
"Aku menyukaimu"
Deg
Hasna menoleh dengan cepat ke arah Bima. Keduanya saling bertatapan, mencari kebenaran atas perasaan masing-masing dari sorot mata itu.
Benarkah dia menyukaiku?
Rasanya Hasna masih belum percaya jika Bima benar-benar menyukainya. Lagi pula kata cinta yang Hasna harapkan dari Bima. Bukan kata menyukainya, karena rasa suka dan cinta tentu berbeda menurut Hasna.
Hasna berdiri dari duduknya dan menoleh ke arah Bima "Maaf Tuan saya harus pergi, tak perlu Tuan bercanda seperti itu hanya karena rasa kasihan pada saya"
Hasna berlalu pergi setelah berkata seperti itu membuat Bima terdiam mematung mendengarnya. Sungguh Bima tidak sedang bercanda dengan ucapannya itu. Dia benar-benar mencintai dan menyukai gadis itu. Tapi, sepertinya Hasna belum mempercayai perasaannya itu.
"Baiklah aku akan berjuang meyakinkanmu sampai kau menjadi milik ku" gumam Bima sambil menatap punggung Hasna yang semakin menjauh.
Hasna kembali ke ruang rawat Hisyam dan mendapati Ryan sedang duduk di pinggir ranjang pasien. Sepertinya mereka sedang mengobrol cukup serius.
Hasna berjalan menghampiri mereka "Kak"
Ryan menoleh dan tersenyum pada Hasna, senyuman yang cukup aneh menurut Hasna. Ada apa dengan Ryn? Dia seperti sedang mencoba menutupi sesuatu darinya.
"Dari mana Kak?" Tanya Hisyam
Hasna beralih menatap Hisyam setelah cukup lama dia menatap Ryan yang juga menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Dari taman rumah sakit, habis cari angin" kata Hasna, tanpa ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Hisyam mengangguk saja.
"Ingin bicara sebentar Na, tadi kamu ingin bicara sama aku tapi gak jadi" kata Ryan
Hasna baru teringat jika dia belum selesai dengan perasaan Ryan padanya. Kedatangan Bima membuat semuanya kacau, setiap kata yang Hasna sudah rangkai di kepalanya. Buyar begitu saja karena kedatangan pria dingin itu.
"Yaudah ayo bicara di luar, Syam istirahat ya. Kak Na ingin bicara dulu sama Kak Ryan" kata Hasna
__ADS_1
Hisyam mengangguk "Iya Kak"
Hasna dan Ryan pergi ke luar ruangan, mereka duduk berdampingan di kursi tunggu. Suasana tiba-tiba terasa begitu canggung. Hasna merasa ada yang berbeda dari Ryan. Pria itu menjadi sangat pendiam.
"Kak, maaf kalo Na mengecewakan Kakak. Tapi, Na hanya ingin jujur dengan perasaan Hasna. Jika memang Na hanya menganggap Kak Ryan sebagai Kakak Na sendiri. Tidak bisa lebih, maaf" jelas Hasna dengan suara lirih di akhir kalimatnya
Ryan tersenyum getir, penantian nya berakhir sia-sia. Cintanya yang sudah lama dia pendam ternyata tidak terbalaskan. Tapi, Ryan tidak ingin memaksakan perasaannya ini. Jawaban Hasna sudah lebih dari cukup untuk membuat dia sadar dan mundur untuk terus mendekati gadis itu.
"Baiklah, aku mengerti. Semoga kau bahagia dengan pria pilihanmu itu. Pria beruntung yang bisa mendapatkan cintamu" kata Ryan dengan senyuman tulus, dia mengelus kepala Hasna layaknya seorang Kakak pada adik perempuannya.
"Terimakasih Kak karena sudah mau mengerti. Na yakin kalo suatu saat Kak Ryan juga akan menemukan gadis yang tepat yang bisa membuat Kak Ryan bahagia dan mencintai Kakak dengan tulus" kata Hasna tersenyum lega
Akhirnya dia bisa merasa lega karena telah mengungkapkan isi hatinya. Tidak lagi membuat Ryan berharap lebih padanya.
Keduanya berdiri dan Ryan memeluk Hasna sebagai perpisahan. Hasna tidak keberatan, dia menepuk punggung Ryan untuk memberi semangat pada pria yang sudah dia anggap sebagai Kakaknya sendiri.
"Yasudah aku pulang ya, jangan menjadi sungkan karena hal ini. Kita tetap seperti dulu ya. Jangan berubah" kata Ryan
Hasna mengangguk "Iya Kak, kita harus tetap seperti dulu"
Hasna mengangguk sambil tersenyum "Iya Kak"
"Yaudah aku pergi dulu ya" kata Ryan sambil mengelus kepala Hasna dengan lembut
"Hati-hati di jalan ya"
Ryan mengangguk dan berlalu pergi dari hadapan Hasna. Berjalan gontai menuju parkiran rumah sakit. Dia tahu ini tidak semudah yang di ucapkan oleh bibirnya sendiri. Ryan kecewa dan terluka dengan kenyataan ini. Dia menyukai Hasna sudah dari lama, tapi ternyata gadis itu malah menyukai orang lain yang bahkan baru beberapa bulan dia kenal.
"Kak Ryan menyukai Kak Na?" Tanya Hisyam tiba-tiba
Ryan yang sedang duduk di pinggir ranjang pasien itu langsung menoleh ke arah Hisyam "Kenapa emangnya Syam?"
"Sebaiknya Kakak siapkan hati Kakak jika Kak Na menolak perasaan Kak Ryan"
Ryan mengerutkan keningnya, bingung dengan ucapan Hisyam barusan "Maksudnya?"
__ADS_1
"Apa Kakak ingin tahu siapa yang Kak Na cintai? Tapi, janji untuk tidak terluka" kata Hisyam, anak ini berbicara dengan sangat dewasa.
Ryan terdiam sejenak, sepertinya dia akan benar-benar kecewa kali ini. Tapi, Ryan juga ingin mengetahui siapa yang sebenarnya di sukai dan dicintai oleh Hasna. Gadis yang Ryan sukai sejak lama itu.
"Siapa?" Tanya Ryan, tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran nya
"Janji untuk tetap menjadi Kak Ryan yang sekarang. Tidak membenci Kak Na dan tetap berhubungan baik sama kami" kata Hisyam, menatap Ryan dengan lekat
Ryan mengangguk "Iya Kakak janji"
"Sebenarnya Kak Na telah jatuh cinta dengan Tuan Bima"
Deg
Tepat seperti dugaan Ryan, sejak kejadian di lorong rumah sakit tadi. Ryan cukup mengerti dan menebak-nebak situasi yang sedang terjadi. Ryan sudah menduganya jika Bima menyukai Hasna, tapi Ryan tidak menyangka jika Hasna yang jatuh cinta duluan pada pria dingin itu.
"Kak Na jatuh cinta pada Tuan Bima sejak dia berada di kota untuk menyelesaikan permasalahan nya dengan Teh Anista, gadis yang Kakak tolong beberapa tahun lalu. Dan dia terperangkap dengan pesona Tuan Bima. Namun, sepertinya cinta Kak Na bertepuk sebelah tangan"
Hisyam lanjut bercerita tentang perasaan Hasna pada Bima. Meskipun Hasna tidak pernah menceritakan apapun padanya. Tapi, Hisyam terlalu peka terhadap Kakak perempuannya itu. Hisyam melihat bagaimana gerak gerik Hasna saat berhadapan dengan Bima.
"Namun, sepertinya sekarang Tuan Bima juga telah mencintai Kakak. Jadi, Kak Ryan sudah tidak ada harapan lagi. Maaf jika Syam bicara seperti ini, tapi Syam hanya tidak ingin Kak Ryan semakin berharap pada Kak Na dan akan semakin kecewa dan terluka" jelas Hisyam
Ryan menatap Hisyam dengan lekat, tidak ada kebohongan dari anak laki-laki itu "Baiklah Kakak akan mencoba untuk memahami keadaan ini dan mengikhlaskan Kakak kamu untuk bahagia bersama pria yang dicintainya. Kakak juga tidak bisa memaksakan perasaan Kakak ini"
Hisyam tersenyum lega, setidaknya dia bisa sedikit membantu permasalahan cinta Kakaknya itu.
"Terimakasih Kak"
Ryan hanya mengangguk.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. hadiah nya di tunggu ya.. votenya juga..
Like komen di setiap chapter...
__ADS_1