Bima yang hanya diam, akhirnya Hisyam meraih tangan Bima dan mencium punggung tangannya.


"Assalamualaikum"


Ada desiran aneh di hatinya, Bima mematung dengan apa yang di lakukan Hisyam barusan. Bahkan dia tidak menjawab salam anak itu.


Apa ini? Kenapa aku bisa sebahagia ini?


Bima menatap punggung tangannya yang tadi di cium oleh Hisyam. Dia merasa begitu di hargai, menghargai yang berbeda dari rekan-rekan bisnisnya. Mereka bukan menghargai, namun lebih ke segan pada Bima. Berbeda dengan yang di lakukan Hisyam. Anak itu begitu tulus.


Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Bima. Pria itu menoleh ke arah pintu kamar Hasna. Gadis itu keluar dari sana setelah melaksanakan kewajibannya.


"Tuan mau berangkat sekarang?" Tanya Hasna


"Lalu adikmu?"


"Dia tidak mau ikut, Hisyam sebentar lagi ujian dan dia tidak mau ambil cuti sekolah terlalu lama" jelas Hasna


"Dia akan tinggal di sini sendiri?" Tanya Bima lagi


Hasna berjalan mendekat ke arah Bima yang masih duduk di tempatnya. Belum berubah sejak dia datang ke rumah ini.


"Ada tetangga yang jagain Hisyam selama saya di kota. Tuan tidak perlu khawatir"


Bima kembali memasang wajah datar dan dingin nya "Siapa yang khawatir? Memangnya dia siaoa sampai harus aku perhatikan?"


Hah..


Hasna menghembuskan nafas kasar, jelas sekali tadi dia melihat raut khawatir di wajah Bima. Meski hanya sekilas, tapi Hasna yakin jika Bima mengkhawatirkan adiknya.


"Jadi, apa kita akan berangkat sekarang?" Tanya Hasna menatap wajah tampan Bima yang selaly saja membuatnya berdebar.


"Kita tunggu adikmu pulang dulu. Aku tidak mau kau menjadikan alasan khawatir dengan adikmu karena tidak menunggunya pulang lebih dulu saat berangkat ke kota"


Hasna hanya mengangguk, biarkan saja apa yang ingin di katakan oleh pria menyeramkan itu. Hasna sudah lelah menghadapi sikap arogannya.


"Apa Tuan mau makan malam terlebih dahulu?" Tanya Hasna setelah beberapa terdiam karena ragu untuk menawarkan makan atau tidak pada Bima.

__ADS_1


Bima mendongak dan menatao gadis di depannya. Tak sengaja tataoan mereka beradu, keduanya terdiam dengan perasaan masing-masing.


Bima lebih dulu mengalihkan pandangannya "Aku lapar, kau punya makanan apa?"


Ekhem...


Hasna gelagapan sendiri, debaran aneh di dadanya masih belum reda. Jantungnya semakin berdetak kencang.


Ada apa ini? Kenapa aku segugup ini?


"Saya hanya masak makanan sederhana Tuan, silahkan kalo Tuan mau mencobanya" kata Hasna sopan


Memangnya apa yang aku punya? Jelas-jelas keadaanku saja seperti ini.


Hasna berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makan malam untuk tamu kehormatan nya. Dia membawa makanan yang tadi di masaknya ke ruang tengah. Tidak ada ruang makan di rumahnya ini, mereka akan makan di ruang tengah dengan meja kayu yang ada di sana.


Hasna menata makanan nya di atas meja kayu depan Bima. Dia mengambil piring dan berjalan ke dekat rak televisi yang di samping televisi itu terletak alat penanak nasi dengan ukuran sedang.


Hasna membuka alat penanak nasi itu dan menyendokkan nasi panas ke piring yang di bawanya.


"Segini cukup Tuan?" Tanya Hasna sambil memperlihatkan isi piring kepada Bima


Bima mengangguk, Hasna memberikan piring yang sudah terisi nasi panas itu pada Bima.


Bima mengangguk dan mulai mengambil apa yang di masak oleh Hasna. Ada tumis kangkung, tempe goreng dan sambal terasi di sana. Tidak lupa kerupuk di dalam toples.


Hasna mengambil piring lain dan mengambil nasi untuknya. Dia juga belum makan malam.


Bima mulai menyendokan suapan pertama ke mulutnya. Mengunyahnya dengan pelan seolah meresapi rasa makanan yang ada di mulutnya.


Ini enak, sungguh enak. Makanan sederhana seperti ini bisa senikmat ini.


Bima terus menyuapkan makanannya dengan lahap. Kenikmatan itu tidak harus selalu dari kemewahan. Lihatlah, bahkan masakan sederhana ini bisa begitu di nikmati oleh seorang Satria Bima Prakasa.


Hasna tersenyum tipis melihat Bima begitu menikmati masakannya. Apa dia suka dengan masakanku ya? Lahap sekali makan nya.


Tak terasa Bima telah menghabiskan sepiring nasi. Dia merasa begitu kenyang, perutnya terasa penuh dengan makanan.


Nikmat sekali makanku malam ini.


Hasna membereskan bekas makan mereka dan mencucinya. Lalu gadis itu kembali ke ruang tengah, dimana pria tampan yang selalu bersikan dingin padanya tengah bersandar ke sandaran kursi kayu. Matanya terpejam, mungkin karena terlalu kenyang akhirnya Bima malah ketiduran.


Hasna berjalan mendekat ke arah Bima yang masih memejamkan matanya itu. Gadis itu sedikit membungkukkan tubuhya dan mengamati setiap inci wajah Bima.

__ADS_1


Dia tampan sekali. Jika sedang tidur tenang seperti ini kenapa terlihat menggemaskan ya. Tapi, kalo bangun pasti sangat menyebalkan.


Tanpa sadar tangan Hasna terangkat ingin menyentuh wajah Bima. Namun, gerakan tangannya langsung terhenti saat tiba-tiba kedua mata tajam itu terbuka.


"Kau mau apa?" suaranya terdengar begitu dingin dan berat


Hasna langsung menegakan tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang, terkejut saat pria menyeramkan itu terbangun saat dia melakukan hal seperti tadi.


"Ti..tidak Tuan" kata Hasna gelagapan


Apa yang aku lakukan? Kenapa aku ingin menyentuh wajah dinginnya itu.


Bima menatapnya dengan tajam "Bersiap sekarang, kita akan berangkat sebentar lagi"


Hasna mengangguk dan langsung berlari ke kamarnya. Sementara Bima mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.


"Kau jemput aku sekarang, kita sudah siap pergi ke kota"


Langsung menutup sambungan telepon tanpa menunggu si lawan bicara menjawab. Bima kembali memasukan ponselnya ke dalam saku celana.


Suara pintu terbuka dan ucapan salam dari Hisyam yang baru pulang mengaji. Hisyam menghampiri Bima dan menyalami Bima seperti tadi.


"Kau sudah pulang?"


Hisyam mengangguk, anak itu duduk di kursi samping Bima "Apa Tuan dan Kak Na akan berangkat sekarang ke kota?"


"Iya, tapi Kakakmu itu lelet sekali. Dari tadi di dalam kamar masih belum keluar juga" kesal Bima


"Mungkin Kakak isya dulu Tuan" kata Hisyam


Bima menatap Hisyam, meminta penjelasan maksud dari perkataan anak laki-laki itu.


"Sholat Isya dulu Tuan" jelas Hisyam melihat tatapan bingung Bima dengan ucapannya tadi.


Sholat? Aahh.. Apa gadis itu Sholat?


Mata Bima berkedut, ada gurat kesedihan di wajahnya. Namun, dia tutupi dengan wajah datar dan dinginnya.


Kapan terakhir kali aku melakukan kewajibanku itu?


Bersambung


Jangan Lupa, like, komen di setiap chapter..

__ADS_1


Mau aku lanjutin sampe tuntas gak nih cerita Bima Hasna? Ayo dong dukungannya jangan pelit-pelit.. Maksa nih.. 😁


__ADS_2