You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Menjemputmu


__ADS_3

"Aku masih meninjau lokasi dan segala kesiapan untuk pembangunan proyek"


Bima berdiri menghadap jendela apartamennya. Satu tangannya masuk ke dalam saku celana dengan satu tangannya lagi memegang ponsel yang menempel di telinganya.


"Baiklah, kapan kau akan pulang ke sini?"


"Mungkin lusa aku akan kembali dulu ke Ibu Kota. Tapi, tidak bisa terlalu lama disana"


"Haha.. Sepertinya ada yang sedang di mabuk cinta sampai tidak bisa jauh terlalu lama dengan gadisnya itu"


Bima mendengus mendengar tawa mengejek dari Tuannya ituΒ  "Sudahlah, jangan membahasnya"


Tawa di sebrang sana malah semakin terdengar kencang "Hahaha. Baiklah, baiklah aku mengerti perasaanmu itu. Semoga segera mendapat kabar baik"


"Hmmm"


Bima sudah malas mendengar ocehan sahabatnya itu. Dia menutup sambungan teleponnya sebelum Yudha semakin menertawakannya dan mengejeknya.


Di sebrang sana Yudha melempar ponselnya ke atas tempat tidur dengan tawa yang masih terdengar. Dia bahagia melihat Bima benar-benar berjuang untuk seorang gadis.


"Mas, ada apa kok ketawa-tawa gitu?" Anista masuk membawakan segelas teh untuk suaminya. Menaruhnya di atas nakas samping tempat tidur mereka.


Yudha tersenyum melihat sang pujaan hati, dia memeluk istrinya itu dari belakang. Mengecup tengkuknya beberapa kali.


"Aku baru saja menelpon Bima, dia sedang memperjuangkan gadis itu" kata Yudha, mengecup kembali tengkuk leher istrinya


"Ohh. Pantaslah jika Hasna seperti itu, Bima keterlaluan sama dia" kata Anista sambil mengelus tangan kekar yang melingkar di perutnya itu.


"Perempuan itu memang harusnya di perjuangkan. Sama seperti aku yang dulu juga memperjuangkanmu" kata Yudha


Anista tersenyum "Semoaga Bima dan Hasna juga bisa bersama seperti kita ya"


Semoga kau bisa bahagia Bim, setelah kau begitu setia pada wanita yang malah mengkhianati kesetiaanmu itu.


Seorang sahabat yang begitu mengharapkan kebahagiaan untuk sahabatnya itu. Bahkan bukan sekedar sahabat, tapi mereka adalah saudara.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Bima berbaring di atas tempat tidurnya. Kedua tangan dia jadikan bantalan, menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang. Percakapannya dengan Hasna tadi sore, cukup mengganggu fikirannya.


"Tapi, berapa lama saya harus menjadi pacarnya Tuan?"

__ADS_1


"Sampai kapan aku tidak akan menentukan itu. Sampai kau menjadi milik ku untuk selamanya" gumam Bima kala mengingat pertanyaan Hasna tadi sore.


Bima tidak menentukan sampai kapan Hasna akan menjadi pacarnya. Karena ini hanyalah akal-akalan dia untuk bisa mengikat gadis itu dengan dalih melunasi hutang. Bukan tidak tega saat melihat wajah tertekan nya itu. Namun, Bima tidak mau jika Hasna akan dimiliki oleh pria lain jika dia tidak segera bertindak cepat.


Biarlah Hasna melihat ketulusannya dan perjuangannya untuk meyakinkan dia tentang perasaannya ini.


Bima bangun dan duduk di pinggir ranjang dengan kaki yang menjuntai ke lantai "Baiklah, mulai besok aku akan menjadi pacar yang baik untuk gadis kecilku"


Bima tersenyum tipis, mengingat dia telah menjadi kekasih dari gadis yang dulu sempat dia sia-siakan perasaannya itu. Bahkan dia menolak perasaan gadis itu sebelum Hasna sempat mengutarakan perasaannya.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


"Kamu tidur saja, istirahat. Jangan kemana-mana dulu. Kakak harus kerja, sudah terlalu lama Kakak gak masuk kerja" kata Hasna pada Hisyam yang sedang duduk di kursi ruang tengah rumahnya itu.


Hisyam mengangguk "Iya Kak, hati-hati di jalan"


"Iya, yaudah Kakak berangkat dulu ya. Kalo mau makan Kakak udah masak ya" kata Hasna sambil menggendong tas ransel kecilnya itu.


Hisyam meraih tangan Kakaknya dan menciumnya. Hasna balas dengan mengelus kepala adiknya itu. Kasih sayang antara kakak dan adik yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


"Baik-baik di rumah, jangan lupa di minum obatnya" pepatah Hasna sebelum dia pergi


"Iya Kak"


"Waalaikumsallam"


Hasna berjalan menyusuri jalan gang kecil itu. Dia sedikit cemas meninggalkan adiknya yang baru saja pulih dari sakitnya. Namun, dia tidak bisa terus-terusan libur bekerja. Dia hanya seorang office girl, masih untung bisa mengambil cuti beberapa hari saat Hisyam sakit kemarin. Setelah beberapa bulan ini dia sering sekali mengambil cuti.


"Kenapa dia kesini?"


Hasna menatap bingung pada pria yang berdiri sambil bersandar pada mobil mewahnya itu. Jantung Hasna berdetak kencang saat menatap pria tampan itu. Kacamata hitam yang bertengger di hidungnya semakin membuat Bima terlihat tampan.


Bagaimana aku bisa melupakan perasaanku jika dia setampan ini. Eh.


Hasna menggeleng-gelengkan kepalanya saat fikirannya sudah melantur kemana-mana.


"Sini! Kenapa kau masih diam di sana"


Hasna mengerjap mendengar suara bariton itu. Dia mendongak dan menatap ke arah Bima yang sedang menjentikan jarinya, menyuruhnya segera mendekat.


Hasna segera berjalan menghampirinya, dia menunduk "Maaf Tuan"

__ADS_1


"Lambat sekali kau jalan, beraninya kau membuatku menunggu" ketus Bima dengan nada dingin


Gila apa? Aku tidak menyuruhnya menungguku. Lagian ngapain si ni orang kesini pagi-pagi.


"Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang pacar. Menjemputmu" kata Bima, seolah tahu apa yang ada di fikiran Hasna.


"Tidak usah repot-repot Tuan, saya bisa berangkat sendiri" kata Hasna dengan menunduk sopan


Lagian aku selalu tidak bisa tenang jika berada di dekatnya. Jantungku masih suka berdebar kencang.


"Harusnya kau itu berterima kasih karena aku mau menjemputmu hari ini. Besok-besok mungkin kau tidak akan bertemu denganku" kata Bima santai


Hasna mendongak dan menatap ke arah Bima "Apa maksdu Tuan? Memangnya Tuan mau kemana?"


Bima tersenyum tipis "Apa kau akan merindukanku jika aku pergi?"


Hasna baru tersadar dengan apa yang baru saja di ucapannya barusan. Tanpa sadar dia telah menunjukan kekhawatiran nya pada pria itu. Padahal saat ini Hasna sedang mencoba cuek pada pria itu dan segera melupakan perasaannya. Menjadi kekasih Bima hanya sebatas pelunas hutang, benar-benar membuat Hasna merasa rendah diri.


"Ti-tidak. Saya hanya bertanya saja"


Aku hanya khawatir dia kenapa-napa sampai berkata seperti.


Hasna benar-benar merasa takut dengan ucapan Bima itu. Fikiran buruk langsung terlintas di kepalanya. Dia takut jika hal buruk akan terjadi pada pria itu.


Bima mengangguk kecil dengan tatapan meledek pada Hasna "Sepertinya pacarku ini tidak khawatir sama sekali ya pada pacarnya"


Deg...


Dia mengakui aku sebagai pacarnya. Apa tadi katanya, pacarku? Benarkah dia benar-benar menganggapku adalah pacar sungguhan. Bukan pacar pelunas hutang?


Hasna masih saja bingung dengan perasaan pria di depannya ini. Apa benar Bima mencintainya dan menganggap dia sebagai pacar sungguhan atau hanya sebatas pacar pelunas hutang? Entahlah.. Hasna masih belum bisa menebaknya.


Bima membukakan pintu mobil untuk kekasihnya itu "Cepat masuk, kau bisa terlambat jika terus melamun di sana"


Hasna tersentak dengan suara Bima. Dia segera masuk ke dalam mobil pria itu.


Baiklah. Mungkin aku harus lebih banyak berusaha untuk meyakinkan gadisku ini. Bima berlari mengitari mobil dan masuk ke kursi kemudi.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya ya... like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya juga dong.. terimakasih

__ADS_1


Note: Masih belum bisa up sesuai jadwal ya. masih sibuk di dunia nyata. hehe mohon tetap kasih dukungannya ya.


__ADS_2