You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Drama Sepasang Suami Istri


__ADS_3

Drama pagi hari seperti ini sudah menjadi pemandangan biasa untuk Hisyam. Sejak Kakaknya mengabdung, dia selalu saja meminta yang aneh-aneh pada Bima membuat Hisyam geleng-geleng kepala melihat kelakuan Kakaknya yang jauh dari biasanya.


"Ayolah Sayang, kamu ini gitu aja gak mau"


Hasna terus menyuapi lalapan pada Bima, yang jelas-jelas tidak menyukainya. Entah apa maksud Hasna, tapi dia terus memaksa Bima untuk memakannya.


"Asna, ini mentah. Aku tidak suka"


Hasna cemberut mendapat penolakan Bima yang sudah sekian kalinya. Dia memalingkan wajah kesal, sangat kesal dengan penolakan Bima itu. Membuat Bima merasa frustasi sendiri. Dia menatap istrinya yang masih memalingkan wajahnya tanpa mau menoleh kembali padanya.


"Asna" panggil Bima pelan, dia juga tidak bisa di diamkan seperti ini oleh Hasna. Sudah cukup dengan dia tidak bisa menyentuh istrinya selama kehamilannya ini. Jangan sampai dia harus di diamkan seperti ini.


Masih diam tanpa menoleh sedikit pun pada suaminya, hormon kehamilan benar-benar membuat mood nya naik turun. Perasaannya sangat sensitif.


"Turuti saja Kak, mungkin ini ngidamnya Kak Na juga" kata Hisyam, ikut menimpali perdebatan suami istri di depannya ini.


Hah..


Bima hanya mampu menghela nafas berat saat permintaan istrinya ini selalu di luar nalar. Ini bukan yang pertama untuk Bima mendapatkan paksaan dari Hasna untuk memakan makanan yang tidak dia sukai.


"Oke, aku makan apa yang kamu suruh itu. Tapi, jangan lagi-lagi minta aku makan ini"


Akhirnya Bima menyerah juga. Demi sang istri agar tidak marah lagi padanya. Bima rela memakan makanan yang sama sekali tidak dia sukai.


Hasna tersenyum senang, dia langsung menoleh ke arah suaminya itu. Mengambilkan sayuran hijau yang mentah, yang biasa di jadikan lalapan oleh orang-orang yang menyukainya. Dia menyuapi lalapan itu pada Bima yang seolah sangat tertekan saat harus memakan makanan itu.


Ya Tuhan, semua ini aku lakukan demi anak istriku. Meski rasanya aku sudah sangat ingin muntah.


"Nah enak 'kan?"


Melihat wajah Hasna yang begitu antusias membuat Bima memaksakan senyumnya. Dengan cepat dia mengambil air minum untuk menelan makanan aneh di dalam mulutnya ini. Semuanya dia lakukan agar istrinya tidak kecewa dan akan berujung mendiamkan nya seperti barusan. Bima akan lemah jika Hasna mendiamkannya seperti itu.


Hisyam hanya tersenyum tipis melihat wajah Bima yang sedang menahan kesal, tapi tidak bis berbuat apa-apa.

__ADS_1


"Yasudah, kau baik-baik di rumah. Aku berangkat kerja dulu.. Cup" Bima memeberikan kecupan hangat di pipi Hasna, sebelum dia beranjak dari duduknya.


"Iya Sayang, hati-hati di jalan ya"


"Syam, berangkat bareng"


Hisyam mengangguk, dia segera menyelesaikan sarapannya yang tinggal sesuap lagi itu. Lalu, berpamitan pada Kakaknya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Hasna kembali fokus pada makanannya yang baru dia makan sedikit tadi. Semuanya karena keinginannya yang tiba-tiba itu. Ingin melihat Bima memakan lalapan yang jelas-jelas dia tahu jika suaminya tidak menyukainya.


Sementara Bima berjalan menuju pintu keluar. Namun saat dia melewati ruang tengah, dia melihat pelayan yang dia tugaskannya untuk menjaga sang istri. Bima melangkah ke arahnya yang sedang membersihkan meja di ruang tengah.


"Kau jaga istriku! Dia sedang makan sekarang. Pastikan dia meminum obatnya dengan tepat waktu. Susu hamilnya juga harus selalu kau siapkan tepat waktu"


Mbak Westi segera menaruh lap dan kemoceng yang di pegangnya di atas lantai. Dia segera berdiri dan mengangguk hormat pada Tuannya itu.


Setelah memastikan keselamatan istrinya terjaga dengan baik. Barulah Bima bisa pergi bekerja dengan tenang.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Semuanya berjalan dengan seiringnya waktu berputar. Usia kandungan Hasna sudah terlihat sekarang, usianya sudah hampir lima bulan. Hasna begitu antusias dengan kehamilannya ini. Merasakan gerakan-gerakan calon bayinya di dalam perutnya yang sudah mulai membuncit itu.


Bima pun semakin overprotektive pada istrinya itu. Memastikan semuanya baik-baik saja, selalu menyempatkan waktu untuk mengantar Hasna periksa kandungannya ke dokter. Bima benar-benar berusaha menjadi suami siaga di tengah kesibukannya.


Seperti akhir pekan ini, sengaja Bima mengajak Hasna dan Hisyam untuk berkunjung ke rumah Yudha dan Anista. Bima mulai mengerti jika mood dan perasaan Ibu hamil juga harus di jaga agar tetap baik. Begitulah yang sering dokter jelaskan padanya.


Bima juga sering di ingatkan dokter untuk terus bersabar agar tidak menyentuh istrinya. Sudah selama ini dan Bima masih tahan, dia hanya mampu menahan gairah dan hasratnya sekuat mungkin.


Bima tersenyum melihat isitrinya yang begitu antusias saat bertemu dengan sahabatnya itu. Masa lalu kelam itu, benar-benar mempertemukan dua wanita dengan sifat hampir serupa. Membuat mereka menjadi sahabat dekat seperti sekarang.

__ADS_1


"Gimana kehamilan kamu? Sehat 'kan?"


Anista sama antusiasnya dengan kedatangan Hasna. Dia terus mengelus perut buncit Hasna. Rasanya dia juga ingin mengalami hamil seperti Hasna. Tapi, dia tidak siap untuk punya anak lagi karena takut tidak bisa adil dalam membagi kasih sayang pada anak-anaknya nanti. Cukup dengan tiga anak yang dia miliki sekarang.


"Alhamdulillah sehat, semuanya juga baik-baik saja. Ya meski aku masih harus rutin minum obat untuk penguat kandungan, karena kandungan ku terlalu lemah sejak tragedi jatuh di kamar mandi waktu dulu"


Anista mengangguk mengerti, memang kejadian itu sangat membahayakan untuk kandungan Hasna yang masih berusia beberapa minggu. Masih beruntung karena bayinya sangat kuat dan masih bertahan sampai sekarang.


"Makanya mulai sekarang, kamu harus lebih hati-hati lagi"


Hasna mengangguk dan tersenyum sambil mengelus perutnya yang buncit. Gerakan di dalam sana membuatnya tersenyum bahagia dengan perkembangan bayinya itu.


"Iya Nist, aku juga jadi lebih hati-hati sekarang. Jalan naik tangga saja sudah jarang sekali. Untung saja dulu Mas Bima menempatkan kamar kami di lantai bawah"


Membayangkan harus naik turun tangga setiap hari dengan perutnya yang buncit, membuat Hasna ngilu sendiri membayangkannya.


Anista mendekatkan wajahnya ke arah Hasna, sepertinya dia ingin membisikan sesuatu pada Hasna. "Mungkin karena suamimu juga ingin bebas melakukan itu denganmu tanpa takut ada yang mendengar. Makanya dia menempatkan kamar Hisyam di lantai atas"


Hasna terbelalak mendengar bisiskan Anista itu. Dia sedikit mencubit lengan wanita itu, bisa-bisanya Anista mengatakan itu. Apalagi dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya, jelas sekali sedang meledeknya.


"Apaan si Nist? Kayak yang kamu enggak aja deh. Padahal 'kan Tuan Yudha juga pasti perkasa ya kalo di dalam kamar. Hehehe"


Pipi Anista berubah memerah, dia sedang malu dengan ucapan Hasna yang benar adanya. Betapa perkasa suaminya itu saat berada di dalam kamar. Bahkan Anista saja sampai hampir tidak sanggup melayaninya setiap kali kegiatan malam mereka berlangsung.


"Udah ahh.. Gak usah bahas gituan.."


"Yey... Kamunya yang duluan bahas"


Bersambung


Jangan lupa dukungannya ya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..


ada karya temanku lagi nih..

__ADS_1


Kanaya Khairunnisa terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bisa ditolaknya dengan abang dari tunangannya sendiri, Kei Hasan. Kehidupan pernikahan mereka tidak berjalan baik karena Kei hanya menjadikan Naya sebagai alat untuk membalas sakit hatinya. Naya yang sedang melaksanakan studi di Perancis harus menelan pil pahit saat mengetahui bahwa sang suami ternyata telah menikah lagi dengan seorang model dan bintang iklan terkenal, Nadia Jefferson. Sang mertua yang sangat menyayangi Naya berusaha untuk menjauhkan Naya dari Kei. Setelah beberapa tahun ternyata takdir malah mempertemukan mereka dalam banyak situasi. Akankah pertemuan demi pertemuan mampu menghangatkan kembali hati Naya yang sempat membeku? Akankah Kei mengungkapkan cinta yang ternyata telah dimilikinya sejak lama? Mari ikuti alur ceritanya.



__ADS_2