You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Asalkan Kakak Bahagia!


__ADS_3

Hasna mengerjap saat merasakan ada hembusan nafas di tengkuk lehernya. Pinggangnya juga terasa berat, dia masih belum sadar sepenuhnya. Memegang sesuatu yang menimpa pinggangnya itu.


Hah.. Hasna menghela nafas, sudah tahu sekarang siapa yang memeluknya ini. Tidak merubah posisinya, Hasna malah memegang tangan kekar Bima yang memeluk pinggangnya untuk semakin mengeratkan pelukan.


Tidur dengan nyaman, melirik jam dinding yang masih menunjukan pukul 3 pagi. Jadi, Hasna memilih kembali memejamkan matanya. Dalam dekapan Bima yang terasa hangat dan nyaman untuk Hasna.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Bima membuka kedua matanya saat merasakan tangannya yang hampa. Dia melihat Hasna sedang membuka mukena dan melipatnya. Gadisnya baru saja selesai menjalankan kewajibannya.


Bima bangun dan menyandar di sandaran tempat tidur "Morning Sayang"


Hasna menjatuhkan mukena dan sajadah yang baru dia lipat itu. Dia tidak sedang mimpi atau salah dengar? Untuk pertama kalinya Bima memanggil Hasna dengan sebutan Sayang di saat mereka hanya berdua seperti ini. Biasanya Bima akan memanggilnya Sayang jika sedang ada orang lain di antara kami. Hal itu Bima lakukan seolah dia sedang mengklaim Hasna sebagai miliknya seorang.


Dia apa sedang bermimpi ya?


Hasna mengambil kembali perlengkapan sholatnya yang tadi terjatuh. Menyimpan di tempatnya, lalu dia berbalik dan menatap Bima yang terlihat duduk menyandar di tempat tidur dengan tenang.


"Ada apa Asna? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Bima, merasa risih dengan tatapan gadisnya itu.


Tuhkan kembali manggil aku Asna, itu artinya tadi aku hanya salah dengar saja.


Hasna duduk di pinggir tempat tidur, tepat di samping kaki Bima yang berselonjor "Tidak papa, sholat dulu kamu"


Bima menegakkan tubuhnya, dia meraih belakang kepala Hasna dan menariknya untuk semakin dekat dengannya. Cup... Bima mencium kening Hasna dengan lembut.


"Iya aku sholat dulu" kata Bima, dia turun dari tempat tidur dan berlalu ke kamar mandi.


Sementara Hasna masih bersemu merah, meski sudah sering Bima malakukan itu. Tapi, dia masih saja sering merasa malu sendiri. Masih tidak menyangka jika akhirnya Bima menjadi miliknya. Seolah hal yang mustahil untuk Hasna, tapi takdir berpihak padanya. Jadi semuanya yang tidak mungkin menjadi mungkin sekarang.

__ADS_1


Hasna keluar dari kamar setelah membereskan tempat tidur, mengecek kamar Hisyam karena takutnya dia belum bangun. Namun, saat Hasna membuka pintu kamar yang di tempati oleh adiknya itu. Hasna melihat pemandangan yang begitu menyejukan hati. Hisyam sedang bersimpuh di atas sajadah dengan tangan yang menengadah ke atas.


"Beri yang terbaik untuk Kakak, hanya itu yang Syam minta saat ini Ya Allah. Bahagiakan Kakak, dan jangan biarkan Kakak terluka. Aminn.." Hisyam mengusapkan kedua tangannya ke wajah sebagai tanda mengaminkan setiap do'anya.


Hasna sampai meneteskan air mata, begitu terharu mendengar do'a Hisyam itu. Adiknya ini benar-benar menginginkan dirinya bahagia.


Kakak akan bahagia Syam, Kakak juga akan membuat Syam bahagia. Kita bahagia bersama ya. Aminn..


Hasna masuk ke dalam kamar setelah dia menghapus air matanya. Duduk di pinggir tempat tidur, memperhatikan Hisyam yang sedang melipat sajadah.


"Syam, Kakak mau bicara sama kamu" kata Hasna, memang ada yang ingin dia bicarakan dengan adiknya ini. Hasna tidak mungkin mengambil keputusan ini tanpa menanyakan terlebih dahulu pada adiknya tentang ini.


Hisyam duduk di samping kakaknya setelah dia menyimpan sajadah di tempatnya. "Ada apa Kak?"


Hasna berbalik dan menghadap ke arah Hisyam, dia memegang tangan adiknya dan menatap matanya dengan lekat "Syam mau gak kalo kita kembali ke kota ini?"


Hisyam langsung merubah raut wajahnya, berada di kota ini masih terlalu menakutkan untuk Hisyam. Terlalu banyak kenangan saat bersama orang tuanya di kota ini, dan itu akan membuka kembali luka di hati Hisyam. Mungkin juga Hasna.


"Kalo Syam tidak mau, Kakak tidak akan memaksa kok. Kak Na hanya tanya saja" kata Hasna, dia takut jika luka lama itu akan kembali terbuka saat Hasna membahas tentang kota ini. Tempat dimana luka itu tumbuh di hati mereka.


Hisyam mengeratkan genggaman tangannya di tangan Kakaknya, menatap Hasna dengan lekat "Apa Kakak ingin kembali ke kota ini?"


Jika Kak Na memang ingin kembali ke kota ini, maka aku akan menurutinya. Asalkan Kakak bisa bahagia.


Sungguh, Hisyam adalah seorang adik yang sangat pengertian. Di umurnya sekarang, dia bahkan sudah memikirkan kebahagiaan untuk Kakaknya.


"Kakak hanya tanya saja, tidak usah di bahas lagi ya. Kakak tidak akan memaksa Hisyam untuk bisa kembali tinggal di kota ini lagi"


Hasna tentu tidak mau jika adiknya akan tertekan dengan keputusannya ini. Sementara ini, Hasna akan memberi Hisyam waktu untuk berfikir dan menunggu sampai Hisyam siap untuk kembali tinggal di kota penuh kenangan itu. Kenangan pahit dan manis.

__ADS_1


"Apa ini keinginan Kakak Ipar?" tanya Hisyam


Hasna menghela nafas pelan, ini bukan keinginan Bima. Meski Bima pernah mengajaknya untuk kembali ke kota ini. Tapi, dia sama sekali tidak memaksa Hasna untuk itu.


Hanya saja, saat ini Hasna hanya ingin mencoba untuk membuka lembar baru dalam hidupnya. Mencoba untuk melupakan semua kenangan mengerikan itu. Mencoba untuk melawan traumanya. Selain itu, Hasna juga ingin mencoba untuk menerima lamaran Bima jika pria itu kembali mengajaknya untuk segera menikah. Hasna hanya ingin membuka lembar baru dalam hidupnya.


"Tidak Syam, Kak Bima tidak memaksa Kakak untuk tinggal kembali di kota ini"


Hasna tidak bisa egois dengan pilihannya ini. Dia tetap harus memikirkan Hisyam. Hasna tidak akan memaksa Hisyam untuk bisa kembali tinggal di kota ini.


Hisyam berdiri dari duduknya, dia berdiri di depan Hasna sekarang "Baiklah, Syam akan ikuti semua keinginan Kakak asalkan Kak Na bahagia. Kita bisa mulai semuanya dari awal, melupakan semua kenangan pahit itu bersama-sama"


Hasna tersenyum mendengar ucapan adiknya itu, benar jika Hisyam sangat dewasa diusianya itu. Terlihat dari cara dia berbicara dan menyikapi setiap persoalan, apapun itu.


Hasna ikut berdiri dan langsung memeluk Hisyam, dia mencium pipi adiknya itu karena jika mencium kepala Hisyam, sudah tidak mungkin. Tinggi adiknya ini sudah melebihi Hasna.


"Terimakasih Syam" Hasna kembali mencium pipi adiknya dan semakin mengeratkan pelukannya "Kamu kok makin tinggi aja si"


"Tubuh Kakaknya saja yang tidak tumbuh-tumbuh, tetap saja segini" ledek Hisyam sambil mengelus punggung Kakaknya


"Ishh, kamu ini" Hasna memukul kesal punggung adiknya itu, tapi bibirnya tetap tersenyum.


Hisyam tersenyum tipis pada seseorang yang berada di ambang pintu. Aku akan mengikuti apapun keinginan Kakak, asalkan Kakak bahagia.


"Terimakasih" Ucap Bima tanpa suara pada Hisyam yang sedang berpelukan dengan Kakaknya. Entah sejak kapan Bima berada di sana.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya ya.. like komen di setiap chapter..

__ADS_1


kasih hadiahnya dan votenya juga dong.. pliss.. aku udah mohonΒ² kayak gini, masa kalian gak kasihan si sama aku. Udah di usahain up tiap hari nih..


Mampir juga di karya aku yang masih on going juga. Judulnya Benteng Penghalang Kita... Aku tunggu jejak kalian...


__ADS_2