
"Silahkan masuk Nona" Pak Firman membukakan pintu mobil untuk Hasna dan Hisyam. Mereka pun langsung masuk dengan mengangguk canggung karena perlakuan Pak Firman pada mereka ini.
"Terimakasih Pak" kata Hasna dengan senyuman ramah, tentunya.
Pak Firman hanya mengangguk, lalu dia masuk ke kursi kemudi. Mulai melajukan mobilnya, Hasna dan Hisyam hanya diam saja. Tidak berani untuk banyak bicara. Aura anak buah Bima ini juga hampir sama dengan atasannya itu. Membuat orang-orang yang berada di dekatnya merasa takut dan canggung.
Perjalanan terasa cukup lama, Hasna sampai tertidur di bahu Hisyam. Mungkin dia juga lelah. Sampai suara seseorang membangunkannya.
"Baik Tuan, Nona sedang tidur sekarang"
Hasna mengerjap medengar suara itu, dia membuka matanya dan melihat Pak Firman sedang memakai earphone di telinganya. Sepertinya dia sedang berbicara dengan seseorang di telepon itu.
"Pak, apa masih lama?" tanya Hasna dengan menepuk bagian belakang kursi yang di duduki oleh Pak Firman.
"Sebentar lagi Nona" jawab Pak Firman singkat
Hasna mengangguk lalu kembali menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang. Hisyam hanya diam dengan memandang ke luar jendela.
"Syam sini tidur di pangkuan Kakak, kamu pasti lelah" kata Hasna sambil menepuk pahanya
Hisyam menoleh dan menggeleng pelan "Syam gak ngantuk Kak, cuma jenuh aja karena perjalanan yang jauh"
Adiku.. Kau sudah pandai menutupi perasaanmu.
Hasna tahu jika Hisyam sedang berbohong. Terlihat jelas sekali dari tatapan matanya, dia sedang sedih. Melihat jalanan kota ini, tentu akan mengingatkan dia saat dulu sering jalan-jalan bersama orang tua mereka.
Ayah, Ibu.. Apa Na sudah benar dalam menjaga Hiysam? Apa Na sudah menjadi Kakak yang baik?
Hasna tahu jika adiknya itu sangat terluka dengan kenyataan dalam hidupnya. Hanya saja Hisyam pandai menutupi perasaannya. Sepertinya sifat ini memang sama dengan Hasna. Kakak beradik ini sangat pandai dalam menutupi perasaan mereka. Tapi, tidak dengan satu sama lain. Hisyam tahu kelemahan Kakaknya. Begitupun dengan Hasna, dia tahu jika adiknya juga terluka dengan kenyataan dalam hidupnya.
Hasna menaruh kembali kepalanya di bahu Hisyam "Kakak juga sama Syam, merasakan apa yang Syam rasakan. Tapi, kita tidak boleh berlarut dalam kesedihan. Semua ini sudah takdir"
Hisyam tidak menjawab, dia hanya diam. Hasna hanya bisa menghela nafas dengan sikap dingin adiknya ini. Hisyam terlalu pendiam dan tertutup. Tidak ada keceriaan di wajah anak di seusianya itu. Sejak orang tua mereka meninggal, maka berubahlah Hisyam yang ceria menjadi Hisyam yang pendiam seperti sekarang.
__ADS_1
Tuhan, kembalikan adiku yang ceria seperti dulu.
Terkadang Hasna selalu merasa gagal sebagai seorang Kakak untuk Hisyam. Dia tidak bisa mengembalikan Hisyam yang ceria seperti dulu. Hisyam sudah terlanjur berubah menjadi dingin dan pendiam. Tidak seperti anak-anak yang seusianya. Takdir telah merubah sikapnya. Dia sudah mempunyai fikiran yang dewasa di usianya ini, di paksa dewasa oleh keadaan.
Mobil terhenti di pekarangan rumah sakit, Hasna segera turun sebelum Pak Firman membukakan pintu mobil untuknya.
"Terimakasih Pak" kata Hasna dengan sedikit membungkukan badannya sebagai tanda hormat.
"Iya Nona"
Ternyata Bima menunggu kedatangan mereka di depan rumah sakit. Dia segera menghampiri mereka. Mencium kening Hasna tanpa malu sedikit pun karena Pak Firman tentu melihat adegan itu. Terlihat jelas dari wajah terkejutnya itu. Mungkin Pak Firman terkejut karena baru pertama kali melihat Bima memperlakukan perempuan semanis dan selembut itu. Tentu Pak Firman juga tidak tahu tentang Bianca. Hanya orang-orang tertentu yang tahu tentang hubungan Bima dan Bianca.
"Lelah ya, mau ke apartemen dulu buat istirahat?" tanya Bima
Hasna menggeleng pelan dengan wajah yang sedikit memerah karena malu dengan tindakan spontan Bima barusan. Apalagi Pak Firman masih menatapnya dengan bingung.
"Aku mau langsung melihat Anista saja" kata Hasna yang di jawab anggukan oleh Bima.
Bima menoleh ke arah Pak Firman yang masih mematung di tempatnya itu "Pak, tolong pindahkan barang Asna ke mobilku saja. Biar aku yang mengantar mereka nanti"
Pak Firman mengerjap lalu mengangguk "Baik Tuan"
Bima membawa Hasna dan Hisyam menuju ruangan Anista. Sampai di sana Hasna dan Hisyam langsung di sambut hangat oleh Anista.
"Selamat ya Nist, sudah jadi Ibu dua orang anak sekarang" kata Hasna sambil terkekeh kecil
"Tiga orang anak Na, emang Safira mau kamu kemanain? Dia juga anaku" kata Anista
Hasna tersenyum, Anista memang wanita berhati tulus. Bahkan dia begitu tulus mencintai dan menyayangi Safira yang bahkan hanya anak mantan istri suaminya dan selingkuhannya. Tapi, Anista benar-benar menerima anak itu dengan tulus. Mungkin bukan hanya Hasna, semua orang yang berada di ruangan ini juga akan merasa terharu dengan ucapan Anista yang begitu tulus. Terutama suami dan mertuanya.
Hasna beranjak dari ranjang Anista, dia berjalan ke arah box bayi dan melihat bayi menggemaskan yang terlelap di dalam sana.
Bima hanya menatap setiap gerak gerik yang di lakukan oleh kekasihnya. Dia berdiri menyandar di dinding bersama dengan Tuannya. Tidak ada percakapan apapun di antara mereka. Keduanya hanya diam dan menatap ke arah wanitanya masing-masing.
__ADS_1
Hasna menoel-noel pipi gembil bayi merah itu "Bangun yuk, sama Kakak main"
"Bibi kali Na, masa Kakak" koreksi Anista
Hasna cemberut "Aku masih pantes di panggil Kakak Nist"
Anista tertawa lucu "Iya si, aku juga harusnya jadi Kakaknya bukan Ibunya. Haha"
Hasna ikutan tertawa "Biarinlah, kan jadi Mama muda"
"Iyalah, masih imut imut kayak gini. Hehe"
Orang-orang di dalam ruangan itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah kedua wanita muda itu.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Sore harinya, Bima membawa Hasna dan Hisyam untuk pulang ke apartemennya. Hasna sudah tegang sendiri dengan itu, dia takut jika trauma itu akan kembali hadir. Melihat gedung tinggi yang selalu menghantuinya. Tempat dimana kedua orang tuanya meninggal dengan mengenaskan di sana.
Bima seolah tahu apa yang membuat Hasna gelisah, dia menggenggam tangan Hasna. Tatapannya hanya fokus untuk jalanan di depannya, tapi genggaman tangannya seolah memberi Hasna kekuatan untuk sedikit lebih tenang.
"Tenanglah, aku tidak akan membawa kalian ke apartemen yang dulu" kata Bima tenang, dia masih menatap lurus ke arah jalanan di depannya
Apa dia tahu tentang apartemen itu ya?
Hasna sedikit melirik Bima yang mengatakan itu, berarti Bima tahu tentang kejadian mengerikan 7 tahun lalu.
"Tentu aku tahu, tapi aku tidak ingin membahasnya. Takut itu akan semakin membuka luka dan trauma kau" kata Bima, selalu saja pria itu bisa menebak apa yang di fikirkan oleh Hasna
Bersambung
Jangan lupa dukungannya ya... like komen di setiap chapter.. Maaf telat up karena aku masih urusin novel Benteng Penghalang Kita.. Tolong pada mampir ya..
Di usahakan up tiap hari ya mulai sekarang, udah pengen selesain novel ini juga. Biar bisa fokus sama novel Benteng Penghalang Kita.. kalian jangan lupa mampir di novel aku yang itu juga ya...
__ADS_1