You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Salah Tingkah


__ADS_3

Bima berjalan menjauh dari depan pintu kamar yang di tempati Hisyam semalam. Percakapan adik Kakak yang Bima dengar barusan benar-benar membuatnya sedikit tenang. Setidaknya Hasna sudah mau memikirkan untuk kembali tinggal di kota ini. Maka dari itu akan semakin mudah untuk mengajak gadis itu menikah dan tinggal bersama di kota ini. Hisyam juga telah menyetujuinya, Bima bisa sedikit tenang sekarang.


Bima duduk di sofa ruang tengah, dia menyalakan televisi dan menonton siaran luar negeri. Hatinya cukup tenang, jadi Bima bisa sedikit bersantai sekarang. Apalagi Nona Mudanya juga sudah melahirkan. Jadi, sekarang Bima bisa mulai memikirkan masa depannya. Hanya ada Yudha di posisi pertama yang Bima prioritaskan untuk selama ini. Tapi, sekarang ada Hasna yang juga menjadi prioritas Bima.


Ceklek


Bima menoleh saat mendengar pintu yang terbuka, Hasna keluar dari kamar yang di tempati Hisyam semalam. Gadis itu langsung menghampiri Bima yang sedang duduk bersantai di ruang tengah dengan televisi besar yang menyala.


Dia sedang nonton ya, tapi kok nonton kayak ginian si?


Hasna bingung sendiri saat dia melewati televisi besar itu dan melihat siaran yang sedang di tayangkan. Hasna sama sekali tidak mengerti siaran apa yang sedang Bima tonton. Bahasa asing tanpa ada subtitel Indonesia. Bagaiamana Hasna akan mengerti coba?


Hasna duduk di samping Bima, masih dengan wajah sangat bingung menatap ke arah layar besar yang menyala di depannya. Lalu, dia menoleh ke arah Bima dan menatap heran pria itu.


Apa dia mengerti ya?


"Kenapa? Apa aku begitu tampan sampai kau menatapku seperti itu? Ya.. Aku tahu. Aku memang tampan!" kata Bima dengan mimik wajah yang datar dan masih fokus pada layar televisi, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Hasna.


Hasna langsung berpaling, wajahnya sudah memerah. Malu dan juga kesal. Narsis sekali dia, meski memang benar si apa yang barusan dia katakan. Pacarku ini memang sangat tampan, padahal usianya sudah sangat tua. Eh..


"Oh ya, mau sarapan apa sekarang?" tanya Hasna, dia lebih baik mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih bermutu daripada harus membahas ketampanan Bima yang memang benar adanya.


Bima menoleh, dan dengan gerakan cepat dia mencuri kecupan di bibir Hasna yang sedang diam menunggu jawaban darinya.


Deg..Deg..


Jantungku..


Hasna sampai mematung saat mendapat serangan mendadak dari Bima. Tangannya refleks menyentuh bagian dada yang berdebar. Hati dan jantungnya sudah tidak bisa lagi dia ajak kompromi sekarang, di saat menegangkan seperti ini.


Wajahnya mulai memanas, meski hanya kecupan yang Bima berikan. Tapi, entah kenapa reaksi Hasna bisa berlebihan begini.


Oh... Ya ampun.. Jantungku..

__ADS_1


Hasna benar-benar mematung, sampai dia seolah lupa bagaimana caranya bernafas. Debaran Jantungnya sangat cepat.


"Kenapa kau? Wajahmu sangat merah sekarang?" tanya Bima santai, dia sangat ingin tertawa terbahak sekarang. Melihat ekspresi wajah Hasna yang begitu mennggemaskan baginya.


Kau sangat menggemaskan, Asnaku!


Hasna mengerjap saat sadar dengan sikap gugupnya ini. Dia segera berdiri dan berlari ke arah dapur.


"Asna!" teriak Bima membuat Hasna berhenti seketika


"Kau mau kemana?" tanya Bima santai


"Dapur" jawab Hasna tanpa menoleh sedikit pun ke arah Bima. Dia benar-benar malu dengan yang baru saja terjadi. Ekspresi wajahnya pasti sangat memalukan sekali.


"Ck. Dapur di sana Asna" tunjuk Bima pada arah berlawanan, ternyata Hasna memang salah arah. Saking gugupnya, dia sampai bisa salah arah seperti ini.


Hasna berbalik dan kembali berlari menuju arah yang berlawanan dengan arah yang tadi. Hasna menutup wajahnya, dia sangat malu sekarang. Apalagi saat Hasna tahu jika dia telah dengan jelas memperlihatkan salah tingkahnya.


Bodoh banget si Hasna, kenapa sampai salah arah begini.


Bima tergelak melihat tingkah sang kekasih, begitu menggemaskan di mata Bima. Rasanya ingin sekali dia segera menikahi gadis itu dan menerkamnya. Baru Bima beri kecupan kecil saja, Hasna sudah salah tingkah begitu sampai berlari salah arah. Apalagi jika Bima telah melakukan semua yang dia mau pada gadis itu.


"Asna.. Asna.. Kau kenapa bisa menggemaskan begitu" gumam Bima lirih sambil menggelengkan kepala heran dengan tingkah kekasihnya itu. Sangat imut dan menggemaskan.


Bima mengambil remote televisi lalu menekan tombol merah untuk mematikan televisi yang menyala itu. Setelah itu, dia berlenggang menuju dapur. Ingin melihat apa yang sedang Hasnanya lakukan di dapur, apa gadisnya masih salah tingkah seperti tadi? Ahhh.. Bima rasanya ingin terus tersenyum saat mengingat tingkah Hasna beberapa waktu lalu.


Sampai di dapur, Bima melihat Hasna sedang fokus dengan makanan yang sedang dia masak di dalam wajan. Ingin lagi mengerjai gadisnya itu, Bima berjalan pelan agar Hasna tidak sadar akan kehadirannya.


Grepppp...


"Aaa"


Hasna hampir saja menjatuhkan spatula yang dia pegang saking kagetnya. Sebuah pelukan yang sangat tiba-tiba itu membuat Hasna benar-benar terkejut.

__ADS_1


"Diam Asna, kenapa harus berteriak begitu? Kalau Hisyan dengar, dia pasti akan menyangka aku berbuat yang tidak-tidak padamu" bisik Bima di telinga Hasna dengan jarak mereka yang begitu dekat.


Bahkan hembusan nafas Bima benar-benar terasa hangat di tengkuk Hasna, membuat gadis itu semakin merasa gelagapan sendiri. Ada sensasi berbeda di tubuhnya saat ini.


"Lagi ngapain si kesayangan aku ini?"


Deg..


Hasna semakim gelagapan saja mendengar ucapan Bima. Kesayangan? Sejak kapan Bima bisa mengucapkan kata-kata romantis itu? Hasna benar-benar terkejut dengan itu.


"Emm. Bi-bikin sarapan" jawab Hasna cepat, meski dengan suara yang tergagap-gagap karena saking terkejutnya.


"Ohh"


Ish. Apasi dia ini? Aneh banget deh.


"Kan kamu belum sarapan, aku buat nasi goreng saja ya. Di kulkas hanya ada beberapa sayuran hijau dan telur saja. Untung ada nasi" jelas Hasna, dia tadi sempat kebingungan karena di dapur tidak ada bahan makanan lain selain apa yang barusan Hasna sebutkan.


"Padahal aku baru saja sarapan" bisik Bima, tangannya masih memeluk perut Hasna dengan erat. Tubuh mereka benar-benar merapat sehingga tidak ada celah.


Hasna langsung menoleh, menatap wajah santai Bima yang berada di dekat pipinya. Dagu pria itu berada di bahu Hasna.


"Kapan kamu sarapan?" tanya Hasna bingung, seingatnya dia belum melihat Bima sarapan atau ada bekas seseorang makan saat dia masuk ke dapur dan ruang makan ini.


Bima terkekeh mendengar pertanyaan Hasna itu, gadisnya memang polos. "Yang tadi di depan TV, aku telah sarapan disana. Lumayanlah, meski hanya sekilas"


Oh Tuhan, kenapa dia jadi mesum begini..


Hasna langsung memalingkan wajahnya, dan kembali fokus pada masakannya yang akan segera matang. Dia tidak ingin menanggapi apa yang di ucapkan Bima itu. Wajahnya sudah mulai memanas jika mengingat apa yang terjadi di depan televisi tadi.


Dia ini kenapa si? Selalu memiliki dua sifat yang berubah-ubah. Kadang dingin, galak dan menakutkan. Terkadang juga sangat baik, lemah lembut dan konyol. Ehh.. Juga mesum.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..


Mampir juga di karya aku yang baru. Judulnya Benteng Penghalang Kita.. Aku tunggu jejak kalian di sana.


__ADS_2