
"Kau pulanglah dulu, nanti aku hubungi saat sudah siap pergi ke kota" kata Bima dingin
"Baik Tuan"
Bima turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gang, menuju rumah kontrakan Hasna. Dia melihat ke sekeliling jalanan yang di lewati. Perkampungan pinggir kota dengan segala ke kesederhanaan nya.
Bima melihat deretan rumah berukuran kecil yang hanya berjarak dua meter dari rumah satu dengan rumah lainnya.
Kontrakan ini memiliki halaman cukup luas yang di manfaatkan oleh si penghuni kontrakan untuk menjemur pakaian atau memarkirkan sepeda motor.
Bima melihat ke sekelilingnya. Rumah kontrakan nomor 5.
Bima mengingat apa yang di ucapkan oleh salah seorang anak buahnya yang di tugaskan untuk mengawasi Hasna. Bima berjalan masuk ke dalam kawasan kontrakan itu. Melihat setiap nomor yang di tempelkan di pintu rumah.
Berhenti tepat di depan rumah dengan nomor 5 di pintunya. Bima naik ke teras rumah dan mengetuk pintu rumah itu.
Tok tok tok
Tidak ada jawaban dari dalam sana, Bima sudah mengetuk pintu lebih dari tiga kali. Akhirnya dia memilih untuk pergi dari rumah itu. Namun baru saja berbalik dan ada seorang anak laki-laki yang menghampirinya.
"Maaf, cari siapa ya?"
Bima menatap anak laki-laki di depannya ini. Sikap, cara bicaranya dan tatapan nya mengingatkan dia di masa kecilnya. Bima juga seorang yatim piatu sejak dia duduk di kelas tiga sekolah menengah atas. Ibunya sudah meninggal sejak dia berumur 10 tahun.
Itulah sebabnya kenapa Bima memiliki sikap yang begitu dingin. Hanya di rawat oleh Ayahnya yang juga begitu dingin padanya. Mendidiknya dengan keras, tidak ada kehangatan yang Bima rasakan. Kehangatan keluarga seperti kebanyakan orang rasakan setelah Ibunya pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Sehingga Bima tumbuh dengan kepribadian seperti sekarang. Dingin, datar dan tak tersentuh. Dan saat dia melihat tatapan Hisyam, Bima seolah melihat sosok dirinya di waktu kecil.
Kekurangan kasih sayang, merindukan sosok seorang Ibu. Terlalu banyak luka yang di simpan oleh anak kecil ini.
Tanpa sadar tangan Bima terangkat dan menepuk bahu anak laki-laki itu. Seolah memberinya semangat untuk selalu kuat dan tegar menghadapi kehidupan ini.
Hisyam menatap tangan kekar yang masih berada di bahunya "Maaf, cari siapa ya?"
Bima tersadar dan langsung menarik kembali tangannya dari bahu Hisyam. Menekan ujung matanya yang sedikit berair.
Bodoh! Kenapa kau harus terpengaruh dengan tatapan polos anak laki-laki ini.
"Dimana Kakak mu?" Tanya Bima dingin
Hisyam mengerutkan keningnya, bingung "Kerja, maaf kenapa cari Kakak saya?"
Lihatlah bagaimana dia berbicara dengan begitu dewasa.
__ADS_1
"Aku Bima, aku ingin menjemputnya untuk pergi ke Ibu Kota. Siapa namamu?" kata Bima
Hisyam mengangguk kecil, dia baru mengerti apa tujuan pria ini "Tunggu di dalam saja"
Hisyam berjalan ke arah pintu, mengangkat keset di dekat pintu dan mengambil kunci rumahnya. Hisyam membuka pintu rumah dan mempersilahkan Bima untuk masuk.
"Silahkan duduk, Tuan" kata Hisyam
Bima mengangguk dan duduk di kursi kayu yang ada di ruang tengah rumah kecil itu. Bima menatap ke sekitarnya, benar-benar sederhana. Tidak ada yang mewah di rumah ini, namun entah kenapa Bima merasakan kehangatan dan kenyamanan.
"Saya buatkan minum apa Tuan?" Tanya Hisyam
Anak laki-laki ini tidak canggung sama sekali. Dia terlihat santai berhadapan dengan Bima. Berbeda sekali dengan Kakaknya.
"Tidak usah, aku kesini hanya untuk bertemu Kakakmu. Kau duduklah"
Hisyam mengangguk, dia duduk di salah satu kursi kayu di sana. Hening... Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Oh ya, kau sekolah kelas berapa?" Tanya Bima sedikit kikuk dengan pertanyaannya sendiri
"Kelas 6" jawab Hisyam
Bima menatap anak laki-laki itu, melihat Hisyam entah kenapa Bima merasa melihat dirinya di waktu kecil. Bima seolah menemukan dirinya di versi kecil, sikap dan sifat Hisyam benar-benar mirip dengannya.
Anak ini benar-benar bernasib sama denganku.
"Mungkin sebentar lagi"
Keduanya saling terdiam sampai suara pintu terbuka, mengalihkan fokus mereka.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Hasna muncul di ambang pintu, gadis itu terdiam mematung melihat Bima berada di sana.
Tuhan, kenapa dia bisa berada disini? Apa yang telah dia lakukan pada adik ku? Hisyam...
Hasna berjalan cepat ke arah Bima yang duduk tenang di kursi kayu ruang tengah rumahnya. Hasna bingung juga takut dengan kedatangan Bima yang terkesan mendadak ini.
"Tu..tuan, kenapa Tuan ada disini?" Tanya Hasna setelah dia berdiri di samping kursi yang di duduki oleh Bima
"Syam, kamu gak papa'kan?" Tanya Hasna refleks memeriksa adiknya yang duduk di sebrang Bima, memeriksa dari tangan, kaki, kepala segala hal Hasna periksa di tubuh adiknya itu.
__ADS_1
Dia tidak memukulmu kan?
"Heh!! Kau pikir aku mau melakukan apa pada adikmu" sentak Bima, merasa kesal dengan kelakuan Hasna
Gadis itu terlonjak dan langsung berdiri, dia menunduk takut di depan Bima. Ya kan aku pikir dia akan menyakiti adik ku yang tidak berdosa ini. Tapi, mana mungkin juga si..
"Ma..maaf Tuan" lirih Hasna
Bima menatapnya begitu tajam membuat gadis di depannya semakin gemetar ketakutan. Ingin sekali Hasna menangis sekarang juga, dia harus berhadapan dengan pria seperti Bima.
Tidak ada yang bisa Hasna mintai tolong untuk perlindungan. Hasna tidak punya siapa-siapa, dia yang harus menjaga Hisyam saat ini. Dialah yang harus melindungi adiknya, tapi tak ada seorang pun yang melindunginya.
"Cepat kau siap-siap, kita akan segera berangkat ke kota" titah Bima
Hasna mengangguk dengan air mata yang menetes di pipinya, segera dia usap dengan kasar air mata itu. Hasna langsung berlari menuju kamarnya untuk bersiap.
Apa aku begitu menakutinya sampai dia menangis seperti itu?
"Tuan"
Suara panggilan dari Hisyam mengalihkan pandangan Bima pada pintu kamar Hasna yang tertutup setelah gadis itu masuk ke dalam kamarnya.
"Hmm" Bima hanya menjawab dengan gumaman
"Jangan terlalu menakuti Kakak ku, dia itu lemah dan rapuh" kata Hisyam
Bima langsung menoleh ke arah Hisyam "Memangnya apa yang aku lakukan hingga menakutinya?"
Hisyam hanya menghela nafas, ternyata Bima tidak sadar jika apa yang di lakukannya begitu membuat Hasna takut. Tatapan tajam dan suara dinginnya selalu membuat Hasna gemetar ketakutan.
Ceklek
Pintu kamar Hasna terbuka, gadis itu berlari ke arah dapur setelah membawa pakaian ganti dan handuk. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, Hasna telah selesai mandi dan berpakaian di dalam kamar mandi. Karena tidak mungkin dia hanya mamakai handuk ke kamarnya, sementara di ruang tengah ada pria menyeramkan itu.
"Tuan, nanggung magrib. Bagaimana kalau kita berangkat setelah magrib saja" kata Hasna
Bima menatap mesin waktu di tangannya, dia mengangguk "Baiklah"
Hasna mengangguk, lalu dia pergi ke arah dapur untuk membuatkan minum untuk Bima dan memasakan makan malam dulu untuk Hisyam sebelum dirinya pergi ke kota.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya..
Di tunggu vote dan hadiah dari kalian..