You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Semakin Aneh


__ADS_3

Turun dari mobil, Hasna segera membantu adiknya berjalan menyusuri jalan gang kecil menuju rumah kontrakannya. Dua pria tampan masih mengikutinya dari belakang.


Sampai di depan pintu rumah, Hasna segera membuka kunci pintu rumahnya. Mereka masuk ke dalam rumah Hasna, Bima dan Ryan duduk di kursi kayu yang ada di ruang tengah. Hasna membawa adiknya masuk ke dalam kamar. Membiarkan Hisyam untuk istirahat.


Keluar dari kamar, Hasna segera berlalu ke dapur untuk membuatkan tamunya itu minum. Meski sedikit canggung dengan keadaan ini, dua pria yang mencintainya dan juga di cintainya duduk berdampingan di ruang tengah rumahnya ini.


Hasna menyimpan dua gelas teh hangat di atas meja depan dua pria itu. Lalu dia duduk di atas karpet plastik. HasnaĀ  bingung harus bagaimana menghadapi dua pria ini.


"Emm. Tu-tuan, apa Tuan gak ada pekerjaan. Sudah dari tadi Tu-tuan berasama kami" kata Hasna sedikit takut, tapi dia juga tidak mungkin harus terus berhadapan dengan dua pria itu.


Bima menatapnya dengan begitu tajam "Kau mengusirku Hah? Berani Kau!"


Hasna menggeleng cepat "Bu-bukan begitu Tuan, saya hanya merasa tidak enak karena Tuan berada di rumah saya yang sederhana ini"


Karena aku tahu jika kau tidak terbiasa berada di rumah sesederhana ini.


"Kenapa tidak suruh dia saja yang pergi, lagian kenapa kau tidak bekerja?" Tanya Bima pada Ryan


"Emm. Saya sedang tidak ada pekerjaan" lirih Ryan, dia memang sudah berangkat ke kantornya. Namun, pulang saat waktunya menjemput Hisyam dari rumah sakit setelah di beri tahu Hasna kemarin malam. Dan memang tidak terlalu banyak pekerjaan untuk hari ini.


Bima mengangguk dengan senyuman tipisnya. Dia berdiri dan berjalan keluar rumah tanpa sepatah katapun. Hasna dan Ryan menyangka jika Bima memang ingin pergi karena sudah tidak tahan berada di rumah sederhana seperti ini.


Namun, tak lama kemudian Bima masuk kembali ke dalam rumah membuat Hasna dan Ryan saling pandang dengan bingung.


Bima membuka kancing jasnya dan kembali duduk di kursi yang tadi dia duduki. Duduk tenang dengan wajah dingin dan datar, seperti sedang menunggu sesuatu.


Drettt...Drett


Getaran ponsel Ryan dari saku jasnya langsung membuat laki-laki itu merogoh saku jasnya dan mengangkat telepon itu. Mendengarkan si penelepon berbicara di sebrang sana.


"Baik, saya akan segera ke sana"


Ryan mematikan sambungan telepon dan kembali memasukan ponselnya ke dalam saku jasnya. Ryan berdiri dari duduknya.


"Na, aku harus pergi ke kantor lagi. Kamu baik-baik ya di rumah" pamit Ryan

__ADS_1


Hasna ikutan berdiri "Iya Kak, hati-hati ya. Terimakasih sudah menjemput kami"


Ryan mengangguk sambil tersenyum "Tidak masalah. Yasudah, aku pamit ya. Assalamualaikum"


"Waalaikumsallam"


Hasna mengantar Ryan sampai ke depan teras rumahnya. Setelah Ryan pergi, Hasna kembali masuk dan dia tidak sengaja mendengar percakapan Bima di telepon.


"Hmm. Kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik. Akan ku transfer bonus nya"


Bima mematikan sambungan telepon dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas. Dia terperanjat kaget saat melihat Hasna sudah berdiri di samping kursi kayu yang dia duduki.


Hasna kembali menunduk dan berlalu ke dapur. Dia tahu apa maksud dari ucapan Bima di telepon barusan. Seorang Bima bisa melakukan apa saja, termasuk membuat Ryan pergi dari rumahnya tanpa harus dia mengusirnya.


Bima mengikuti Hasna menuju dapur, gadis itu terlihat sedang memotong-motong sayuran. Hasna masih belum menyadari kehadiran Bima di sana. Dia memotong sayuran dengan tatapan mata kosong. Terlihat kerapuhan dari tatapan mata itu membuat Bima merasa sesak di dadanya.


"Awww"


Hasna berteriak saat jarinya tidak sengaja terkena pisau. Bima langsung menghampiri gadis itu dan menarik tangannya. Dia his*ap jari telunjuk Hasna agar darahnya segera berhenti keluar.


Bima menatap Hasna tajam, dia telah melepas jari gadis itu dari mulutnya. Namun tangannya masih dia genggam.


"Bisa gak lebih hati-hati lagi, ini bukan pertama kali tanganmu terluka seperti ini" kata Bima


Hasna terdiam dengan wajah yang kebingungan. Dia menatap mata pria di depannya itu, sorot matanya menunjukan kecemasan dan kekhawatiran.


Dia ingat jariku terluka saat berada di apartemennya waktu itu.


Hasna terbelalak saat Bima tiba-tiba mengecup tangan dan jemarinya. Begitu lembut dan penuh kasih sayang.


Deg.. Deg..


Jantungnya sudah berdetak kencang, Bima yang dingin dan hanya berdiri diam saja sudah membuat jantungnya berdebar. Apalagi dengan Bima yang sekarang sedang mengecupi jari-jemarinya.


"Tu-tuan" lirih Hasna sambil menarik pelan tangannya dari genggaman Bima.

__ADS_1


Bima menatapnya, tidak suka dengan apa yang di lakukan Hasna. Namun, dia belum bisa mengatakan ketidak sukaan nya karena status hubungan mereka masih belum jelas.


Hasna memalingkan wajahnya yang memerah "Emm. Lebih baik Tuan pulang, terimakasih sudah mengantar kami"


Bima menatap gadisnya dengan senyuman tipis. Hasna terlihat gugup dengan wajah yang memerah, sungguh terlihat begitu menggemaskan di mata Bima.


Sial.. Dia benar-benar telah membuatku gila.


"Kau lupa jika aku kesini tidak membawa mobil. Dan aku harus menunggu orang suruhanku untuk menjemputku" kata Bima santai


Hasna terdiam, dia ingat soal itu. Tapi apakah Bima tidak bisa naik taxi saja. Sungguh Hasna tidak mengerti dengan pemikiran laki-laki itu.


"Emm. A-apa mau saya pesankan taxi online saja" tawar Hasna dengan sedikit takut


Bima menatapnya dengan santai "Aku tidak mau naik taxi, lagian sudah hampir waktunya makan siang. Apa kau tidak ada niatan untuk menyajikan makan siang untukku"


Hasna menghela nafas pelan "Baiklah, Tu-tuan bisa menunggu di dalam. Saya mau masak dulu untuk makan siang"


Bima tersenyum, dia mengambil kursi plastik yang ada di dekat lemari piring kecil itu. Dia duduk di sana, memperhatikan gadisnya yang sedang memasak.


Hasna hanya mencoba fokus pada masakannya. Meski dia merasa tidak nyaman saat di perhatikan oleh pria yang di kagumi juga selalu membuatnya takut.


"Yang enak masaknya ya, biar aku makin betah tinggal di sini" kata Bima santai, benar-benar tanpa merasa bersalah jika apa yang di katakannya sudah membuat gadis itu hampir menumpahkan masakan yang baru saja matang dan di angkat ke atas piring.


Dia ini kenapa si? Kenapa jadi aneh kayak gitu sikapnya.


Bersambung


Author : Pepet terus Bim. Jangan kasih kendor 🤣


Jangan lupa dukungannya. Like komen di setiap chapterĀ  jangan lupa hadiah dan votenya juga.


Oh ya. Selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan. Mohon Maaf lahir dan batin. šŸ¤—


Sesuai janji up hari ini ya..

__ADS_1


__ADS_2