You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Makan Siang Sederhana


__ADS_3

Makan siang kali ini terasa berbeda, suasana terasa begitu canggung karena bertambahnya satu orang yang ikut makan di rumah kontrakan sederhana ini.


Hasna dan Hisyam hanya fokus pada makanan mereka yang tiba-tiba terasa hambar. Sementara pria dingin yang ikut makan siang di rumahnya ini, begitu menikmati masakan gadisnya itu.


Meskipun ini pertama kalinya dia makan dengan duduk lesehan di atas karpet plastik seadanya dan menu makan siang yang teramat sederhana.Tapi, entah kenapa dia merasa begitu nyaman dan merasakan kebahagiaan tersendiri untuk hatinya.


Ini benar-benar sangat enak, dia benar-benar gadis idaman semua pria. Sial... Aku tidak boleh sampai kehilangan gadisku ini.


Hah...


Sepertinya Bima telah benar-benar jatuh cinta pada gadis polos ini. Gadis yang dulu perasaannya dia tolak secara terang-terangan. Tapi sekarang gadis itu bagaikan berlian yang sedang Bima perjuangkan hatinya.


Makan siang mereka telah selesai, Hasna segera membereskan bekas makan mereka dan membawanya ke dapur. Sementara Bima dan Hisyam hanya duduk diam di ruang tengah.


"Hei, bagaimana keadaanmu?" Tanya Bima pada anak laki-laki itu


"Sudah lebih baik" jawab Hisyam


"Baguslah, jangan sakit lagi. Kakakmu benar-benar khawatir dengan keadaanmu itu" kata Bima


Hisyam menatap Bima, dia mengangguk saja. Hisyam melihat bagaimana Bima begitu memperhatikan Kakaknya. Dia senang jika memang Bima benar-benar mencintai Kakaknya.


"Syam tidur lagi aja di kamar, Kak Na mau keluar bentar" teriak Hasna dari dalam dapur. Sepertinya gadis itu keluar lewat pintu dapur.


"Iya Kak"


Bima langsung berdiri dan berjalan ke arah dapur tanpa memperdulikan tatapan aneh dari Hisyam. Bima melihat Hasna sudah tidak ada di dapur. Dia kembali berlari ke dalam dan keluar dari teras depan. Memakai sepatunya dengan asal, Bima berlari mengejar Hasna yang sudah berjalan keluar dari halaman rumahnya.


Hasna terperanjat kaget saat Bima tiba-tiba berada di sampingnya "Tu-tuan"


Bima berjalan dengan gaya cool nya, kedua tangan yang di masukan ke saku celana. Meskipun pada kenyataannya dia sedang tersengal dengan nafasnya sendiri karena berlari mengejar gadis itu.


Hasna menatap Bima dari atas sampai bawah, dia mengerutkan keningnya bingung saat melihat sepatu yang di pakai Bima. Bagian belakang sepatunya terinjak sehingga tumit Bima terlihat jelas.


Rasanya aneh melihat orang seperti Bima sampai memakai sepatu seperti itu. Padahal Bima selalu tampil rapi dimana pun dia berada.


"Kau mau kemana?" Tanya Bima, memulai percakapan diantara mereka. Masih terus berjalan berdampingan.

__ADS_1


"Mau ke warung, beli beras" jawab Hasna santai


"Beras di rumah tinggal dikit lagi, jadi harus cepat beli" tambahnya lagi


Bima hanya diam, mencoba mengorek kehidupan calon kekasihnya ini. Kehidupan Hasna yang sebenarnya. Bahkan tidak ada pancaran kebahagiaan dari tatapan matanya itu.


"Mau aku antar ke supermarket aja, biar sekalian belinya banyak" kata Bima


Mereka telah sampai di warung yang di maksud oleh Hasna. Warung kecil namun cukup komplit dengan segala barang dan kebutuhan yang didagangkan di san. Namun, tetap saja menurut Bima warung ini terlihat kecil dan kumuh.


Hasna tersenyum mendengar ajakan Bima itu "Gak perlu, uang Na gak akan cukup kalo ke supermarket"


"Biar aku saja yang bayar" kata Bima, dia cukup merasa risih dengan tatapan Ibu-ibu yang kebetulan sedang berada di warung itu.


"Aduh Neng Hasna, ini teh pacarnya? Ganteng banget"


"Iya, pantesan atuh si Ryan anaknya Bu Sri sampai kepincut sama kamu. Kamunya juga manis banget, kalo anak Ibu belum nikah udah mau Ibu jodohkan kamu sama anak Ibu" si Ibu yang lainnya ikut berkomentar


"Heh.. Neng Hasna mah harusnya jadi menantu saya. Iya 'kan Neng, anak Ibu bulan depan jadi pulang dari arab dan langsung mau nikahin Neng" si pemilik warung gak mau kalah dengan ibu-ibu yang lain.


Hasna hanya tersenyum kaku saat Ibu-ibu selalu saja mencoba menjodohkannya dengan anak laki-laki mereka.


Tidak tahu saja mereka tentang masa lalu Hasna dan siapa Hasna. Karena yang tinggal di sini, hanyalah Ibu-ibu yang menjadi ibu rumah tangga saja. Tidak terlalu faham tentang gosip yang beredar karena mereka menonton televisi pun jarang.


Tidak akan tahu jika Hasna adalah anak menteri keuangan yang melakukan bunuh diri bersama istrinya setelah di tuduh melakukan korupsi uang negara.


Bima melingkarkan tangannya di pinggang Hasna membuat gadis itu terlonjak kaget. Dia mencoba melepaskan diri dari rangkulan pria dingin itu. Namun, tangan Bima semakin menekan kuat tangannya di pinggang Hasna. Akhirnya gadis itu hanya diam dengan perasaan yang sudah tak karuan. Jantungnya berdetak sangat cepat.


"Saya adalah calon suaminya, bulan depan kami akan menikah" kata Bima, menatap Ibu-ibu itu dengan tajam


Hah...


Hasna sampai melongo mendengar ucapan Bima barusan. Dia tidak mengerti maksud pria itu. Berbohong terlalu jauh, kalo sampai nanti dia yang di tanya-tanya sama Ibu-ibu itu bagaimana?


Apaan si Tuan Bima ini, kenapa pake bahas pernikahan segala.


"Yah.. jadi bener ini pacar kamu Na? Anak saya pasti kalah kalo sama modelan kayak gin" si ibu pemilik warung putus harapan seketika

__ADS_1


Hasna hanya tersenyum kaku menanggapi ucapan Ibu pemilik warung itu "Na kesini mau beli berasnya 5 kilo Bu"


"Hah.. baiklah, tunggu sebentar"


Hasna menunggu dengan gelisah, melirik ke tangan Bima yang masih merangkul pinggangnya itu. Pria itu benar-benar tidak melepaskan rangkulannya walaupun Ibu-ibu tadi sudah tidak membahas soal perjodohan Hasna dan anak-anak mereka.


"Tu-tuan" bisik Hasna "Lepasin tangannya"


Bima hanya menoleh tanpa menjawab apapun. Dia malah semakin menguatkan rangkulan tangannya. Sepertinya Bima sedang menikmati kesempatan yang dia dapat ini.


"Sama apalagi Na? Ini aja" tanya si ibu pemilik warung setelah mengambilkan beras pesanan Hasna itu.


"Iya Bu itu saja"


Ibu pemilik warung menaruh karung beras kecil yang berisi 5kg beras itu di teras warungnya. Hasna membayar dan ingin mengangkat karung beras itu, namun tangan kekar sudah lebih dulu mengangkat karung beras itu.


"Tidak usah Tuan, biar saya saja" kata Hasna, merasa tidak enak karena telah merepotkan pria seperti Bima


"Manggilnya kok Tuan atuh Neng, kan calon suaminya" si ibu tadi kembali mengoceh


Lagi-lagi Hasna tidak bisa menjawab apa-apa. Dia hanya tersenyum masam, bingung harus menjawab apa.


"Sayang, kenapa manggilnya kayak gitu. Biasanya aja manggil aku sayang"


Apa? Apa yang sedang Bima katakan. Dia bahkan berani memanggil Hasna dengan panggilan Sayang di depan orang lain. Hasna sampai mau terjatuh karena ucapan Bima itu. Kakinya tiba-tiba terasa lemas dan tak berdaya.


"Emm. Kami permisi dulu semuanya" pamit Hasna yang langsung menarik tangan Bima agar segera pergi dari warung itu dan tidak berkata yang aneh-aneh lagi.


Dia bisa semakin gila jika terus berada disana.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiah sama vote nya juga.. akhir-akhir ini dukungan buat novel-novelku berkurang. Jadi sedih dan buntu ide deh karena mikirin itu.


Cuma satu chapter saja. aku masih sibuk nih. ini aja nyempetin nulis biar bisa up. semoga bisa mengobati kerinduan kalian sama pasabgan bima Hasna ya.


Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi kalian yang merayakan. Mohon Maaf lahir dan batin semuanya 🤗

__ADS_1


__ADS_2