You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Masa Lalu Bima


__ADS_3

Bima menempelkan acces card apartemennya. Pintu terbuka dan mereka pun langsung masuk ke dalam apartemen. Melangkah menuju ruang tengah, menyimpan barang bawaannya di atas meja.


"Tuan" lirih Hasna


Bima menoleh dan menatap Hasna, mengangkat satu alisnya seolah bertanya apa yang ingin di bicarakan oleh Hasna.


"Terimakasih untuk tadi" kata Hasna


Kau bagaikan malaikat untukku hari ini.


Bima mengangguk santai "Aku hanya tidak ingin berita yang tidak baik tentangku menyebar ke publick.. Reputasiku dan perusahaan Walton.Corp akan terkena imbasnya"


Hasna menatap Bima dengan sendu, salah sendiri dia terlalu berharap. Sekarang hatinya yang terasa sesak, tidak mungkin seorang Bima benar-benar peduli pada gadis sepertinya. Pria seperti Bima terlalu sempurna untuk gadis dengan masa lalu menyedihkan seperti dirinya.


"I-iya Tuan" lirih Hasna


Gadis itu langsung berlalu ke kamarnya. Sementara Bima masih bersantai di ruang tengah. Dia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Kejadian tadi di mall masih merasuki pikirannya.


Kenapa aku bisa melakukan itu hanya untuk melindunginya? Ahh... Aku hanya kasihan padanya, melihat dia di hina dan di tindas seperti itu membuatku kasihan.


Baiklah, Bima masih menganggap apa yang dia lakukan hanya sebatas rasa kasihan. Namun, mungkinkah perasaan kasihan itu akan berubah suatu saat nanti?


Bima beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya sambil membawa barang belanjaan nya tadi. Bima menyimpan barang belanjaannya di atas tempat tidur. Lalu, pria itu berbaring di sana. Menatap langit-langit kamarnya.


Apa dia akan kembali?


Selalu saja setiap dia sendiri seperti ini, maka bayangan gadis di masa lalunya selalu menghantui pikirannya. Gadis yang membuat Bima jatuh cinta dan harus kecewa di saat bersamaan.


"Aku menyukaimu, Bima"


Begitulah awal kisah percintaan mereka saat remaja. Bukan Bima yang menyatakan cinta lebih dulu, tapi gadis itulah yang mengungkapkan perasaan cintanya lebih dulu pada Bima.


Bima terdiam, dia menatap lekat gadis cantik di depannya. Gadis remaja dengan seragam sekolah yang sama dengannya.


Gadis yang selalu mengejar Bima dari mereka duduk di kelas satu sekolah menengah atas ini. Namun, baru di tahun berikutnya Bima mulai meraskaan perasaan nyaman saat bersama dengan gadis itu.


Bima telah jatuh cinta padanya.


"Kau mau menjadi kekasihku, menjadi suamiku dan ayah dari anak-anak ku kelak?"


Bima terkekeh mendengar pertanyaan gadis di depannya ini "Apa kau sedang melamarku?"


"Anggap saja begitu"


Bima tersenyum, dia mengelus kepala gadis itu "Baiklah, aku menerima lamaranmu Bianca"


Bianca berjingkrak senang, dia langsung menghambur ke pelukan Bima sampai pria itu hampir saja kehilangan keseimbangan tubuhnya.


"Aku menyukaimu, Bima" bisiknya

__ADS_1


"Aku juga"


Kisah percintaan mereka berjalan lancar hingga satu tahun lamanya. Sampai Bianca memutuskan hal yang membuat Bima begitu kecewa.


Hah...


Bima hanya bisa menghela nafas panjang saat bayangan itu kembali melintas di pikirannya. Bianca masih menempati hati Bima, sulit untuk Bima bisa melupakan gadis itu.


Meski sudah 21 tahun dia menunggu, terus menunggu berharap dia akan kembali datang padanya. Meminta maaf dan menyesali pilihannya saat itu.


Sudah 21 tahun ya, kenapa aku masih terjerat dengan semua bayangannya. Masih saja aku menunggunya hingga saat ini.


Bima dan Bianca adalah teman sekolah sejak mereka duduk di sekolah dasar. Namun baru di kelas satu sekolah menengah atas, Bianca mengejar Bima dan ingin menjadikan Bima kekasihnya. Sejatinya memang mereka sudah saling mengenal selama beberapa tahun.


Bima si juara kelas, selalu saja di dekati banyak murid perempuan. Apalagi dengan wajahnya yang tampan. Namun, semua murid perempuan yang ingin menyatakan cintanya pada Bima selalu gagal karena ulah Bianca.


Bahkan Bianca bisa mengancam sepuluh orang murid sekaligus karena berani menyukai pria yang dia sukai.


Begitulah sifat Bianca, sedikit egois dan arogan. Dia selalu ingin mendapatkan apa yang dia inginkan. Apapun yang harus dia lakukan. Namun, kelemahan Bianca adalah tidak bisa menjaga dengan baik apa yang telah dia miliki.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Hari ini Hasna benar-benar kedatangan tamu yang Bima bilang adalah sahabatnya. Namun, ternyata tamu yang di maksud Bima adalah Tuan Muda yang selalu dia sebutkan.


Yudha Abimana Walton, pria yang menjadi atasan sekaligus sahabat seorang Bima. Yudha adalah pria dingin dengan keadaan keluarga yang membuatnya seperti itu. Kesalahan Yudha yang dia lakukan 4 tahun lalu di kamar hotel 302. Tepat di mana Hasna melihat apa yang terjadi.


Hasna yang menjadi saksi mata di malam itu. Untuk itulah Yudha menyuruh Bima untuk mencari sosok gadis yang telah di nodainya 4 tahun lalu.


Kini keduanya tengah duduk di ruang tengah dengan suasana yang begitu menegangkan bagi Hasna.


Tuan dan Asistennya sama-sama kaku dan menakutkan.


"Ja..Jadi, Tuan adalah Tuan Muda yang selalu Tuan Bima katakan?" Tanya Hasna polos


Yudha tersenyum tipis "Iya, akulah pria di malam itu"


Hasna memang tidak mengetahui pria yang berada di dalam kamar 302 malam itu. Dia tidak melihat wajahnya.


"Jadi, apa yang Tuan inginkan dari saya?" Tanya Hasna takut


"Aku hanya ingin kau menemui gadis itu dan memastikan jika gadis itulah yang kau tolong. Dan kau tidak berbohong" jelas Yudha


"Tap...tapi, saya tidak tahu keberadaannya Tuan" lirih Hasna


"Kau hanya perlu mendengarkan perintah dari Bima"


Setelah berkata seperti itu, Yudha langsung pergi dari apartemen itu. Membuat Hasna semakin bingung dengan keadaan ini.


Tuan dan Asistennya sama sama membingungkan.

__ADS_1


Hasna hanya bisa terdiam dengan segala kebingungannya. Apa yang di katakan Yudha barusan sama membingungkan nya dengan apa yang di katakan Bima.


Menemui gadis itu dan memastikan jika memang dia yang aku tolong? Apa maksudnya coba? Apa mereka telah bertemu dengan gadis malang itu?


Hasna hanya bisa pasrah menunggu perintah Bima selanjutnya. Apapun itu, Hasna harus segera menyelesaikan semuanya. Terlalu lama bersama Bima, maka akan terlalu bahaya untuk hatinya yang mulai goyah dan merasakan kenyamanan bersama pria itu.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Bima duduk menyandar di sandaran kursi kerja. Dia sedang berada di ruang kerjanya. Mengecek beberapa file pekerjaan yang akan dia serahkan pada Tuannya. Sejak mengajak Hasna pergi ke mall saat itu, Bima belum lagi kembali ke apartemennya dan bertemu dengan gadis itu.


Drett...


Getaran ponsel di atas meja mengalihkan pandangannya dari langit-langit ruang kerjanya itu. Dia mengambil ponsel dan mengangkat telepon dari dokter Wira.


Dokter pribadi keluarga Walton. Yudha dan Bima bisa di bilang akrab dengan pria paru baya itu. Karena Dokter Wira adalah teman dari almarhum Yacob Walton, Ayah kandung Yudha Abimana Walton.


"Hallo, ada apa Om?"


"Kau sudah melihat Yudha belum?"


Bima mengerutkan keningnya, bingung mendengar pertanyaan dari Dokter Wira "Baru nanti siang aku ke sana, dia sedang di rumah Nyonya besar dari kemarin saat pulang dari kampung halaman calon istrinya"


"Ohh. Gadis itu benar-benar calon istrinya ya"


"Hmm"


Terdengar dokter Wira yang berdecak kesal mendengar deheman dari Bima "Jangan terlalu kaku, nanti kamu gak laku Bima"


Bima sudah malas jika meladeni Dokter yang satu ini. Dia selalu saja mengejek kesendiriannya karena sikapnya yang dingin dan kaku.


"Jika tidak ada hal lain, aku tutup teleponnya" Bima hampir saja menekan icon merah di ponselnya.


"Ehhh.. Tunggu" suara teriakan kesal dari ujung sana "Kau ini selalu saja kaku seperti itu. Yudha kemarin melukai tangannya sendiri karena berdebat dengan Ibunya"


"Kau temuilah dia, pasti dia membutuhkan mu di saat seperti ini. Om begitu kasihan padanya yang terlihat begitu rapuh tak berdaya"


Bima tidak menjawab dia langsung menutup teleponnya. Bima menyimpan kembali ponselnya di atas meja kerja.


Pria itu mengusap wajah kasar, dia tahu betul bagaiaman emosional sahabatnya yang tidak terkontrol. Ya.. Sebenarnya hampir sama saja dengannya. Namun, dia masih lebih baik dari pada Yudha dalam hal mengontrol emosinya.


Ting


Bima meraih ponselnya saat terdengar notifikasi pesan. Dia membuka pesan yang masuk ke ponselnya.


Tuan, kapan saya bisa kembali ke kota tempat saya tinggal? Saya sudah terlalu lama meninggalkan adik saya. Kalau bisa saya ingin kembali lusa. Apa bisa?


Begitulah isi pesan dari Hasna, namun Bima tidak membalasnya. Dia menyimpan kembali ponselnya di atas meja.


Bersambung

__ADS_1


Like dan komennya di tunggu ya.. Votenya juga.. Hadiah jangan lupa!


__ADS_2