
Hasna menatap ke sekeliling kamar yang saat ini sedang di tempatinya. Kamar ini rapi dan bersih karena Bima selalu menyewa orang untuk membersihkan apartemennya ini, mau dia berada di kota ini atau tidak.
Hasna berjalan ke arah meja kecil di dekat tempat tidur, di bawahnya ada laci. Karena dia belum mengantuk jadi Hasna memilih untuk melihat-lihat kamar ini. Hasna membuka laci kecil itu dan di dalamnya ada barang yang Hasna tidak menyangka jika barang itu akan ada di dalam laci itu.
Dia mengambilnya dan menatap sebuah foto yang dia temukan di dalam laci "Mereka serasi sekali, apa mereka masih menjadi sepasang kekasih? Lalu, aku ini apa?"
Foto dua orang remaja yang menggunakan seragam sekolah. Si wanita yang terlihat begitu cantik, mencium pipi si pria yang juga terlihat sangat tampan. Keduanya benar-benar serasi.
Hasna tentu tahu siapa dua orang remaja di dalam foto itu. Meski itu foto lama, tapi Hasna masih dapat mengenali siapa yang berada di dalam foto itu.
Bima dan Bianca!
Tentu Hasna ingat wanita di foto itu adalah wanita yang pernah dia temui saat di pernikahan Anista waktu itu. Wanita yang bersama Bima. Dadanya tiba-tiba terasa sesak mengingat perjuangannya selama ini untuk bisa menghapuskan perasaannya pada Bima yang menolaknya secara terang-terangan bahkan sebelum dia sempat mengatakan perasaannya itu.
Benarkan Bima mencintaiku? Atau hanya sebagai pelampiasan saja.
Apa Hasna terlalu percaya diri dengan sikap Bima dan juga kata cinta yang pernah di ucapkan oleh pria itu. Hasna merasa bimbang sekarang, apalagi saat ini dia melihat foto lama kemesraan mereka di waktu sekolah. Bahkan foto lama ini masih Bima simpan, apa itu berarti Bima masih mencintai wanita di dalam foto itu? Lalu, Hasna dia anggap siapa?
Hah..
Hasna menghela nafas kasar, sepertinya dia harus menanyakan tentang ini pada Bima. Dia harus tahu bagaimana hubungan Bima dan Bianca saat ini karena Bima tidak pernah membahasnya. Hasna hanya takut jika Bima masih mencintainya dan hanya menjadikan Hasna pelampiasan sesaat.
Brakk...
Pintu yang terbuka dengan kasar membuat Hasna terlonjak kaget. Dia menatap ke arah Bima yang berdiri di ambang pintu dengan wajah cemas dan panik. Pria itu hanya memakai celana pendek saja, tanpa memakai baju. Kebiasaan Bima jika tidur di musim panas seperti ini.
__ADS_1
Benar apa yang aku duga. Kenapa aku bisa lupa tentang itu. Bahkan foto itu sudah aku lupakan, dan aku baru ingat jika foto sialan itu ada di kamar ini.
Bima memang sudah terlelap, namun alam bawah sadarnya seolah memberi tahukan tentang hal penting itu. Bima mengingat hal yang pernah dia lakukan di apartemen ini.
"Sampai kapan kau akan menghilang Bi? Aku akan selalu menunggumu" gumam Bima sambil menyimpan foto dia dan Bianca sepuluh tahun lalu di laci meja kecil di kamar apartemennya. Bima berharap suatu saat nanti Bianca akan kembali dan menempati kamar ini, dan dia akan tahu bagaimana Bima mencintainya sampai foto itu ada di manapun tempat tinggal Bima.
Bima langsung terbangun saat ingatan itu hadir di kepalanya. Dia baru teringat soal itu, Bima telah menyimpan foto dirinya dan Bianca di laci meja kamar apartemen nya ini.
Bima berjalan cepat ke arah Hasna dan mengambil paksa foto di tangan Hasna membuat gadis itu terkejut dengan tindakan Bima ini.
Apa seberharga itu, sampai dia bangun di tengah malam seperti ini hanya untuk mengambil foto itu.
Hasna hanya menatap Bima dengan sedih, tidak ada air mata yang jatuh. Dia hanya kecewa dengan pria itu. Sejenak Hasna bisa merasakan kebahagiaan bersama pria yang dia cintai selama ini. Namun, kebahagiaan itu seketika lenyap dengan sikap Bima malam ini dan foto itu telah membuktikan jika Bima masih mencintai Bianca. Dia masih menyimpan foto mereka berdua sudah cukup menjadi bukti untuk Hasna jika Bima memang masih mencintai Bianca.
"Buat apa kau lihat foto ini?" tanya Bima, menatap lekat manik hitam milik Hasna
Hasna hanya diam, dia menatap Bima yang berjalan ke dekat tempat sampah. Pria itu menyobek foto itu menjadi beberapa bagian lalu membuangnya ke dalam tempat sampah di sana.
Hasna tentu sangat terkejut dengan apa yang di lakukan Bima. Apa dia salah menduga? Hasna kira Bima akan marah kepadanya karena lancang mengambil foto kebersamaannya dengan Bianca. Tapi, apa yang di lihat Hasna barusan berhasil mematahkan perkiraan Hasna itu.
Bima kembali berjalan mendekat ke arah Hasna, pria itu menepuk-nepukan kedua tangannya seolah menghilangkan debu yang menempel di tangannya akibat memegang foto tadi.
"Kau memikirkan apa gadis bodoh?" tanya Bima dengan tatapan mengejek, Bima tahu apa yang sedang Hasna fikirkan. Dia pasti mengira jika Bima masih mencintai Bianca karena masih menyimpan foto mereka.
Apa dia tidak merasakan cintaku selama ini? Bahkan aku lebih mencintainya dan memperlakukannya melebihi sebuah berlian. Dia begitu beharga untuk ku.
__ADS_1
Hasnanya adalah harta paling berharga untuk Bima. Bahkan dia tidak mempunyai perasaan seperti ini saat dulu dia bersama Bianca. Hasna benar-benar telah menempati hatinya, gadis itu telah memiliki Bima seutuhnya. Hati dan raganya.
Hasna menghela nafas mendengar Bima mengatainya bodoh. Apa memang dirinya sebodoh itu?
Lagian wajarlah kalau aku memikirkan hal yang tidak-tidak tentang hubungannya dengan wanita itu. Aku mencintainya dan tidak ingin kehilangannya setelah sekian lama aku menunggu perasaanku ini terbalas.
"Memang kenapa kalau aku gadis bodoh? Kau bisa sama wanita itu, yang cantik dan juga pintar" kesal Hasna sambil berlalu ke luar kamar, melewati Bima yang berdiri di depannya.
"Hei..."
Bima segera berlari menyusul Hasna, gadisnya tengah ngambek sekarang. Dan sepertinya Bima harus membujuknya. Hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, yaitu membujuk seseorang.
Hasna duduk di sofa bed di ruang tengah apartemen Bima. Dia melihat Bima yang sedang berjalan mendekat ke arahnya dengan ujung matanya.
"Siapa nama pacarmu itu?" tanya Hasna dengan memalingkan wajahnya ke arah lain
"Dia bukan pacarku! Kaulah pacarku, Kaulah hidupku, Asna! Jangan membahasnya" tekan Bima
Hasna mendengus, dia kesal dengan Bima yang sama sekali tidak mau menjelaskan bagaimana hubungan dia dan Bianca. Karena Hasna masih belum tahu bagaimana hubungan Bima dan Bianca sekarang. Hasna hanya ingin tahu saja agar dia bisa tenang jika tahu kalau Bima memang sudah tidak mempunyai hubungan apapun lagi dengan Bianca. Meski Hasna takut jika kenyataannya tidak seperti itu.
Bima duduk di samping Hasna, pria itu ingin memeluk gadisnya namun Hasna segera menghindar dari Bima. Akhirnya Bima hanya menghela nafas saja
"Baiklah, aku akan ceritakan semuanya"
Bersambung
__ADS_1
Yey.. aku kasih bonus up.. Asalkan kalian kasih vote dan hadiah yang banyak ya... ayo dong bantu aku naikin level novel ini... like komen di setiap chapternya ya... plisss...