You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Kau Membohongiku!!


__ADS_3

Sial.. Kenapa aku semakin tidak bisa mengendalikan perasaanku ini. Benarkah aku telah jatuh cinta padanya?


Bima masih saja memikirkan Hasna dan pria yang bersamanya itu. Mungkin memang benar jika Bima telah jatuh cinta pada Hasna. Selama 21 tahun, seorang Hasna bisa menggantikan nama Bianca yang tersemat di hatinya selama itu. Hanya dengan waktu beberapa bulan, seorang gadis manis yang polos itu bisa menggoyahkan kesetiaan Bima pada gadis di masa lalunya.


"Kau siap menjalankan proyek ini, aku akan menyerahkan semua tanggung jawab proyek ini padamu" kata Yudha sambil terus membaca berkas di tangannya


Merasa tidak ada jawaban, Yudha mendongak dan menatap Bima yang terlihat sedang melamun. Pertama kalinya Yudha melihat seorang Bima tidak fokus saat sedang membahas pekerjaan.


"Bim" panggilnya


Bima mengerjap kaget, segara dia menatap ke arah Yudha yang sedang menatapnya "Kau melamunkan apa?"


"Tidak ada, Tuan. Maaf" kata Bima datar


Yudha mengangkat bahunya acuh "Aku serahkan tanggung jawab proyek ini padamu. Kapan akan mulai pembangunannya?"


"Sekitaran dua bulan lagi sudah bisa memulai pembangunan" jelas Bima


Yudha mengangguk mengerti "Baiklah, kau urus semuanya. Aku serahkan semuanya padamu"


Bima mengangguk "Baik"


"Emm. Di luar ada Hasna ya?" Tanya Yudha, seolah sengaja memancing Bima agar mengungkapkan perasaan nya itu.


"Hmm"


Yudha sedikit terkekeh mendengar jawaban Bima yang hanya gumaman dengan wajah datar dan dingin "Jika kau menyukainya, cepatlah bertindak sebelum ada pria lain yang akan memilikinya lebih dulu darimu"


"Tak perlu membahas nya Yudh. Kau tahu Bianca telah kembali" kata Bima datar


Yudha tersenyum sinis "Kau seorang Bima yang aku kenal dengan segala kelihaian nya. Tapi, kali ini aku meragukan kemampuanmu itu"


Bima mengerutkan keningnya, bingung dengan maksud dari ucapan Yudha barusan "Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Apa kau yakin jika dia kembali karena masih mencintaimu? Atau mungkin ada hal atau maksud lain dia kembali padamu saat ini" kata Yudha, menatap lekat pada Bima dengan senyuman penuh arti


Bima terdiam, apakah dia terlalu bodoh sampai tidak menyelidikinya. Dia langsung percaya begitu saja pada gadis di masa lalunya itu. Cinta pertamanya yang dia tunggu sampai puluhan tahun lamanya.


"Kau tahu sesuatu?" Tanya Bima dengan wajah dingin nya.


Yudha terkekeh "Benar dugaanku, ternyata kau tidak sehebat yang di pikirkan orang-orang. Kau masih dapat di bodohi olehnya"


Bima sedikit menggebrak meja kerja Yudha "Cepat katakan Yudh!"


"Hahaha.. Kau berani pada atasanmu ini hah?" kata Yudha dengan tertawa mengejek pada asistennya itu.


"Yudha Abimana Walton!" gertak Bima dengan nada penuh penekanan.


"Baiklah, baiklah. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Jangan menyesal setelah mendengar semua faktanya" kata Yudha, mulai memasang wajah serius


"Dia sudah menikah dan sekarang sedang mengandung"


Satu kalimat yang mampu membuat Bima mematung mendengarnya. Benarkah apa yang di katakan Yudha barusan? Rasanya Bima tidak ingin mempercayainya. Namun, tidak mungkin juga sahabatnya ini tega membohonginya.


Semakin di buat terkejut Bima dengan penjelasan Yudha itu. Bagaimana mungkin dia tidak tahu soal ini. Bahkan Bima tidak ada niatan untuk menyelidiki tentang Bianca. Yang dia harapkan hanya gadis itu kembali padanya dan meminta maaf. Dan saat Bianca melakukannya, Bima benar-benar tidak berfikiran negatif sedikit pun. Sehingga dia bisa kecolongan seperti ini. Kembali di bodohi oleh wanita yang sama.


"Sekarang kau ingat-ingat lagi, apa pernah Bianca mengatakan jika dia mencintaimu?" Tanya Yudha, menatap lekat pada asisten sekaligus sahabatnya itu.


Bima mengingat semua memory masa lalunya bersama Bianca. Sejak Bianca mengatakan perasaannya, memang tidak pernah ada kata cinta yang terucap. Bahkan saat Bianca ingin mengajaknya untuk berpacaran, dia hanya mengatakan jika dia menyukainya. Bukan mencintainya!


Begitupun dengan Bima, meskipun dia yakin jika perasaannya adalah cinta. Namun, dia juga belum pernah mengatakan kata cinta itu sendiri secara langsung pada Bianca. Bima seolah ragu untuk mengatakan kalimat 'aku mencintaimu' pada Bianca. Dari awal, hubungan mereka memang sudah tidak sehat.


Yudha tersenyum tipis melihat keterdiaman Bima "Apa dugaanku benar? Kalian tidak pernah saling mengucapkan kata cinta. Hubungan kalian ini sama seperti hubunganku dengan mantan istriku, dulu. Hanya bersama dengan ikatan janji yang sudah terlanjur terucap. Tapi, hati tidak saling memiliki"


Bima menatap Yudha dengan tatapan datar "Apa yang harus aku lakukan?"


"Yakinkan hatimu, apa kau ingat dengan janjimu dulu? Dia sudah mengkhianatimu, dan kau bisa melepaskan nya tanpa bayang-bayang janji yang telah kau ucapkan"

__ADS_1


Bima terdiam, benar apa yang di katakan Yudha. Sudah saatnya dia melepas janji yang terlanjur terucap dari bibirnya, dulu. Janji yang sebenarnya tidak dari hatinya.


"Aku akan menunggumu dan mencoba setia padamu. Kecuali..."


"Kau yang lebih dulu mengkhianatiku, maka aku akan melupakanmu dan cinta kita berakhir"


Janji yang Bima ucapkan saat itu, dan kini Bima bisa mengakhiri semuanya karena apa yang di lakukan Bianca telah membuatnya kecewa. Bianca telah mengkhianatinya.


"Aku pergi dulu"


Bima langsung beranjak dari duduknya dan berjalan cepat keluar dari ruang kerja Yudha. Kedua tangannya mengepal kuat hingga urat-urat tangannya terlihat begitu jelas. Bima benar-benar marah sekarang.


Sial.. Kau berhasil membohongiku Bi.


Bima berjalan melewati ruang tengah dan mendapati Hasna sedang mengobrol sambil tertawa dengan Ryan. Entah apa yang mereka bicarakan sampai Hasna bisa tertawa seperti itu.


Hasna menoleh ke arah Bima saat dia merasa ada yang sedang memperhatikan nya. Tawanya langsung terhenti saat tatapan matanya bertemu dengan mata tajam yang juga sedang menatap ke arahnya.


Hasna mengangguk hormat dengan ekspresi wajah yang ketakutan "Tuan"


"Hmmm"


Tangan Bima mengepal kuat, dia semakin menatap Hasna dengan tajam. Kenapa dia bisa tertawa begitu lepas saat bersama pria sialan itu. Dan dia selalu saja memasang wajah takut saat berhadapan denganku. Apa aku semenakutkan itu?


Tidak sadarkah Bima, jika dia selalu saja membuat Hasna takut. Tatapan tajamnya dan juga wajah dingin yang begitu menakutkan bagi siapa saja yang berhadapan dengannya. Tubuh tinggi tegap dengan otot-otot yang terlihat kekar itu. Wajah tampan yang selalu memasang ekspresi datar, semakin membuat Hasna takut tapi dia tetap jatuh pada pesona seorang Bima.


Akhirnya Bima melanjutkan langkah kakinya, keluar dari rumah utama dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tangannya mencengkram kemudi dengan sangat kuat. Terlihat jelas kemarahan di wajahnya.


Sial.. Kau telah membohongiku Bi, aku tidak akan pernah mengampunimu untuk kali ini. Sekalipun kau bersujud memohon di kakiku.


Bersambung


Jangan lupakan dukungannya..

__ADS_1


Like, Komen di setiap chapter... Kasih hadiah dan vote nya juga ya..


__ADS_2