You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Sarapan


__ADS_3

Pagi ini Hasna menyiapkan sarapan untuk dirinya juga Bima yang masih berada di kamarnya. Aahh.. Rasanya malas sekali Hasna jika harus mengingat pria itu.


Hasna menyantap sarapannya lebih dulu tanpa menunggu Bima keluar dari kamarnya. Mungkin pria itu masih terlelap.


"Setelah sarapan aku harus segera kembali ke kamar sebelum Tuan Bima bangun"


Sepertinya Hasna masih sangat canggung dan malu dengan kejadian tadi malam di dalam mobil. Meski Bima tidak menyadarinya, tapi tetap saja Hasna merasa begitu canggung saat mengingat kejadian itu.


Lagian kenapa aku sampai harus memeluknya seperti itu si.


Rasanya Hasna ingin segera menghilang dari hadapan Bima. Jantungnya selalu saja berdetak kencang saat berdekatan dengan pria itu. Mungkin karena Hasna terlalu takut dengn Bima.


Selesai sarapan, Hasna langsung kembali ke kamar yang di tempatinya selama disini. Hasna tidak sanggup jika harus bergesekan dengan Bima saat ini. Masih teringat jelas bagaimana dia memeluk dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Bima tadi malam.


Aaa... Kenapa aku bisa senyaman itu tidur di pelukannya.


Hasna membenamkan wajahnya di bantal. Tubuhnya terngkurap dengan wajah yang di benamkan di bantal. Kakinya menghentak-hentak ke tempat tidurnya.


Aku malu,.... Tapi aku nyaman.. Ehh..


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Bima keluar dari kamarnya, semalaman dia tidak bisa tidur setelah mendapatkan telepon dari Tuannya. Masalah satu belum selesai, sudah muncul lagi masalah baru.


"Suruhlah gadis itu menunggu! Anista masih belum bisa ikut ke sini dan aku juga harus menemui orang tuaku dan mengenalkan Anista. Semoga saja Mami bisa menerima Anistaku"


Begitulah yang di ucapkan Yudha di sambungan teleponnya. Terpaksa Bima harus menahan gadis itu sampai Yudha selesai dengan segala masalahnya dan siap menemui gadis itu juga mempertemukan Anista dan Hasna.


Bima menatap ke arah meja makan, di sana sudah ada dua potong roti dengan selai coklat dan segelas susu.


Bima berjalan mendekat ke arah meja makan. Dia menatap secarik kertas yang tertempel di pinggir piring yang berisi roti.


Saya tidak tahu Tuan suka selai rasa apa. Tapi, karena saya menyukai rasa coklat. Jadi saya membuatkan yang sama untuk Tuan. Saya juga tidak tahu apa Tuan suka minum susu di pagi hari atau tidak.


Bima tersenyum tipis membaca tulisan Hasna itu. Dia menarik kursi dan duduk di sana. Menyimpan kertas kecil itu di samping piring. Bima mengambil sepiring roti dengan selai coklat itu dan memakannya.


Cukup enak..


Bima bukanlah pria penyuka coklat, namun dia juga bukan tidak suka memakan makanan berasa coklat. Hanya jarang sekali Bima memakan makanan rasa coklat.


Lalu, kenapa ada selai coklat di apartemennya? Karena mendiang Ibunya selalu menyukai roti dengan selai coklat. Itulah kenapa Bima selalu membeli selai coklat. Ketika dia merindukan Ibunya, maka Bima selalu memakan roti dengan selai coklat.

__ADS_1


Dua potong roti telah Bima habiskan, dia meminum segelas susu yang telah di sediakan oleh Hasna. Meminumnya hingga setengahnya.


"Kenapa gadis itu? Kenapa dia tidak keluar dari kamar"


Bima mengelap bibirnya dengan tissue, lalu dia berdiri dan berlalu ke lantai atas untuk menemui Hasna.


Tok tok tok


Hasna mengangkat wajahnya yang terbenam di atas bantal. Suara ketukan pintu kamar begitu mengejutkannya.


Siapa lagi yang akan mengetuk pintu kamar ini, di apartemen ini hanya dia dan pria dingin menyeramkan itu. Aaa.. Hasna takut untuk berhadapan dengan pria itu. Takut jika dia tidak bisa mengendalikan diri.


Duhh.. Dia ngapain si pake ke sini? Apa mungkin sudah saatnya aku bertemu dengan gadis itu ya.


Hasna segera turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu kamar dan membukanya.


Deg...


Tatapan Hasna langsung bertemu dengan mata tajam milik Bima saat dia membuka pintu. Bima berdiri di depannya dengan setelan kantornya.


Dia akan bekerja ya..


"Kau tinggallah disini untuk beberapa hari. Tuan Muda masih ada urusan lain, jadi tunggu sampai dia selesai dengan segala urusannya. Baru bisa bertemu denganmu" kata Bima


Hasna mengangguk saja, dia seolah menjadi wanita bisu yang penurut jika berhadapan dengan Bima. Selalu saja sulit hanya sekedar untuk menggelengkan kepala saat Bima memerintahnya. Seolah semua perintah Bima adalah hal yang wajib untuk Hasna patuhi dan turuti.


"Aku pergi ke kantor dulu, mungkin nanti malam aku tidak akan pulang ke sini. Aku sudah menyediakan stok makanan untukmu. Jadi, kau tidak perlu keluar dari sini" kata Bima tegas


Bagaimana aku bisa keluar, jika kau saja tidak memberi tahu kode apartemenmu atau memberiku acces card.


"Baik Tuan" hanya itu yang mampu Hasna ucapkan, gadis itu hanya bisa memaki pria dingin itu dalam hatinya. Nyalinya tidak sebesar itu untuk berani memaki Bima secara langsung.


Bima berbalik dan berjalan menuju ke arah tangga. Namun, baru dua langkah Bima menghentikan langkahnya membuat Hasna was was sendiri melihat pria itu berhenti melangkah tanpa membalikan tubuhnya.


"Terimakasih untuk sarapannya"


Bima langsung berjalan cepat meninggalkan Hasna yang terbengong dengan ucapannya barusan.


Apa katanya? Terimakasih? Wahh.. Dia juga bisa mengucapkan terimakasih ya..


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...

__ADS_1


Hasna benar-benar di buat bosan tinggal di apartemen Bima. Seharian ini dia hanya makan, nonton dan tidur. Sungguh membosankan.


Malam ini dia makan malam sendiri, biasanya dia selalu makan malam bersama dengan adiknya. Mengingat tentang Hisyam, Hasna belum mengabari adiknya sejak kemarin dia sampai disini.


Selesai makan malam, Hasna langsung menelpon Bu Sri untuk menanyakan keadaan Hisyam dan memberi mereka kabar jika dia baik-baik saja berada di Ibu Kota.


"Iya Bu, titip Hisyam ya"


"Iya Na, kamu tenang saja. Ehh.. Tuh adik kamu sudah pulang dari mesjid"


Bu Sri menyerahkan ponselnya pada Hisyam dan memberi tahukam jika Kakaknya yang menelpon.


"Hallo Kak, gimana keadaan Kaka di sana?"


Hasna tersenyum mendengar pertanyaan dari adik kesayangannya itu. Hisyam terdengar begitu mengkhawatirkan keadaannya.


"Kakak baik kok Syam. Tuan Bima baik banget sama Kakak, ya walaupun terkadang dia suka menyeramkan si. Hehe"


"Syukurlah kalo Kakak baik-baik saja di sana"


"Iya Syam, kamu juga baik-baik ya di sana. Jangan menyusahkan Ibu Sri. Menurutlah apa yang di katakannya"


Hisyam mengangguk walaupun dia sadar jika Kakaknya tidak akan melihatnya. "Iya Kak"


"Yaudah kalo gitu Kakak tutup dulu ya. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Bersambung


Like


komen


Vote


Hadiah


Rate bintang 5


Di tunggu ya dukungan kalian..

__ADS_1


__ADS_2