
Bima tersenyum saat melihat kekasihnya itu keluar dari pekarangan hotel tempat dia bekerja. Tidak sia-sia dia menunggu setengah jam lamanya untuk menjemput gadisnya itu.
Namun, senyum merekah itu langsung memudar begitu saja saat melihat mobil yang berhenti di dekat Hasna. Bima tentu tahu siapa pemilik mobil itu. Mobil perusahaan nya.
Tangannya mengepal dan memukul kemudi dengan kesal "Kenapa pria sialan itu selalu saja mendekati Hasnaku"
Kekesalan Bima semakin menjadi saat melihat Hasna malah mengobrol dengan pria di dalam mobil itu. Tidak tahukah sudah berapa lama Bima menunggunya, dan sekarang malah dia mengobrol dengan pria lain di pinggir jalan dan membuat Bima semakin menunggu lama.
Tin..tin...
Bima menekan klakson mobilnya dengan kesal. Hasna menatap ke arah mobilnya, tapi dia kembali berbicara dengan pria di dalam mobil itu. Kesal.. Bima benar-benar kesal melihat itu. Hasna malah mengabaikannya dan mementingkan pria lain daripada dirinya sebagai kekasih Hasna.
Sial. Awas kau gadis kecilku.
Tin..tin..
Tin..tin..
Tin..tin...
Bima terus menekan klakson mobilnya dengan kesal. Wajahnya sudah sedingin es yang terbakar. Memerah dengan tatapan begitu dingin dan tajam menusuk.
Di sebrang sana, Hasna merasa gelagapan dengan kelakuan Bima itu. Tidak tahukah dia, jika Hasna sedang berusaha menolak ajakan Ryan dengan baik agar tidak menyakiti atau menyinggung perasaan pria itu. Tapi, sepertinya Bima benar-benar sudah tidak sabar menunggu Hasna terlalu lama.
"Ayo kita samperin Tuan Satria Na, mungkin mobilnya mogok. Itu terus bunyiin klakson" kata Ryan
Hah...
Hasna terbelalak kaget dengan ucapan Ryan, kegelisahan semakin terlihat dari matanya. Tidak mungkin dia membiarkan Ryan bertemu dengan Bima. Hasna tidak yakin jika Bima bisa bersikap biasa saja saat bertemu dengan Ryan.
"Emm..." Aduh aku benar-benar di buat bingung dengan kondisi ini.
"Kenapa Na? Ayo kita samperin Tuan Satria, dari tadi terus menyalakan klakson mobilnya"
Ryan sudah membuka pintu mobil dan bersiap untuk turun, namun dering dari ponselnya membuat dia mengurungkan niatnya. Ryan mengambil ponselnya dan mengangkat telepon yang masuk ke ponselnya itu.
Huh..
__ADS_1
Akhirnya aku bisa bernafas lega sekarang.
Hasna terlihat begitu lega dengan adanya panggilan masuk pada ponsel Ryan. Siapa pun yang telah menelepon Ryan, bagaikan malaikat yang menyelamatkan Hasna dari semua ini.
"Oh baik Pak, saya akan segera datang" kata Ryan sebelum menutup telepon nya itu.
Ryan menoleh ke arah Hasna yang masih berdiri di pinggir jalan itu "Na, sepertinya aku..."
"Iya Kak, gak papa kok. Lebih baik Kakak cepetan pergi saja kalo masih banyak kerjaan" kata Hasna cepat, bahkan dia tidak sadar jika telah memotong ucapan Ryan
Ryan mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan ekspresi dan tingkah Hasna itu "Kamu kok kayaknya seneng banget gak jadi pulang sama aku?"
Eh..
Hasna segera mengibaskan tangannya dengan cepat "Bukan begitu Kak, aku bisa kok pulang sendiri. Lagian Kak Ryan masih banyak kerjaan, jadi harus mementingkan pekerjaannya dulu"
Ryan mengangguk "Baiklah, kamu hati-hati ya. Aku duluan"
Hasna mengangguk dengan cepat. Pergilah cepat Kak. Sebelum harimau ganas akan mengamuk disini.
Ryan hampir menginjak pedal gas mobilnya, namun urung kala mengingat sesuatu "Tapi Na"
"Kita 'kan mau nyamperin Tuan Satria tadi, mobilnya masih terparkir di sana. Apa dia sedang ada masalah dengan mobilnya" jelas Ryan
Aduh.. Itu bukan masalah dengan mobilnya, tapi masalah dengan kita kalo Kakak gak cepat-cepat pergi dari sini.
Hasna mencoba tersenyum meski terkesan sangat memaksakan "Biar Na saja yang ngechek Kak, nanti kalo ada apa-apa Na langsung kasih tahu Kakak"
Ryan mengangguk "Beneran langsung hubungi aku ya, yaudah aku pergi dulu. Assalamualaikum"
Hasna mengangguk cepat "Iya Kak, hati-hati di jalan. Waalaikumsallam"
Hah...
Hasna menghembuskan nafas kasar, dia harus menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum dia berhadapan dengan pria dingin menyeramkan itu.
"Baiklah sudah saatnya temui pria menakutkan itu. Semangat Na"
__ADS_1
Tin...tin..
"Ya Tuhan, gak sabaran banget si ni orang"
Hasna menyebrang jalan dan segera menghampiri mobil Bima yang sudah dari tadi terparkir disana. Semakin dekat dengan mobil pria itu, semakin jantungnya berdebar kencang.
Tangannya gemetar saat membuka pintu mobil itu. Saat pintu mobil terbuka, Hasna langsung di sambut dengan wajah merah padam dengan tatapan dingin.
Bagaimana ini? Kenapa dia terlihat begitu menyeramkan si.
"Masuk!"
Suara tegas dengan nada perintah itu langsung membuyarkan Hasna dari lamunannya. Gadis itu langsung masuk ke dalam mobil.
Duduk diam dengan jantung berdebar, sementara pria di sampingnya mulai menyalakan mesin mobil dan melajukannya.
Suasana di dalam mobil benar-benar hening dan mencekam. Hasna bingung harus bagaimana, bahkan pria di sampingnya ini hanya fokus dengan kemudinya tanpa mengatakan sepatah katapun.
Dia benar-benar marah. Bagaimana ini?
Hasna benar-benar merasa berada di ujung jurang kehancuran. Jika sedang tidak marah saja, Bima terlihat begitu menakutkan untuk Hasna. Apalagi sekarang yang posisinya, Bima sedang benar-benar marah. Sudah di pastikan Hasna sangat ketakutan. Bahkan untuk bernafas pun dia lakukan dengan perlahan karena takut akan mengusik harimau ganas di sampingnya itu.
"Aku akan pulang ke Ibu Kota besok pagi" kata Bima dingin, setelah beberapa menit berlalu hanya dengan keheningan saja.
Hasna langsung menoleh ke arah Bima "Baik Tuan"
Apa dia semarah itu sampai pergi ke Ibu Kota dan meninggalkanku. Padahal kita 'kan baru saja menjadi sepasang kekasih. Meskipun hanya pacar pelunas hutang si.
"Apa kau bahagia jika pacarmu ini pergi? Mungkin kau akan lebih bebas mengobrol dengan pria lain" kata Bima dingin, penuh dengan nada sindiran.
"Ti-tidak Tuan, saya ingin Tuan tetap berada di sini" refleks Hasna dengan suara yang lantang, bahkan dia mengucapkan semua yang ada di dalam hatinya. Itu benar-benar murni dari dalam hatinya.
Bima tersenyum tipis, namun langsung dia tutupi dengan wajah datarnya itu "Baiklah, jika seperti itu. Mulai saat ini panggil aku Sayang"
"Hah.. A-apa?"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya... like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan vote juga.
Aku lagi gak enak badan akhir-akhir ini. Jadi maaf kalo up nya agak telat. Ini juga maksain buat nulis dan ngedit biar bisa up hari ini. Mohon do'anya.