
Hisyam menatap ngilu pada Kakaknya yang memakan rujak buatannya itu seperti orang kelaparan. Bahkan, Hasna memakan mangga muda yang sudah pasti rasanya sangat asam itu dengan biasa saja. Tidak ada ekspresi keasaman sekali pun dari wajahnya saat memakan mangga muda itu.
"Gak asam ya Kak?"
Hasna menatap Hisyam, masih dengan mengunyah mangga muda yang sudah di cocol ke bumbu rujak yang Hisyam buat.
"Gak Syam, ini seger banget"
"Yaudah, Kakak makan saja. Tapi jangan kebanyakan juga nanti sakit perut. Kasihan bayinya"
Hasna mengangguk dan tersenyum mendengar perhatian dari Hisyam. Dia benar-benar memberikan perhatiannya pada sang Kakak dan itu membuat Hasna terharu.
"Syam ke kamar dulu ya, mau ngerjain tugas"
Hasna mengangguk "Iya, makasih ya udah mau buatin Kakak rujak"
"Iya Kak, sama-sama"
Hisyam pun berlalu ke kamarnya. Dia duduk di kursi depan meja belajar nya. Mengambil buku tugas hari ini dan mulai mengerjakan tugasnya. Namun saat dia baru saja menulis beberapa kata, tiba-tiba fikirannya terbayang pada kejadian tadi siang saat dirinya membeli mangga muda untuk Kakaknya.
Hisyam sedang memilih milih mangga muda di sebuah toko buah segar di depan komplek perumahan tempat tinggalnya. Saat tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya.
"Kamu adiknya Hasna Amalia 'kan?"
Hisyam menatap bingung pada dua perempuan di depannya ini. Dia merasa pernah melihat wajah dua wanita itu. Namun, Hisyam lupa dimana. Akhirnya dia lebih memilih mendiamkan mereka dan kembali fokus pada memilih mangga muda untuk Kakaknya.
"Hebat banget, kalian bisa tinggal di perumahan mewah ini. Kakakmu kerja apa sekarang? Ngela*cur ya.. Hahaha"
Ucapan itu bagaikan lelucon bagi dua wanita di depan Hisyam ini. Keduanya bahkan tertawa terbahak dengan ucapannya yang jelas-jelas telah merendahkan harga diri orang lain.
Tangan Hisyam mengepal kuat, dia tidak suka ada yang merendahkan Kakaknya. Apalagi dengan tuduhan yang sama sekali tidak Kakaknya lakukan.
"Iyalah, anak koruptor yang mati bunuh diri. Kalau gak jual di*ri apalagi yang bisa dia lakukan untuk tinggal di tempat mewah ini"
"Diam! Kau bukan siapa-siapa Kakak ku, tidak pantas untuk menilai kepribadian Kakak ku. Karena dia lebih baik dan lebih sempurna dari kalian"
Kedua wanita itu langsung terdiam, mereka seolah tidak menyangka jika Hisyam bisa melawannya dengan kata-kata kejam seperti itu. Mereka pun memilih pergi begitu saja meninggalkan Hisyam.
Hisyam menghela nafas berat mengingat kejadian tadi siang. Untungnya hanya dirinya yang bertemu dengan dua wanita tidak punya hati itu. Jika Kakaknya yang bertemu, sudah pasti dia akan sakit hati. Apalagi dia sedang hamil sekarang, sudah pasti akan berpengaruh pada kehamilannya.
__ADS_1
Semoga semuanya akan baik-baik saja selama kami berada disini.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Mulai merasa tidak nyaman di dalam perutnya ini. Entah pukul berapa sekarang, tapi Hasna sudah terganggu dalam tidurnya. Dia terbangun dengan seketika dan berlari ke arah kamar mandi.
Perutnya benar-benar terasa seperti di aduk-aduk sehingga ingin segera di keluarkan. Hasna menunduk di depan wastafell dan memuntahkan semua isi perutnya. Sampai benar-benar terasa pahit di lidahnya.
Dia mencuci wajahnya, lalu menatap dirinya sendiri di kaca wastafell. Kedua tangannya berpegangan erat pada sisi wastafell. Dadanya naik turun dengan cepat, keringat dingin bercucuran di dahinya. Sungguh hal seperti ini bukan pertama kalinya Hasna rasakan semenjak dirinya hamil.
"Asna Sayang, ada apa?"
Bima muncul dengan tergesa di balik pintu kamar mandi. Dia segera menghampiri istri tercintanya itu. Mengusap keringat dingin di kening sang istri.
"Muntah lagi" kata Bima dengan helaan nafas berat. Dia selalu merasa bersalah melihat istrinya yang kesulitan dalam masa kandungannya ini. "Gak papa, sekarang tidur lagi aja. Atau ada yang kamu inginkan?"
Hasna tiba-tiba langsung memeluk suaminya dengan erat dan menangis sesenggukan di dada suaminya. Entah apa yang sedang dia rasakan, tapi yang jelas Hasna merasa tidak nyaman dengan hatinya dan ingin menangis.
"Hey.. Kenapa?"
Bima panik sendiri dengan sikap Hasna ini, apalagi tiba-tiba wanitanya itu menangis tanpa sebab. "Ada yang sakit? Asna, kau kenapa?"
Hasna semakin erat memeluk suaminya dengan suara isakan lirih. "Hiks.. Aku hanya mau kamu itu gak pulang malam, aku gak bisa tidur kalo kamu belum pulang. Aku pengen kamu ngelus perut aku pas aku mau tidur. Tapi, sudah dua hari kamu malah pulang malam terus"
Bima tersenyum mendengar ucapan istrinya, dia mengecup puncak kepala Hasna. Sekarang dia tahu jika Hasnanya kesepian di malam hari saat dirinya belum kembali bekerja.
Bodoh!
Bima merutuki kebodohannya sendiri sekarang, tidak mengerti terhadap keinginan istrinya sendiri yang sedang mengandung.
"Sudah ya, aku janji mulai besok tidak akan pulang terlalu larut malam"
Hasna melepaskan lingkaran tangannya di pinggang Bima. Mendongak untuk menatap wajah suaminya. Hasna sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya yang tidak pernah manja pada sang suami. Tapi, saat ini Hasna benar-benar sangat ingin dimanjakan oleh suaminya. Selain itu, ada tujuan tersendiri dengan semua drama ini.
Sepertinya bisa deh sekarang untuk membicarakan nya.
"Sayang"
Bima mengangkat salah satu alisnya, menatap Hasna dengan penuh tanya atas panggilannya itu. "Apa?"
__ADS_1
"Aku sudah boleh keluar kamar ya.. Plisss"
Bima mulai mengerti sekarang, kenapa Hasnanya tiba-tiba berubah manja. Memeluknya dengan seperti itu dan tiba-tiba menangis membuat Bima takut saja.
"Jadi, semua ini untuk merayuku agar bisa keluar dari kamar?" Tanya Bima dengan tatapan menyelidiknya, dia tidak marah pada Hasna. Hanya sedikit kesal karena telah membuatnya panik, tapi ujung-ujungnya ada yang dia inginkan.
Duh.. Dia sadar lagi dengan semua rencanaku. Tapi 'kan muntah-muntah tadi bukan bagian dari rencanaku. Aku hanya mengambil kesempatan saja.
"Ish.. Sayang, aku itu lagi hamil. Jadi semua keinginan aku harus kamu turuti loh. Kalo enggak, nanti anak kita ileran. Kamu mau memangnya?"
Hasna berkata seperti itu dengan tangan mengelus perutnya yang masih rata dan ekspresi wajah yang di buat seimut mungkin agar Bima bisa luluh dan menuruti keinginannya itu.
Bima menghela nafas berat melihat tingkah laku Hasna yang menggemaskan itu. Tidak tahukah jika semua itu membuat Bima harus menahan hasratnya untuk tidak menerkamnya saat ini. Bima tetap mengingat pesan dokter saat itu.
"Tapi ini bukan bagian dari keinginan bayi kita. Ini adalah keinginanmu sendiri, iya 'kam Hasna?"
Hasna cemberut mendengarnya, memang benar ini semua adalah keinginannya. Tapi bayinya juga pasti ikut senang jika ibunya senang.
"Sayang.. Plisss.. Aku 'kan bosen berada di dalam kamar terus. Lagian aku sudah tidak papa"
Hah..
Bima menghembuskan nafas berat, dia tahu jika apa yang dia lakukan terlalu berlebihan untuk istrinya. Tapi, percayalah.. Bima hanya takut jika terjadi sesuatu pada Hasna dan calon bayi mereka. Karena untuk Bima, kesehatan dan keselamatan keduanya adalah yang terpenting untuk Bima.
"Baiklah, tapi hanya sebatas keluar kamar. Aku tidak mengizinkan kau untuk keluar rumah tanpaku!"
Setelah aturan pertama di hilangkan, muncul kembali aturan lainnya. Mungkin akan seterusnya seperti itu selama Hasna mengandung.
Baiklah.. Aku akan membujuknya lagi nanti.. Hehe
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga ya..
kalian bisa mampir juga di karya temanku..
Sebuah kisah tentang kehidupan rumah tangga
Pernikahan Tidak hanya cukup karena cinta tetapi butuh kedewasaan diri dan komitmen panjang untuk saling menghargai dan bertanggung jawab pada keluarga.
__ADS_1
Bila salah satu atau semua unsur tadi tidak ada maka bukan pernikahan impian dan kebahagiaan yang kita dapatkan tetapi Neraka dunia.