You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Tidak Membalas Pesan


__ADS_3

Aku baru sampai, kau jangan merindukanku.


Hasna memutar bola mata malas, membaca pesan dari Bima. Apa pria itu benar-benar sangat ingin di rindukan oleh Hasna? Entahlah.. Bima selalu mempunyai caranya sendiri untuk menunjukan perasaannya itu tanpa di sadari oleh orang lain.


"Dia fikir hidup aku hanya untuk merindukan dia apa? Aku juga banyak pekerjaan dan hal lainnya yang perlu di pikirkan. Tidak melulu harus merindukan pria itu" gerutu Hasna, dia selalu merasa jika Bima menganggapnya dialah yang paling mencintai pria itu. Sementara dia selalu menunjukan wajah dinginnya, tidak sama sekali menunjukan jika dia mempunyai perasaan yang sama dengan Hasna.


Hasna merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur. Hari sudah gelap, dia sedang menunggu adiknya yang berangkat ke mesjid. Hisyam sudah benar-benar pulih, dan mulai dengan kegiata setiap harinya. Sekolah, mengaji, belajar dan juga tentunya main bersama teman-temannya.


Bima tersenyum ke arahnya, dia terlihat begitu tampan. Eh..


Hasna menggelengkan kepalanya saat dia seolah melihat wajah tampan Bima yang tersenyum ke arahnya di langit-langit kamarnya.


Gila.. Apa aku sudah secinta itu sama dia, sampai bayangan dia ada dimana-mana.


Hasna merasa dirinya telah gila, dia benar-benar melihat setiap bayangan Bima di setiap sudut kamarnya itu. Tidak.. ini tidak boleh di biarkan, Hasna harus segera sadar jika dia tidak ingin benar-benar gila gara-gara pria dingin itu.


Huh.. Kalo saja dia tahu aku segila ini mencintainya. Mungkin dia akan mengejek ku dan semakin percaya diri jika aku sangat mencintainya di bandingkan dia yang memang tidak punya perasaan apapun padaku.


Hah...


Hasna hanya bisa menghela nafas panjang, dia tidak bisa merubah perasaannya ini. Apalagi untuk menghapusnya, Bima telah menempati sepenuhnya ruang kosong di hatinya. Sudah tidak mungkin bisa tergantikan lagi oleh siapapun.


Gimana aku bisa melupakan pria itu, jika hati ini masih tetap menjadi miliknya.


Baiklah.. Saat ini Hasna hanya akan mengikuti takdir. Mengikuti setiap alur cerita hidupnya tanpa ingin melawan arus. Mengikuti setiap takdir yang sudah tertulis untuk dia jalani.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Di tempat dan kota yang berbeda, seorang pria tampan sedang duduk di sofa yang berada di kamarnya. Tangannya memutar-mutar ponsel, menunggu pesan balasan dari orang yang dia harapkan.


Sial. Kenapa dia tidak membalas pesanku.


Bima gelisah sendiri karena Hasna tak kunjung membalas pesannya. Tentu saja dia sudah sangat merindukan gadis itu, padahal baru setengah hari dia tidak bertemu dengan kekasihnya itu. Salahnya sendiri tidak menunjukan perasaannya sendiri, selalu menutupinya dengan perkataannya yang menyebalkan. Seolah Hasna yang paling mencintainya. Padahal dia lebih mencintai gadis itu.


Ting

__ADS_1


Suara notifikasi pesan itu langsung mengalihkan fokus Bima. Dia segera membuka ponselnya, wajahnya sudah berseri senang.


Kau sudah pulang? Kenapa tidak langsung menemuiku Hah? Kurang ajar sekali kau!


Bima mendesah kecewa, bukan pesan dari gadisnya. Tapi dari Tuannya, Bima menyimpan kembali ponselnya di atas meja kecil.


Dia ini kenapa si? Kenapa tidak membalas pesanku. Sepertinya aku harus menetapkan pengawal untuk mengawasinya. Aku takut dia kenapa-napa saat aku tidak berada di sampingnya.


Bima merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sepertinya dia harus segera menyelesaikan perkejaannya di ibu kota agar bisa segera kembali ke kota tempat gadisnya tinggal.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Hasna mengerjap, suara alarm di ponselnya begitu memekakan telinga. Dia ambil ponselnya dan mematikan alarm itu. Menghembuskan nafas berat, lalu terbangun dan duduk di atas tempat tidurnya.


"Huh.. Kayaknya aku mau datang bulan deh. Sakit banget nih perut"


Hasna meraih ponselnya dan melihat tanggal di kalender ponselnya. Sampai ada pesan yang masuk dari teman kerjanya.


Na, hari ini bisa lembur gak? Gantiin aku, soalnya ibu aku lagi sakit.


"Lumayanlah buat tambah-tambah penghasilan bulan ini" gumam Hasna, dia segera membalas pesan dari temannya itu.


Iya, aku bisa.


Setelah membalas pesan dari temannya itu, Hasna melihat pesan paling atas yang tidak dia balas. Pesan dari kekasihnya itu, semalam Hasna malah ketiduran dan lupa untuk membalas pesan itu.


"Ya ampun, aku lupa gak balas pesannya. Bagaimana ini? Apa dia akan marah?"


Maaf Tuan, saya semalam ketiduran jadi gak balas pesan Tuan.


Send...


Pesan terkirim pada nomor pria menyeramkan itu. Hasna cemas sendiri menunggu balasan dari Bima, namun setelah beberapa menit berlalu tidak ada tanda-tanda Bima akan membalas pesannya. Bahkan pesannya pun belum terbaca oleh pria itu.


Mungkin dia masih tidur.

__ADS_1


Akhirnya Hasna memilih keluar dari kamarnya dan segera melakukan rutinitas paginya. Mandi, menjalankan kewajibannya sebagai muslim, dan memasak sarapan untuk dirinya dan adiknya.


Hasna telah selesai memasak sarapan, dia membawa dua piring nasi goreng ke ruang tengah. Menyimpannya di atas meja lengkap denganΒ  toples berisi kerupuk di sana.


Hisyam keluar dari kamarnya, telah siap dengan seragam sekolahnya. Tas gendongnya dia tenteng dan di simpan di atas karpet plastik dekat televisi.


"Yakin udah mau sekolah Syam? Kenapa gak nanti aja hari senin" kata Hasna


Hisyam duduk di kursi kayu samping kakaknya "Iya Kak, lagian Syam udah sehat kok"


"Yaudah kalo gitu, jangan terlalu lelah nanti di sekolah"


Hisyam mengangguk dan mulai memakan sarapannya. Hasna juga ikut memakan sarapannya. Keduanya sarapan dengan tenang sampai makanan mereka habis tak bersisa.


Hasna membereskan bekas makan mereka dan membawanya ke dapur lalu mencucinya di wastafel.


"Kakak lembur hari ini Syam, temen Kakak ada yang gak masuk. Kakak udah masak nasi, nanti kamu goreng telor aja ya kalo mau makan" kata Hasna


Hisyam mengangguk "Iya Kak"


Sudah terbiasa hidup mandiri, jadi tidak terlalu sulit untuk Hisyam melakukan semuanya sendiri saat Kakaknya bekerja lembur seperti ini.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Bima menggeliat pelan dari tidurnya, mengerjapkan mata saat cahaya matahari sudah mulai masuk melalui ventilasi kamar. Sungguh menyilaukan mata.


Bima bangun terduduk di atas tempat tidur, meregangkan kedua tangannya yang terasa kaku. Dia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur.


Maaf Tuan, saya semalam ketiduran jadi gak balas pesan Tuan.


Bima mendesah kesal membaca pesan dari Hasna "Beraninya dia memanggilku Tuan, awas saja. Aku tidak akan membalas pesannya"


Entahlah.. Mungkin itu adalah mode balas dendam Bima karena Hasna tidak membalas pesannya tadi malam membuat dia gelisah dan tidak bisa tidur. Terus memikirkan gadis itu.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya... like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga ya..


__ADS_2