You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Pelukan Hangat


__ADS_3

Baru saja Hasna akan terlelap, namun perutnya kembali terasa sakit. Sangat teramat sakit, sepertinya faktor kelelahan juga karena dia yang bekerja lembur.


Hasna berguling ke sana kemari dengan gelisah. Tangannya terus menekan perut yang terasa begitu menyakitkan.


"Duh kenapa sakit banget si"


Hasna bangun terduduk di atas tempat tidur. Dia begitu tersiksa dengan rasa sakit di perutnya ini. Dia terus meringis kesakitan dengan kedua tangan yang menekan di bagian bawah perut.


Ceklek..


Suara pintu yang terbuka mengalihkan pandangan Hasna. Dia menatap pria yang berdiri di ambang pintu dengan memegang handuk kecil di tangannya.


"Sa-sayang" Kenapa dia masih disini? Aku kira sudah pulang dari tadi.


Bima berjalan mendekat ke arah Hasna setelah menutup pintu kamar. Pria itu duduk di atas tempat tidur Hasna yang tergeletak begitu saja di atas lantai yang beralaskan karpet.


"Masih sakit perutnya?" Tanya Bima, begitu lembut dan penuh dengan perhatian.


Apa ini? Kenapa dia selembut ini?


"Geser" kata Bima sambil membantu Hasna untuk sedikit menggeser duduknya.


Setelah ada ruang kosong untuknya, Bima segera naik ke atas kasur dan menempatkan bantal di dinding. Lalu dia duduk menyandar ke dinding kamar, dengan bantal sebagai tumpuan.


Bima melebarkan kakinya, dan menepuk ruang kosong di depannya "Sini, duduk sini"


Hah??


Hasna terkesiap mendengar ucapan Bima, dia menatap tempat kosong yang di maksud oleh pria itu. Duduk di depannya dengan kedua kaki Bima berada di sisi kiri dan kanannya.


"Cepatlah, jangan banyak membuang waktu"


"Ta-tapi..." Hasna merasa ragu dengan perintah Bima kali ini. Pria itu menyuruhnya duduk tepat di depannya.


"Cepat!!"


Suara Bima sudah naik satu oktaf, pria itu benar-benar menginginkan Hasna duduk di depannya. Ini adalah perintah yang tidak bisa di bantah.


Akhirnya Hasna menurut, beringsut mendekat ke arah Bima dan duduk tepat di depan Bima. Terkesiap saat tiba-tiba tangan kekar memeluknya dari belakang. Bima menyimpan handuk kecil tadi di perut Hasna.


Hangat.. Apa ini?

__ADS_1


Hasna memegang tangan Bima yang berada di perutnya dan meraba-raba handuk kecil itu. Ternyata handuk kecil itu di pakai Bima untuk membalut botol yang sudah dia isi dengan air panas.


"Diamlah, kompres dengan air panas seperti ini bisa meredakan sakit. Atau kau mau ke rumah sakit saja sekarang?" Kata Bima


Hasna menggeleng pelan "Tidak usah, begini saja sudah cukup. Terimakasih Sayang"


"Hmm. Sekarang kau tidurlah, kau sudah lelah seharian ini. Sekarang waktunya istirahat saja"


Bagaimana aku bisa tidur jika posisinya seperti ini. Jantungku berdebar terus menerus dan semakin kencang.


Bima menyandarkan kepala Hasna di dadanya. "Tidurlah, jangan banyak bergerak"


Deg...deg..deg..


Bagaimana Hasna bisa tidur jika posisi mereka yang seperti ini. Bima benar-benar memeluknya dari belakang dengan tangan yang mengompres perut Hasna dengan botol kecil berisi air panas yang di balut oleh handuk kecil.


"Pejamkan matamu" kata Bima yang menempelkan pipinya di kepala Hasna.


Hasna hanya mengangguk  kecil, lalu dia memejamkan matanya. Meski dadanya masih sangat berdebar, tapi kenyamanan yang dia rasakan. Rasa sakit di perutnya juga mulai mereda.


Senyaman inikah di peluk dengan orang yang kita cintai?


Pelukan Bima terasa begitu hangat dan nyaman untuk Hasna. Hingga tanpa sadar, gadis itu telah terlelap di pelukan Bima.


"Aku mencintaimu" lirih Bima, semakin mengeratkan pelukannya


Akhirnya Bima pun ikut terlelap dengan sendirinya. Dia juga merasakan kenyamanan yang sama saat dia memeluk Hasna. Sepertinya keduanya telah memiliki kenyamanan masing-masing. Cinta telah menyatukan mereka yang memiliki sifat dan cara berfikir yang berbeda.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Hasna terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi. Dia mengerjap dan melihat ke bawah, dimana tangan kekar itu masih melingkar sempurna di perutnya. Hasna sedikit terkejut, dia sedikit menjauhkan tubuhnya dari Bima. Dada pria itu pasti terasa sakit karena Hasna benar-benar menyandarkan kepalanya dengan nyaman di sana.


Aku kira semalam itu mimpi, ternyata beneran ya.


Hasna mengangkat tangan Bima dengan perlahan, lalu dia melepaskan diri dari pelukan pria itu. Hasna memperbaiki posisi Bima, membenarkan bantal yang menjadi sandaran pria itu. Lalu, dia menyelimuti pria itu.


Dia terlihat begitu tampan saat tertidur seperti ini.


Hasna berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya. Dia akan bersiap untuk bekerja dan menyiapkan sarapan. Rasa sakit di perutnya sudah membaik.


Hasna membangunkan Hisyam untuk segera melaksanakan kewajiban nya. Setelah itu dia pergi ke dapur untuk segera menyiapkan sarapan.

__ADS_1


"Kak, Syam mau berangkat dulu ke mesjid ya" teriak Hisyam saat keluar dari kamarnya, anak itu telah siap dengan baju koko dan sarung yang di pakainya.


Saat bersamaan pintu kamar Hasna terbuka. Bima keluar dari sana, masih dengan wajah mengantuk.


"Mau kemana Syam?" Tanya Bima


Hisyam menoleh ke arah Bima, anak laki-laki itu sedikit terkejut melihat Bima keluar dari kamar Kakaknya. Untuk pertama kalinya Hasna mengizinkan seorang pria masuk apalagi tidur di kamarnya.


Hasna masuk ke dalam ruang tengah dengan pisau dapur yang di bawanya, gadis itu sedang memotong sayuran dan beberapa bahan yang akan dimasak untuk sarapan nanti.


"Loh Tu..Eh Sayang, sudah bangun ya" kata Hasna yang langsung menghampiri mereka.


Uhuk..uhuk...


Hisyam sampai terbatuk-batuk mendengar Hasna memanggil Bima seperti itu. Reaksi spontan nya itu langsung mendapatkan tatapan tajam dari Bima.


"Hehehe. Maaf Tuan, aku sedang sakit tenggorokan" kata Hisyam beralibi dengan cengengesan


Duh Syam, kamu ini benar-benar tidak tahu situasi deh.


"Yaudah Kak, aku mau berangkat ke mesjid dulu ya" pamit Hisyam sambil mencium punggung tangan Kakaknya.


"Tunggu! Aku ikut" kata Bima sedikit berteriak


Hisyam dan Hasna menoleh ke arah Bima, mereka cukup terkejut dengan teriakan pria itu. Namun, beberapa saat kemudian Hasna tersenyum akan hal itu.


"Baiklah, Sayang ambil wudhu dulu. Biar aku bawakan pakaian bersih untuk sholat nya" kata Hasna tersenyum


"Aku tunggu di sini Kakak Ipar" kata Hisyam santai, anak itu berjalan ke arah kursi dan duduk disana


"Ehh. Hisyam, jangan memanggilnya seper..."


"Lanjutkan, aku suka panggilan barumu anak kecil" kata Bima datar, sambil berlalu ke arah dapur


Adik Kakak itu saling tatap, lalu menggelengkan kepala heran dengan sikap Bima itu.


"Sudahlah Kak, dia suka dengan panggilan baru ku itu" kata Hisyam


Hasna hanya mengangkat bahu acuh, dia berlalu ke kamar untuk mengambilkan pakaian ganti untuk Bima. Hasna menyimpan beberapa potong pakaian bekas mendiang Ayahnya. Dan pasti muat untuk Bima pakai.


Bersambung

__ADS_1


Hari senin nih.. kasih vote sama hadiahnya ke novel You Are My Life ya. Ditunggu dukungan kalian.. jangan lupa like dan komen di setiap chapter... terimakasih


__ADS_2