You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Besarnya Cinta Bima


__ADS_3

Semalaman suntuk, Bima benar-benar tidak bisa tertidur walau hanya sekejap saja. Melihat Hasna yang masih belum sadarkan diri sampai saat ini, membuat perasaan Bima semakin kacau. Dia sangat mencemaskan keadaan istrinya itu.


Tangannya terus menggenggam tangan Hasna. Menciumnya beberapa kali. Tatapan mata yang selalu dingin dan kejam itu, berubah menjadi tatapan sayu yang penuh dengan kerapuhan.


"Bertahanlah, kamu dan bayi kita adalah segalanya untuk hidupku" lirih Bima tepat ditelinga Hasna.


Dan pada saat itu, Bima merasakan gerakan tangan yang di genggamnya sejak tadi. Bima langsung menoleh untuk menatap wajah istrinya itu. Kedua mata yang terpejam itu, mulai mengerjap dengan perlahan.


Bima langsung berdiri dan memastikan jika Hasnanya telah sadar "Asna"


Hasna membuka kedua matanya, lalu dia melirik ke arah Bima. Bibirnya yang pucat tersenyum lemah ke arah Bima.


Cup..


Bima langsung mencium kening Hasna, dengan rasa syukur yang dia rasakan saat ini "Terimakasih karena sudah bertahan"


Hasna hanya mengedipkan matanya dengan lemah, dia masih sangat lemah sehingga untuk mengucap kata saja masih susah.


Bima menekan tombol darurat di samping tempat tidur Hasna. Beberapa saat kemudian, dokter dan seorang perawat masuk ke dalam ruang rawat Hasna.


Bima mulai menyingkir dari samping Hasna, membiarkan dokter memeriksa keadaan istrinya. Bima hanya bisa menatap apa yang di lakukan dokter pada Hasna. Berharap jika semuanya akan baik-baik saja. Hasnanya dan bayi dalam kandungannya akan selamat dan sehat.


Selesai memeriksa keadaan Hasna, dokter segera menghampiri Bima yang berdiri tak jauh dari sana. "Syukurlah semuanya baik, Nona Hasna dan bayinya selamat. Calon anak anda sangat kuat Tuan, sehingga di bisa bertahan di perut Ibunya di situasi rentan seperti ini"


Hasna langsung melirik ke arah dokter dan suaminya berdiri disana. Apa aku hamil?


Tangan lemahnya itu mengelus perut yang masih rata. Rasa bahagia menyeruak di dalam hati Hasna.


Baik-baik di dalam perut Mama, Nak.


Huh..


Bima benar-benar bisa bernafas lega sekarang. Semuanya baik-baik saja, anak dan istrinya berhasil bertahan.


Terimakasih Ya Allah, telah menyelamatkan anak dan Istriku.

__ADS_1


Bima mengangguk saja mendengar penjelasan dokter, saat ini dia hanya sedang merasa lega setelah semalaman kecemasan dan kekhawatiran menguasai dirinya.


Bima berjalan pelan menuju ranjang pasien, dimana istrinya terbaring lemah di atas sana. Menggeser kursi, lalu duduk disana.


"Aku tidak bisa melihatmu seperti ini lagi. Tahukah kau, aku bahkan hampir gila mendengar kau dan calon bayi kita dalam keadaan darurat" kata Bima, mengeluarkan segala kekhawatirannya.


Hasna tersenyum lemah, tangannya terangkat untuk meraih wajah suaminya yang terlihat lelah itu. Wajar saja karena semalaman Bima benar-benar tidak tidur. Hanya menunggu Hasna sadar.


Bima yang mengerti keinginan Hasna itu, langsung sedikit menundukan wajahnya dan meraih tangan Hasna lalu meleakannya di pipi.


"Semuanya pas-ti baik-baik saja, Sayang" lirih Hasna dengan suara lemah dan serak


Bima mengecup telapak tangan Hasna yang berada di pipinya, menggenggamnya dengan hangat. Bima mengangguk dengan air mata yang mengalir tanpa bisa dia kendalikan lagi.


Untuk pertama kalinya, Hasna melihat air mata Bima. Selama dia mengenal pria itu sampai sekarang bisa menjadi suaminya. Tidak sekalipun Hasna pernah melihat Bima serapuh ini. Bahkan sampai meneteskan air matanya.


"Kenapa menangis, hmm?" tanya Hasna, dia mengusap air mata Bima yang mengalir di pipi.


Bima menggeleng pelan, dia kembali mengecup telapak tangan Hasna "Aku tidak papa, asal kau baik-baik saja"


Hasna tersenyum "Aku dan bayi kita pasti akan baik-baik saja"


Hasna tersenyum dan mengangguk. Cinta Bima yang begitu besar padanya, membuat Hasna semakin menyayangi pria dingin itu.


Tuhan, terimakasih karena telah mengirimkan dia untuk ku.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Anista datang ke rumah sakit dengan histeris. Menangis dan memeluk Hasna dengan suana mengharu biru.


"Bagaimana keadaanmu dan calon anakmu Na?" tanya Anista dengan mata basah


Hasna tersenyum, merasa jika dia benar-benar memilik saudara yang begitu peduli padanya seperti Anista ini. Ketulusan yang di berikan Anista, membuat Hasna tidak lagi merasa sendiri. Dia bisa merasakan adanya kehadiran saudara disisinya selain Hisyam.


"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja Nist, aku juga tidak tahu kalau aku sedang mengandung" jelas Hasna

__ADS_1


Anista mengelus perutnya dengan lembut "Mulai saat ini, kamu harus lebih hati-hati lagi. Ingat! Ada nyawa yang harus kamu jaga di dalam perutmu ini"


Hasna mengangguk "Baik Nist, aku akan lebih hati-hati lagi. Aku juga akan menjaga kandungan ini dengan sebaik mungkin"


Anista mengangguk, dia mengusap sisa air mata di pipinya "Aku kesel banget sama suami kamu itu. Di saat keadaan kamu kayak gini, dia baru menberi kabar tadi pagi coba"


Akhirnya Anista mulai mengeluarkan kekesalan nya pada Bima. "Padahal dia bisa saja langsung menelepon Mas Yudha 'kan. Dasar suami kamu itu, gak tau apa kalau aku sangat cemas dengan keadaan kamu Na"


Bima tersenyum tipis melihat kekhawatiran Nona Mudanya pada istrinya itu. Bima melirik Yudha yang duduk di sampingnya. Seolah mempertanyakan apa yang di maksud oleh istrinya.


"Jika aku memberi tahunya dari semalam, dia tidak akan beda jauh dari sekarang. Mungkin akan lebih histeris dari sekarang, karena semalam istrimu belum sadarkan diri" jelas Yudha, menjawab dari tatapan bingung asistennya


Semalam Bima memang sudah menghubungi Yudha dengan keadaan istrinya ini. Untuk itu, Yudha segera memanggilkan dokter kandungan khusus untuk istri dari sahabatnya ini. Dan berkat Yudha, akhirnya Hasna dan bayinya bisa terselamatkan.


Namun, Yudha sengaja tidak memberi tahu istrinya tentang keadaan Hasna dari semalam. Karena Yudha tahu bagaimana reaksi istrinya jika tahu apa yang terjadi pada Hasna. Apalagi mengingat kejadian semalam yang terjadi pada Hasna.


Apa ini?


Bima menggenggam tangan Hasna yang begitu dingin. Tubuhnya tiba-tiba terasa dingin, bahkan terlihat dada Hasna yang mulai naik turun seperti sulit untuk bernafas. Namun, matanya masih saja terpejam.


Bima segera memencet tombol darurat, dada Hasna semakin naik turun dengan cepat. Bahkan sampai terangkat ke atas seolah dia sedang berusaha untuk bisa bernafas.


"Asna sadar, Sayang aku disini. Jangan tinggalkan aku. Asnaku, sadar ya.. Kuat Sayang" bisik Bima di telinga Hasna dengan suara yang bergetar.


Dokter masuk dan beberapa perawat, mereka langsung melakukan tindakan pada Hasna. Beberapa saat kemudian, pintu ruangan kembali terbuka membuat Bima menoleh ke arah pintu.


"Saya Dokter kandungan di rumah sakit ini, saya ditugaskan Tuan Yudha untuk menangani Nona Hasna" jelasnya sambil berjalan cepat menuju ranjang pasien.


Bima bernafas sedikit lega, meski Yudha tidak datang menemaninya di rumah sakit ini. Tapi dia tetap membantu Bima di saat kesulitan seperti ini.


Dokter kandungan ini adalah dokter yang menangani Anista waktu hamil Hervin dulu. Sudah terpecaya lagi bagaimana dia menangani pasien. Seharusnya hari ini dia libur dan masuk besok pagi. Tapi, karena panggilan Yudha dokter itu tidak bisa lagi menolak. Apalagi dengan keadaan darurat seperti ini.


Kau masih jiwa penolong untuk ku, Yudh.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..


Aku lagi cukup sibuk di dunia nyata. jadi gak bisa janjiin up kapan ya.. Maafkan keterbatasan aku ini.


__ADS_2