
Resepsi pernikahan yang sederhana, namun tetap mengesankan. Banyak tamu undangan yang datang dan pergi. Sepasang pengantin yang terlihat berbinar bahagia. Hasna juga ikut tersenyum senang saat melihat senyuman sepasang pengantin yang sedang bahagia ini.
"Tersenyum pada siapa kau?!" pertanyaan yang mengandung ketidak sukaan dalam nada bicaranya itu membuat senyuman Hasna luntur seketika.
Mereka baru saja sampai di tempat ini, bahkan belum mengucapkan selamat pada pasangan pengantin baru itu. Namun, Bima sudah membuat ulah yang membuat Hasna jengah. Berbicara panjang lebar dengan point yang sama. Bima hanya ingin Hasna untuk tidak melihat dan menebar senyuman pada pria lain, bahkan pada pengantin pria pun Hasna di larang untuk tersenyum. Bukankah itu sudah gila? Ya.. Memang Bima sudah menjadi pria gila setelah jatuh cinta pada Hasna.
"Ayo kita temui dulu pengantin nya" ajak Hasna, sengaja mengalihkan pembicaraan yang sebenarnya tidak perlu di bicarakan.
Hasna menarik tangan Bima untuk segera menemui pasangan pengantin di pelaminan. Bima menatap tidak suka pada wajah Hasna yang terlihat antusias itu. Padahal Hasna antusias karena ikut bahagia dengan pernikahan Ustadz Zaki dengan wanita cantik yang setara dengannya. Hasna tahu jika Ustadz Zaki adalah orang baik dengan ilmu agama yang baik. Jadi, sudah sepantasnya dia mendapatkan wanita yang setara dengannya.
"Kau bahagia sekali bertemu dengan pria yang hampir menikahimu itu" kata Bima dingin, pria itu selalu saja kesal saat mengingat jika Hasna hampir di lamar pria lain dulu. Meski gadis itu menolak, tapi tetap saja Bima merasa tidak suka saat Hasna menunjukan ekspresi wajah yang antusias saat bertemu dengan pria yang hampir melamarnya itu.
Masih saja di bahas, dia ini memang pendendam ya.. Sampai hal yang sudah berlalu saja masih di ingat-ingat sampai sekarang.
Hasna menghentikan langkahnya yang hampir sampai di pelaminan, dia harus mengurus prianya dulu. Sebelum Bima melakukan hal-hal di luar nalar , mengingat sifat overprotektive Bima pada Hasna.
"Aku hanya ikut senang melihat Ustadz...." Lagi-lagi Bima memberikan tatapan tajam menusuk di saat Hasna hampir menyebutkan nama pria lain di depannya. "Maksudnya, aku senang melihat kedua mempelai bahagia dengan pernikahan ini. Mereka terlihat serasi"
Lagian kenapa kalo aku menyebutkan nama Ustadz Zaki. Lagian itu semua tidak akan mengurangi rasa cintaku padanya. Dia yang selalu ada di hatiku dan berhasil membuat aku jatuh cinta dengan sikap dingin tak tersentuhnya itu.
"Kita jangan terlalu lama disana, pokoknya kau jangan berbicara macam-macam pada pria itu" titah Bima dengan tatapan dingin
Bicara macam-macam apa maksudnya coba? Memangnya aku mau bicara apa?
"Iya Sayang, jangan cemberut gitu dong. Nanti kita terlihat seperti pasangan yang pura-pura kalau wajah kamu seperti itu" rayu Hasna agar Bima merubah ekspresi wajahnya. Bukan cemberut, tapi datar dan dingin. Mengeluarkan raut wajah yang menakutkan untuk orang yang berhadapan dengannya.
"Kau bilang apa? Kau anggap hubungan kita ini hanya pura-pura hah?" kata Bima dengan teriakan tertahan, dia kesal dengan ucapan Hasna itu.
__ADS_1
Tuhkan, benar dugaanku. Memang dia akan bertingkah seperti ini jika aku belum meluluhkannya.
Bima memang akan bersikap seperti anak kecil yang takut jika mainan miliknya di ambil orang lain. Hal kecil saja yang menyangkut Hasna semuanya akan menjadi hal yang besar untuk Bima. Pria itu tidak ingin Hasnanya di ambil orang atau dia yang tertarik pada pria lain selain dirinya. Bima takut hal yang terjadi pada Bianca, akan terjadi juga pada Hasna. Takut, jika wanitanya pergi meninggalkannya dan kembali dengan pengkhianatan.
Benar... Bima memang trauma dengan hal yang terjadi pada hubungannya dan Bianca. Namun, dia tidak ingin menunjukan kerapuhan nya itu. Bima terluka dengan kenyataan yang ada, bahkan dia lebih terluka saat tahu kenyataan Bianca telah mengkhianatinya selama ini. Sementara Bima telah menolak Hasna secara terang-terangan demi menjaga hati wanita yang dia tunggu selama 21 tahun itu. Yang ternyata wanita itu yang telah membuatnya terluka.
Hasna merangkul tangan Bima, dia tahu jika prianya itu hanya perlu pengakuan Hasna sebagai kekasihnya. Bima hanya ingin Hasna hanya menatapnya, mencintainya, dan tidak sedikit pun melirik orang lain. Hasna tahu itu.
Tapi, dia juga manusia biasa yang terkadang jika bertemu orang lain yang dia kenal sudah pasti akan menyapanya dan tersenyum ramah padanya. Dan itu manusiawi, hanya saja Bima tidak suka itu dan sepertinya Hasna harus mulai mengerti situasinya sekarang. Mengerti apa yang diinginkan Bima dan yang tidak pria itu sukai.
"Sudah, ayo kita segera mengucapkan selamat pada pasangan pengantin. Setelah itu kita langsung pulang, sekalian ajak Hisyam" kata Hasna, dia harus bisa mengalah dengan sikap overprotektive nya Bima.
Hasna melanjutkan langkahnya, dengan sedikit menarik paksa pria di sampingnya. Sepertinya, Bima masih kesal atau memang pria itu hanya ingin menunjukan wajah dinginnya itu pada semua orang disini. Sepertinya memang begitu.
"Selamat ya Ustadz, semoga jadi keluarga bahagia dan selalu dalam ridha Allah" kata Hasna sambil menangkupkan kedua tangannya di dada, dia cukup mengerti jika Ustadz Zaki ini memang tidak suka bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya. Meski hanya sekedar berjabat tangan perkenalan saja.
"Terimakasih ya Na, syukur Asna mau datang" kata Ustadz Zaki
Hasna kikuk sendiri, itu memang panggilan Ustadz Zaki saat dulu Hasna juga pernah menjadi murid ngajinya saat dia masih sekolah. Tapi, masalahnya sekarang ada seseorang yang bangga dengan panggilan itu padanya. Sudah pasti akan ada yang kesal dengan ini.
Hasna melirik ke arah Bima yang menatapnya dingin, dia tidak suka saat panggilan kesayangannya pada Hasna di ucapkan oleh orang lain. Hasna memilih menggeser posisinya dan menyalami pengantin wanita yang begitu cantik dan anggun. Memeluknya dan mengucapkan selamat dengan tulus.
"Emm. Maaf Tuan, saya tidak izinkan anda memanggil calon istri saya seperti itu!"
Hasna hampir menjatuhkan tubuhnya karena malu dengan sikap Bima ini. Disaat seperti ini, Bima masih bisa mempermasalahkan panggilan itu di depan dua orang yang menjadi tokoh utama di acara ini.
"Eh. Gak papa?" tanya si pengantin wanita yang terkejut melihat Hasna hampir saja terjatuh
__ADS_1
Hasna menggeleng sambil tersenyum kikuk "Tidak papa Kak"
Ya Tuhan, kenapa dia segila ini.
Ustadz Zaki menatap bingung pada Bima, dia sangat bingung dengan ucapan Bima. Panggilan apa maksudnya, dia hanya memanggil Hasna dengan biasa. Tidak ada keistimewaan apapun dalam panggilannya pada Hasna.
"Oh maaf jika anda tidak suka dengan ucapan saya. Saya mohon maaf atas ucapan saya barusan" kata Ustadz Zaki, meski dia tidak tahu dimana letak kesalahannya
Bima menatapnya datar, dia mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh tangan Ustadz Zaki "Selamat atas pernikahan kalian"
Bima sedikit mendekatkan wajahnya ke Ustadz Zaki, lalu dia berbisik "Jangan lagi memanggilnya Asna, karena itu hanya panggilan kesayanganku padanya!"
Ustadz Zaki mengangguk dengan wajah hampir tertawa. Jadi itu yang membuat dia marah. Syukurlah Asna memiliki pria yang begitu mencintainya. Eh.. Tidak boleh panggil Asna lagi.
Hasna menatap bingung pada wajah Ustadz Zaki yang seperti menahan tawa, sementara Bima masih saja berwajah dingin dan datar.
Bima segera menarik tangan Hasna dan mengajaknya turun dari pelaminan dan segera pergi dari acara ini.
"Maaf ya Ustadz, calon suami Na memang agak aneh" kata Hasna sedikit berteriak karena Bima terus menariknya menjauh dari sana
Calon suami?
Bima tersenyum senang mendengar ucapan Hasna, dia senang karena Hasna menunjukan kepemilikan nya. Saking senangnya, Bima bahkan tidak sadar dengan Hasna yang mengatainya aneh. Haha..
Bersambung
Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga ya.. terimakasih
__ADS_1