You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Sikap Manja Bima


__ADS_3

Beberapa Bulan berlalu...


Hubungan Hasna dan Bima semakin harmonis dan romantis. Meski terkadang terlibat sedikit cek cok atau perdebatan. Tapi, mereka tetap bisa mengatasi semuanya dengan baik. Tidak ada keegoisan di antara keduanya, selalu memikirkan perasaan pasangan masing-masing.


Apalagi melihat sifat Bima yang selalu overprotektive pada Hasna. Hasna sampai tidak bisa lagi berbicara atau hanya sekedar mengobrol dengan pria lain. Bahkan dengan Ryan pun Hasna hanya berbicara seperlunya saja.


Meski sedikit terkekang dengan sikap Bima ini, tapi Hasna tetap menghargai prianya. Memang seperti inilah cara Bima menunjukan cinta dan kasih sayangnya. Bima adalah pria yang tidak suka jika miliknya di ganggu oleh orang lain.


Tidak perlu di ragukan lagi cinta Bima itu, dia adalah tipe pria yang kalau sudah jatuh cinta pada seseorang. Maka dia akan selalu mencintainya sampai kapanpun. Kecuali dengan pengkhianatan. Cintanya akan memudar bahkan langsung lenyap saat ada pengkhianatan apapun diantara mereka. Seperti kisahnya dengan Bianca.


Proyek baru perusahaan Walton.Corp sukses besar, semuanya berjalan sesuai rencana. Bahkan supermarket itu langsung menjadi tujuan utama para Ibu rumah tangga yang membutuhkan bahan pokok dengan harga terjangkau. Perusahaan Yudha memang selalu mementingkan kepentingan orang lain yang membutuhkan bantuannya.


Jika tidak bisa memberi, maka berilah mereka yang kesusahan itu dengan sedikit keringanan.


Itulah visi Yudha dan Bima, setidaknya dengan adanya supermarket yang mereka dirikan di kota ini dengan semua barang yang di jual di dalamnya masih terjangkau oleh rakyat kecil, bisa sedikit mengurangi beban mereka.


"Besok aku kembali pulang ke Ibu Kota, mungkin saat ini akan sedikit lebih lama karena pekerjaan ku disini juga sudah selesai. Aku sudah harus kembali ke perusahaan, menjadi tangan kanannya Tuan Yudha" jelas Bima


Hasna menghela nafas, memang Bima sudah ada beberapa kali kembali ke Ibu kota. Tapi hanya sampai tiga hari atau paling lama satu minggu. Karena waktu itu proyek disini belum selesai.


"Yaudah gak papa" kata Hasna tersenyum


Hasna mencoba mengerti jika ini adalah tugas Bima. Bersyukur kekasihnya itu mempunyai atasan seperti Yudha. Bahkan saking percayanya Yudha pada Bima, untuk pemotongan pita saat pembukaan supermarket baru itu pun, Bima yang melakukan.


Jadi, pantas jika banyak orang yang menyangka jika Bima adalah si pemilik perusahaan Walton.Corp itu. Karena kedudukan dia itu sudah hampir setara dengan Yudha. Karena jika tidak ada Bima, maka Yudha juga bukan siapa-siapa. Walton.Corp juga tidak akan sebesar ini.

__ADS_1


Bima mengecup kening Hasna yang berada di pelukannya. Saat ini mereka sedang berada di apartemen Bima, tiduran di atas sofa bed dengan saling memeluk hangat.


"Mungkin aku akan kesini sekitar satu bulan sekali, seperti biasa aku akan mengecek perkembangan hotel disini dan juga supermarket itu" jelas Bima, dia juga berat meninggalkan kekasih hatinya. Tapi mau bagaiamana lagi, ini adalah tugas dan tanggung jawabnya.


"Lama juga yah" lirih Hasna, dia rasa tidak akan sanggup jauh dengan Bima selama itu. Memang mereka berdua sudah menjadi pasangan yang saling bergantung pada pasangan masing-masing. Keduanya telah menjadi candu masing-masing.


"Apa kau mau ikut saja ke Ibu kota, kau dan Hisyam pindah saja ke sana. Biar semuanya aku urus, Hisyam bisa pindah sekolah di sana dan aku akan memilihkan sekolah terbaik untuk anak itu" kata Bima, ini adalah caranya agar Hasna tidak jauh lagi darinya dan dia bisa bertemu dengan gadisnya setiap saat.


"Tidak, aku mau disini saja. Lagian aku juga kerja dan..."


Hasna seolah tidak bisa melanjutkan ucapannya. Pergi ke Ibu kota seperti mimpi buruk yang kembali terulang. Hasna belum siap untuk itu, apalagi jika harus kembali tinggal disana. Hasna masih belum bisa melupakan kejadian itu, kejadian dimana hidupnya benar-benar hancur.


Apa dia masih trauma dengan kejadian masa lalunya itu?


Hasna langsung mendongakan wajahnya dan menatap Bima, dia heran kenapa Bima selalu takut dengan hal yang tidak mungkin terjadi. Mana mungkin Hasna tega mengkhianati Bima sementara hatinya saja sudah sepenuhnya untuk pria itu.


"Tidak mungkin, aku tidak mungkin mengkhianatimu. Lagian kamu tahu sendiri jika aku yang lebih dulu jatuh cinta padamu. Masa aku mau menyia-nyiakan perjuanganku selama ini untuk bisa mendapatkanmu" jelas Hasna, memang benar adanya. Tidak mungkin untuk Hasna mengkhianati Bima. Pria yang dia perjuangkan selama ini.


Bima tidak menjawab, dia hanya semakin mengeratkan pelukannya. Trauma itu masih ada, Bianca juga dulu mengatakan untuk tidak akan pernah mengkhianatinya. Namun, pada kenyataannya dia tetap mengkhianati setiap kesetiaan Bima yang menunggunya selama ini.


Hasna melepaskan diri dari pelukan Bima "Sudahlah, ini sudah sore aku mau pulang"


Bima seolah berat melepaskan pelukan hangat yang dia rasakan saat memeluk gadisnya. Dia memegang tangan Hasna yang sudah duduk itu dengan posisi dia yang masih setengah berbaring di sofa bed.


"Nginep aja ya, kan besok aku pulang ke Ibu kota" kata Bima dengan tatapan memohon

__ADS_1


Hasna tersenyum, dia menarik Bima agar segera bangun dari malas-malasan nya itu "Tidak bisa, besok aku bekerja. Tidak mungkin berangkat dari sini"


Bima menurunkan kedua kakinya ke lantai, memakai sandal rumah dengan wajah di tekuk kesal "Besok tidak perlu bekerja saja"


Dia ini kenapa jadi manja begini? Apa dia melupakan wajah dingin menakutkannya itu.


Sungguh Hasna semakin di buat bingung dengan sikap Bima ini. Pria itu seolah berubah seratus persen, dia tidak lagi menunjukan wajah dingin menyeramkan nya saat di depan Hasna. Kecuali saat dia cemburu dan kesal pada Hasna.


"Tidak bisa Sayang, aku harus bekerja"


Bima menghembuskan nafas kasar mendengar jawaban Hasna. Gadis itu masih tetap dengan pendiriannya, bekerja sebelum mereka menikah. Bahkan Hasna tidak menerima unlimited card yang Bima berikan padanya. Hasna benar-benar tidak ingin merepotkan pria itu dan bergantung pada kekayaan kekasihnya.


"Yasudah, ayo biar aku antar kau pulang sekarang. Besok aku juga akan menjemputmu, sebelum pergi ke Ibu kota" kata Bima yang berdiri dengan malas dari duduknya itu.


"Iya Sayang, sekarang kamu ganti baju dulu sana. Sudah terlalu sore" kata Hasna


Bima melangkah menuju kamarnya, namun dia seperti tidak rela melepaskan Hasna. Apalagi mulai besok dia akan berjauhan dengan kekasihnya itu. Sungguh berat untuk Bima. (Lebay deh 😄)


"Cepatlah Sayang"


Hasna sedikit mendorong punggung Bima yang terus berbalik dan menatap ke arahnya. Berjalan ke kamarnya yang hanya berjarak beberapa meter saja, bisa memakan waktu berjam-jam jika Bima berjalan seperti itu.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya... Like komen di setiap chapter.. hari senin nih.. kasih hadiah dan vote nya ke novel You Are My Life ya.. Pliss... Kasih dukungan kalian, biar aku lancar nulisnya.. hehe

__ADS_1


__ADS_2