
Merasa suasana sangat tidak nyaman, Hasna memilih memejamkan matanya tapi tidak tertidur. Hanya sekedar menenangkan hati dan fikirannya. Perjalanan masih cukup jauh, Hasna harus bersabar beberapa puluh menit lagi untuk segera terlepas dari ketidak nyamanan ini.
Di kursi depan, Bima melirik kaca spion di atasnya. Dia melihat Hasna menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil dengan mata yang terpejam.
Apa dia tidur?
Tatapan Bima terfokus pada bibir mungil berwarna pink itu. Entah apa yang dia fikirkan, sampai rasanya tubuhnya meremang hanya melihat bibir Hasna lewat kaca spion.
Sial. Apa yang terjadi pada perasaanku? Bianca telah kembali, tapi fokusku teralihkan oleh gadis yang baru beberapa bulan aku kenal.
Bima masih berusaha meyakinkan perasaannya ini. Dia masih merasa bimbang dengan perasaanya pada Hasna dan juga Bianca. Keduanya seolah menempati hatinya.
"Bim"
Panggilan Bianca membuat Bima langsung tersadar dan kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Aku besok kembali ke luar Negara, ada pekerjaan yang gak bisa aku tinggalkan" kata Bianca sambil mengotak ngatik ponselnya
"Hmm. Pergilah" jawab Bima datar
Bianca menoleh dan menatap pria yang hanya fokus pada jalanan di depannya itu "Maaf. Aku belum bisa melepas karier ku ini"
"Hmm"
Malas untuk berdebat, apalagi bukan hanya mereka yang ada di dalam mobil ini. Bima hanya ingin memberi Bianca waktu untuk bisa melepaskan karier nya itu.
Hasna yang mendengar semuanya, masih memejamkan matanya. Dia mendengar segala percakapan sepasang kekasih itu.
Sepertinya hubungan mereka tidak seharmonis yang aku fikirkan. Sudahlah, tak perlu mengurusi hubungan orang lain.
Akhirnya mobil mereka sampai di depan gang menuju rumah kontrakan Hasna. Bima menghentikan mobilnya dan menoleh ke belakang.
Hasna sudah siap untuk turun bersama adiknya "Terimakasih Tuan, maaf karena telah merepotkan"
"Tidak repot kok Na, kan sekalian aku bisa jalan-jalan. Hehe.. Nanti kapan-kapan aku main ya ke rumah kamu" kata Bianca
Hasna tersenyum kaku "I-iya Kak"
Hasna dan Hisyam turun dari mobil Bima. Mereka menunggu di pinggir jalan sampai mobil Bima melaju dan tak terlihat lagi oleh pandangan mereka.
__ADS_1
"Ayo Syam"
Hasna merangkul pundak Hisyam dan mereka berjalan menuju rumah.
"Kakak gak papa?" Tanya Hisyam tiba-tiba
Hasna menoleh dan menatap bingung pada adiknya itu "Emangnya Kakak kenapa? Kak Na gak papa kok"
Hisyam menghentikan langkahnya membuat Hasna juga ikut berhenti. Anak laki-laki itu mendongak menatap Kakaknya dengan lekat.
"Syam tahu Kak, Kak Na harus kuat dan bersabar. Syam yakin kalo Tuan Bima pasti menjadi milik Kakak suatu saat nanti" kata Hisyam sambil menepuk bahu Kakaknya, memberikan kekuatan untuk saudara perempuannya itu.
Hasna tak bisa lagi menahannya, dia langsung memeluk adiknya itu. Perkataan Hisyam adalah hal yang selalu Hasna ingin dengar dari orang-orang terdekatnya. Hasna hanya butuh dukungan dan kata-kata penyemangat seperti ini.
Hidupnya terlalu lelah, dia harus menghadapi semuanya sendiri. Bahkan saat orang tuanya meninggal pun, Hasna tidak bisa menangis sepuasnya karena memikirkan keadaan Hisyam.
Hasna hanya bisa mencoba tegar untuk adiknya. Hisyam adalah keluarga satu-satunya yang harus Hasna lindungi dan perjuangkan masa depannya.
Hiks...Hiks..
Hasna menangis di bahu adiknya itu, ternyata Hisyam sudah dewasa dari yang dia fikirkan. Hisyam sudah bisa berfikiran begitu dewasa di usianya ini.
Hasna semakin sesenggukan mendengar ucapan Hisyam. Bagaimana adiknya itu bisa berfikiran begitu dewasa. Hasna memang membutuhkan bahu untuk bersandar, Hasna membutuhkan orang untuk tempat dia berkeluh kesah. Namun, selama ini dia hanya bisa memendamnya sendiri.
"Terimakasih Syam, pokoknya kamu tetap harus fokus dengan sekolah kamu. Jangan fikirkan setiap hal yang terjadi pada Kakak" Hasna melepaskan pelukannya dan menghapus sisa air matanya
"Syam hanya perlu terus sekolah dengan benar dan membuat Kakak bangga dengan nilai yang baik. Syam adalah harapan Kakak untuk bisa memperbaiki kehidupan kita. Maka harus yang rajin sekolahnya ya"
Pada akhirnya, Hasna tetap tidak ingin membebani Hisyam dengan segala kegelisahannya. Hasna hanya ingin Hisyam hidup dengan baik dan sekolah dengan benar tanpa harus memikirkan urusannya.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Bayangan Hasna yang tertidur di mobilnya terus menghantui fikiran Bima. Wajah Hasna yang teduh dan menenangkan hati. Entahlah.. Bima merasakan ada getaran berbeda di hatinya. Namun, dia tidak yakin dengan perasaannya saat Bianca telah kembali.
Mengingat dia menunggu sampai selama itu dan berhasil setia pada Bianca. Tidak ada wanita yang mampu menggoyahkan kesetiaan seorang Bima selama ini. Tapi, tidak dengan Hasna. Gadis mungil yang terlibat dengannya hanya karena masa lalu Tuannya itu, telah berhasil sedikit menggoyahkan hati Bima.
Hatinya yang beku, sedikit mencair dengan hadirnya Hasna. Namun, di saat Bima baru saja akan membuka hatinya untuk wanita lain. Bianca hadir, gadis di masa lalunya itu berhasil membuat hati Bima menjadi bimbang.
Tak terasa mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan kawasan apartemen Bianca.
__ADS_1
"Terimakasih Bim. Cup" satu kecupan Bianca berikan di pipi Bima.
"Iya"
Bianca keluar dari mobilnya dan Bima langsung melajukan kembali mobilnya. Dia meraba pipinya, rasanya biasa saja. Tidak ada lagi debaran di hatinya saat Bianca menciumnya seperti ini.
Kemana perasaan itu? Dulu aku selalu berdebar hanya karna Bianca menggenggam tanganku saja.
Bima semakin meyakinkan perasaanya ini. Perasaannya seolah telah berubah, Bianca tidak lagi memiliki hatinya sepenuhnya.
Apa aku salah mengartikan perasaanku selama ini?
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Seminggu berlalu..
Akhir pekan ini Hasna habiskan untuk membersihkan rumah dan bersantai bersama adik laki-lakinya. Selesai dengan semua pekerjaan rumah, Hasna memilih bersantai menonton televisi di rumahnya. Hisyam sedang belajar di atas karpet.
"Anak perempuan Yudha Abimana Walton dan Eliana Merlina, di kabarkan mengalami kecelakaan siang tadi. Safira Jovanka Walton menjadi korban tabrak lari saat mengikuti study tour sekolah Kakak laki-lakinya bersama sang Bunda, Anista Walton"
Hasna terdiam mendengar ucapan pembawa acara gosip ternama di televisi itu. Apa yang baru saja dia dengar adalah nama orang-orang yang di kenalnya.
Bagaimana dengan Anista? Dia pasti sedang kesulitan sekarang. Aku harus menemuinya.
"Kak, itu bukannya nama Teh Nist ya?" tanya Hisyam pada Kakaknya
"Iya Syam, Teh Nist pasti sedang kesulitan sekarang. Apa Kak Na ke sana ya, temui dia"
Hisyam mengangguk "Iya Kak, lebih baik ke sana. Kasihan Teh Nist, Syam gak papa kok di rumah sendirian"
"Yaudah, Kakak ke sana ya. Kamu baik-baik di rumah. Kak Na juga gak bakalan nginep, pasti pulang hari ini juga" kata Hasna
Hisyam mengangguk mengiyakan ucapan Kakaknya itu.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya...
Selamat menunaikan Ibadah Puasa bagi kalian yang menjalankannya.. Marhaban Ya Ramadhan..
__ADS_1