
Hasna melangkah ragu memasuki pekarangan rumah mewah itu. Semuanya telah di hias dengan balon warna warni dan juga beberapa bunga. Terlihat cantik.
Baru saja dia berjalan beberapa langkah. Dia harus melihat pemandangan yang tidak mengenakan. Di mana seorang pria yang sedang duduk mengobrol dengan wanita cantik yang bersandar di bahunya. Keduanya terlihat begitu serasi.
Jangan Na, jangan nangis di sini.
Hasna mendongakan wajahnya yang hampir saja matanya itu meneteskan cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Kenapa Kak?" Tanya Hisyam, tentu anak laki-laki itu juga melihat apa yang di lihat Kakaknya.
Hasna menghembuskan nafas kasar, dia menoleh ke arah Hisyam "Gak papa"
Mereka kembali melangkah dan duduk di jajaran kursi yang sudah tersedia. Hasna hanya berdiri diam di belakang kursi yang di duduki oleh adiknya.
"Setelah ini aku harap kau bisa menjalani hidupmu kembali seperti biasanya. Lupakan semua tentang perasaanmu, aku tidak yakin jika kau tidak akan terluka karenaku"
Inikah maksud dari ucapan Tuan Bima waktu itu?
"Kau tahu semuanya Yudh, aku masih menunggunya"
Mungkinkah wanita itu adalah yang di tunggu Tuan Bima selama ini. Baikah aku akan mundur sekarang, dia sudah benar-benar menunjukan betapa dia tidak menginginkan ku. Dia sudah bahagia dengan wanita yang di tunggunya.
Acara menyanyikan lagu ulang tahun dan lainnya telah selesai. Kini saatnya acara penyerahan kado untuk si pemilik acara hari ini, Hervanio Walton.
"Cepatlah, Kakak tidak bisa lama lama disini. Kakak masih harus masuk kerja siang ini" kata Hasna
Sebenarnya bukan itu alasan utama Hasna, dia hanya tidak mau terlalu lama berada di pesta ini. Perasaannya yang sulit hilang, tapi harus melihat pemandangan tidak mengenakan saat dia datang ke sini.
Sungguh, bayangan gadis cantik yang terlihat begitu dekat dengan Bima membuat Hasna sedikit tidak fokus hari ini.
"Kamu berikan kadonya pada Evan, dan Kakak akan menemui Kak Anista dulu. Nanti kamu tunggu disini" kata Hasna yang di jawab anggukan oleh adiknya
Hasna berlalu menemui Anista dan Yudha yang sedang menyapa beberapa rekan kerja yang hadir. Dengan ragu-ragu Hasna mendekat ke arah mereka.
Arghh... kenapa dia tiba tiba datang si.
Hasna sedikit ragu untuk melanjutkan langkahnya saat melihat orang yang dia hindari sedang berjalan mendekat ke arah Anista dan Yudha bersama seorang perempuan cantik dan menawan.
"Hasna"
__ADS_1
Saat Hasna mau berbalik pergi, namun Anista sudah terlanjur melihat kehadirannya dan memanggilnya.
Akhirnya mau tidak mau Hasna harus kembali pada tujuannya. Menghampiri Anista dan Yudha, jangan lupakan juga pasangan bahagia yang baru datang.
"Apa kabar Nist, Tuan Yudha?" kata Hasna menunduk hormat
Anista langsung memeluknya dengan hangat "Aku baik, kamu bagaimana kabarnya?"
"Na juga baik"
"Dimana adikmu?" Tanya Anista setelah melepaskan pelukannya
"Sedang memberikan kado pada Evan" jelas Hasna
Ya Allah, Na ingin segera pergi dari sini.
Hasna menatap pada Bima yang terlihat acuh dan seolah tidak menganggapnya ada. Seorang wanita cantik terus bergelayut manja di lengannya.
Sudahlah, aku harus bisa melupakan semuanya. Perasaanku ini hadir bukan pada tempatnya.
Anista kembali memeluk Hasna, dia cukup mengerti arti tatapan Hasna. Tapi, dia juga tidak bisa berbuat apa apa karena hati tidak bisa di paksakan.
Anista terus mengelus punggung Hasna mencoba memberikan kekuatan pada gadis penyelamatnya ini.
"Loh kok buru buru si, gak mau nginep aja disini? Bukannya kamu ambil cuti ya hari ini?" Kata Anista
Hasna menggeleng "Gak Nist, aku hanya izin masuk kerja siang hari. Gak jadi ambil cuti"
"Kau di antar sama Bima ya" kata Yudha yang dari tadi hanya diam dan tersenyum tipis pada Hasna.
Hasna langsung gelagapan dan menatap ke arah Bima yang juga menatapnya dengan tajam.
"Tidak perlu Tuan, aku akan pulang sendiri. Tidak perlu merepotkan siapapun" kata Hasna
"Sudahlah, biar Bima yang mengantarmu"
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Suasana di dalam mobil ini terasa begitu hening. Mobil masih belum melaju, menunggu si empunya datang. Bima masih ada urusan di dalam. Hasna dan Hisyam hanya duduk diam bersama wanita cantik yang duduk di kursi depan.
__ADS_1
Dia begitu cantik dan elegan. Sangat cocok dengan Tuan Bima.
Hasna menatap punggung wanita cantik itu. Dia merasa suasana begitu canggung sekarang. Hisyam juga hanya diam saja di tempat duduknya.
"Hei kamu itu temannya Nona Muda 'kan?"
Tiba-tiba si wanita cantik yang duduk di kursi depan menoleh ke arahnya. Hasna menjadi gelagapan sendiri untuk menjawab pertanyaan si wanita itu.
"Emm. I-iya Kak" jawab Hasna, mencoba untuk tersenyum meski terasa begitu kaku
Wanita cantik itu tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah Hasna "Kenalin, aku Bianca. Aku pacarnya Bima"
Deg..
Seperti ada yang menimpa dadanya, sesak.. Dadanya begitu sesak mendengarnya. Padahal Hasna tahu dan sudah mengira jika wanita cantik itu adalah masa lalu Bima yang masih di tunggunya. Namun kenapa saat mendengar langsung dari mulut wanita itu, Hasna semakin sakit.
Hasna menerima uluran tangan Bianca dengan tangan sedikit gemetar "Ha-Hasna"
Bianca tersenyum "Oke Hasna, mari berteman karena kamu juga temannya Nona Muda. Aku juga ingin dekat dengan Nona Muda"
Hasna tersenyum kaku "I-iya" Mana mungkin aku bisa berteman dengan wanita yang menjadi kekasih pria yang aku cintai. Bagaimana ini?
Tepat pada saat itu, Bima masuk ke dalam mobil. Pria itu memasang sabuk pengamannya dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Kenapa kau harus ikut? Bisa tunggu disini saja, perjalanan kita cukup jauh" kata Bima
Bianca menyandarkan kepalanya di bahu Bima yang sedang fokus menyetir "Aku gak mau kamu berduaan sama Hasna, apalagi dia terlihat begitu manis. Bagaimana jika kamu tergoda dengan wajah imutnya itu. Hehe"
Hasna diam mendengar apa yang di ucapkan oleh Bianca. Dia tahu jika Bianca hanya bercanda dengan ucapannya itu. Namun, hatinya sedang tidak bisa di ajak bercanda saat ini.
"Jangan berlebihan deh Bi, kau lupa jika aku setia menunggumu selama 21 tahun" kata Bima datar, dia hanya fokus pada jalanan di depannya.
Apa aku harus bahagia mendengar ucapannya? Pria setia di jaman sekarang sangat sulit di temui. Dan aku menemukannya sekarang. Pria yang aku cintai. Meski dia bukan setia karenaku.
Hasna memilih memalingkan wajahnya ke jendela mobil. Melihat pemandangan di luar sana.
Sementara Bima melirik kaca spion di atasnya. Dia melihat gadis yang sejak tadi dia acuhkan, dan bodohnya dia merasa sakit saat mengacuhkannya. Namun, egonya memilih untuk tetap acuh padanya tanpa memperdulikan keberadaan Hasna atau hanya sekedar menyapanya.
Bersambung
__ADS_1
Hadiah sama Votenya mana nih?
Like, komennya jangan lupa.