
Bima keluar dari sebuah club malam yang sudah lama tidak lagi dia kunjungi. Kebiasaan hidup bebas saat berada di negaranya dulu terbawa sampai ke sini.
Namun, setelah Yudha mengetahui hal buruk yang selalu Bima lakukan setiap malam. Maka Yudha langsung menghentikan kebodohan sahabatnya itu. Dia melarang keras Bima datang lagi ke club malam dan minum minuman beralkohol tinggi.
Bahkan Yudha sampai menyuruh orang untuk terus mengawasi Bima di malam hari. Karena dia tahu bagaimana kebiasaan buruk Bima itu sangat sulit untuk di hilangkan. Dan akhirnya setelah beberapa bulan, akhirnya Bima bisa berhenti datang ke club malam dan meminum minuman tak halal itu.
Tapi, kali ini Bima benar-benar sedang frustasi. Dia memilih kembali ke tempat haram ini hanya untuk menghilangkan kekecewaan dan sakit hatinya untuk sesaat. Sudah tiga hari berlalu sejak Bima mengetahui semua tentang Bianca.
Bima berjalan sempoyongan menuju mobilnya, masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli apa yang akan terjadi padanya, menyetir dalam keadaan mabuk adalah hal yang melanggar hukum. Dan Bima tidak peduli dengan itu, resiko yang mungkin akan terjadi pada dirinya saat ini.
Mobil terus melaju... Melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Bima menatap jalanan dengan mata merahnya, matanya berkaca-kaca. Hatinya terlalu sakit dengan kenyataan yang baru saja dia ketahui.
Bagaimana wanita yang di tunggu selama ini, ternyata telah menikah dan sedang mengandung anak dari pria lain. Dia datang hanya untuk memanfaatkan Bima agar menjadi ayah dari anak yang di kandungnya karena ayah si bayi telah meninggal dunia.
"Kau pembohong Bi, kau mengkhianatiku" racau Bima dengan terus menambah kecepatan laju mobilnya.
Arghhhh...
Bima memukul kemudi dengan berteriak frustasi, dia sedang dalam keadaan benar-benar kacau sekarang. Bahkan ponsel yang sedari tadi berdering di kursi penumpang, tidak dia hiaraukan. Panggilan dari atasan sekaligus sahabatnya itu benar-benar tidak Bima hiraukan.
Sial kenapa aku kesini?
Bima tidak sadar jika dia telah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Bahkan ini telah tengah malam, dan bodohnya Bima bukannya pulang ke rumah atau apartemennya. Tapi, malah ke jalan luar kota dimana dulu dia sering kesini karena urusannya dengan gadis yang berkaitan dengan masa lalu Tuannya itu.
Entah apa yang membuat Bima kembali ke tempat ini, apakah dia merindukan Hasna? Atau membutuhkannya di saat seperti ini? Entahlah. Yang jelas Bima datang ke sini tanpa dia sadari, seolah alam bawah sadarnya tiba-tiba membawanya datang ke sini.
Bima menghentikan mobilnya di dekat gang menuju rumah Hasna. Tidak ada yang dia lakukan disana, hanya berdiam di dalam mobil dengan sesekali menatap ke arah gang kecil itu.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
__ADS_1
"Aduhh.. Malah demamnya makin tinggi lagi"
Hasna terlihat begitu panik dengan keadaan adiknya yang sudah tiga hari ini demam dan suhu tubuhnya tidak turun sampai sekarang. Hasna terus menempelkan punggung tangannya di kening adiknya untuk mengecek suhu tubuh Hisyam. Dengan terus mengompresnya dengan air hangat.
"Kak Na cari dulu bantuan ke luar ya, panasnya malah makin tinggi. Syam baik-baik dulu ya di sini, Kakak gak akan lama" kata Hasna
Hisyam tidak merespon, mungkin anak laki-laki itu sudah tidak sadarkan diri. Demam yang begitu tinggi, bahkan Hisyam seperti tidak lagi sadarkan diri.
Hasna berlari keluar rumah, dia bingung harus meminta bantuan pada siapa di malam hari seperti ini. Ingin ke rumah Bu Sri, tapi dia tidak enak jika harus terus merepotkan Bu Sri dan Ryan. Apalagi waktu sudah hampir tengah malam, tentu saja akan mengganggu waktu istirahat mereka.
Hasna berlari menyusuri jalan gang kecil itu dengan tangis yang hampir pecah. Di saat seperti ini, Hasna selalu ingin menyalahkan takdir. Kenapa..dan Kenapa?? Selalu menghantui fikirannya. Kenapa dia sendiri? Kenapa dia harus mengalami ini? Kenapa harus dia dan adiknya yang kehilangan orang tua mereka?
Namun, saat ini bukanlah waktu untuk mengeluh, Hasna hanya perlu mencari kendaraan di jalan besar untuk bisa membawa adiknya ke klinik.
Sampai di pinggir jalan besar, Hasna mengatur nafasnya yang tersengal karena berlari sepanjang jalan. Tubuhnya membungkuk dengan kedua tangan yang bertumpu pada lututnya. Dia sedang mengatur nafasnya.
Sementara itu orang yang berada di dalam mobil menatap bingung pada Hasna "Ada apa dengannya?"
Sebuah tangan kekar yang menepuk punggungnya membuat Hasna terlonjak kaget dan hampir terjatuh jika saja Bima tidak sigap menahan tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Bima
Hasna membenarkan posisi berdirinya, dia menundukan kepalanya "Maaf Tuan"
Lagian kenapa mengejutkanku dan sedang apa dia disini malam-malam begini?
"Kau ini seorang gadis, kenapa keluar tengah malam begini?" Tanya Bima lagi, terdengar nada tidak suka dari ucapannya itu
Hasna mendongakan wajahnya dengan mata berkaca-kaca "Tuan, apa bisa saya minta tolong?"
__ADS_1
Bima mengangkat satu alisnya "Minta tolong apa?"
"Tolong antarkan adik saya ke klinik, dia sedang demam tinggi sekarang. Saya mohon" Hasna mengatupkan kedua tangannya di depan dada, begitu memohon dan berharap Bima bisa menolong adiknya. Namun Bima malah berjalan menjauhinya.
"Kau bodoh! Ayo cepat kita bawa adikmu ke rumah sakit. Kenapa malah diam saja" kesal Bima saat dia sudah berjalan ke arah gang, sementara Hasna masih saja terdiam di tempatnya.
Hasna terkesiap, dia segera berlari menyusul Bima ke jalan gang. Sampai di rumahnya, Bima langsung menggendong Hisyam dan membawanya ke mobil dia. Memasukan Hisyam di kursi belakang, dan dia segera masuk ke dalam mobilnya. Sementara Hasna duduk di kursi belakang dengan memangku kepala Hisyam di pahanya.
Mobil melaju dengan cepat, Hasna hanya diam dengan tangan terus mengelus kepala adiknya yang sudah tidak sadarkan diri. Demamnya masih begitu tinggi.
"Sejak kapan adikmu seperti ini?" Tanya Bima
"Sudah dari tiga hari yang lalu, Tuan. Tapi dua hari kemarin panasnya masih kadang turun. Sekarang malah makin tinggi demamnya" jelas Hasna
"Kenapa tidak kau bawa ke rumah sakit sejak dia sakit? Kenapa menunggunya separah ini dulu" kesal Bima
Hasna menunduk, dia juga merasa bersalah dengan itu "Karena biasanya kalo di kasih obat penurun panas dan di kompres juga sudah sembuh. Saya 'kan kerja Tuan, jadi kadang pulang sore dan gak sempet bawa Syam ke klinik"
Terdengar Bima yang berdecak kesal "Lain kali kau pentingkan dan dahulukan kesehatan adikmu dari pekerjaanmu itu. Dia sedang sakit, tapi kau masih saja bekerja"
"Maaf" lirih Hasna dengan kepala menunduk, dia juga merasa bersalah dengan apa yang di lakukannya pada adiknya ini. Namun, Hasna juga bingung harus bagaimana. Keadaan yang menuntutnya untuk seperti ini.
"Tidak perlu terus minta maaf, kau tidak salah apapun" kata Bima datar
Hasna diam, dia tidak mau berdebat lagi dengan pria itu. Bukannya tadi yang dia katakan seolah mengatakan jika aku salah ya. Kok sekarang malah bicara seperti itu. Aneh..
Bersambung
Janga lupakan dukungannya...
__ADS_1
Like Komen di setiap chapter.. Kasih hadiah dan votenya juga..