
Jam 4 sore, saatnya pekerja bagian shift pagi pulang dan di gantikan oleh pekerja lainnya. Namun, kali ini Hasna tetap berada di tempat kerjanya karena dia harus lembur.
"Duluan ya Na"
"Iya Mbak, hati-hati ya"
Hasna berjalan menuju tangga darurat, tugas temannya ini berada di lantai 3 dan 4 sementara Hasna selalu bekerja di lantai satu dan dua. Memang semua office girl yang bekerja di hotel ini mempunyai jatah kerja masing-masing. Mereka di tempatkan 15 sampai 20 orang untuk membersihkan dua lantai di hotel ini.
Berjalan melewati tangga dari lantai satu menuju lantai tiga cukup melelahkan untuk Hasna. Apalagi sedari tadi perutnya begitu sakit, tadi siang dia kedatangan tamu bulanan. Dan sudah biasa jika sedang datang bulan maka Hasna akan selalu kesakitan.
Dia berhenti sebentar di anak tangga terakhir menuju lantai dua. Masih harus melewati beberapa anak tangga lagi untuk sampai ke lantai tiga. Lift yang di khususkan untuk pekerja bagian kebersihan rusak dan sedang dalam perbaikan. Jadi terpaksa semua pekerja bagian kebersihan harus naik tangga darurat untuk beberapa hari sampai lift kembali bisa di gunakan.
Hotel berbintang ini, memang menyediakan lift yang berbeda, untuk karyawan dan tamu dan para petinggi hotel berbeda. Juga untuk para pekerja bagian kebersihan juga berbeda. Semuanya dia lakukan untuk kenyamanan tamu yang menginap di hotel ini.
Arghh..
Kenapa selalu saja seperti ini setiap datang bulan.
Hasna memegang bagian bawah perutnya dan mengerang kesakitan. Memang sudah biasa dengan sakit ini, setiap datang bulan pasti selalu seperti ini. Dan itu selalu membuatnya lelah dengan rasa sakit yang harus dia tahan apalagi jika sedang bekerja seperti ini. Hasna selalu tersiksa setiap dia datang bulan.
Sampai di lantai tiga, Hasna mulai mengerjakan tugasnya. Mengepel lantai dan membereskan kamar yang sudah di tinggalkan oleh para tamu. Jadi saat nanti ada tamu yang lain untuk menyewa kamar itu maka sudah kembali bersih dan nyaman untuk di tempati.
Semuanya Hasna kerjakan dengan sesekali merintih karena rasa sakit di perutnya. Dia benar-benar tersiksa dengan datang bulannya ini.
Huh...
Hanya bisa menghembuskan nafas berat saat rasa sakitnya benar-benar membuatnya tersiksa. Masih menunggu 2 jam lagi untuk bisa pulang. Namun, rasanya Hasna benar-benar tidak kuat dengan rasa sakit di perutnya.
Kuat Hasna, tinggal dua jam lagi. Kamu pasti bisa.
Tidak ada pilihan lain selain terus melanjutkan pekerjaannya. Sudah terlanjur menyanggupi untuk bekerja lembur kali ini. Maka dia harus bertanggung jawab atas pekerjaannya ini.
Hasna berjongkok dengan tangan memegangi perutnya, dia begitu kesakitan dan memang dia juga belum makan malam.
__ADS_1
"Na gak papa? Kamu sakit ya?" Seorang teman kerjanya yang bertugas mengantarkan makan malam ke setiap kamar tamu datang menghampirinya.
"Gak papa Kak, cuma lagi datang bulan aja" kata Hasna yang kembali berdiri
"Yakin gak papa?"
Hasna mengangguk yakin "Iya Kak"
"Yaudah kalo gak kuat kamu pulang duluan aja, minta izin sama kepala bagian kebersihan"
Hasna mengangguk saja, setelah temannya itu berlalu. Dia kembali mengerjakan pekerjaan yang belum selesai. Mengepel lantai lorong ruangan yang di sisi kanan dan kirinya adalah kamar tempat pengunjung hotel menginap.
Hasna berbalik cepat saat merasakan ada bayangan yang mengikutinya. "Siapa? Hallo.. ada siapa disana?"
Hening... Suasana terasa sepi, penghuni kamar ada yang sudah berada di dalam kamar mereka, ada juga yang masih di luar. Sehingga suasana terasa sangat sepi, Hasna berjalan pelan mendekati sebuah bayangan hitam di balik dinding. Meski takut, namun dia penasaran dengan siapa di balik bayangan itu. Sialnya dia hanya sendiri di lorong ini.
Dengan memegang erat gagang lap pel yang dia bawa, Hasna memberanikan diri untuk terus mendekat ke arah bayangan hitam itu.
Cekrek...
Hasna mematung untuk beberapa saat, sampai dia tersadar jika orang itu telah berlari meninggalkannya. Hasna ingin mengejarnya, tapi perutnya semakin sakit membuat dia terjatuh di lantai dengan tangan memegangi perutnya yang teramat sakit.
"Heyy.... Tunggu"
Masih sempat berteriak saat rasa sakitnya semakin menjadi. Namun, orang itu telah menghilang masuk ke dalam lift. Ehtahlah siapa dia, Hasna benar-benar tidak tahu. Dia merasa tidak punya musuh sama sekali.
"Huh.. Kenapa perutku semakin sakit di saat seperti ini si. Aku jadi tidak bisa mengejar orang itu" kesal Hasna pada dirinya sendiri
Saat dia masih meringis kesakitan, temannya datang menghampiri Hasna saat tadi dia samar medengar suara teriakan gadis itu.
"Na, kamu kenapa? Udah pulang aja ya. Sebentar lagi juga udah waktunya pulang. Kamu jangan maksain, lihat wajahmu sudah pucat begitu"
Dia membantu Hasna untuk bangun dan memapahnya untuk duduk di kursi yang ada di sana.
__ADS_1
"Kamu pulang aja ya, biar aku izinin sama kepala bagian kebersihan"
Saat mereka masih duduk di sana, seseorang menghampiri mereka. Dia menatap cemas ke arah Hasna yang terlihat pucat.
"Ada apa ini?" Ryan berdiri di depan mereka
"Hasna sakit Pak, dia sedang datang bulan" jelas teman Hasna itu
Ryan langsung memegang wajah Hasna yang pucat pasi "Na, kita pulang aja. Atau kita ke rumah sakit aja, wajah kamu pucat begini"
Hasna menggeleng pelan "Tidak perlu Pak, saya hanya perlu istirahat saja"
"Yasudah, kamu biar saya antar pulang kalau begitu. Saya tidak mungkin membiarkan karyawan saya kesakitan dan membiarkannya pulang sendirian" jelas Ryan, takut menimbulkan gosip tidak jelas di kantornya karena mengantarkan office girl yang sedang sakit.
"Kamu tolong ambilkan tas Hasna dan bawa ke parkiran. Hasna biar saya yang membawanya" kata Ryan pada teman kerja Hasna itu
"Baik Pak"
Ryan segera menggendong Hasna dan membawanya menuju lift dan masuk ke dalam kotak besi itu. Ryan menatap Hasna dengan cemas, wajahnya benar-benar pucat dan terlihat begitu lemah.
"Kak turunin aku, nanti ada yang liat" lirih Hasna dengan suara lemahnya
"Sudahlah kamu diam saja, aku bisa memberikan alasan jika kau sakit dan aku hanya membantu karyawanku" kata Ryan
Ting..
Pintu lift terbuka, Ryan segera melangkah keluar dengan tergesa menuju parkiran.
Cekrek.. cekrek...
Kilatan cahaya kamera berhasil menangkap gambar mereka tanpa Ryan dan Hasna sadari.
Pria yang memakai jaket hitam dan topi hitam itu tersenyum misterius. "Akhirnya tugasku selesai"
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter... kasih hadiahnya juga ya..