
Deg..Deg..Deg..
Jantung keduanya berdebar kencang, keduanya bisa merasakan debaran jantung masing-masing.
Ya Allah, kenapa bisa seperti ini?
"Tu..Tuan" lirih Hasna mencoba menyadarkan keadaan mereka ini pada Bima.
Bima mengerjap kaget, dia langsung menjauhkan tubuhnya dari atas tubuh Hasna dan langsung berdiri di samping tempat tidur Hasna. Sementara gadis itu juga langsung bangun terduduk di tempat tidur.
"Tu..tuan Kenapa ada di sini?" lirih Hasna dengan wajah menunduk
Bima mengnggaruk alis dengan jari telunjuknya, pria itu terlihat bingung dan sedikit salah tingkah.
"Kau yang mengganggu, suaramu itu mengganggu ku yang akan ke ruang baca. Aku pikir kau kenapa, ternyata hanya sedang mimpi buruk" jelas Bima
Hasna mendongak dan menatap wajah dingin Bima, dia baru ingat dengan mimpinya itu.
Hasna menoleh ke arah jendela "Apa di luar masih hujan?"
"Hmm. Kenapa? Kau takut dengan hujan?" Tanya Bima dengan nada meledek
Hasna mengangguk dengan wajah yang serius dan tatapan mata yang penuh dengan rasa trauma.
Deg..
Melihat tatapan mata Hasna membuat hati Bima merasa iba. Ini pertama kalinya Bima merasa kasihan pada orang lain yang baru saja di kenalnya.
"Kau tidurlah, tidak perlu takut dengan hujan" kata Bima, masih dengan wajah datar
"Aku mau keluar saja, Tuan. Sudah tidak mengantuk lagi" kata Hasna sambil menurunkan kedua kakinya ke atas lantai kamar.
Bima tidak menjawab, pria itu langsung keluar dari kamar Hasna dan langsung berlalu ke ruang baca. Pintu ruang baca di tutupnya dengan kasar, Bima menyandarkan tubuhnya di balik pintu ruang baca. Dadanya masih saja berdebar.
Perasaan apa ini?
Sementara Hasna keluar dari kamarnya, dia menurun tangga menuju ruang tengah. Sepertinya menonton adalah pilihan bagus saat hujan seperti ini dan hatinya sedang tidak tenang.
Suasana terasa hening, televisi besar yang menyala sama sekali tidak membuat Hasna tertarik. Gadis itu hanya menatap kosong. Pikirannya melayang, suara gemercik hujan dan petir masih selalu mendominasi pikiran nya.
__ADS_1
Hah...
Hasna hanya bisa menghela nafas pelan, saat ini dia hanya ingin segera menyelesaikan semua urusannya dengan Bima dan gadis malang yang di tolongnya 4 tahun lalu.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Gadis remaja berusia 15 tahun, tersadar dari pingsan nya setelah dia menemui kedua orang tuanya telah meninggal dunia dengan meloncat dari gedung apartemen mereka yang selalu menjadi tempat bahagia untuk keluarganya.
Hampir setiap hari libur, Ayahnya akan selalu mengajaknya tinggal di apartemen itu. Menyantap masakan Ibunya dan bercanda ria bersama.
Namun, kini hal itu tinggal kenangan. Semuanya seperti mimpi buruk untuk Hasna. Dia dan adiknya menjadi anak yatim piatu dalam satu hari.
Bagaimana dengan adiknya? Bagaimana kehidupan mereka kedepannya? Tidak ada keluarga yang bisa mereka mintai tolong saat seperti ini.
Hiks...Hiks...
"Ayah, Ibu kenapa kalian tega dengan kami. Kenapa meninggalkan Na dan Hisyam?" lirihnya
"Neng, yang sabar ya"
Usapan tangan Mbak Atun yang menjadi asisten rumah tangga di rumah mereka membuat Hasna mulai tersadar jika semua ini bukanlah hanya mimpi. Semuanya nyata, dia sebatang kara sekarang.
"Mbak, dimana Hisyam?" Tanya Hasna
"Hiks.. Setelah ini Na harus gimana Mbak? Na bener-bener bingung apa yang akan Na lakuin ke depannya bersama Hisyam.. Hiks..Hiks.."
Mbak Atun hanya diam, dia juga bingung harus berkata apa. Saat ini anak majikannya ini benar-benar berada di posisi terapuh.
"Neng harus tetap menjalani hidup ini. Mbak Atun yakin jika Neng Hasna bisa menghadapi semua ini. Kasihan Dek Hisyam, jika Neng juga terpuruk seperti ini" nasihat Mbak Atun
Hasna mendongak dan langsung menghambur ke pelukan Mbak Atun. Gadis remaja itu menangis sesenggukan di dalam pelukan asisten rumah tangga di rumah ini.
"Mbak, kapan Ayah dan Ibu di bawa ke sini?" Tanya Hasna, bahkan dia tidak sanggup untuk menyebutkan jenazah Ayah dan Ibunya.
"Mungkin besok pagi, sekarang Neng tidur saja dulu. Istirahat untuk hari besok, pasti akan banyak orang yang melayat ke sini" jelas Mbak Atun
"Kenapa Na bisa ada disini Mbak?" Tanya Hasna, karena seingatnya tadi dia berada di depan gedung tinggi tempat dimana orang tuanya meninggal dengan cara melompat dari atas gedung.
"Tadi ada yang nganterin Neng Hasna pas Neng masih pingsan"
__ADS_1
Hasna mengangguk mendengar jawaban Mbak Atun "Mbak, gimana ya caranya aku jelasin ke Hisyam?"
Mbak Atun menatap iba pada Gadis remaja yang terlihat begitu rapuh itu. Hasna Amalia, si gadis ceria dan ramah juga sopan pada siapapun. Namun, kali ini tatapannya penuh dengan luka dan ketakutan.
Mbak Atun mengelus tangan Hasna "Nanti biar Mbak bantu bicara, sekarang Neng tidur saja dulu"
"Mbak temani Na tidur ya" lirih Hasna dengan tatapan menyedihkan itu
Mbak Atun mengangguk dan menemani anak majikannya itu tidur. Suara hujan dan petir masih terdengar di luar sana. Ini masih tengah malam, jadi masih ada waktu beberapa jam lagi untuk Hasna terbangun besok pagi dengan kehidupan barunya. Hidup tanpa kedua orang tua.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Hah...
Hasna terbangun dari tidurnya, gadis itu mengusap air mata yang mengalir begitu saja. Hasna menatap ke sekitar, ini di dalam kamar. Siapa yang memindahkannya ke dalam kamar. Seingat Hasna, dia berada di ruang tengah sambil menonton televisi. Tapi, dia malah ketiduran.
"Sudah subuh ya" gumamnya sambil turun dari tempat tidur
Hasna berjalan gontai ke arah ruang ganti. Hujan di luar sana sudah reda. Siapa yang memindahkanku ke kamar ya? Apa Tuan Bima? Apa mungkin pria menyeramkan itu bisa memiliki rasa peduli juga. Tapi, kalo bukan Tuan Bima, lalu siapa lagi? Di apartemen ini hanya ada kami berdua.
Hasna mengguyur tubuhnya dengan sower, rasanya kepalanya ini butuh pendinginan setelah mimpi buruk yang kembali hadir. Entahlah sampai kapan dia bisa menghilangkan ingatan itu. Rasa trauma dengan hujan dan petir setelah kejadian di masa lalu.
Hiks..Hiks..
Suara gemercik air di dalam kamar mandi saling bersahutan dengan isak tangis memilukan. Rasanya Hasna ingin mengeluh dengan semua yang di dihadapinya selama 7 tahun ini. Namun, Hasna bisa apa? Dia harus mengeluh pada siapa?
Akhirnya hanya bersujud di atas sejadah yang bisa Hasna lakukan saat pikirannya begitu gelisah. Mengadu dan mengeluh pada sang pemilik hidup dan takdirnya.
Selesai melaksanakan kewajibannya, Hasna turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan.
Bersambung
Like
Komen
Vote
Hadiah
__ADS_1
Bintang rate 5
Di tunggu dukungan kalian