You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Aku Memikirkan Gadis Itu


__ADS_3

"Kita ke klinik saja, Tuan" lirih Hasna saat mobil berhenti di pekarangan rumah sakit besar


Bima menoleh dan menatapnya dengan tajam "Kau ini ingin adikmu mati apa? Dia sudah seperti itu kenapa malah mau di bawa ke klinik. Cepat turun, di sini lebih banyak tenaga medis yang handal"


Hasna hanya menggeleng pelan, tidak mungkin Hasna menginginkan adiknya meninggal. Hasna hanya tidak sanggup dengan biaya pengobatan di rumah sakit ini. Uangnya tidak akan cukup.


Bima turun dari mobilnya dan membuka pintu belakang mobil. Tangannya yang akan menggendong Hisyam tidak sengaja menyentuh paha Hasna yang sedang memangku kepala Hisyam. Gadis itu memang memakai celana panjang, tapi entah kenapa ada desiran aneh yang Bima rasakan saat tangannya menyentuh paha gadis itu.


Hasna juga terlihat gelagapan, wajahnya terlihat memerah. Sadar Hasna, dia itu pria dingin menyeramkan yang sudah memiliki kekasih. Kau tidak seharusnya terus mengaguminya.


Bima menggendong Hisyam dan membawanya ke dalam rumah sakit di ikuti Hasna di belakangnya. Dua orang perawat langsung membawa brankar saat melihat Bima masuk dengan menggendong anak kecil. Bima membaringkan tubuh Hisyam di atas brankar.


Hasna hanya mengikuti langkah Bima dan dua orang perawat yang mendorong brankar itu. Sampai di depan ruangan gawat darurat, Hasna dan Bima hanya bisa menunggu di ruang tunggu saat Hisyam di bawa ke dalam ruangan.


Hasna duduk di kursi tunggu dan Bima duduk terhalang dua kursi di sampingnya. Hasna hanya bisa berdo'a agar adiknya baik-baik saja. Kegelisahan semakin Hasna rasakan saat dia juga memikirkan biaya yang harus dia bayar untuk pengobatan adiknya. Bahkan dia juga belum mendapatkan gaji bulan ini.


Ya Allah selamatkan adik Na, tolong Na.


Gadis malang ini hanya bisa berdo'a dan memohon pada sang kuasa. Tidak ada saudara atau siapapun yang bisa dia mintai tolong. Hidupnya benar-benar sebatang kara, adiknya adalah satu-satunya keluarga yang Hasna miliki saat ini.


Bima melirik ke arah gadis yang duduk dengan terhalang dua kursi di sampingnya. Gadis itu terlihat begitu gelisah. Raut wajah yang menyedihkan, dan entah kenapa Bima merasakan sakit saat melihat kerapuhan gadis itu. Seolah Bima bisa merasakan apa yang dia rasakan saat ini.


Tanpa sadar Bima memegang dadanya yang berdenyut nyeri. Ada apa denganku, kenapa aku sakit melihatnya serapuh itu.


Suara pintu terbuka langsung membuat Hasna berdiri dan segera menghampiri dokter yang keluar dari ruang rawat itu.


"Bagaimana keadaan adik saya?" Tanya Hasna dengan cemas


"Adik anda terkena demam berdarah, jika terlambat membawanya kesini mungkin adik anda tidak akan tertolong. Kondisinya sudah sangat parah, harus di rawat inap selama beberapa hari" jelas Dokter


Hasna hanya terdiam, bersyukur karena adiknya bisa tertolong. Namun, dia bingung bagaimana dengan biaya rumah sakit adiknya ini. Dia harus cari pinjaman kemana.

__ADS_1


Bima menatap bingung pada gadis itu, dia terlihat begitu sedih padahal adiknya sudah terselamatkan. Lalu, apa yang di fikirkan gadis itu. Bima benar-benar tidak mengerti.


"Hei"


Hasna terlonjak kaget saat Bima menepuk bahunya, dia menoleh ke arah pria itu "A-ada apa Tuan?"


"Kau kenapa?" Tanya Bima


Hasna menggeleng pelan "Tidak papa, Tuan"


Tidak mungkin Hasna meminta bantuan pada pria di sampingnya ini. Tentu saja Hasna tidak akan berani untuk itu. Bisa di antarkan ke rumah sakit ini saja, sudah sangat bersyukur. Mengingat bagaimana dingin nya Bima.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Hisyam sudah di pindahkan ke ruang rawat, Hasna cukup terkejut saat Hisyam di pindahkan ke ruang rawat khusus untuk orang-orang berada. Dimana fasilitasnya sangat baik dengan pelayanan yang tentu berbeda dengan kelas orang biasa saja. Semakin gelisah dia memikirkan biaya pengobatan adiknya ini.


Bagaimana ini? Kenapa malah di ruang rawat ini?


Hisyam sudah lebih baik sekarang, anak itu terlelap setelah dokter memberinya obat. Dan Hasna hanya bisa diam menjaga adiknya itu.


Sementara Bima sedang berada di ruang kerja Yudha. Hari sudah hampir pagi, semalaman dia tidak tidur. Yudha menatap tajam pada asistennya itu.


"Dari mana kau semalam? Aku hubungi tidak bisa. Kau pergi kemana?" tanya Yudha dingin


Bima menyandarkan kepalanya di sandaran kursi depan meja kerja Yudha. "Aku ada urusan"


Yudha mendengus mendengar jawaban singkat dari sahabatnya itu "Urusan apa? Hal apa yang aku tidak ketahui?"


"Aku hanya sedang menenangkan fikiran" jawab Bima datar


"Menenangkan fikiran? Apa kau masih memikirkan wanita pengkhianat itu?" tanya Yudha dengan senyuman mengejek

__ADS_1


Aku memikirkan gadis itu.


Bima tidak menjawab, dia hanya bergumam dalam hatinya. Bima masih bingung dengan perasaanya itu. Benarkah dia bisa jatuh cinta pada gadis yang baru dia kenal. Bahkan Bima tidak sedekat itu dengan gadis ini. Namun, hatinya selalu membuat dia goyah dan mempertanyakan perasaannya sendiri.


"Kau bodoh atau gimana? Sudah tahu wanita itu membohongimu, kenapa masih kau fikirkan dia?" kesal Yudha, menatap tajam pada asistennya itu.


Bima menghela nafas "Aku sedang meyakinkan perasaanku sekarang. Ku harap kau mengerti"


Yudha mengerutkan keningnya, terlalu bingung dengan maksud dari ucapan Bima. Sampai dia ingat seorang gadis yang selalu ketakutan jika berhadapan dengan asistennya ini. Gadis yang telah menolong istrinya.


"Apa kau sudah sadar jika kau menyukainya?" Tanya Yudha, menatap Bima dengan lekat


Tanpa menyebutkan namanya, namun Bima mengerti apa dan siapa yang di maksud Yudha. Bima hanya berdehem untuk menjawab pertanyaan Yudha itu.


Yudha tersenyum saat mengerti arti dari deheman Bima barusan "Baguslah, aku senang mendengarnya. Kau perjuangkan cintamu itu, aku kasih waktu kau dua minggu untuk bisa memperjuangkan cintamu itu. Urusan pekerjaan biar aku yang handle dulu"


Bima menatap tidak percaya pada atasan sekaligus sahabatnya ini. Bagaimana Yudha bisa sesantai itu memberinya waktu luang untuk memperjuangkan cintanya. Kemana Yudha yang tegas dan tidak ada kata memberi waktu yang sia-sia pada bawahannya. Dia selalu mementingkan pekerjaannya selama ini. Yudha selalu gila kerja.


Keberadaan Anista benar-benar telah merubahnya.


Bima mengangguk dengan senyuman tipis di bibirnya "Baiklah, aku akan melakukan apa yang seharusanya aku lakukan"


"Nah, ini baru Bima yang aku kenal. Bukannya malah galau karena satu orang wanita yang jelas telah mengkhianatimu" kata Yudha


Akhirnya setelah beberapa bulan berlalu, Bima telah yakin dengan perasaannya. Bukan lagi Bianca yang berada di hatinya, tapi telah tergantikan oleh nama Hasna Amalia. Gadis polos yang selalu menampilkan raut wajah ketakutan jika berhadapan dengannya.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. Like dan komen di setiap chapter. Kasih hadiah dan votenya juga ya..


Dukungan kalian benar-benar berarti untuk aku, bisa lebih semangat lagi nulisnya meski banyak kesibukan lain di dunia nyata.

__ADS_1


__ADS_2