
"Setelah ini aku harap kau bisa menjalani hidupmu kembali seperti biasanya. Lupakan semua tentang perasaanmu, aku tidak yakin jika kau tidak akan terluka karenaku"
Perkataan Bima waktu itu selalu terngiang di telinganya. Hasna sudah kembali ke kota tempatnya tinggal beberapa hari yang lalu. Dia kembali ke runtinitas setiap harinya.
"Kiri Mang"
Hasna menghentikan angkutan umum yang di tumpanginya. Gadis itu turun setelah membayar ongkos jalannya pada supir angkutan umum yang dia naiki.
Berjalan masuk ke dalam gang menuju rumah kontrakan nya. Hasna telah sampai di depan rumahnya. Membuka sepatu dan menyimpannya di rak sepatu yang ada di teras rumah.
Ceklek
Hasna membuka pintu rumahnya "Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, udah pulang Kak" Hisyam menoleh ke arah Kakaknya. Anak laki-laki itu sedang duduk di atas karpet plastik di dekat televisi. Sepertinya sedang belajar, dengan buku dan alat tulis lainnya yang ada di sana.
Hasna mengangguk lalu berjalan menghampiri adiknya. Duduk di atas karpet dan melihat apa yang sedang di kerjakan oleh adiknya.
"Lagi belajar Syam" kata Hasna
Hisyam mengangguk "Iya Kak, hari senin sudah mulai ujian. Do'ain Syam ya supaya lancar mengerjakan soal ujiannya"
Hasna mengangguk sambil tersenyum, di elusnya kepala sang adik dengan sayang "Pasti, Kakak selalu do'ain yang terbaik untuk Hisyam"
"Yaudah Kakak mau mandi dulu ya, gerah. Kamu bisa beliin makanan untuk makan malam kita. Beli telur aja sama sayuran kalo ada. Nanti biar Kakak masak" kata Hasna
Hisyam mengangguk, dia menutup buku yang sedang di bacanya "Iya Kak"
Hasna merogoh dompet dari dalam ransel kecilnya. Mengeluarkan selembar uang berwarna biru dan menyodorkannya pada Hsiyam.
"Ini uangnya, beli telur ayam satu kilo, beli sayuran sama kerupuk. Udah itu aja, kalo masih ada kembalian Syam boleh jajan" kata Hasna
Hisyam mengangguk lalu anak itu berjalan keluar dari rumah. Sementara Hasna berlalu ke kamar mandi.
Hisyam kembali dari warung dengan belanjaan yang di pesan oleh Kakaknya. Hasna juga sudah selesai mandi dan berganti pakaian.
"Simpan di dapur saja Syam, Kak Na mau masak nasi dulu" kata Hasna sambil memasukan panci yang sudah terisi beras yang sudah di bersihkan ke dalam alat penanak nasi.
Hasna berjalan ke dapur dan mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan di masaknya. Memotong sayuran dan bawang merah, bawang putih.
__ADS_1
Tatapan Hasna menerawang, dia masih terus memikirkan ucapan Bima saat itu. Ucapan yang membuatnya tidak mampu menjawab. Bahkan hanya sekedar untuk mengatakan 'Iya'.
Baiklah, aku akan mencoba melupakan perasaanku. Meski aku tak yakin.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Pagi ini Hasna sudah siap untuk berangkat kerja. Seperti rutinitas sebelumnya, dia akan mengantarkan adiknya terlebih dahulu ke sekolah sebelum berangkat ke tempat kerja.
"Belajar yang rajin ya, bentar lagi 'kan udah mau SMP" kata Hasna sambil mengelus kepala adiknya
Hisyam langsung melepaskan tangan Kakaknya yang masih berada di kepalanya. "Malu Kak"
Hasna terkekeh "Kenapa? Kamu 'kan adiknya Kakak"
"Ish.. Tapi 'kan Syam udah gede. Udah ahh, sana Kakak cepetan berangkat kerja. Nanti terlambat loh" kata Hisyam, mencium tangan Kakaknya lalu pergi masuk ke dalam gerbang sekolahnya.
Hasna tersenyum menatap punggung adiknya yang menghilang di balik gerbang sekolah. Gadis itu lanjut berjalan untuk menunggu angkutan umum.
Tin
Suara klakson mobil membuat Hasna menoleh dan melihat sebuah mobil berhenti di sampingnya. Hasna tahu siapa pemilik mobil ini. Kaca mobil terbuka dan menampakan si pemilik mobil ini.
"Gak usah Kak, Na bisa berangkat naik angkutan umum aja. Lagian, nanti Kakak malu loh. Masa berangkat bareng Office Girl kayak aku" kata Hasna, merasa tidak enak dengan ajakan Ryan
"Apaan si, kamu kayak sama siapa aja. Kita kenal bukan baru sehari dua hari Na. Ayo cepat masuk" kata Ryan sambil membuka pintu penumpang agar Hasna segera masuk.
"Lagian jarang banget aku bisa berangkat bareng sama kamu. Biasanya kamu berangkatnya pagi banget" kata Ryan
Akhirnya Hasna pun tidak bisa menolak ajakan Ryan. Dia masuk ke dalam mobil.
"Iya, tadi anterin Hisyam dulu ke sekolah" kata Hasna sambil memasang sabuk pengaman di tubuhnya
Ryan mengangguk dan mulai melajukan mobilnya. Mobil fasilitas kantor yang di berikan pada Ryan sebagai manager muda di hotel itu.
"Hebat ya Kak, sekarang udah punya mobil" kata Hasna menatap kagum pada Ryan
"Fasilitas kantor Na, bukan mobil pribadi" kata Ryan
"Ya gak papa dong, hari ini fasilitas dari kantor. Siapa tahu besok-besok dapet rezeki dan bisa beli mobil sendiri" kata Hasna tersenyum tulus
__ADS_1
Inilah yang buat aku semakin suka sama kamu Na. Kamu begitu tulus.
"Semoga aja ya Na" kata Ryan sambil tersenyum
Akhirnya mobil yang di tumpangi mereka telah sampai di parkiran hotel berbintang ini. Tempat keduanya mengais rezeki dengan pekerjaan yang berbeda.
"Kenapa gak berhenti di ujung jalan sana aja si Kak, nanti kalo ada yang liat gimana" kata Hasna sambil celingukan dengan wajah cemas
"Kenapa emangnya kalo ada yang liat? Kamu itu temen aku Na, dan kita itu udah kenal lama. Aku gak mau jadi teman durhaka ya, teman yang gak mau ngakuin temannya sendiri hanya karena pekerjaan nya" kata Ryan sedikit terkekeh di akhir kalimatnya
Hasna mendengus "Ada-ada aja deh Kak Ryan ini. Yaudah, kalo gitu Na turun ya. Assalamualaikum. Semangat kerjanya"
Ryan mengangguk dan tersenyum "Waalaikumsalam. Kamu juga yang semangat"
Mereka berpisah di parkiran hotel, Ryan yang berjalan masuk ke lantai tiga dimana ruangannya berada. Semantara Hasna yang menuju tempat para pekerja bagian kebersihan berkumpul di sana. Mengganti pakaian dan menyimpan tas mereka di loker masing-masing.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Sial.. Kenapa aku kesal?
Bima mencengkram kemudi dengan kuat, dia berada di dalam mobil tepat di sebelah mobil Ryan terparkir. Entah kebetulan apa yang terjadi, dia melihat bagaimana dekatnya Hasna dengan Ryan. Pria muda dengan karir yang lumayan bagus.
Bima datang ke sini untuk mengecek perkembangan hotel seperti biasa yang di lakukannya setiap satu bulan sekali. Ini memang tugasnya, sejak kejadian kelam 4 tahun lalu. Maka Yudha menyerahkan setiap laporan dan tanggung jawab hotel di kota ini pada Bima. Yudha nyaris tidak pernah lagi datang ke hotel ini.
Ada apa denganku? Bahkan aku sendiri yang mengatakan padanya untuk tidak mempunyai perasaan apapun. Kenapa sekarang malah aku yang seakan tidak rela dia bersama pria lain. Sial..
Masih bingung dengan situasi hati dan perasaan nya, Bima hanya bisa mencoba meyakinkan perasaan dan hatinya yang sudah lama membeku setelah gadis yang begitu dia cintai malah mengecewakannya.
Bersambung
Like
Komen
Vote
Hadiah
bintang rate 5
__ADS_1
Di tunggu dukungan nya..