
Akhirnya Bima bisa bernafas lega setelah mengetahui keadaan istri dan calon bayinya baik-baik saja. Kegelisahan yang dia rasakan sepanjang malam, kini menguap seketika. Yang dia rasakan saat ini hanya kebahagiaan yang tidak terbandingkan dengan apapun di dunia ini.
"Mau apa?"
Bima langsung menahan tangan Hasna yang ingin meraih sesuatu di atas nakas, dengan tubuhnya yang setengah berbaring di atas ranjang pasien.
"Mau pinjem ponsel kamu, aku khawatir sama Hisyam"
Jelas Hasna akan mengkhawatirkan keadaan adiknya. Sejak kemarin dia di rawat di rumah sakit ini, tidak ada kabar dari adik laki-lakinya itu. Hasna takut jika sekarang Hisyam sedang mencemaskan keadaannya.
Mengingat dulu, Hisyam selalu cemas berlebihan saat Kakaknya sakit. Hasna mengerti apa yang dirasakan Hisyam. Anak itu hanya takut kehilangan lagi. Cukup Hisyam kehilangan orang tua mereka, jangan lagi dengan Kakaknya ini.
"Dia baik-baik saja, aku sudah menjelaskan tentang keadaanmu padanya. Sengaja aku melarang dia untuk datang kesini, aku tidak ingin sekolahnya akan terganggu juga tidak baik untuknya berada di lingkungan rumah sakit"
Bima memang sempat pulang ke rumah untuk mengambil beberapa keperluannya dan Hasna selama istrinya itu di rawat di rumah sakit. Dan saat dia sampai di rumah, tentunya Hisyam telah menunggunya dan menanyakan keadaan Kakak perempuannya itu. Terlihat sekali kekhawatiran dan cemas di balik mata anak itu.
"Kakak baik-baik saja 'kan?"
Pertanyaannya yang menyiratkan seberapa khawatir dan cemasnya dia tentang keadaan Kakaknya sekarang. Jujur, Bima merasa tersentuh dengan kasih sayang Hisyam pada Hasna.
Kau sangat beruntung, Asna. Memiliki adik yang benar-benar menyayangimu.
"Kau tenanglah, Kakakmu baik-baik saja...."
"Dan kau akan segera memiliki keponakan"
Bima menepuk bahu Hisyam saat mengatakan itu. Membuat anak laki-laki itu terhenyak dengan perkataannya. Tapi, beberapa detik kemudian Hisyam tersenyum.
"Alhamdulillah.. Jaga Kakak ku baik-baik ya, Kakak Ipar"
Bima tersenyum, lagi-lagi dia menepuk bahu Hisyam "Tanpa kau suruh, aku akan selalu menjaga Kakakmu..."
__ADS_1
"Kau sekolah saja yang benar, keadaan Kakakmu baik-baik saja. Tidak perlu datang ke rumah sakit karena akan mengganggu istirahatnya, saat ini Kakakmu itu harus banyak istirahat"
Begitulah percakapan Bima dan adik iparnya. Meski keduanya memiliki sifat yang hampir sama, tapi keduanya memiliki kepedulian dengan caranya masing-masing.
"Tapi, aku ingin berbicara dengan Hisyam. Ponsel aku gak kamu bawa dari rumah?"
Bima menggeleng menjawab pertanyaan Hasna. Dia tidak ingat dengan ponsel milik istrinya. Saat dia pulang ke rumah, yang dia ingat hanya semua keperluan Hasna dan dirinya selama berada di rumah sakit. Itu pun pelayan yang menyiapkan semuanya.
"Yaudah kalo gitu, aku pinjem ponsel kamu"
Akhirnya Bima meraih ponselnya yang dia letakan di atas nakas. Memberikannya pada Hasna yang langsung meraihnya dengan semangat. Mungkin memang istrinya itu sudah sangat merindukan adiknya.
Hasna langsung menelpon nomor ponsel Hisyam yang di belikan oleh Bima untuk keperluan sekolahnya.
"Assalamualaikum, ada apa Kakak Ipar? Apa Kakak baik-baik saja"
Hasna tersenyum mendengar nada khawatir dari adik laki-lakinya itu. Betapa beruntungnya dia bisa memiliki Hisyam di saat orang tuanya meninggalkannya di usia remaja.
"Syam, ini Kak Na. Kamu gimana keadaannya? Kakak baik-baik saja kok, calon keponakan kamu juga baik"
Hasna tersenyum sambil melirik suaminya yang duduk diam di kursi samping rajangnya. "Iya gak papa, kamu baik-baik saja di rumah dan sekolahnya juga. Kakak akan segera pulang kok"
"Baiklah, Kakak baik-baik di sana ya. Cepat pulih dan segera pulang ke rumah. Syam kangen"
Hasna sedikit terkekeh mendengar ucapan rindu dari adiknya, tapi terdengar begitu kaku. "Iya, Kak Na juga kangen banget sama Hisyam"
Sudah seperti dugaan Hasna, suami over posesif nya itu langsung melirik tajam ke arahnya saat mendengar ucapannya barusan. Bahkan kepada adiknya saja, Bima tidak suka Hasna mengatakan kata-kata seperti itu. Karena Hisyam tetap laki-laki untuk Bima. Hah...begitulah kalau sudah bucin..
"Udah dulu ya Syam, Kakak Iparmu marah tuh karena Kakak bilang kangen sama kamu" bisik Hasna di teleponnya.
Hisyam terkekeh kecil mendengarnya "Iya Kak, Kakak Ipar memang posesif sekali"
__ADS_1
Akhirnya Hasna mengucapkan salam, lalu dia mematikan sambungan teleponnya. Dia melirik ke arah Bima yang masih menatapnya dengan lekat.
"Nih ponselnya, terimakasih Sayang"
Dengan sengaja Hasna memasang mimik wajah seimut mungkin agar Bimanya luluh dengan kekesalannya yang sebenarnya tidak lazim itu.
"Ck. Pada adikmu saja kau mengatakan kangen banget, padahal baru dua dua hari kau berada disini. Apa kau tidak merindukan ku juga?"
Pertanyaan macam apa itu? Bima selalu berada di sampingnya, tapi dia menanyakan hal itu pada Hasna. Seolah dia telah pergi jauh dan baru kembali.
Tidak ingin semakin mengacaukan mood laki-laki itu. Hasna hanya mampu tersenyum dan mengikuti kemauan Bima.
"Aku juga sangat merindukanmu Sayang. Mana mungkin aku tidak merindukanmu. Kamu 'kan suami tercintaku" Juga suami terposesif yang aku cintai.
Bima tersenyum mendengarnya, dia hanya senang mendengar kata-kata cinta yang keluar dari mulut Hasna. Bima ingin Hasnanya terus menunjukan perasaan cinta padanya. Dia selalu senang mendengar kata-kata cinta dari mulut wanitanya itu. Membuat Bima merasa begitu dicintai.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
"Nona tetap harus istirahat total, tidak anda terlalu banyak pergerakan apapun di rumah nanti. Apalagi mengerjakan pekerjaan rumah dan lainnya. Sangat tidak boleh karena kandungan anda dalam keadaan lemah, harus tetap di suntikan penguat satu bulan sekali. Karena pendaharan di usia kehamilan dini kemarin"
Hasna hanya bisa menurut apa yang di katakan dokter. Dia memang sudah bisa pulang setalah lima hari di rawat inap di rumah sakit ini.
Namun, dia tetap harus istirahat total di rumah nanti. Sudah pasti akan membosankan bagi Hasna yang selalu ingin beraktifitas apapun di rumah. Meski hanya membantu pelayan mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi sekarang Hasna benar-benar harus kuat dan sabar. Dia hanya perlu diam, dan memperhatikan kehamilannya.
"Baik Dok"
Setelah penjelasan panjang lebar dari dokter tentang apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan oleh Hasna di rumah nanti. Dan apa saja yang boleh dimakan dan yang tidak. Tentu juga ada penjelasan rahasia yang hanya dokter jelaskan pada Bima saja.
Aku benar-benar bagai mendapat cobaan besar. Berpuasa sampai bayi ini lahir, oh nak.. kenapa kau begitu menyusahkan aku saat baru di dalam kandungan saja.
Bersambung
__ADS_1
Wahh.. apa yang dokter jelaskan pada Bima ya.. hahaha. Sampai Bima frustasi begitu..
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..