
"Jadi, kamu teh mau berangkat ke kota lagi?" Tanya Bu Sri sambil menyimpan segelas minuman di atas meja
Hasna mengangguk "Iya Bu, Na harus menyelesaikan semua permasalahan 4 tahun lalu itu. Tapi, Na juga gak bisa bawa Hisyam karena dia sebentar lagi akan ujian"
Bu Sri, ikut duduk di samping Hasna "Gak papa, Hisyam biar sama Ibu saja. Kamu gak perlu khawatir"
Hasna menggenggam tangan Bu Sri "Terimakasih Bu, terimakasih banyak karena selalu mau di repotkan sama Na"
"Kami kayak sama siapa saja Na, kita ini keluarga. Hisyam juga udah seperti adik aku sendiri" kata Ryan, anaknya Bu Hasna dan juga teman sekolahnya dulu.
Hasna menatap pria tampan yang baru beberapa bulan pulang dari Kota setelah menyelesaikan kuliahnya. Kakak kelas di sekolah dulu, pria yang selalu melindungi Hasna di saat dulu semua orang mengucilkan nya dan membully nya.
"Iya Kak Ryan, makasih" kata Hasna
Ryan tersenyum "Sama-sama Na, kamu kayak sama siapa saja"
Hasna tersenyum "Iya Kak, kalo gitu Na harus pulang dulu. Kasihan Hisyam di rumah sendiri, sudah mau magrib juga"
"Aku antar Na" kata Ryan
Hasna terkekeh "Kayak yang jauh saja Kak, perlu di anter. Ini cuma beberapa meter aja"
"Hehe, yaudah kamu hati-hati ya"
Hasna mengangguk, lalu dia menyalami Bu Sri dan berpamitan "Na pulang dulu ya Bu, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Hasna berjalan menuju rumah kontrakannya. Melewati beberapa rumah dan satu lahan kosong, tempat para anak anak bermain di sana.
Lagi-lagi Hasna hanya bisa menghembuskan nafas berat. Jika orang tuanya tidak memilih untuk mengakhiri hidup mereka dengan cara tragis seperti itu. Mungkin hidup Hasna dan Hisyam tidak akan seperti ini.
Namun, lagi-lagi Hasna hanya bisa menerima semua takdir dari Tuhan. Tidak ingin menyalahkan semua yang telah terjadi pada kehidupannya dan Hisyam.
Baiklah, sudah sampai saat ini Hasna bisa melewati semua rintangan dan masalah dalam hidupnya. Jadi, masalahnya bersama Bima pun pasti bisa dia lewati dengan baik.
Hasna membuka pintu rumahnya tepat saat suara merdu dari salah satu mesjid terdekat terdengar. Lantunan yang memanggil para umatnya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai muslim.
"Assalamualaikum"
__ADS_1
Hasna masuk ke dalam rumah dan mendapati adiknya sudah rapi dengan baju koko dan sarung, tidak lupa peci yang di kenakannya.
"Waalaikumsalam, sudah pulang Kak. Syam mau berangkat ke mesjid dulu" kata Hisyam sambil berjalan menghampiri Kakaknya lalu menyalami tangan Kakaknya.
"Iya Syam, hati hati di jalan. Langsung pulang, jangan main dulu" kata Hasna sambil mengelus kepala adiknya
"Iya Kak, Syam berangkat dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Hasna kembali menutup pintu setelah adiknya pergi. Gadis itu berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai muslim.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Suara spatula yang bersentuhan dengan wajan begitu terdengar di dapati kecil rumah kontrakan itu. Hasna sedang membuatkan nasi goreng, untuk sarapan dia dan adiknya.
Ceklek
Hisyam keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Rambutnya masih basah dengan beberapa tetesan air membasahi wajahnya.
"Di lap yang benar Syam rambutnya, jadi basah kemana-mana tuh" kata Hasna sambil memindahkan nasi goreng buatanya ke atas piring.
"Iya Kak"
Gadis itu kembali ke dapur untuk mengambil air minum dan kerupuk yang baru di belinya tadi di warung. Kemudian dia duduk di kursi kayu dan mulai menyantap sarapan paginya.
Hisyam keluar dari kamarnya, bocah itu sudah siap dengan seragam merah putihnya dan tas yang dia tenteng di tangannya. Menyimpan tas di lantai dekat kursi, lalu dia ikut duduk di samping Kakaknya dan menyantap nasi goreng yang sudah di siapkan oleh Hasna.
"Kakak berapa lama di Ibu Kota?" Tanya Hisyam, lalu dia menggigit kerupuk di tangannya.
Krauk..kraukk... Suara kunyahan kerupuk yang di makan bersamaan dengan nasi goreng. Makanan sederhana yang begitu mereka nikmati. Kebersamaan ini yang membuat hal sederhana bisa membahagiakan.
Meski sudah tidak ada lagi orang tua di antara mereka. Tapi, setidaknya keduanya masih bisa hidup bersama dan saling menyayangi.
"Kakak belum tahu, mungkin Kak Na bakal ambil cuti sekitar satu minggu. Karena takutnya bisa lebih lama di sana. Kamu yakin gak ikut saja sama Kakak, Syam?" kata Hasna menatap adiknya yang sedang fokus menikmati makanannya.
Hisyam menggeleng "Tidak mau Kak, sudahlah Kak Na tak perlu khawatir lagi. Syam baik-baik saja di sini, lagian Kak Na sudah menitipkan Syam pada Bu Sri. Sebaiknya Kakak segera selesaikan permasalahan dengan orang yang Kakak tolong itu"
Hasna mengangguk saja "Iya Syam, Kakak juga ingin segera menyelesaikan semua masalah ini. Supaya Kakak gak terus-terusan di hantui rasa bersalah karena tidak bia menolong gadis itu dari hal buruk yang menimpanya malam itu"
__ADS_1
Hisyam memang sudah tahu cerita tentang empat tahun lalu. Selain Hisyam, Ryan dan juga Bu Sri tahu tentang kejadian itu.
"Iya Kak, lagian ini bukan salah Kak Na juga. Kakak sudah berusaha untuk menolongnya, namun takdir berkata lain" kata Hisyam
Di usia 12 tahun, Hisyam sudah mempunyai pemikiran yang begitu dewasa.
"Yaudah, sekarang ayo siap-siap nanti terlambat ke sekolahnya" kata Hasna
Gadis itu membereskan bekas sarapan mereka. Sementara Hisyam sudah memakai sepatunya. Hasna mengambil ransel kecilnya dan menggendongnya.
"Ayo Kakak antar ke sekolahmu dulu Syam" kata Hasna sambil mengunci pintu rumah
"Syam bisa sendiri Kak" bantah anak itu, Hisyam selalu merasa di perlakukan layaknya anak balita oleh Kakaknya. Padahal dia merasa jika dirinya sudah besar dan mandiri.
Hasna tersenyum, dia berjalan ke arah adiknya yang sudah berada di halaman rumah. Di rangkulnya bahu adik kesayangannya itu.
"Sudah ayok, kan Kakak nanti berangkat ke Ibu Kota. Nah, baru deh kamu bisa berangkat sendiri tanpa Kakak antar" kata Hasna tersenyum
Kakak beradik ini berjalan menyusuri jalan gang kecil menuju jalanan pinggiran kota. Seperti biasa Hasna akan mengantarkan dulu adiknya ke sekolah dengan berjalan kaki, karena jarak sekolah Hisyam yang bisa di tempuh dengan berjalan kaki.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Hah...
Hasna turun dari angkutan umum, hari melelahkan setelah bekerja seharian penuh. Namun, hari ini lebih melelahkan karena dia akan bertemu dengan pria dingin menyeramkan.
Berjalan masuk ke dalam gang, langkahnya terasa berat mengingat dia akan berangkat ke Ibu Kota. Rasanya ingin Hasna lari dari kenyataan ini. Ternyata kejadian 4 tahun lalu yang tidak sengaja dia lihat harus membawanya bertemu dengan pria menyeramkan seperti, Bima.
Sampai di depan rumah kontrakan nya, Hasna langsung masuk ke dalam rumah "Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Deg
Hasna terdiam mematung, melihat adiknya sedang duduk dengan pria dingin menyeramkan itu.
Tuhan, kenapa dia bisa berada disini? Apa yang telah dia lakukan pada adik ku? Hisyam...
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, komen nya.
Ayo kasih vote-nya juga dong, kasihan nih karya baru belum dapet vote.. 😭