
Hasna hanya mengikuti langkah Bima dengan wajah menunduk. Sungguh dia belum siap untuk datang ke tempat ramai seperti saat ini.
Tidak memungkiri kemungkinan jika masa lalunya itu akan di ketahui banyak orang. Ayahnya adalah seorang menteri keuangan negara. Berita itu pasti banyak orang yang tahu.
Bima membeli keperluan yang di butuhkannya. Pria ini memang terbiasa berbelanja sendiri untuk semua kebutuhannya, jika ada waktu senggang seperti saat ini.
Selesai membeli banyak keperluan yang di butuhkannya. Bima berjalan menuju tempat makan. Lagi-lagi Hasna hanya bisa mengikuti saja apa yang di lakukan oleh pria dingin menyeramkan di depannya ini.
Hasna bagaikan seorang anak kecil yang mengikuti kemana Ayahnya pergi.
"Kau mau beli apa?" Tanya Bima sebelum mereka benar-benar sampai di tempat makan.
Hasna menggeleng cepat "Tidak ada, Tuan"
Aku tidak akan mampu lagi membeli barang-barang di tempat ini. Sekarang aku hanyalah seorang ofice girl.
"Baiklah, kalo begitu kita langsung makan"
Hasna mengangguk saja dan hanya mengikuti Bima yang berjalan masuk ke dalam restaurant di dalam mal itu.
Mereka makan siang dengan suasana begitu canggung. Bima yang datar dan dingin seperti ini selalu saja membuat Hasna takut dan tidak berani untuk sekedar menyapanya atau mengajaknya bicara.
Suap demi suap makanan yang masuk ke dalam mulut Hasna terasa hambar. Hasna sangat tidak suka berada di posisi canggung seperti ini. Melihat Bima yang memakan makanannya dengan begitu lahap dan tenang. Sementara dirinya merasa sedang makan di kandang singa. Menakutkan dan menyeramkan.
"Hasna ya??"
Suara seseorang yang menghampiri meja makan mereka, berhasil mengalihkan fokus keduanya. Bima menghentikan makannya dan menatap ke arah dua gadis yang berdiri di samping meja mereka.
Tidak.. Kenapa harus mereka?
Hasna sudah gemetar melihat dua orang gadis itu. Dia tentu sangat mengenal siapa mereka. Namun, Hasna tidak menginginkan pertemuan ini terjadi.
"Hahaha. Beneran Hasna ya?" kata si gadis yang satunya lagi
Bima mengerutkan keningnya saat melihat tawa mengejek dari dua gadis itu. Lalu, tatapannya beralih ke arah gadis penakut di depannya yang hanya diam menunduk.
Benar-benar gadis penakut.
__ADS_1
"Kalian siapa?" Tanya Bima dingin
Kedua gadis itu langsung menatap ke arah Bima. Tentu saja keduanya terkagum dengan Bima yang hampir mendekati sempurna di usianya yang sudah matang.
"Hai, Tuan. Perkenalkan saya Viola dan ini teman saya, Sevi"
Bima hanya berdehem tanpa mau menerima uluran tangan dari gadis yang bernama Viola itu.
"Oh ya Na, aku gak nyangka loh kalo kamu masih berani berkeliaran di sini setelah apa yang orang tuamu lakukan. Sungguh memalukan si, jika aku jadi kamu sudah pasti tidak akan berani keluar" kata Sevi
"Tentu saja, bahkan untuk melanjutkan hidup saja aku tidak akan mau" Viola ikut menimpali ucapan Sevi
Hah..
Hasna menghembuskan nafas kasar "Tuan, sebaiknya kita pulang"
Bima mengangguk saja, dia melakukan pembayaran lalu menarik tangan Hasna untuk segera keluar dari restaurant itu. Namun, langkah mereka harus terhenti.
"Kalian semua ingat tidak dengan menteri keungan negara kita yang melakukan korupsi dan melakukan bunuh diri dengan istrinya, tujuh tahun lalu. Pasti ada yang masih ingat dong, secara beritanya menyebar kemana-mana" Suara Viola berhasil menghentikan langkah Bima dan Hasna
"Wah.. Ini ya anak koruptor itu?"
"Aku masih ingat, beritanya sampai kemana-mana. Pantesan kabar anaknya tidak lagi terdengar. Dia berlindung di balik pria berkuasa ya" salah satu pengunjung yang mungkin mengetahui soal Bima
"Itu'kan Tuan Bima, si genius Walton.Corp? Wahh gadis yang penggila uang ya, sampe bisa berada di samping pria seperti Tuan Bima"
Akhirnya orang yang tidak tahu wajah seorang Bima pun jadi tahu sekarang. Dimana Bima akan menjadi bahan perbincangan oleh media. Banyak kamera yang mengarah ke arahnya dan juga Hasna.
Paparazi ternyata ada di mana-mana sekarang, mendengar berita seperti ini mereka langsung bertindak mengeluarkan kamera.
Cekrek..Cekrek..
Kilatan cahaya kamera terus mengarah ke arah mereka berdua. Hasna hanya menunduk diam, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Berhenti!!" Suara dingin Bima yang setengah berteriak
Bima menatap tajam semua yang ada di sana, terutama pada Viola dan Sevi "Saya tanya kepada anda. Tidak! Saya bertanya pada kalian semua. Siapa yang melakukan korupsi itu?"
__ADS_1
"Jelas orang tua dialah" kata Sevi sambil menunjuk ke arah Hasna yang masih menunduk dengan air mata yang mulai mengalir.
"Orang tuanya, lalu apa pantas kalian menghina anaknya? Kalian tahu, sejak saat itu maka dia telah menjadi yatim piatu. Tentu kalian mengerti apa yang akan terjadi jika mendzolimi anak yatim"
Tatapan Bima beralih ke arah orang-orang yang memegang kamera ponselnya "Hapus semua yang ada di ponsel kalian, atau datang langsung ke firma hukum Walton.Corp untuk melakukan mediasi. Meski aku tidak yakin, jika kalian bisa bebas dari tuntutan ku"
Bima tersenyum sinis melihat wajah pias dari orang-orang itu. Mereka tidak akan pernah bisa melawan seorang Bima. Jika seorang Yudha Abimana Walton saja bergantung pada seorang Bima. Lalu apa yang bisa mereka lakukan?
"Hapus semuanya atau kalian berurusan denganku!" Suara Bima sudah naik satu oktaf
Semuanya langsung mengutak ngatik ponsel masing-masing dengan tangan gemetar.
"Seperti yang kalian tahu, aku bisa mengingat wajah kalian yang ada disini. Jadi, jika ada satu saja berita dan foto tentang hari ini. Maka hal yang mudah untuk aku mencari kalian semua"
Semuanya menganguk dengan wajah yang sudah pias. Mereka mengucapkan kata maaf beberapa kali.
Sementara Viola dan Sevi juga terlihat begitu shock dengan kejadian ini. Mereka telah mencari lawan yang salah, jika dulu Hasna adalah gadis yang gampang mereka bully. Namun sekarang ada seseorang yang begitu berpengaruh yang melindungi gadis itu.
"Dan kalian berdua" Bima menunjuk Viola dan Sevi "Masih ku ampuni kalian untuk kali ini. Tapi, jika kalian berani menganggu wanitaku lagi. Jangan harap aku akan mengampunimu"
Deg
Hasna mendongak dengan wajah yang terkejut. Apa yang di ucapkan Bima barusan seolah mengklaim jika dirinya adalah milik pria itu. Tidak.. Hasna tidak boleh terjebak dengan perasaan ini. Bima hanya ingin melindunginya saja agar dia juga tidak menjadi topik yang di bicarakan oleh media.
Jangan terbawa perasaan Hasna...!
Tapi, entah kenapa dia malah semakin merasakan kehangatan dan sisi lain dari seorang Bima. Pria ini memiliki rasa peduli juga, Hasna merasakan sedikit perasaan nyaman di sisi pria ini. Benarkah hanya nyaman?
Bersambung
Like
Komen
Vote
Kasih hadiah dan rate bintang 5 juga ya. Biar akunya semangat.
__ADS_1