
Bima mengerjakan beberapa pekerjaannya dengan begitu serius. Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini agar bisa segera kembali ke kota tempat gadisnya tinggal. Bahkan sudah hampir larut malam, tapi Bima masih berada di ruangannya. Berkutat dengan berkas-berkas dan laptop nya.
Namun, hal yang sama sekali tidak di inginkan membuat Bima harus menunda pekerjaannya untuk beberapa saat. Keributan di luar ruangannya begitu terdengar dan mengganggu konsentrasi Bima dalam bekerja.
"Tidak Nona, anda tidak di izinkan masuk"
"Lepaskan!! Saya hanya ingin bicara sebentar dengan Bima. Apa kalian bodoh Hah? Kalian begitu berani menahan saya bertemu dengan dia"
"Ini yang di tugaskan oleh Tuan Bima, Nona Bianca tidak di izinkan masuk ke perusahaan ini"
Bianca terus berontak dengan kedua tangannya yang di pegangi oleh dua orang keamanan di perusahaan Walton.Corp ini.
"Ada apa ini?" Suara tegas dan dingin itu berhasil membuat keributan ini sedikit mereda. Yudha berdiri di sebrang sana, tepat di depan pintu ruangannya.
Dua orang keamanan itu mengangguk hormat pada Yudha "Maaf Tuan, Nona ini memaksa masuk dan ingin bertemu dengan Tuan Bima. Tapi, Tuan Bima sudah mengingatkan kami agar tidak mengizinkannya masuk ke perusahaan"
Yudha melangkah tegap ke arah mereka, tatapannya begitu dingin mengintimidasi. Dia tidak suka dengan kebisingan, kecuali kebisingan itu adalah suara canda tawa istri dan anak-anaknya. Maklumlah, Yudha adalah pria bucin pada istrinya.
"Kau bisa tidak, untuk tidak membuat keributan di kantor ku?" kata Yudha dingin
"Aku hanya ingin bertemu dengan Bima" jawab Bianca, masih belum menyerah dengan tujuannya itu.
"Kau dengarkan aku!" Yudha semakin menatapnya dengan tajam "Bima melakukan hal ini karena ulahmu. Jadi, stop menganggu saudaraku! Kau sudah tidak berarti apapun lagi untuk Bima. Mengerti!"
Suara dingin dan datar Yudha, benar-benar membuat Bianca bungkam. Dia tahu jika ucapan Yudha bukanlah hal yang harus dia bantah. Namun, kali ini Bianca benar-benar ingin bertemu dengan Bima.
"Sekali ini saja, aku akan pergi setelah bertemu Bima dan berbicara padanya. Aku janji tidak akan mengganggu hidupnya lagi, asalkan izinkan aku bertemu dengan dia sekarang" kata Bianca memohon
"Kau hanya punya waktu 10 menit, masuklah" kata Bima yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu ruangannya.
Bima begitu terharu dengan apa yang di lakukan Yudha. Bahkan dia memanggilnya saudara, bahkan Bima tidak lagi merasa hidupnya sebatang kara saat Yudha bersamanya selama ini.
Bianca menoleh ke arah sumber suara, terlihat Bima yang berdiri tegap di depan pintu ruangannya. Matanya menatap ke arah lain, seolah tidak ingin lagi menatap wajah wanita yang dulu sangat dia hargai dan cintai.
Bianca tersenyum senang saat Bima mengizinkannya untuk berbicara dengan dia "Baiklah, hanya sepuluh menit saja"
Bima membuka pintu ruangannya dan mempersilahkan Bianca untuk masuk. Sementara dia memberi kode pada dua orang keamanan itu untuk kembali pada pekerjaan mereka.
__ADS_1
"Kalian sudah bertugas dengan baik"
"Terimakasih Tuan" Dua orang keamanan itu mengangguk hormat pada Yudha dan Bima lalu pergi dari sana.
"Kau segera bereskan urusanmu dengan wanita itu. Aku tidak ingin dengar keributan lagi di kantorku" kata Yudha
Bima mengangguk "Baik Tuan"
Setelah Yudha kembali masuk ke dalam ruangannya, Bima juga segera masuk ke dalam ruangan nya. Di dalam sana sudah terlihat Bianca yang duduk di sofa.
Bima berjalan menghampirinya dan duduk di sofa tunggal di sana "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"
Bianca mendongak dan menatap ke arah Bima yang sama sekali tidak menatap ke arahnya. Bima selalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Kau bahkan tidak lagi ingin menatapku Bim.
Bianca mencoba tersenyum meski hatinya cukup sakit dengan sikap Bima saat ini "Emm. Aku hanya ingin kau menjadi Ayah dari bayiku. Aku mohon Bim, hanya itu yang aku mau. Aku tidak ingin bayiku lahir tanpa kehadiran seorang Ayah"
Bima menatap Bianca dengan tajam, bibirnya tersenyum sinis "Kau bercanda hah? Setelah apa yang kau lakukan, tapi kau masih punya nyali untuk meminta itu? Heh.. Siapa kau berani memanfaatkanku di situasi seperti ini Bianca!!"
Bianca menunduk diam mendengar ucapan Bima. Tidak ada lagi kata-kata lembut yang keluar dari mulutnya. Bima benar-benar telah berubah padanya.
"Saat ini?!"
Bima menatap tajam ke arah wanita yang dulu mampu membuatnya menunggu sampai bertahun-tahun. Namun sekarang perasaan itu lenyap seketika seiring berjalannya waktu dan pengkhianatan yang di lakukan oleh Bianca.
"Apa masih banyak lagi permintaan tidak masuk akal darimu itu. Hahaha... Bianca Alexandra, aku tidak akan dapat kau bodohi lagi"
"Tapi Bim ak...."
Ucapan Bianca terpotong dengan suara dering ponsel milik Bima. Pria itu segera berdiri dan berjalan ke arah meja kerjanya. Mengambil ponselnya yang dia letakan di sana dan segera mengangkat telepon itu.
"Hallo" Diam mendengarkan si penelepon di sebrang sana berbicara. Beberapa detik kemudian wajahnya berubah cemas.
"Kau!!" Teriaknya tertahan "Kenapa tidak memberi tahuku dari tadi bodoh"
Bima langsung mematikan sambungan teleponnya dengan sepihak. Dia segera melihat pesan yang di kirim oleh nomor yang menelponnya barusan.
__ADS_1
Sial..
Bima menoleh ke arah Bianca yang masih diam di tempatnya "Kau pergilah, aku ada urusan yang lebih penting"
Bima mengancingkan jasnya dan menyambar kunci mobil dengan kasar di atas meja kerjanya. Pria itu berlari keluar ruangan sambil menelpon seseorang.
"Aku ada urusan sebentar"
Setelah berkata seperti itu, Bima mematikan sambungan teleponnya dan akan memasukan ponselnya ke saku jas. Namun suara notifikasi pesan membuat dia urung melakukannya. Dia membuka pesan itu dan wajahnya langsung memerah begitu melihat isi dari pesan itu.
Sial.. Aku telah kecolongan.
Bima lanjut berlari menuju lift dengan tergesa-gesa.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Di lain tempat Yudha tercengang dengan kelakuan Bima. Menelponnya dan hanya mengatakan itu tanpa membiarkan dia berkata apapun dan langsung menutup sambungan telepon.
Yudha menatap ponselnya dengan tidak percaya "Dasar asisten kurang ajar, berani sekali dia! Apa wanita bisa membuatmu berubah sekonyol ini hah?"
Yudha seolah berbicara dengan Bima yang masih meneleponnya. Padahal dia tahu sendiri jika sambungan telepon telah terputus.
"Dasar wanita, bisa sekali membuat pria menjadi gila seperti Bima" lirih Yudha, bahkan dia tidak sadar jika dirinya tidak beda jauh dari Bima. Terlalu mencintai wanitanya sehingga hal spele pun bisa menjadi besar jika bersangkutan dengan kesayangannya itu.
Sementara itu, Bianca masih diam di ruangan Bima. Dia begitu tidak mengerti dengan sikap Bima barusan. Bahkan pria itu sampai pergi dengan terburu-buru. Apa yang telah terjadi sampai Bima begitu panik seperti itu? Entahlah.. Bianca benar-benar baru melihat kepanikan seorang Bima kali ini.
Pintu ruangan terbuka dan muncul seorang kemanan yang tadi "Maaf Nona, anda harus segera pergi"
Bianca mengangguk lemah "Tidak perlu menyeretku! Aku bisa jalan sendiri"
Keamanan itu mengangguk dan mengikuti langkah Bianca dari belakang. Menutup kembali pintu ruangan Bima dan memastikan semuanya aman.
Bersambung
Yang belum baca kisah Yudha, langsung mampir ya di Light Of My Life.. Kalian akan di suguhkan dengan kebucinan seorang Yudha..
Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga.. terimakasih..
__ADS_1
Pantengin juga novelku yang baru.. Benteng Penghalang Kita. Apa yang menjadi penghalang Seira dan Ganesha untuk bisa bersatu? Entahlah.. bisa langsung di baca ya.. di tunggu dukungannya..